-->
 

MarComm vs PR Manager

Mau highlight sedikit potongan dari acara Workshop: Effective MarComm Manager : in the Modern Marketing Environment, diselenggarakan di menara Cakrawala tgl 25 Nov kemarin.. dari jam 9 sampai jam 5.30. Workshop ini kali pertama saya lebih banyak ngomong soal MarComm (lha judulnya aja itu kan..), biasanya workshop saya lebih banyak ‘riset’ flavornya.

Kalau kita lihat pesertanya ternyata menarik untuk dianalisa, karena merupakan paduan dari tiga dunia, yaitu MarComm Manager, PR Manager dan Brand Manager. Tapi terus terang aja yang Brand Manager cuman dua orang.. selebihnya PR dan yang paling banyak MarComm Manager. Kenapa Brand Managernya dikit, Dua kemungkinan, karena memang topik/judulnya lebih ke MarComm, atau mungkin Brand Manager merasa.. ah, posisi gw aman2 aja koq .. (nothing change in brand management).

Dilihat dari industri, pesertanya sangat bervariasi, karena ada dari consumer goods (Sosro, Unilever, GarudaFood), juga pharmaceuticals (Combiphar dan Roche), banking (BRI dan Bank Danamon), insurance (Cigna dan AXA), media (Femina, SWA, Mix, Detik.com), pendidikan (Binus), pupuk (Agrobost), pertambangan (Freeport), PR Agency (FortunePR, IPM PR ), Retail (Bodyshop and Cientro), dan apa lagi ya… ada beberapa lagi, harus lihat list nih. Yang itu tadi yang ada di benak.

Pada awal pembahasannya lebih ke arah beda MarComm Manager vs PR (Corporate Communication)  Manager, beda MarComm Manager vs Brand Manager — dan mengalir pada diskusi yang seru karena tentu saja pengalaman2 di perusahaan menjadi trigger dan bahasan issuesnya.  Sebenarnya dilihat dari fungsi, Corporate Communication (PR) lebih mengarah kepada pekerjaan yang bersifat integrative di level corporate, jadi reportnya langsung ke CEO atau General Manager. Setara dengan Quality Assurance Manager yang juga dalam struktur organisasi langsung report ke orang no.1. Sedangkan MarComm Manager, dia langsung dibawah pengawasan Marketing Director, atau istilah kerennya sekarang adalah CMO (Chief Marketing Officer). Karena secara pekerjaan, masih sangat fungsional, yaitu marketing oriented tasks. Sedangkan PR sudah lebih broad ke arah general issues nya company.

Pendapat saya ini didukung juga oleh para peserta yang sebagian besar menyepakati bahwa titik berat MarComm lebih ke arah komunikasi yang berhubungan dengan brand (brand or consumer-related tasks), sedangkan CorComm atau PR lebih ke arah komunikasi yang berhubungan dengan stakeholders lainnya misalnya urusan dengan publik, dengan employee, stockholders, general public, media, dll Diskusi agak panjang waktu bicara tentang tugas siapa pembinaan corporate brand? PR kah atau MarComm kah? Dari obrolan, saya simpulkan bahwa yang namanya branding itu mungkin lebih ke arah ekspertisenya orang MarComm, sehingga jika yang diurusin masih sekitar branding, walaupun namanya Corporate Brand, tetap aja itu tugas MarComm. Ini juga supaya orang PR nya lebih fokus ke tugas2 yang berhubungan dengan external relations, internal relations (minus branding). Masih banyak kan pekerjaan teman2 PR Manager.

Disamping itu, saya juga mengingatkan bahwa tidak usah menggarisi ini job siapa dan siapa ngerjain apa, karena sebenarnya di dalam marketing evolution, yang menjadi trend sekarang adalah shared responsibility, dari individu ke team. Dalam banyak hal, kerjasama antar posisi jadi penting. Apalagi hari gini, dimana yang lebih dilihat adalah results in short term. Gak mungkin lah, kalo dikit2 ini bukan kerjaan saya, yang ini pekerjaan divisi lain.

 

Pada saat highlight tentang siapa yang seharusnya monitor what’s going on di consumer generated media (CGM), apakah Marcomm ataukah PR/CorComm, kita juga menyimpulkan, tidak penting untuk memastikan harus di bagian mana, yang penting adalah kesadaran company, bahwa harus sudah ada orang yang memonitor CGM dari perusahaan. Apakah divisi tersendiri, ato bagian dari MarComm ato bagian dari CorComm (PR) tidak jadi issue penting. Yang penting objective monitoringnya tercapai. Memang di level GM atau level tinggi yang kudu memikirkan, siapa ngerjain apa dan yang mana yang shared responsibility bisa dijabarkan dengan baik, up front. Jadi tidak menunggu sampe yang di bawah konflik atau malah mendiamkan saja, tidak ada yang menggarap kerjaannya karena ketidakjelasan. Lagipula, dengan nature company dan industry yang berbeda, juga bisa disesuaikan juga seperti apa pembagian jobdesc ini.

Buat MarComm Manager.. define your job content and communicate with most of internal and external parties.. jadi ini akan meminimumkan potential conflict and confusion.        

6 Comments on "MarComm vs PR Manager"

  1. gia says:

    unfortunately, saya tidak bisa datang ke seminar Ibu Amalia :( . Sepertinya seru tuh dilihat dari pembicaraan diatas, mengedepankan management conflict yah Bu? Bisa dishare slide presentasinya?

  2. Amalia E. Maulana says:

    Gia dan juga teman2 lainnya, saya punya rencana mau repeat acara ini dalam jangka waktu yang tidak lama lagi (mungkin awal tahun depan). Kalau ada yang tertarik, silakan kirim email, nanti akan kami kirimkan detail acara workshop yang dimaksud.
    thanks for your interest.

  3. gia josie says:

    Oke, kalau bisa seminarnya hari sabtu, biar lebih tenang.. ditunggu kabarnya. Thanks

  4. Teddy Arifianto says:

    Ibu Amalia,
    Saya baru baca summary yang pernah Ibu janjikan di seminar PR VS Marcomm Manager- Effective Marcomm seminggu lalu. Pertama-tama, terima kasih sudah mempostingnya di web ini, sehingga bisa share ke lebih banyak orang. Trus, bu..saya mau koreksi sedikit, saya datang dari institusi PR agency yang namanya IPM Public Relations (bukan IMP seperti yang tertulis dalam tulisan Ibu).
    Saya cukup puas dengan hasil yang saya dapat selama ikutan seminar Ibu. Yah, wawasan saya jadi lebih luas lagi terutama dari perspektif marketing dan brand. Saya sendiri di kantor ber’title’ Marcom Mgr, tapi dalam keseharian saya, saya berfungsi lebih pada CorpComm, cuma karena saya juga berlatar belakang pekerjaan sebelumnya sebagai marketing, jadi saya tertarik ikutan nyemplung menggabungkan kedua ilmu ini, yang saya percaya somehow akan lebih baik kalo digabungkan dalam pelaksanaanya biar pendekatan yang kita punya pun menjadi lebih luas dan berimbang.

    Dalam keseharian, saya sering exercise mengkombinasikan dua perspektif marcom dan CorpComm secara bersamaan, dan malah jadi lebih saling melengkapi walau kadang jadi tumpang tindih. As consultant, saya rasa ini ada baiknya karena klien jadi seneng disodorin berbagai alternatif yang memakai lebih kaya pandangan.Kita jadi tau gimana sih para marketer itu berpikir, apa tujuannya, apa saja yang menjadi ukurannya, sedangkan di CorpComm yang sarat akan urusan issue and stakeholders management, kita harus pandai2 mengkomunikasikan ini dengan pas dengan audience kita.

    Intinya sih, mudah2an kedua profesi ini ke depannya bisa lebih akur dan bekerjasama dengan lebih solid, karena peranan keduanya akan semakin signifikan, apalagi di tengah krisis global saat ini.

    Trims sekali lagi, Ibu Amalia. Mudah2an nanti bisa diskusi lagi di lain waktu.
    Salam.
    Teddy

  5. Amalia E. Maulana says:

    Makasih untuk koreksi nya Pak Teddy — sorry nih, short memory itu sebab belum lihat kartu nama. Udah saya betulin lho Pak.

    Saya sependapat soal gabungan pekerjaan MarComm dan PR di company yang sizenya lebih kecil, bisa saja dilakukan. Ini juga masalah ekspertise dan prioritas company, kadang2 adjustment perlu dilakukan ‘siapa ngerjain apa’ tidak terlalu kaku pada aturan2 baku. Bottom linenya, pekerjaan penting itu tetap ada ‘ibu/bapak’nya. Kadang2 hanya masalah penggarisan fungsi2, kemudian menjadi tidak ada yang merasa memiliki pekerjaan itu.

  6. ihsan says:

    bu,saya calon mahasiswa yang mau ngambil kuliah jurusan komunikasi…saya sebagai laki-laki,bagusnya mengambil markom or PR?yang bs mempermudah nanti saya mencari pekerjaan?terima kasih