-->
 

Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates

Oleh Mardiana Makmun, Investor Daily, 29 Februari 2012

Teman biasa mudah dicari, tetapi menemukan teman sejati memerlukan proses panjang yang tidak pernah berhenti. Amalia E Maulana, brand consultant & ethnographer, menganologikan hal itu dalam buku Brandmate: Mengubah Just Friend menjadi Soulmates

Branding seperti menjadi napas Amalia E Maulana. Sekian lama berkutat dengan branding, Amalia menemukan banyak permasalahan. Yang paling fatal menurutnya adalah kesalahan persepsi bahwa branding sama dengan marketing communication (marcom).

“Jadi, branding dipersepsikan sama dengan kegiatan marcom, seper ti pembuatan logo, slogan, iklan, event, spanduk, dan pameran saja,” ungkap Amalia dalam peluncuran buku Brandmate: Mengubah Just Friend menjadi Soulmates, di Jakarta, pertengahan Februari lalu.

Dalam sebuah bisnis, branding dibutuhkan agar bisnis berjalan terus dan menghasilkan penjualan yang terus meningkat. Tapi sekali lagi tegas dia, branding lebih dari sekadar kegiatan marcom. “Kegiatan branding mencakup bagaimana proses pencapaian cita-cita perusahaan melalui berbagai kegiatan, bukan marcom saja,” tegas dia lagi.

Dia melanjutkan, dalam branding, kegiatan sentral justru dimulai dengan riset mendalam menggunakan pendekatan etnografi atau budaya konsumen. “Di sinilah akar permasalahannya, perusahaan melakukan branding tanpa lebih dulu melakukan riset mendalam sehingga branding menjadi sebuah pemborosan investasi karena tidak mengenai target,” jelas dia.

Amalia menjelaskan, secara sederhana, tujuan branding adalah agar brand sebuah produk dikenal luas dan mendalam oleh konsumennya. “Namun branding yang berhasil, bukan cuma sekadar bisa menjual produk sebanyak-banyaknya kepada konsumen, tetapi lebih dari itu, juga bisa memenangkan hati konsumen dan mengikatnya secara emosional,” jelas dia.

Bukan perkara mudah, tetapi bukan pula perkara susah memenangkan hati konsumen. Dalam bukunya tersebut, Amalia menggunakan analogi pertemanan mengubah teman biasa menjadi teman sejati. “Dalam hal branding, sebuah brand harus mengonversi konsumen biasa (just friend) menjadi konsumen loyal (soulmates),” jelas dia.

Dan lagi-lagi seperti pertemanan, kuncinya adalah sebuah brand harus mengenali dan memahami kebutuhan dan perilaku konsumennya. Untuk bisa mengenali secara mendalam, apalagi yang harus bisa dilakukan kalau bukan riset. “Seperti memahami teman, kita harus riset, paling tidak kecil-kecilan untuk memahaminya,” jelas dia.

Nah, hasil riset kemudian diformulasikan menjadi sebuah strategi dan dikomunikasikan. Komunikasi ini bentuknya bisa bermacam-macam yang dikenal dengan kegiatan marcom, seperti pembuatan logo, slogan, iklan, event, spanduk, pameran, dan lain-lain.

Namun satu hal, tegas Amalia, sebelum mengomunikasikan ke pihak luar (eksternal branding), perusahaan seharusnya lebih dulu melakukan internal branding agar karyawan dari jajaran atas hingga bawah, memiliki tujuan dan komitmen yang sama terhadap produk mereka.

“Saya mencontohkan brand Samsung, seluruh karyawannya memiliki tujuan dan komitmen sama, bahwa mereka menjual produk yang berkualitas dan persepsi ini yang terus mereka jual dan bina kepada konsumennya. Mereka juga sangat percaya diri dengan produknya dan menggunakannya sehari-hari. Kini produk Samsung bisa bertransformasi dari brand yang biasa-biasa saja menjadi yang premium,” ujar dia.

Sering Tertipu
Kedekatan Amalia E Maulana dengan branding dimulai ketika ia bekerja di beberapa perusahaan multinasional, seperti Unilever, PT Reckitt & Colman Indonesia, dan lain-lain, sebagai brand manager.

”Pada saat melanjutkan studi, topic riset saya adalah seputar branding dan marcom, itu semakin membuat mata saya terbuka terhadap dinamika dan permasalahan di bidang ini,” ujar Amalia yang berpengalaman mengajar branding di sejumlah universitas, seperti Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI), Binus Business School, dan lain-lain.

Analogi pertemanan ‘mengubah just firend menjadi soulmates’ dalam proses branding didapatnya dari pengalaman melakukan riset pada 2005, tentang connectedness antara website dengan pengunjungnya, sebagai bagian akhir dari tesis S-3. Dalam riset tersebut, dia menemukan bahwa kesuksesan sebuah website tidak ditentukan oleh seberapa banyak pengunjung yang datang, tetapi seberapa intens pengunjung masuk dan berinteraksi di dalam halaman website setiap kali berkunjung.

”Ternyata website yang connected adalah website yang mempunyai ikatan emosional yang lebih dengan pengunjungnya. Mereka mau berjam-jam duduk dan berinteraksi di sebuah website, dan ini hanya bisa terjadi apabila ada ‘benefit emosional’ yang dirasakannya,” ungkap dia.

Hasil riset tersebut sudah dipublikasikan di sebuah jurnal Internasional yang berjudul Just Friends, Good Acquaintances or Soulmates? An Exploration of Web Connectedness pada 2007 di jurnal Qualitative Market Research.

Sehari-hari mengurusi branding, Amalia mengaku tidak menjadi seorang yang brand minded. Memang, lanjut dia, ada beberapa produk dengan brand yang lebih ia percaya. “Asli, saya adalah konsumen biasa yang juga terpengaruh iklan, terpengaruh opinion leader dan hal-hal yang sangat konsumen banget. Suami saya sampai heran, dan bergurau bahwa saya adalah marketing people yang sering ketipu iklan,” ujarnya tertawa. (*)

One Comment on "Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates"

  1. Teguh Indra Laksana says:

    Bu, bagaimana jika saya terpaksa menggunakan nomor HP yang saya sudah pakai selama 12 tahun, dan sudah menjadi “brand” saya, sehingga sulit bagi saya untuk menggantinya, tetapi kualitas dari provider terus mengalami penurunan, apakah ini dikatakan sebagai pertemanan semu? Apakah ini bisa diklaim sebagai kesuksesan provider tersebut dalam Branding?

    Salam,

    TIL