-->
 

Frame of Reference dan Citra MK

Dalam keseharian, tanpa sadar kita sering terjebak pada ‘frame of reference’ tertentu dan kurang bisa melihat informasi baru atau informasi lain dalam menganalisa sebuah situasi. Akhirnya action yang diambil menjadi tidak tepat karena analisa short cut setelah terjebak dalam frame tertentu.

“Can you speak bahasa?”

Saya sudah bosan mendengar kalimat ini diucapkan oleh orang-orang yang tidak mengenal saya, terutama di airport dan di hotel. Tetapi saya masih memakluminya karena ‘setting lokasi’ tersebut masih cocok. Wajah saya yang ‘tidak lokal’ ini digunakan sebagai salah satu frame of reference mereka.

Sebaliknya, pada saat berada di setting yang seharusnya menjadikan saya ‘orang lokal’ saja, seperti di supermarket di Pondok Aren dimana saya tinggal selama lebih dari 15 tahun, saya kurang respek pada seseorang yang menyapa dengan kalimat ‘Can you speak bahasa?’ Ini adalah cermin kecerobohan dan short cut audience analysis yang seharusnya bisa dihindari.

Sudah lebih dari 3 kali saya complain kepada SPG organisasi Internasional non-profit yang sekarang sedang gencar menawarkan prospek menjadi donatur sosial di mall dan supermarket. Agresivitasnya dalam menawarkan produk kurang diimbangi dengan empati terhadap prospek.

Ini bukan masalah interest atau tidak interest menjadi donatur lembaga sosial, tetapi adakalanya tawaran menjadi donatur diterangkan di saat yang tidak tepat (saat maghrib, di supermaket dan kita terburu-buru ingin pulang).  Saat reaksi saya diam saja, di titik itu langsung diambil kesimpulan bahwa saya tidak mengerti bahasa Indonesia. Dari sini mulailah nyanyian “Can you speak bahasa’ ini diluncurkan secara cepat para SPG tersebut.

Protes saya ‘Maaf Mbak, ini Pondok Aren, bukan Kemang. Please deh!”

Percepatan Reframing

Saya berikan contoh satu lagi dari pengalaman keseharian.

Wisata Kuliner adalah salah satu daya tarik berkunjung ke rumah nenek di jawa timur. Jadi, jauh hari sebelum datang, saya sudah pesan untuk dibuatkan tahu campur. Kuliner Nenek memang tidak mengecewakan. Dengan tambahan sambal dan petis sebanyak-banyaknya, tahu campur itu sudah bisa membuat saya melupakan ‘mertua lewat’.

Baru beberapa suap kenikmatan tersebut, nenek mengatakan bahwa tahu campurnya kali ini tidak seenak biasanya. Bumbu tauco yang digunakannya berbeda merek, jadi makanan ini berbeda dan tidak memuaskan.

Saya berhenti memakan tahu campur tersebut dan mulai berpikir benarkah rasa makanan ini berbeda dari biasanya. Karena, sebelum diberikan informasi, ‘frame of reference’ yang ada di dalam benak saya adalah ‘ini tahu campur terenak di dunia’. Penjelasan bahwa kualitasnya berbeda itu yang justru merusak ‘frame of reference’ yang sudah terbentuk. Proses distorsi terhadap frame lama itu dilakukan oleh orang yang sangat kredibel yaitu pembuatnya sendiri.

Proses reframing ini juga sedang terjadi pada brand Mahkamah Konstitusi (MK). Frame of reference di benak masyarakat tentang MK dibentuk dari berbagai aspek, termasuk di dalamnya adalah citra dari para pendiri, pemimpin dan eks pemimpinnya.  Akil Mohtar, Mahfud MD, Jimly Asshidiqie adalah tiga tokoh pemimpin MK yang masuk dalam referensi pembentuk citra MK.

Pada saat Akil Mohtar terhadang masalah, tentu saja ini mengobrak-abrik persepsi masyarakat terhadap MK. Kejadian Akil Mohtar yang termasuk ‘shocking’ dan ‘too bad to be true’ membuat masyarakat bingung.  Referensi tentang MK yang mana saja yang harus dipercayainya.

Cacatnya satu tokoh mengembangkan pertanyaan “benarkah semua pemimpin atau eks pemimpin di MK bersih seperti citranya selama ini karena satu dari tiga pemimpin terbukti mempunyai kesalahan yang fatal”.

Kredibilitas dari pembawa pesan, dalam hal ini para pemimpin dan eks pemimpin MK, merupakan faktor yang kuat dalam proses ‘merubah’ persepsi masyarakat tentang integritas MK. Pada saat MK bermasalah seperti sekarang ini, sebaiknya Pak Mahmud MD dan Pak Jimly tidak terlalu keras dalam menyuarakan kritikannya di media massa tentang Pak Akil.

Pak Akil Mohtar sudah jelas bersalah. Tetapi percepatan turunnya image MK di mata masyarakat harus dicegah. Misalnya, ungkapan keras dari Pak Mahmud MD pada saat BNN mengumumkan bahwa Akil juga tersandung kasus narkoba bukanlah sebuah langkah yang baik bagi penyelematan citra MK.

Perhatikan pernyataan ini “Kejahatan Akil Mochtar sempurna,” kata Mahfud MD, eks ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Pak Mahmud sangat keras dan bombastis dalam menyampaikan pendapatnya, mengomentari temuan DNA Akil, mantan Ketua MK, pada ganja yang ditemukan di laci meja kerjanya.

Dalam hukum di Indonesia, terdapat empat kejahatan luar biasa. Yaitu: korupsi, penyalahgunaan narkoba, terorisme, dan pembunuhan berencana. Dua dari empat kejahatan tersebut dilakukan oleh Akil. Jadi dua dari empat kejahatan? Mengapa dikatakan sempurna, Pak Mahmud? Masih 50% nilanya (2 dari 4).

Saran saya bagi para petinggi MK adalah berkomentar minimalis saja. Perlambat proses reframing MK di benak masyarakat sebagai lembaga yang integritasnya diragukan. Tolong dibantu untuk me-reframe MK kembali ke arah pencitraan yang positif. Membantu media memberikan pernyataan-pernyataan kontroversi hanya akan menaikkan oplaag media tetapi memperberat penyembuhan MK yang sedang sakit.

Gebrakan atau Langkah kongkrit apa yang bisa ditampilkan oleh ‘the new MK” dalam rangka menggalang kepercayaan publik kembali? Pak Mahmud dan Pak Jimly sebagai para tokoh kredibel di MK bisa menjadi corong langkah-langkah tersebut dan meredam setiap suara yang menjurus kearah citra negatif MK.

(Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo November 2013)

Comments are closed.