-->
 

iPhone Kurang Hot?

Well, kenapa sih iPhone baru masuk sekarang? Kenapa nggak waktu lagi hot-hotnya dulu.. pas diluncurkan di pasar global? Ini pertanyaan banyak orang.

Bagi yang Apple minded ato udah sangat ingin punya iPhone kebanyakan udah beli di black market atau nitip ama teman yang pergi ke luar negeri, jadi akhirnya mereka sudah punya iPhone. Itu mungkin yang dikategorikan sebagai Innovator atau Early Adopter yang sangat ingin punya sesuatu yang baru, lebih dulu dari yang lain.

Kalau the rest of the market, yang termasuk kategori early majority – memang masih banyak sih orangnya, tapi tentunya tidak bisa ditembus dengan mudah oleh iPhone, di Indonesia. Harus bisa meyakinkan mengapa alternatif lainnya seperti halnya Blackberry tidak lebih baik.

Seperti yang saya tulis dalam kolom saya di Bisnis Indonesia Minggu yaitu iPhone: Pasar Red Ocean? sepertinya Steve Job kali ini over estimate pasar. Reinvent the telephone dengan memberi judul iPhone sebagai Smartphone kesannya seru sih, tetapi harus ditunjang dengan bukti kongkrit yang menjelaskan bahwa memang ada breakthrough features nya.

Suami saya pengguna iPhone sejak dari generasi pertamanya lahir – belinya di black market. Waktu baru beli sih, seru banget kayanya seminggu nggak ngapa-ngapain, cuman asyik dengan iPhone aja. Alhasil anak2 dan saya dicuekin deh pokoknya. For your info, hp saya non iPhone, dan sekarang sedang mikir2 untuk beli Blackberry. Dengan alasan, biar bisa anytime update FB (saya belum punya twitter).

Malam ini saya tanyakan lagi ke suami saya, fitur apa sih yang benar-benar tidak ada di hp lain? Menurutnya touch screennya lebih halus, beda dengan touch screen yang kemudian dimiliki oleh hp2 yang ikut menawarkan touch screen. Hal lainnya menurutnya sudah ada/diadopsi hp2 lainnya. Khusus untuk Blackberry Storm, yang ia tau, memang punya fitur lebih dari iPhone, tetapi masih banyak keluhan. Dengan kata lain, masih oke lah iPhone kalau sekarang ada di pasar kita, cuman jangan mahal-mahal aja.

Wah, kalo gitu cocok dong analisa saya dengan pendapat yang punya iPhone (sekarang iPhone suami saya sudah model terbaru). Masih besar pasar yang bisa digarap – asal harganya disesuaikan. Kalau pilihannya cuman satu yaitu harus dibundle dengan Telkomsel, itu yang juga jadi mempersempit pasar. Yang sebenarnya berpotensi untuk beli menjadi makin sedikit. Saya juga baca dan dengar bahwa peluncuran iPhone resmi minggu lalu banyak yang kecewa karena harganya.

Pasar Red Ocean memang lebih berat, tetapi bukan tidak mungkin digarap dengan baik. Jika benefit yang diberikan tidak ‘breakthrough’ atau not significant enough dibandingkan dengan produk serupa, alternatif strateginya antara lain:

1. Target audience nya adalah Apple lovers – yang menempatkan Apple produk lebih dari segalanya, artinya harga berapapun doesn’t matter. Yang penting mereknya keren, dan dipakai juga oke. Kelemahannya dari sisi size of market, mungkin tidak terlalu besar.

2. Target audience lebih luas dari Apple lovers – nah ini ada hubungannya dengan rekrutment non-Apple users. Disini karena merek saja belum menjadi jaminan 100% beli, yang ditawarkan harus fitur yang seru. Kalau fitur tidak ada yang unik banget, ya kembali lagi kepada harga – jangan premium, tapi at least di dalam batasan ‘value for money’. Ini memang mengurangi eksklusifitas nya.

Wah, ini saya jadi bikin contekan untuk kelas MM Executive yang saya ngajar. Soalnya besok siang topik yang dibahas adalah dua kasus sekaligus, dua-duanya harvard cases, (1) Apple Computer, 2006, (2) iPhone vs Cell Phone (2007) — in line dengan tulisan saya ttg iPhone, memang di case tersebut dibahas kesulitan iPhone menembus pasar, lebih sulit dari yang diperkirakan oleh penciptanya.

cuplik sedikit ya dari HBR case, Iphone, 2007: “Every major US mobile operator already offered both music-enabled cell-phones and smartphones (incl. Blackberry and the Palm Tre0 750). Handset makers, meanwhile, had begun to roll out products that took more direct aim at the iPhone. Early in 2007, LG and Samsung introduced high-end touch screen phones that used a Falsh UI: The LG Prada device and Samsung F700. As yet no mobile opeator distributed either device. Nokia’s N95 multimedia smartphone supported WiFi connectivity, plyaed music and DVD quality video. Nokia, according to one report, was also developing a touch-screen phone that it would call the Aeon. Sony Ericsson offered a successful line of Walkman phones, the latest model, the W-960i, had a touch screen and could store 8,000 songs.”

Itu tahun 2007 lho.. sekarang pasti udah makin canggih lagi pasarnya, contohnya BB Storm itulah salah satunya. Makanya, persaingannya tidak sederhana bagi iPhone.

Kesimpulannya:

1. Grab the market while it is still hot.

2. Get the real insights from the consumer – local market situation could be different from the situation in other countries.

3. Translate the insights wisely – salah satunya adalah dalam pricing strategy, value for money berdasarkan perspektif prospects itu dalam range berapa?

Sekian deh ceritanya panjang banget, ini bukan curhat lho, apalagi marah atau kesel ama iPhone atau Telkomsel. Ya, kita kan pengamat, fair aja sih, berada di pagar. Oke ya, pemasar iPhone, Lanjutkan! (tapi sesuaikan). itu saranku.

4 Comments on "iPhone Kurang Hot?"

  1. yang membuat iPhone (juga BB) menjadi smartphone yang bukan asal handphone, adalah aplikasinya. Saat ini sudah ribuan aplikasi yang bisa diunduh oleh pengguna iPhone untuk berbagai kebutuhan, baik bisnis maupun hiburan. Jadi, ya layak beli, terutama kalau kebutuhan utk hiburannya tinggi.

    masalahnya di Indonesia, yang terjadi adalah monopoli, Telkomsel sebagai satu2nya penjual iPhone yang wajib dipaket dengan servis Telkomsel sehingga harga jualnya jadi mahal banget. Monopoli selalu tidak sehat untuk pasar dan cenderung merugikan konsmen.

  2. Amalia E. Maulana says:

    Pak Nukman, thanks untuk menambahkan lagi wawasan saya tentang iPhone. Konsumen gaptek spt saya ini memang perlu jawaban yang lebih kongkrit, why I should buy iPhone, more than anything else. Sebab saya sedang consider BB saat ini.

    Seperti Pak Nukman bilang, sebagai sesama smartphone, BB juga menyediakan yang sama? Atau lebih sedikit aplikasinya?

    Hmm..mungkin untuk para prospek iPhone perlu pelajari lagi, aplikasi apa yang ada di iPhone yang tidak ada di BB. Ini untuk meng-counter: is it worth the money to spend?

    Dalam konsep blue ocean, extra benefit yang ditawarkan oleh sebuah produk harus ‘meaningful’ dan benar-benar breakthrough, dan dibutuhkan oleh ‘mass market’, bukan ‘niche market’ saja.

  3. Amalia E. Maulana says:

    Sore ini seru banget diskusinya di kelas MM Executive, tentang Apple marketing, including iPhone. Group discussion dipandu oleh group 3: Donny, Yuda, Feb, Rini dan Bowo – membawa suasana kelas jadi nggak ngantuk.

    Dari eskplorasi segmentasi dan targeting, kita memperoleh sebuah kesimpulan bahwa generally target audience nya iPhone adalah: yang lifestylenya outgoing, mobile, modern, medium to heavy users, dan usage typenya adalah mix between entertainment & business purposes.

    Khusus untuk purchasing power, sebenarnya kita awalnya melihatnya lebih ke middle-upper class (seperti pada produk2 Apple lainnya), tetapi considering bahwa harga iPhone yang premium, maka ini akan lebih appeal ke upper class aja. Padahal Anak2 muda yang sebenarnya punya apresiasi tinggi dengan iPhone merupakan pasar yang sangat luas. Tetapi, barangkali tidak menjadi targetnya kali ini – karena barrier harga tersebut. Ditambah dengan situasi dimana banyak alternatif produk sejenis (walaupun tidak sama persis).

    Memang hidup adalah pilihan, dan pilihan Apple dengan iPhone nya saat ini adalah niche marketing – hanya untuk sekelompok – bukan massive audience.

  4. dharma says:

    thank you bu amalia, interesting article

    kalo mau coba liat dari sudut pandang lain, mungkin kehadiran iPhone di Indonesia bukanlah inisiatif Apple tp sebenarnya “undangan” dari operator. Mungkin ini adalah bagian dr strateginya operator untuk mengembangkan other/derivative revenue stream. Bisa dari data, penjualan handset, aplikasi, etc…

    Kalo kita liat di negara lain, operator lagi giat2nya mengembangkan revenue stream selain voice dan sms. Business week baru aja ngeluarin artikel ttg operator US yang bertransformasi dari service provider menjadi handset provider.

    Makanya, stp dan marketing mix-nya iPhone kurang afdol utk konsumen indonesia. Buktinya: stpnya ga bakalan terlalu profitable karena terlalu niche. Price (harganya kelewat mahal), Product (fiturnya ada yg beda gituh sama smartphone lain atau udah dicustomize buat Indonesian market?), Place (persis sama ky AT&T, cuman lewat operator terbesar doang), Promotion (duh kurang ngikutin ya).

    Jadi buat iPhone lovers di Indo, the only benefit you’re getting is that sense of satifaction when people look at your iPhone with their mouth open.