-->
 

Brand Partnership: jangan cuma waktu senang aja

Apa artinya Partnership? Tentu berkaitan dengan sebuah kegiatan timbal balik yang menguntungkan untuk kedua belah pihak. Dalam co-branding, tentu partnership berarti berbisnis bersama, dikala senang dan susah. kala satu brand sedang sulit, tugas brand partner melindungi.

Saya menemukan brand partnership yang menurut saya kurang kuat. Dalam sebuah kesulitan, brand partner justru menghindar dan cuci tangan. What kind of relationship is this?

Ceritanya di dekat rumah saya sedang ada dua brand supermarket yang bertempur, X dan Y. Y saat ini sedang diatas angin, karena baru saja dibangun, tempat lebih luas, lebih baru, lebih fresh, lengkap dengan tempat bermain, cafe, resto dll. Judulnya orang berlomba-lomba datang ke sana dan melupakan sahabat lamanya X. Tidak hanya ibu2 yang nggak balik2 lagi ke X. Anak saya umur 3 tahun Emir aja udah maunya Y melulu. Sebab ditempat ini ada ‘temzon’ nya (yang bukan Time Zone sih, tapi buat Emir tetap aja temzon.

Padahal, Emir adalah termasuk penggemar ‘X’… sangat mengidolakan. Baru lihat logonya di jalan-jalan aja dia udah nunjuk2 dan serasa deh pokoknya. Sekarang Emir bilangnya gini (ssooo diplomatis): ” Emi waktu bayi ke X.. tapi sekarang karena udah besar… ke Y”. Alesan aja dia, padahal udah jelas tempat mainannya lebih banyak.

Lho ceritanya jadi kemana-mana nih, alhasil, pada satu hari minggu yang cerah, kami membaca spanduk besar2 diskon sampai 80% di X. Wow, keren banget nggak sih diskon 80% itu beneran apa nggak ya. Kata suami saya, alah udahlah, paling2 cuman 1-2 barang, cuman digede2in aja, biar orang pada datang.

Tapi, memang dasar ibu-ibu, diskon adalah sebuah permen yang enak sekali rasanya. Berangkatlah kami ke X, membelokkan arah, yang awalnya sudah di-set mau ke Y (tetangganya).

Spanduk 80% off ada dimana-mana termasuk di luar toko. Sampai di toko, tanda2 yang mana yang 80% off makin tidak tampak, akhirnya saya tanya dengan salah satu petugas, yang ternyata tidak terlalu tau juga. Brosurnya udah habis, Bu. Katalognya ada kok…

Tanggung lah, udah nyampe sana, jadi saya belanja aja, tapi belanja yang penting2 aja. Di dalam nggak nampak mana2 yang diskon80%. Saya tanya lagi di dalam toko dengan salah satu petugasnya, menurutnya “Oh itu hanya untuk yang punya kartu member”. Halah mau diskon aja banyak syarat nih.

Di kasir, saya tanya, sebenarnya barang apa aja sih yang diskon gede2an Mbak? Santai banget jawabnya, nggak tau ya????… wah, lha dia aja nggak tau? Internal communication nya nggak OK nih, komentar saya (dalam hati).

Selagi sibuk membayar datanglah someone charming, yang membawa penawaran kartu kredit Bank B yang berpartner dengan X. Kesempatan itu saya gunakan lagi untuk bertanya, Mas, sebelum nawarin kartunya, saya tanya dulu ya: Tau nggak sih yang mana2 aja barang yang didiskon hari ini? atau infonya ada dimana, saya mau tau.  Dia juga tidak tahu, lho!

Kalau gitu buat apa dong pasang spanduk besar2 diluar kalau yang bertugas hari ini aja nggak ada yg bisa menjelaskan ke saya barang2 yang diskon. Jadi akhirnya saya belanja spt biasa aja, padahal saya udah belok nih nggak jadi ke sebelah.

“Tolong sampaikan dong Mas, saya complain. Kan, kalau janji diskon gede2an, seharusnya info nya yang jelas, dimana dan barang apa aja… saya udah tanya berapa orang gak ada yang ngerti. Masa saya musti ngubek-ngubek supermarket ini sih untuk cuman cari diskon aja. Sangat tidak nyaman, dong. Boleh ya nanti sampaikan ke Manajemen nya.”

Sayang sekali kecharming-an Mas yang pakai uniform berlambang Bank B dan lambang X hilang, dia keberatan menyampaikan complain tsb. Dia menyarankan saya untuk datang langsung ke Customer services dan mengisi kartu saran. Alasannya, that is not part of the job. Dia kan bekerja mewakili brand Bank B, bukan brand X.

Sebagai orang yang bergelut di bidang branding, saya merasa prihatin dengan jawaban itu. Setau saya Mas ini ada di sini sebagai perwakilan kedua brand. Bajunya aja mengandung dua logo brand tersebut. Memang aslinya sih adalah pegawai bank B. Tapi dalam kerjasama ini, seharusnya bisa dan harus terima masukan untuk partnernya,

Lucu ya. Saya jadi terpikir, hmm.. one sided banget nih gaya partnership co-branding kaya gini. Jadi bukan bersama-sama dalam masa susah dan senang. Kalau lagi cari bisnis atau cari prospek aja aku mewakili dua brand (carinya aja di lahannya X), tapi kalau ada complain…. ‘gi deh..” bukan brand gw, emangnya gw pikirin????? hehe…

So, teman, either orang ini sangat tidak mau repot, atau nggak mengerti ‘apa arti sebuah partnership dalam kerjasama kartu kredit B dan X” itu, atau memang tidak ada pengarahan dari manajemen tentang luasnya arti sebuah brand relationship.

Hm. Pelajaran branding lagi. Partner itu di kala senang dan susah. Cobranding adalah yang harus menerima partnernya seperti sebuah paket. Terima bisnisnya, tapi terima juga dong complainnya.

Brand Partner yang kita pilih, seharusnya sudah dinobatkan menjadi brand ambassador brand kita. Dia adalah our touch point, contact point dengan customer.

Penutup cerita: Keluar dari supermarket, barulah tampak kotak-kotak berisikan barang-barang yang didiskon 80% itu di tempat parkiran.., bukan di dalam supermarket nya. pantesan aja nggak ketemu. Saya berjalan terus….sudah nggak nengok lagi, kehilangan selera.

6 Comments on "Brand Partnership: jangan cuma waktu senang aja"

  1. Afful Basri says:

    Bu Amalia, itu terjadi karena si petugas Bank B tersebut tidak mengerti apa artinya partnership, apa artinya co-branding, sehingga target dia sebagai karyawan Bank b ya hanya menjual produk Bank B yang barangkali bisa dipakai di toko X dengan segala privilagenya. So, itu menjadi tugas ibu (sebagaio seorang pakar branding) untuk menjelaskan kepada para pebisnis pentingnya co-branding dan partnership.

  2. Amalia E. Maulana says:

    Bisa jadi seperti kata Pak Afful, mungkin pengarahan dari manajemen nya memang benar-benar sebatas cari ‘klien’ yang mau punya kartu kredit, tanpa menghayati bahwa kartu kredit nya itupun membawa dua bendera brand : brand perusahaan sendiri dan perusahaan partnernya.

    Tulisan saya di blog ini bagian dari peranan ‘mendidik’ yang dibilang Bapak jadi tugas saya. Nggak mungkin kan Pak saya sendirian bicara tentang hal yang penting seperti menumbuhkan kesadaran branding seperti ini..Butuh banyak Change Agent dalam perusahaan masing-masing untuk menginternalisasi makna branding dalam keseharian berbisnis.

    Thanks for your comment!

  3. Amalia E. Maulana says:

    Comments from My Facebook friends:

    Irranida Hussi:
    Inspiratif, Bu. Izin untuk share ya, Bu. :)

    Sonny Kusumasonjaya:
    minta ijin share juga, mbak… buat mahasiswa2 saya..

    Agus Harian:
    thx, artikel yg bagus mbak, seperti biasanya :)
    (Btw, bukunya nyari2 di Surabaya ga ada. Pernah nyoba via toko buku online jg ga bisa. Gimana cara mudah mendapatkan bukunya mbak?)

    Gia Josie:
    hahaha, kalau orang seperti Ibu Amalia banyak, yang ada pasti suaranya akan sampai ke pemilik owner yaa bu :) . Hehe

    Abah Effi Harfiana
    jadi ada dua insight ya bu, pertama: iming2 utk membujuk calon konsumen agar bersedia membeli. Setelah itu konsumen kecewa tidak terlalu penting. Ini model pemasaran yg sangat primitif, namun di sini masih banyak penganutnya.
    Kedua: co branding semu. Tidak ada niatan utk saling menguatkan dan saling mengisi kelemahan dua brand sbgmana tujuan mulia co branding. Model begini masih banyak terjadi. Keduanya mengerucut pada satu hal: Konsumen yang kecewa dan sebal. Alhasil, customer satisfaction sebatas jargon yg hanya boleh ada di buku teks dan di ruang meeting para marketer…uhuk…

    Fransiskus Asisi Suseno Arif
    thanks bu buat sharing, terkadang hal seperti ini sering kita lupakan dan bahkan ada yang menganggap hal ini adalah hal sepele. setuju banget internal communication tuch penting banget, percuma ounya budget gede buat advertising ke public kalo didalamnya nggak kompak. sangat inspiratif bu. Thanks

    Novella Frisca Silalahi
    Hahahhahh miss nice one! maunya di baca sm orang2 yang do patnership yaaaa, jadi mereka jg harus me encourage or educate employeenya!

    Nina M Yunianto
    Sekarang ada pula supermarket Z. Saya tetep ke X lho bu, soalnya kasirnya skrg tidak ngantri :)

  4. intan says:

    It is so inspire me to a lot of thing. This is a great article. Thx for inspiring me today.

  5. Amalia E. Maulana says:

    Ibu Intan thanks atas commentnya di blog ini.

    Senang sudah bisa menginspirasi orang secemerlang Ibu. You are the ‘smiling face’ of the brand that I interact with. Padahal pasti banyak sekali potential complaint di divisi Ibu. Pengalaman saya berinteraksi dengan Ibu menggambarkan ‘you are the right person in the right place’. Keep it up ya Bu….

  6. intan says:

    Terima kasih atas compliment yang ibu berikan kepada saya, semoga bisa membuat saya lebih baik lagi. Salam untuk keluarga dan sukses selalu untuk ibu.