-->
 

IBrand: The CEO of ME Inc.

Dimuat di Harian Seputar Indonesia, 6 Juni 2011

“Life is short. Build a strong I-Brand”.

Kalau perusahaan bisa sukses dalam urusan brand dan branding, mengapa secara pribadi orang sering melupakan bahwa dirinya adalah sebuah brand yang juga penting untuk dibangun, dibina dan dikembangkan?

Dalam urusan membesarkan brand pribadi ini, kitalah yang menjadi tampuk pimpinan perusahaan dimana brand berada. Tom Peters, ahli personal branding menyebutkan istilah ‘The CEO of Me Inc’ (Me Incorporated). Perusahaan yang menjual ‘Saya’ atau ‘Diriku’.

I-Brand adalah istilah lainnya saja. Gary Sain menambahkan kata I=Saya yang dilekatkan dengan kata Brand, untuk menjelaskan konteks fokus dari kegiatan brand yang berputar pada diri sendiri.

Apapun namanya, apakah ‘Me Inc’ atau ‘I-Brand’, keduanya mempunyai konsep yang sama. Orientasinya adalah pengembangan diri, tanpa sebuah tekanan untuk menjadi tokoh sentral atau terkenal. Achievement adalah pada saat “Diriku” telah mencapai sebuah posisi yang digapai dan dikejarnya.

Personal Branding adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk menggambarkan usaha branding nama seseorang, yang cenderung menjadi tokoh sentral dalam sebuah komunitas atau target audience yang disasarnya. Ini berbeda dengan Celebrity brand, dimana brand itu mencakup seorang yang cemerlang di dunia keartisan musik dan film, maupun dunia politik atau tokoh masyarakat lainnya.

Jika Celebrity branding lebih banyak menggunakan agency atau konsultan untuk menggarapnya secara professional, maka I-Brand ini lebih diserahkan kepada para pribadi untuk bertanggung jawab pada cemerlang tidaknya seseorang.

Karena harus dikelola sendiri, maka sudah saatnya para pribadi ini mengerti bagaimana untuk memulai langkah dalam branding yang benar dan efektif.

Pada umumnya orang berpikir brand diri sendiri sambil lalu saja – sambil jalan, kalau ingat, atau kalau sempat. Cara sporadis semacam ini tentu tidak bisa diharapkan untuk bisa memperoleh hasil yang maksimal. Seperti pembinaan brand-brand dalam perusahaan, brand planning harus dibuat, road map harus dipunyai dan perjalanan brand harus ditata agar tidak keluar dari koridor untuk mencapai tujuan.

Pada perjalanan I-Brand, orang sering berganti-ganti tujuan, akibatnya setelah sekian lama berjalan, I-Brand nya tetap jalan di tempat, tidak menjadikan dirinya bersinar dan dipandang oleh stakeholdersnya.

Diri kita mencerminkan sebuah brand, citra. Pelajaran strategic brand management yang diajarkan oleh Kevin Keller, maha guru di bidang branding, ternyata bisa diterapkan dalam kerangka I-Brand ini.

Tom Peters menyatakan bahwa branding diri sendiri tidak ada hubungannya dengan usia berapa saat ini, mempunyai posisi apa di kantor, atau di bisnis apa kita bergerak. Semua orang, yang sadar akan pentingnya nama dan citra brand, adalah CEO dari perusahaannya sendiri, Me Inc.

Identifikasi dan Proyeksi

Dalam sebuah training I-Brand , menghadapi mahasiswa yang hampir atau baru lulus sarjana, ada tiga titik waktu yang saya minta dijawab. Titik waktu pertama adalah ‘Dimanakah dirimu sekarang, Siapa dirimu saat ini’?

Titik kedua adalah ‘Dimanakah dirimu 5 tahun lagi’? Akan menjadi apa pada titik tersebut? Titik ketiga merupakan penjabaran cita-cita jangka panjang sebuah brand. Dua puluh tahun dari sekarang, proyeksi apa yang telah dibuat untuk diri ini, dikenal sebagai siapakah dirimu nanti, di kemudian hari?

Bisa dibayangkan, pertanyaan-pertanyaan sederhana ini butuh waktu cukup lama untuk dijawab, karena sebelumnya tidak pernah dipikirkan secara serius. Berbeda dengan seorang brand planner di perusahaan multinasional yang sudah secara periodik memikirkan titik-titik pencapaian brandnya.

Jawaban dari peserta training biasanya masih generik. “Saya adalah seorang fresh graduate yang sedang mencari pekerjaan”. Itu tentu bukan jawaban yang saya maksud. Seharusnya jawaban lebih menggambarkan keunggulan diri, seperti “Saya adalah fresh graduate dengan segudang pengalaman organisasi, handal di bidang event organization (EO)”. Atau jawaban lainnya, “Saya adalah fresh graduate di bidang biologi tetapi saya punya keahlian di bidang mesin secara otodidak”.

Jawaban ada dimana dirimu lima tahun lagi atau dua puluh tahun lagi juga masih penuh dengan pernyataan-pernyataan umum. “Duapuluh tahun lagi saya adalah praktisi dan akademisi”, ataupun “Saya adalah ibu dengan beberapa anak yang mempunyai pekerjaan yang disenangi”.

Jika aspirasinya masih generik, maka akan sulit mengatur langkah menuju ke sana, strategi apa yang harus diterapkan. Elemen-elemen apa yang harus dimiliki, semuanya tergantung dari ujung cita-cita sebuah brand.

“Saya melihat diri saya sebagai seorang Doktor, pembicara handal di bidang ekonomi kerakyatan”. Ini adalah pernyataan salah seorang peserta workshop pada saat ditanya mimpinya dua puluh tahun lagi.

Ini mimpi yang jelas. Bisa dijabarkan, jika ingin gelar Doktor, berarti dalam perjalanan langkahnya, tentukan kapan ia harus melanjutkan S-2 nya. Lalu apabila ekonomi kerakyatan yang menjadi fokus areanya, berarti pekerjaan-pekerjaan apa saja selama karirnya yang memungkinkan dirinya menguasai masalah-masalah ekonomi kerakyatan tersebut. Bisa dibuatkan road mapnya.

Reputasi Online

Komunikasi siapa diri kita yang dikemas dalam I-Brand bukan lagi dalam keseharian saja, tetapi juga akan dimonitor melalui media sosial. Di media baru seperti Facebook, Twitter, Foursquare tersebut, I-Brand bisa dianalisa dan dicitrakan.

Keberadaan di media sosial tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Media sosial bak pisau bermata dua. Dimana kita menggunakannya dengan baik dan bijaksana, pisau akan menjadi alat yang membantu, mempromosikan brand dengan cepat dan murah.

Di sisi lain, dimana kita tidak berhati-hati, pisau media sosial setiap saat merupakan ancaman yang berbahaya. Misalnya saja, memposting kata-kata keluhan terhadap pekerjaan di kantor, kesannya sepele, tetapi sudah banyak contoh, dimana posting itu kemudian menjadi bumerang, karena mencerminkan ketidakdewasaan kita dalam menghadapi persoalan.

Reputasi Online bisa dikembangkan seiring dan sejalan dengan reputasi keseharian brand. Tetap menjadi diri sendiri, tetapi kuatkan unsur brand elemen yang menjadi kompetensi diri, kurangi unsur-unsur yang merugikan kecemerlangan brand.

Mulai bergerak

Branding adalah proses, bukan pekerjaan semalam suntuk selesai. Tidak ada istilah pekerjaan last minute dalam membina citra diri. Gambarkan tujuan brand dengan sejelas-jelasnya, tetapkan strategi pencapaian jangka pendek dan jangka panjang. Lalu mulailah bergerak, sekarang. Life is short.

Comments are closed.