-->
 

Obama Selfie: Koridor Konteks

‘A picture worth thousand words’

Dalam studi etnografi sering diulas betapa sebuah gambar bercerita banyak tentang sebuah situasi, sebuah rekaman yang nyata terhadap ekspresi interaksi antar aktor.

Karenanya, dalam etnografi pemasaran, kekuatan gambar itu juga mendasari pengumpulan foto-foto tentang kegiatan konsumen dalam kesehariannya.

Sangat menarik mengikuti perkembangan kasus Foto ‘Selfie’ Presiden Obama. Dari satu dua foto saja, cerita yang berkembang di media massa dan media sosial sudah sedemikian luas dan melebarnya.

Eksposure pertama saya tentang foto ‘Selfie’  Presiden Obama bersama Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Hellen Thorning Schmidt adalah dari Facebook salah satu teman. Kesan instan, seperti yang bisa diduga adalah keheranan dan langsung mempunyai prejudice tentang betapa tidak sensitif nya para kepala negara tersebut. Saat pemakaman tentu bukan saat yang tepat untuk ‘berfoto-ria’ apalagi secara ‘selfie’ tersebut.

Selfie adalah kata baru yang marak belakangan ini semenjak teknologi kamera semakin canggih. Selfie adalah kegiatan memotret diri (sendiri atau beberapa orang) dan biasanya dengan sudut yang agak miring untuk mendapatkan hasil lebih baik. Selfie juga menghiasi banyak kehidupan online sosial seseorang, dimuat di blog, di facebook, di twitter dll. Biasanya foto-foto ini casual dan pemotretnya ikut di dalam foto tersebut.

Bahkan ada istilah ‘group selfies’ yang melibatkan lebih dari 1 orang di dalam pemotretannya. Photo yang menghebohkan di pemakaman Mandela itu bisa dikategorikan sebagai Group Selfie.

Khusunya untuk Obama, cerita foto tersebut berkembang pesat dengan menggunakan elemen lain yang juga tergambar di sana. Ekspresi Michelle Obama yang duduk di sebelah ketiga kepala negara tersebut tampak kesal, cemberut dan seperti diasingkan (dialienasi).  Persepsi saya terhadap Obama menjadi terbentuk oleh (1) ekspresi foto, (2) ulasan-ulasan yang menyertainya, terutama pembahasan di media sosial yang mengalir secara deras.

Momentum ini tentu saja merupakan senjata yang sangat paten bagi pihak-pihak yang sudah sejak awal tidak menyukai Obama dan menganggap Pemilihan Obama sebagai Presiden dari Amerika Serikat sebagai sebuah kesalahan.  Bahwa Obama tidak punya sensitifitas baik ke rakyatnya (karena mewakili mereka dalam pemakaman tersebut). Bahwa Obama tidak punya sensitifitas terhadap istrinya Michelle. Bahwa Obama tidak punya sensitifitas kepada rakyat Afrika Selatan yang sedang berkabung.

Kesan negatif ini sangat mudah untuk dibangun dalam cerita-cerita yang mengikuti foto-foto yang menggambarkan Selfie Obama ini. Dan, tentu saja saya termasuk salah satu orang yang terbawa pada impresi tersebut.

Seorang South African yang tinggal di New York, sebagai contoh, sangat terkejut bahkan ‘completely shocked’ dengan munculnya foto Selfie Obama & friends tersebut. Dalam bayangannya foto tersebut diambil pada saat-saat penting pemakaman Mandela dan itu dianggap sangatlah tidak pantas.

Kesan saya mulai berubah pada saat membaca cerita baru yang ditulis oleh jurnalis foto pembuat foto-foto tersebut yaitu Roberto Schmidt.  Tulisannya berjudul ‘The Story behind “that selfie’.

Roberto menjelaskan bahwa foto-fotonya tersebut telah ‘diterjemahkan’ dalam berbagai rangkaian cerita yang menurutnya keluar dari ‘Konteks’. Ia sendiri heran dengan penjelasan banyak ‘analis’ di media sosial yang tanpa mengerti ‘cerita’ yang sebenarnya menganggap Michelle Obama seolah-olah dikesampingkan. Menurutnya, ‘PHOTS CAN LIE’. Kenyataanya, hanya beberapa saat sebelum foto itu diambil, Michelle berbincang-bincang dengan sangat ceria dengan orang-orang di sekitarnya. Wajah Michelle yang ‘tegang’ tersebut tertangkap kamera secara tidak sengaja saja. Snap shot yang sangat kebetulan.

Pembelaan sang juru foto juga tentang konteks saat pengambilan foto, ternyata bukan pada saat berlangsungnya pemakaman, tetapi beberapa jam setelahnya, pada saat lebih dari sepuluh ribu orang sedang merayakan di stadium tersebut. Keadaannya sangat cair dan menurutnya ‘snapping a selfie’ merupakan hal yang biasa dan natural saja. Sudah tidak jamannya lagi seorang kepala negara harus selalu serius dan kaku, terutama dalam generasi Obama.

Pelajaran yang dipetik dari kasus Obama adalah ‘janganlah jump to conclusion’ hanya dengan mempunyai satu dimensi data saja. Yang perlu dilakukan adalah mempelajari secara holistic sebuah situasi.  Memahami konsumen juga perlu menggunakan beberapa teknik penggalian insights dan informasi multi dimensi.

Fotografi tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya data atau informasi. Teknik fotografi sebagai sebuah snap shot, harus dikombinasi dengan berbagai teknik lain seperti interview, observasi langsung dll, agar bisa merangkai sebuah cerita berdasarkan pemahaman konteks yang tepat. Cerita tersebut menjadi lebih bernilai karena tidak keluar dari koridor situasi yang sebenarnya sedang terjadi.

Contoh lain untuk pembahasan pentingnya konteks adalah konflik Film Soekarno. Terlepas dari siapa yang benar dan salah, saya juga melihat ada sesuatu yang bisa dijadikan pelajaran dalam konflik Rahmawati – Hanung Bramantyo. Sejarah itu multi-tafsir, multi-interpretasi. Melibatkan sejarawan, melibatkan keluarga tokoh akan membantu menjembatani kesalahpahaman yang tidak perlu terjadi bila disikapi sejak awal.

Keresahan dari pihak keluarga Sukarno adalah seputar beberapa adegan yang dianggap keluar dari ‘konteks’. Bahwa mereka yang seharusnya menjadi narasumber penting dilibatkan dalam proses pembuatan film Sukarno garapan Hanung Bramantyo. Harus ada yang mengawal proses pembuatan film yang dibuat berdasarkan kisah nyata, apalagi ini adalah bagian dari sejarah bangsa.

Beberapa ‘kekeliruan’ yang dianggap mengganggu diantaranya adalah tentang perumusan naskah proklamasi. Dalam film divisualkan seolah Bung Karno terlibat dalam pembuatan naskah proklamasi, Padahal naskah tersebut dibuat hanya oleh Bung Hatta saja, bukan Bung Karno, demikian menurut Rahmawati.

Dalam penggambaran sebuah situasi dalam bentuk cerita baik itu cerita foto jurnalistik maupun cerita film,  sangat penting mempertahankan koridor konteks. Uji validitas dalam sebuah studi etnografi, sebagai sebuah contextual study, sebagai studi kualitatif adalah lakukan Check, Re-Check, Double Check dan Cross Check.

(dimuat dalam Kolom Branding Solution, Koran Sindo, Desember 2013)

Comments are closed.