-->
 

Gita Wirjawan: Sempurna vs Pain Points

Ganteng, Kaya raya, Professional, Enak dipandang, Santun, Cerdas, Rendah hati, visi global. Ditambah lagi: Pintar bernyanyi, bermain piano, saxophone..

Seperti kata lagu “Kau begitu Sempurna……”

Sempurna? Sempurna menurut siapa? Itu saja concern saya membaca banyak berita dan ulasan bahwa seorang Gita Wirjawan (GW) ini dinilai sempurna sebagai calon presiden Republik Indonesia.

Sempurna itu sangat kontekstual terhadap nilai-nilai yang diyakini oleh sebuah kelompok yang sedang didekati. Sempurna sebagai sebuah ‘konklusi’ tidaklah absolut, tetapi sangat kontekstual.

Kesempurnaan itu harus dikalibrasi ulang dengan ‘needs’ dari audiencenya, sehingga kita tidak terjebak dengan gaya ‘produsen oriented’. Pemasaran yang berhasil haruslah customer oriented, audience oriented.

Apakah benar bahwa ‘needs’ masyarakat saat ini membutuhkan seorang Presiden yang ganteng? Yang kayaraya? Yang bahasa Inggrisnya bagus, lulusan luar negeri? Yang enak dipandang? Yang pintar bernyanyi? Pintar bermain musik?

Kata-kata kunci ini justru mengingatkan masyarakat kepada Pain Points terhadap pilihan mereka yang lalu. Karena ternyata dengan figure dengan kata kunci yang hampir mirip – ternyata harapan-harapan yang telah dibangun, tidak menjadi kenyataan. Mengalami dua periode dengan pilihan dengan karakteristik yang sama, masyarakat akan lebih jeli pada masa pemilihan periode berikutnya, di tahun 2014 ini.

Masyarakat membutuhkan solusi dari problem mereka. Solution to their Pain.

Berbicara pada pebisnis dan pemasar manapun, pertanyaan yang selalu saya ajukan adalah “Pain Points mana yang sedang Anda selesaikan?” Besar kecilnya peluang bisnis ditentukan oleh seberapa besar sebuah perusahaan sedang berusaha menyelesaikan masalah customernya.

Coca Cola Zero – solusi bagi yang menganggap soft drink terlalu banyak gula

Zara – solusi bagi yang menyukai hi-fashion tetapi tidak bisa menjangkau merek yang terlalu mahal

Adakalanya dikatakan konsumen membeli produk secara impulsif (tidak terencana) dan tanpa berpikir lagi. Itu sebenarnya tidak benar, dalam keadaan terencana,atau tidak, apapun yang dibeli oleh konsumen, merupakan jawaban dari needs mereka, walaupun sebagian needs tidak tampak di permukaan.

‘What pain points are you solving, GW?’

Apakah Gita adalah jawaban dari keresahan-keresahan masyarakat yang selama ini belum terselesaikan?  Selain kampanye Gita Wirjawan yang menghabiskan space di berbagai media, eksposure permasalahan negeri juga terus memuncak. Kegalauan dan keresahan akibat tingkat korupsi yang semakin tinggi dan tidak terkendali, seputar pemberantasan kemiskinan yang masih jauh dari target, perekonomian kita yang memburuk (nilai tukar rupiah makin murah), dll.

Masyarakat sudah tidak mau lagi terbuai dengan hal-hal yang berbau kemasan, pencitraan semu. Ganteng, kharismatik, pandai berbahasa Inggris, enak dipandang, bahkan punya keahlian buat puisi, bernyanyi, dst dst itu sudah terbukti bukan jaminan kesuksesan menyelesaikan masalah-masalah kompleks negeri ini. Masyarakat merindukan tokoh yang kontras dengan itu semua.

Masyarakat merindukan tokoh sederhana, yang action oriented – bukan hanya retorika, janji seribu janji. Tokoh yang tegas, cepat bertindak. Yang mau melihat dan mendengar langsung. Yang fokus pada penyelesaian janji-janjinya.

Kesulitan GW justru adalah asosiasi yang terlalu dekat dengan ‘problem’ itu sendiri. Yang dibutuhkan GW ke depannya justru adalah langkah-langkah disosiasi dengan Brand-brand lain yang mengingatkan pada kesalahan masa lalu.  Kekuatan GW harus dibangun dari individu nya sendiri.  Start fresh.  Be Genuine. Be Authentic.

Gita Wirjawan adalah tokoh muda yang sangat berpotensi, tetapi terlalu dini untuk tahun 2014. Masih banyak kesempatan membina diri untuk periode berikutnya. Menorehkan prestasi dan menyematkan banyak moment of truth kinerjanya.

Waktu 6 – 9 bulan mungkin cukup untuk mendapatkan tingkat awareness yang tinggi, mendapatkan tingkat pemahaman tentang ‘tawaran’ yang dijanjikan. Tetapi terlalu singkat untuk bisa meyakinkan masyarakat pemilih bahwa GW adalah jawaban dari Pain Points masyarakat saat ini.

Idealnya, GW membuktikan kinerjanya sebagai menteri dengan hasil kerja nyata yang bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh calon voters. Ini merupakan ‘moment of truth’ dalam kapasitas jabatan sekarang. Gita Wirjawan harus memupuk dan membina engagement dan ini baru bisa terjalin bila ada bukti dari seribu janji. Bukan hanya tampil tanpa henti.

(dimuat di Kolom MarCom Solution, Majalah MIX Januari 2014)

 

3 Comments on "Gita Wirjawan: Sempurna vs Pain Points"

  1. Yanna Uzlifa says:

    awalnya baca kultwit mba amalia, tertarik! trus baca-baca tulisannya mba amalia, keren, luar biasa! reccomended! :D
    boleh dong kapan-kapan bahas jokowi sebagai media darling dari sudut pandang pencitraan dan pain points nya..
    apakah pak jokowi sudah capable dalam memenuhi apa yg dibutuhkan masyarakat, audience oriented bukan produsen oriented?
    trims mba

    • Thanks a lot Yanna Uzlifa for appreciation…kalau tulisan ttg Jokowi saya sdh agak kebanyakan, jadi libur dulu sementara…nanti kalau momen nya pas, akan dimunculkan lagi. Thanks anyway for suggestion

  2. Rizki Nugroho says:

    Halo Bu Amalia. Sependapat sekali dengan ulasan Ibu. Kadang kalo suatu produk atau brand kebanyakan selling points-nya malah ga jadi unik dan valuable.