Konsumen Juga Manusia…Needs beyond the needs

Konsumen belum tentu bisa sepenuhnya diajak ‘diskusi’ atau ngomong yang tinggi-tinggi kalo tentang future needs nya. Kan, konsumen juga manusia… Kata konsumen, eh, emangnye gw pikirin, tugas product development mah bukan tugas gw atuh!

Konsumen punya keterbatasan dalam mengekspresikan kebutuhannya, makanya bagi seorang product designer, misalnya di bidang arsitek, ya yang penting adalah bagaimana menangkap keseharian konsumen dan menjaring needs dasarnya, menangkap issues and concerns nya. Needs beyond the needs ini adalah sebuah proses pemersatuan antara kebutuhan konsumen masa kini dan masa depan dipadukan dengan kepiawaian atau kreatifitas disainer dalam mengekspresikan kebutuhan tersebut ke dalam sebuah wahana baru yang belum ‘terbayangkan’ oleh konsumennya.

Menarik kan! Memang tampaknya sepele, tapi di lapangannya tidak sesederhana itu. Di luar negeri, sudah banyak bangunan arsitektur kreatif yang menggunakan jasa ethnographer – yang dalam hal ini mendampingi arsitek/disainer untuk eksplorasi, terutama pada bagian needs yang paling mendasar dari keseharian konsumennya dan menangkap ‘aspirasi’2nya.

Saya pernah menjadi juri di Young Creative Entrepreneur Award nya British Council tahun 2007 dan disana bertemu dengan Pak Irvan Nukman – arsitek/disainer senior (salah satu juri lain) yang menjelaskan tentang peranan ethnography ini di dunia arsitektur, dan sudah mulai banyak diterapkan di industrinya. Secara tidak terstruktur, mungkin disainer di dalam negeri sudah melakukan eksplorasi needs tersebut – terbukti dengan hasil-hasil arsitektur kreatif yang dihasilkannya. Tapi apakah sudah menggunakan proses ethnography yang benar atau belum, ini wallahualam.

Mungkin ada yang punya masukan tentang hal ini?

Bagaimana dengan Mas Prasetyo Budi Santoso, yang isi blog nya saya angkat dalam tulisan saya yang berjudul “Arsitektur Kreatif: Needs beyond the Needs”. Mungkin mau ikut nimbrung diskusi di blog ini, monggo lho Mas. Sekalian saya juga ingin klarifikasi, ternyata Mas Pras ini sudah tidak bekerja lagi di PTI Architect, seperti yang saya cantumkan dalam tulisan di Bisnis Indonesia Minggu – tentang bedah korporasi tersebut.

Kalau yang belum sempat baca atau tidak punya koran Bisnis Indonesia Minggu, ya silakan baca langsung saja di published articles di blog saya. Yang di dalam blog ini extended version, ya. Soalnya karena tulisan saya kepanjangan, jadi sudah mengalami proses editing oleh teman-teman editor di media Bisnis Indonesia Minggu tersebut. Tentang judul, juga dibahasa Indonesiakan menjadi “Menjawab Kebutuhan yang Tak Terbayangkan”. Kalau saya lebih suka judulnya tetap dalam bahasa Inggris, sih, karena lebih catchy dan mengena MAKSUDnya secara padat mengikat. Nggak tau, ya kalau di Indonesiakan sering2 jadi panjang en  blukuthuk blukthuk blablabla.. terus rada buyar meaningnya. Ya ngerti, kok kalau di media berbahasa Indonesia, teman2 editor lebih cenderung untuk membahasaindonesiakan – ini maybe soal policy aja.

Ada juga pesan untuk PTI Architect di akhir tulisan saya yang juga kena gunting – sekali lagi masalah space media cetak, itulah kerugian media konvensional ini karena hitungannya adalah jumlah karakter jumlah kata, penulis agak-agak terbatas kreasinya hehe…. – yaitu saya kasih Pe Er bagi company yang dibahas hari itu (PTI Architect) untuk lebih memikirkan Corporate Social Responsibility juga – karena menghasilkan sebuah mahakarya arsitektur memang luar biasa, tetapi berguna bagi komunitas juga harus menjadi cita-cita sebuah korporasi besar sekelas PTI Architect tersebut.

Ini penting untuk saya bahas di blog ini, karena saya nggak mau cuman jadi corongnya korporasi besar, ngomong yang bagus-bagus aja, eh, belum tentu nggak punya PR dong dia, gicu kali ya.. silakan aja ikut dipikirin keseimbangan stakeholder needs nya juga.

Comments are closed.