-->
 

KPK: Komisi Pembongkaran Korupsi

BONGKAR!

Saya suka iklan yang temanya “Bongkar Bongkar Kebiasaan Lama Orang Indonesia” dengan bintang iklan Iwan Fals. Sangat menyeruak di tengah-tengah kebosanan nonton iklan-iklan lain yang gayanya itu-itu saja.

Katanya iklan kopi ini sukses, dalam waktu singkat produk bisa mendobrak dominasi kopi ‘kebiasaan lama’ kita.  Selamat bagi team kreatifnya! Saya sendiri tanpa sadar juga ikut-ikutan beli kopi baru tersebut, ingin tau, seperti apa ya rasanya? Menurut iklan tersebut: Bukan penggemar kopi kalau belum coba rasa kopi baru.  Ternyata saya termasuk BTI – barisan termakan iklan.

Iwan Fals sangat jitu menyampaikan pesan Bongkar-bongkar dengan lagunya yang memang sangat kontekstual. Sayang yang dibongkar hanya kebiasaan lama minum kopi. Seharusnya yang dibongkar itu adalah kebiasaan lama, kebiasaan buruk orang Indonesia yaitu KORUPSI.

Lirik lagu asli Iwan Fals yang berjudul Bongkar memang berisi tentang membongkar hal-hal yang negatif yang sudah terjadi turun temurun di negeri ini. Seharusnya lirik ini dihidupkan kembali, dan diadaptasi untuk Iklan Pembongkaran Kebiasaan Lama orang Indonesia yaitu Korupsi. Minum kopinya ditinggalkan dulu Iwan, ada pekerjaan lain yang lebih penting.

“Oh oh ya oh ya oh ya bongkar!

Penindasan serta kesewenang wenangan

Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan

Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan

Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan”

(cuplikan lagu Bongkar)

Tidak mudah membongkar kebiasaan korupsi? Kalau kita tanya Iwan Fals, pasti jawabannya bisa! Membongkar kebiasaan minum lama minum kopi ternyata terbukti bisa koq. Berarti pantas dicoba membuat Iklan pembongkaran kebiasaan korupsi bersama bintang yang sama.

Untuk usulan pembuatan kampanye iklan baru tentu saya perlu bertemu dengan Project Leader Pembongkaran Korupsi di negeri ini. Persoalannya, sekali lagi persoalannya, tidak jelas project ini ‘person in charge (PIC)’ nya siapa……

Denny Indrayana? Jelas bukan. Jika Denny Project Leader Pembongkaran Korupsi tentu dia punya grand strategy yang lebih sophisticated dan tidak sporadis kerjanya seperti yang kita amati saat ini.

Sepak terjangnya sering menuai polemik. Maksudnya baik, tetapi tidak semua pihak bisa menerima cara kerjanya. Belakangan, kicauannya di Twitter berbuntut panjang , memancing Twitwar dengan tokoh lain. Walaupun ia mengatakan tidak mau menjadikannya menjadi Twitwar, hal tersebut sudah terjadi. Ini membuktikan bahwa Denny belum memahami sepenuhnya karakter media komunikasi yang digunakannya untuk ‘kampanye’ pembongkaran korupsi.

Seperti yang ditulis oleh Nukman Lutfie dalam artikelnya yang berjudul Twitwar.

“Karena keterbatasan 140 karakter, Twitter bukan media yang ideal untuk berdebat. Salah paham dan kehilangan konteks sangat mudah terjadi di sini. Berbeda dengan pertengkaran lisan yang akan hilang bersama waktu dan lupa, twitwar akan tercatat meski bisa saja dihapus. Namun jika terlanjur di RT, di-favoritkan, atau di-capture orang lain, akan tercatat selamanya.”

Twitter bukanlah media yang tepat untuk membahas topik sesensitif #advokat koruptor. Akhirnya, Denny menjadi sibuk sendiri menjelaskan kepada audience setelah terjadi banyak kesalahpahaman bagi yang tidak tuntas membaca kumpulan twit nya. Bahkan, kemarin sampai secara khusus minta maaf kepada Advokat bersih.

Denny tidak bisa bekerja sendirian.  Untuk CHANGE sebesar pembongkaran korupsi, siapapun project leadernya, harus melibatkan campur tangan ‘the number one person’ di organisasi Negara kita. Dalam Change Management, dukungan orang nomer satu merupakan syarat utama. Tanpa dukungan dan tekad kuat untuk Membongkar Kebiasaan lama orang Indonesia, mustahil project ini bisa berjalan dengan baik.

Sejak kampanye pemilu yang lalu, project memberantas korupsi sudah dijadikan primadona pemikat hati rakyat. Ditambah memberantas kemiskinan, dua hal ini adalah janji surga. Ternyata Panggang masih sangat jauh dengan Api. Berapa banyak kasus korupsi yang ditangani tetapi tidak diselesaikan? Dalam bahasa Jawa itu disebut project ‘mangkrak’, project yang dibiarkan tidak jelas: ditutup tidak, dilanjutkan juga tidak.

Brand adalah Janji. Janji utama personal brand Bapak Presiden pada saat kampanye pemilihan adalah pemberantasan korupsi. Jika sampai sekarang belum terlaksana,  berarti ada yang salah dalam mengatur prioritas kerja.

Sudah banyak lembaga yang mengurusi Korupsi. Yang sering tampil di publik adalah KPK. Sayang sekali kegiatannya belum sampai pada Bongkar Membongkar. KPK adalah singkatan dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Jadi, setelah korupsi terjadi, baru diberantas.

Seharusnya  KPK dirubah kepanjangannya menjadi Komisi PEMBONGKARAN KORUPSI. Atau kalau mau lebih tepat lagi, dirubah menjadi KPKK – Komisi Pembongkaran Kebiasaan Korupsi.

Jadi disini yang harus diprioritaskan adalah dibongkarnya terlebih dulu Kebiasaan lama orang Indonesia, secara sistemik. Bukan satu-persatu setelah korupsi terjadi, baru dibereskan. Harus langsung pada akar persoalan yaitu membongkar HABIT.

Iwan Fals, mari kita galang simpatisan untuk kampanye iklan terbaru dengan tema lama: BONGKAR!

(dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo 29 Agustus 2012)

5 Comments on "KPK: Komisi Pembongkaran Korupsi"

  1. steven says:

    saya setuju untuk tidak memberikan comment comment yang eksentrik di facebook dan twitter yang dimana akan tercatat selama nya dan akan impact pada personal brand orang tersebut.
    facebook dan twitter merupakan social media yang sebenarnya diperuntukan untuk update kegiatan atau aktifitas social dan kebersamaan bersama teman dan kolega lainnya di online media.

    tidak bijak jika mendeskreditkan sesuatu tanpa detail yang jelas dan dengan keterbatasan 140 karakter di twitter sehingga membuat sebuah tweet menjadi sumber tweet war.
    segala tweet dan comment di facebook merupakan brand atas orang tersebut. yang dimana jika ada sebuah comment negatif, akan menjadi kan batu sandungan pada orang tersebut pada masa yang akan datang.
    misal nya si A ketika kuliah suka protes ini itu..ketika pencalonan presiden oleh A…akan menjadi batu sandungan ketika kampanye dan menjadikan brand orang tersebut dihindari oleh orang dan membuat bad word of mouth.

  2. Chris Surya says:

    Brand adalah Janji hmm… setuju banget namun kalo janji itu hanya kamuflase untuk mendapatkan hati rakyat? maka lagunya ganti….. Janji tinggal Janji….

    daripada lihatin twitwar Denny Indrayana mending lihat bukan kampanye warnya Foke dan Jokowi… satunya bilang Bukan kampanye tapi dakwah satunya bilang bukan kampanye tapi curahan hati rakyat. apalagi lebih menyeramkan kalau ditelaah lebih dalam tentang beberapa spanduk yang masih tergantung sampai sekarang yang menyatakan… Foke Nara naik, Jakarta Aman! jadi kalo beliau ngga naik maka Jakarta ngga aman donk? jawabannya seperti yang disuarakan di http://www.youtube.com/watch?v=XGNK_wuz2zE “tau gini gw ke Bali, malah macet di Smanggi”

    Masalah bongkar membongkar juga… gimana kalo Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga diganti sebagai Komisi Pembongkaran Kampanye Liar (KPKL) hahaha…. beberapa hal yang anehpun terlihat saat ini contoh pameran tentang calon MRT di Central Park… Reklame MRT di Puri Indah.. apakah itu bagian dari kampanye yang memberikan janji tinggal janji atau usaha untuk “Pilihlah aku jadi pacarmu”

    so kami sebagai pendatang cuman bisa berharap yang terbaik saja dan semoga brand yang mereka buat itu merupakan Komitmen dan bukan Janji yang sekedar janji. Bila Janji selalu menjadi kenyataan, maka iBrand itu akan sukses dan bersinar!