-->
 

Freedom of Speech : Branding Media Sosial

‘Ngono yo Ngono ning ojo Ngono’

Saya jadi ingat ungkapan Jawa ini yang saya baca di status FB teman. Kalau diterjemahkan dalam bahasa pergaulan Jakarta kira-kira bunyinya seperti ini ‘begitu ya begitu, tapi jangan begitu-begitu amat’. Maknanya: Boleh saja seseorang bersikap seperti itu tetapi jangan keterlaluan atau melampaui batas yang bisa ditolerir.

Konteks pembahasan saya adalah perilaku dari beberapa brand media sosial yang sudah keluar dari jalur cita-citanya. Belum lama ini pengguna media sosial dihebohkan dengan ‘tangan-tangan’ sakti yang ikut mengatur lalu lintas jalannya komunikasi di media tersebut.

Di dunia media sosial dan Internet sudah lama kita mengenal istilah Freedom of Speech dan Wisdom of Crowd. Kebebasan berbicara mengungkapkan pendapat dari para anggota ‘masyarakat online dan forum’ ini merupakan daya tarik utama dari media tersebut. Dimana, di media ‘lama’ seperti tv, koran, majalah dll terdapat keterbatasan space dan sangat erat dengan ‘kontrol’ dari pemilik media (atau redaksinya), maka di media sosial dan blog, space hampir bisa dikatakan unlimited dan tidak ada kontrol mengontrol pendapat.

Istilah User-generated Media (UGM) atau Consumer-Generated Media (CGM) mengacu kepada beberapa karakteristik seperti interactivity yaitu ‘conversation’ dan dialog yang tidak dikontrol oleh pihak tertentu. Teknologi Informasi dan komunikasi yang memungkinkan hal ini terjadi dengan fasilitas ‘comment’ dan ‘feedback’ langsung. Conversation bisa terjadi dalam hitungan detik tanpa perlu moderasi dan penilaian content dari materi yang diposting.

Brand Media Sosial yang mendapat tempat di hati masyarakat berhubungan dengan komitmen menjadi ‘curahan hati’ dan kebebasan berpendapat. Kompasiana dan Kaskus merupakan brand-brand yang sangat diminati dan cemerlang di mata audiencenya.

Kompasiana dan Jilbab Hitam

Dengan berkembangnya media yang tidak dikontrol oleh pemilik media, pemilik modal besar dan team redaksi yang punya kepentingan dan selera tertentu dalam disain komunikasi medianya, maka berkembang pula kemampuan komunikasi masyarakat. Kesadaran mengungkapkan pendapat mulai tumbuh, dan lahirlah banyak kolumnis baru.

Kompasiana, sebagai contoh, adalah brand ‘tempat’ yang disediakan untuk hobi baru masyarakat yaitu menulis kolom. Lihat saja, berapa banyak kolom yang terbit di Kompasiana setiap harinya. Itu menggambarkan minat masyarakat mengungkapkan opini, pendapat pribadinya.

Di Kompasiana, tugas penulis kolom adalah sebagai initiator dari topik yang nantinya diharapkan mampu menciptakan ketertarikan ‘crowd’ audiencenya. Keberhasilan sebuah kolom di Brand Kompasiana adalah pada saat bisa menarik pembaca dan feedback yang sambung menyambung. Tulisan berupa opini tersebut bukan lagi eksklusif milik satu orang yang authoritatif, tetapi milik bersama.

Belum lama ini khalayak Kompasiana dihebohkan dengan dihapuskannya kolom dengan segala diskusi di dalamnya dari seseorang yang menggunakan nama samaran “Jilbab hitam”.  Seharusnya Kompasiana tidak menghapus kolom yang dibuat oleh ‘jilbab hitam’ yang kebetulan tulisannya menyudutkan pihak tertentu.

Karena dengan cara seperti itu, komitmen terhadap Freedom of Speech dan pengertian bahwa medianya merupakan media baru, media modern yang mengandalkan wisdom of crowd menjadi luntur.

Kompasiana diharapkan bisa bertahan dengan tekanan dalam bentuk apapun dan dari manapun, karena bagian dari janji mereka kepada stakehoder utama yaitu penulis kolom dan perespon serta pembacanya adalah media ini bebas kepentingan.

Kaskus dan Bakal Capres

Brand Kaskus juga tidak luput dari problem yang sama. Belum lama ini, pengguna Kaskus atau disebut dengan istilah Kaskuser, memprotes dan bertanya tentang penghapusan beberapa komen dan thread yang membahas tentang bakal Capres (Gita Wiryawan).

Kaskus untuk Kaskuser adalah media yang selama ini dikenal dengan freedom of speech. Seperti yang tertera di situsnya, dalam keterangan untuk para member: “KASKUS is providing freedom of speech. By using KASKUS…….dst”

Berkumpulnya masyarakat di forum Kaskus, misalnya, itu adalah cerminan dari egalitarian, tidak ada pangkat dari anggota forum yang membuat satu orang lebih tinggi dari orang lainnya, sehingga bisa mengontrol content dan komentar.

Sense of Community di forum ini tercermin dari penggunaan istilah “Agan” atau kependekan dari “Juragan” yang khas. Penggunaan ‘symbol’ seperti itu menggambarkan komunikasi horizontal. Freedom of Speech.

Jadi pada saat terjadi penghapusan thread dan komen apalagi yang berkaitan dengan issue bakal capres, maka simpati kaskuser menurun. Janji Brand Kaskus ditagih.

Kaskus, sebesar apapun tekanan dari para konsultan tim sukses Bakal Capres, seharusnya bisa bertahan. Core value dari Brand Kaskus terletak pada janjinya akan freedom of speech. Dan, ini harus selalu menjadi tawaran tertinggi sehingga tidak bisa ditawar oleh pihak eksternal manapun.

Lihat komentar-komentar resah tentang Brand Kaskus berikut ini:

“Setuju gan, kaskus freedom of speech sekarang sudah bergeser menjadi control of speech by money ..”

“Wah udah politik males ah |’Thread Ane Ttg Gita Wiryawan Kok Dihapus Sepihak?”

Pembaca tulisan-tulisan di media sosial seperti Kompasiana dan Kaskus ini diharapkan bisa menyarikan (memfilter) sendiri mana yang benar, mana yang ngawur, mana aspek penting dan tidak penting dari sebuah topik yang dibahas rame-rame ini. Istilah kerennya adalah “The Wisdom of Crowd”.

Di media baru, freedom of speech berlaku. Pesan yang masuk dibalas dengan pesan-pesan lain. Kalau perlu, tumpuklah dengan berton-ton pesan lain – tetapi jangan dihapus! Hanya dengan cara ini kita mengontrol esensi diskusi. Media sosial sebagai wadah, jangan kebablasan dalam ‘Controlling the Uncontrollable’.

(dimuat di kolom Branding Solution, Koran Sindo, 20 November 2013)

 

Comments are closed.