-->
 

Partners in Crime dan Branding Angie

Branding Solution, Koran Sindo, Feb 2012

‘If all my friends were to jump off a bridge, I wouldn’t jump with them, I’d be at the bottom to catch them.’

Siapapun yang mendengar quote di atas, pasti kagum. Betapa besar pengorbanan seorang sahabat sejati.  Tali temali pertemanan yang begitu kuatnya sehingga seseorang mau melakukan apa saja demi untuk menyelamatkan temannya.

Pertemanan tersebut sudah masuk pada tingkat yang disebut dengan soulmates. Jelas bukan hanya pertemanan biasa.

Dalam buku saya yang terbaru yaitu ‘BRANDMATE: Mengubah Just Friends menjadi Soulmates’, dijelaskan sedikitnya tiga tingkatan pertemanan. Dari tingkat awal yang hanya sekedar just friends, lalu menjadi good friends hingga mencapai tingkat soulmates.

BRANDMATE menjelaskan proses branding dengan analogi pertemanan. Keterikatan seorang konsumen terhadap brand tertentu juga melalui proses yang sama. Tingkat loyalitas atau keterikatan emosional brand tercapai bila secara serius dibangun dan dikembangkan.

Dalam branding organisasi atau partai, setiap anggota organisasi juga mempunyai proses konversi ‘pertemanan’. Dari anggota biasa, lalu anggota yang semakin dekat secara emosional dengan organisasi, hingga yang loyal dan mencintai organisasinya secara utuh.

Tentu proses konversi tingkat kedekatan emosional ini sifatnya mutual. Tidak mungkin seorang anggota partai menjadi loyal bila dalam kesehariannya, organisasi tidak memperhatikan kebutuhan dan memahami para anggotanya. Loyalitas tercipta sebagai bentuk rasa saling memiliki.

Pertemanan ini yang saya lihat sudah luntur dalam kasus Angelina Sondakh. Tidak ada satupun dari temannya dari partai yang ada di dasar jembatan untuk menangkapnya. Dia dibiarkan terjun dari jembatan sendirian.

Dalam peribahasa lama dikatakan ‘A friend in need is a friend indeed’. Teman sejati adalah teman di saat kita susah dan membutuhkannya, bukan hanya saat senang saja.

Ini terlepas dari masalah bohong atau tidaknya Angie, dan terlepas dari apakah benar Angie terlibat dalam mafia korupsi di organisasinya.

Saya ingin membahas dari sisi pertemanannya dulu. Kasihan juga Angie. Dia sendirian. Ditinggalkan ‘teman-teman’nya.

Angie, mana teman-temanmu yang hadir dalam pesta ulang tahun Keanu di hotel Sultan yang mewah itu? Tentu banyak yang menikmati pesta, dan jika mereka memang benar temanmu, kemana mereka sekarang?

Media memberitakan, tidak ada satupun temanmu dari Partai yang hadir di acara satu tahun meninggalnya suamimu, Ajie. Ini sangat kontras dengan saat penguburannya, para ‘teman partai’ hadir dan membantu meringankan kesedihan.

Partners in Crime

Kasus Angie mengingatkan saya pada pertanyaan salah satu peserta talkshow buku BRANDMATE minggu lalu. “Apakah Menurut Ibu, ‘Partners in Crime’ itu juga Soulmate? Sebab, setau saya, ikatan yang terjalin dalam ‘mafioso’ justru lebih kuat dibandingkan pertemanan biasa.”

Ini tentu bukan pertanyaan yang sederhana. Saya perlu berpikir keras agar bisa menjawabnya. Benarkah Loyalitas dalam ‘Partners in Crime’ ini sama seperti kekuatan soulmate yang saya jelaskan dalam BRANDMATE?

“Partners in Crime’ sendiri sebenarnya mempunyai makna ganda. Dalam bahasa anak-anak gaul, arti ‘Partners in Crime’ lebih diarahkan pada teman saat susah – saat benar-benar susah. Misalnya pada saat bersama mengerjakan tugas di kelas yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Atau partner saat susah payah cari dana dalam rangka penyelenggaraan kegiatan sekolah.

‘Partners in Crime’ dalam arti aslinya adalah pertemanan dalam mengerjakan kejahatan atau hal-hal negatif yang membahayakan atau merugikan orang lain.

Tampaknya soulmates dalam konteks kejahatan ini tidak bisa disamakan dengan soulmates analogi branding. Dalam branding, definisi brand yang kuat adalah yang diasosiasikan dengan hal-hal yang positif.

Pertemanan yang dibangun dalam branding selalu mengarah kepada hal-hal yang punya nilai tambah. Loyalitas yang dibangun pun, walaupun mengarah pada tingkat emosional yang mendalam, tetap dalam koridor bahwa manfaat pertemanan ini masih sehat dan positif.

Dalam kehidupan kaum Yakuza yaitu para mafia Jepang, dikenal loyalitas total dan ini tanpa batas. Siapapun yang masuk dalam komunitas ini akan larut dalam kulturnya dan tidak bisa ditembus dari luar untuk memecahbelah ikatan satu member dengan lainnya. Soulmates dalam konotasi Yakuza sudah mengesampingkan nilai-nilai individu, karena nilai golongan yang lebih diutamakan.

Dalam konteks Angie dan partners in crime – yang bisa saya garisbawahi adalah kenyataan bahwa Angie tidak punya teman lagi.

Terserah mau didefinisikan dari sisi partners in crime yang bermakna negatif (kejahatan korupsi), atau mau didefinisikan dari sisi partners in crime yang berarti teman jaman susah (dari Partai Demokrat masih merangkak, Angie merupakan salah satu dari kelompok kecil orang penting partai). Tetap saja, partners in crime Angie hilang sudah.

Bersalahkah Angie? Tentu itu bukan tugas saya untuk mengadili. Pengadilan hukum yang akan menentukan. Setidaknya, dalam pengadilan media dan publik, Angie sudah dinyatakan bersalah. Brand imagenya turun drastis, brand valuenya merosot.

Yang terjadi saat ini adalah proses konversi yang sangat cepat dari para soulmates turun menjadi just friends, bahkan sebagian bahkan pindah berseberangan. Pekerjaan Rumah yang sangat kompleks untuk pembangunan kembali brand image seorang Angelina Sondakh.

Berapa jumlah soulmates yang masih tersisa, Angie?

‘A friend is someone who will catch you when you fall, dry your tears and tell you it will be all right, never leave you by yourself……..’


12 Comments on "Partners in Crime dan Branding Angie"

  1. alex says:

    Tulisan yang menarik dan menambah wawasan terutama soal partners in crime

  2. alex says:

    saya ijin memuatnya lagi di blog saya ya BU….jangan dituntut….hehhe

    • Sebenarnya yang tidak baik adalah yang tidak menyebutkan sumber tulisan. Selama disebutkan narasumbernya, sebenarnya dalam dunia riset dan tulis menulis, menggunakan referensi tulisan orang lain itu hal yang sangat lumrah dan dianjurkan. Jadi, welcome silakan dimuat di blognya, terimakasih sudah mau sharing dengan komunitasnya.

  3. Sejak pertama saya membaca blog ibu saya langsung jatuh hati dan selalu rajin membaca setiap posting baru, banyak hal yang saya terapkan di dalam kerjaan saya dan terbukti it work.
    pengen bisa bertemu dang ngobrol dengan ibu tapi apa daya saya tinggal nanjauh di pulau dewata.

    Artikel mengenai partners in crime ini mengingatkan saya tentang bisnis sampingan saya bersama teman dan sahabat. Dimanakah saya bisa mendapatkan buku ibu “brandmate” ?

    Terimakasih

    • Dear Sherif, many thanks untuk apresiasinya.
      Kapan2 kalau saya ke Bali, kita ketemu ya.. Untuk buku BRANDMATE bisa dibeli di http://www.etnomark.com, kirim email saja ke info@etnomark.com, nanti diinformasikan harga bukunya. Untuk pulau Jawa harga buku saat ini dengan harga promo adalah 60ribu. Untuk pengiriman ke Bali, sedikit lebih mahal ongkos kirimnya. Harga normal bukunya adalah Rp75ribu. Hardcover, 236 halaman, full colour. Ditunggu emailnya. Salam

  4. yen nena ketaren says:

    Dear Bu Amalia,
    BrandMate, Angie, :)
    Hufftt…
    SOmetimes there is no friends when they cant take an advantage from us.
    so, like a brand, when we cant take an advantage from a brand, like to show our prestige.
    dont we will leave them?
    they will betray

    Thanks :)

    • Dear Yen Nena, thanks for writing at my blog. Agree, it is not easy to maintain relationship with your friends. or the brand with their customer. When there is no more value, who are going to stick with you? Untuk brand, harus terus melakukan pengenalan dan pemahaman tanpa henti, agar soulmates tetap bertahan dan tidak pindah ke lain hati.

  5. Muhammad Zahron says:

    Saya baru menemukan blog Ibu pagi tadi, dan tidak berhenti membaca hingga saya nulis komen ini. Terimakasih Ibu sharingnya, sangat bermanfaat bagi dalam menjalani pekerjaan sebagai Marcomm di salahsatu NGO. Saya yang secara formal kuliah di bidang pendidikan, sangat terbantu dengan adanya tulisan-tulisan bu Amalia.
    Salam hormat sasay bisa berkenalan dengan bu Amalia.

    • Terimakasih atas apresiasinya Zahron. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Saya baru saja menerbitkan buku BRANDMATE: Mengubah Just Friends menjadi Soulmates, yaitu branding solution series. Jika berminat kirim email ke info@etnomark.com ya. Buku ini hanya bisa dipesan langsung ke ETNOMARK, jadi tidak tersedia di toko buku. Salam

  6. Desy Wuland says:

    Tanpa sengaja ‘menemukan’website ibu dan membacanya, saya langsung jatuh hati. Tulisan-tulisannya menarik dan cerdas. Terus terang saya sedang tertarik mempelajari tentang branding dan marcom. Dan membaca tulisan-tulisan Ibu Amalia membuat saya semakin tertarik untuk tahu lebih jauh mengenai branding dan marcom. Sekarang website ibu menjadi bacaan tetap setiap hari di sela-sela waktu istirahat kerja. Karena membaca website ini, saya berencana untuk kembali ke bangku sekolah, mengambil master bidang branding atau marcom. Mungkin ibu ada saran untuk saya? Terima kasih sebelumnya karena telah bersedia membagi pengetahuan dan membuat saya mengerti apa passion saya sebenarnya. Salam hangat.

    • Thanks ya Desi, senang kalau blog saya ada gunanya. Desi sudah aware tentang buku saya yang terbaru: BRANDMATE, kalau berminat bisa hubungi info@etnomark.com. Kalau Master di bidang branding belum dengar kalau Master di Marcom sudah ada di LSPR. Di Binus juga ada, yaitu Master di bidang Strategic Marketing. Sukses ya.