-->
 

Djakarta Fair atau Diskon Fair?

Dimuat di harian Seputar Indonesia, Juni 2011

Pekan Raya Jakarta sudah dibuka dan sudah dihadiri pengunjung. Saya amati dari beberapa sajian testimonial pengunjung di beberapa stasiun TV, tiga hal yang sering dibicarakan mengarah kepada ‘diskonnya banyak’, ‘harga barang lebih murah daripada biasa’, dan ‘banyak makanan kuliner khas jakarta’.

Apakah diskon dan kuliner tersebut adalah hal terpenting dalam PRJ? Siapa sebenarnya target audience utama event ini? Apakah orang-orang yang diskon oriented? Kalau ya, berarti kita perlu kembali ke nama PRJ yang lama yaitu Djakarta Fair – disingkat DF, tetapi kita ganti sekarang kepanjangannya dengan “Diskon Fair”.

Bagaimana dengan target pengunjung lain yang menjadi beban performance keberhasilan event PRJ dihubungkan dengan pengembangan brand Kota Jakarta sendiri? Pesan apa yang ingin disampaikan via event setahun sekali ini?

Penyelenggara event seringkali terbius oleh hal-hal yang kurang penting yang sebenarnya bukan menjadi tujuan utama kegiatan event itu sendiri. Event adalah salah satu bentuk brand activation yang digelar oleh brand untuk mencapai tujuan komunikasi tertentu.

Yang banyak terjadi, event brand kemudian bergeser menjadi sebuah kegiatan tersendiri. Panitia punya banyak tujuan baru yang harus dicapai olehnya, misalnya mencari sponsor sebanyak-banyaknya, mengakomodasi kepentingan brand-brand lain yang menjadi partnernya. Tujuan awal dibuatnya event bagi brand asal, tersisihkan.

Selain event PRJ, masalah ini juga dialami oleh brand media yang sering menyelenggarakan event, tetapi kemudian dalam event tersebut, terlalu mengakomodasi kepentingan partner sponsor atau pengiklan. Akhirnya porsi penyampaian pesan brand media tersebut menjadi terabaikan, terabsorbsi dengan kesibukan mempromosikan brand partner. Maka beban kerja menjadi Event Organizer, bukan lagi MarCom.

PRJ Brand Activation Kota Jakarta

Pengamatan saya tentang PRJ. Kegiatan ini sedikit demi sedikit berubah fungsi mengakomodasi kepentingan para sponsor, lebih dari kepentingan brand Kota Jakarta sendiri.

PRJ harus dikembalikan lagi fungsinya menjadi kegiatan brand activation. Beban fokus sebaiknya dikembalikan lagi pada pesan apa yang ingin disampaikan oleh pengelola brand kota Jakarta, dan yang bisa dicapai melalui event ini?

Keberhasilan event sebesar PRJ bukan saja dilihat dari jumlah pengunjung dan jumlah transaksi selama event, seperti yang diulas di berita PRJ. Melainkan, juga harus diukur dari seberapa besar kegiatan ini berhasil menyampaikan pesan komunikasi dan aktivasi Kota Jakarta.

Apa Pesan penting brand Kota Jakarta yang hendak diusung di PRJ?

Persoalannya, saya agak kesulitan untuk mendeteksi dan tracking di Internet, sebenarnya cita-cita kota Jakarta itu yang mana ya? Penjelasan tentang Kota Jakarta beragam.

Sumber Slogan/Tagline 

Tafsiran makna

jakarta.go.id Enjoy Jakarta. Nyaman dan Sejahtera untuk Semua 

Nikmati kota Jakarta yang nyaman (tentu bebas macet), bebas pengangguran karena semua orang punya kesempatan yang sama

HUT Kota Jakarta 484 tahun. Kian Ditata. Kian Dicinta 

Bersih, nyaman, warga merasa dekat dengan kotanya

Jakarta Travel Official Website Enjoy Jakarta

Culinary. Heritage. Shopping. Culture

jakarta.go.id/jakv1/ Jakarta Surga Belanja. 

Harga barang murah, banyak diskon

Event ‘Jakarta Hijau’ Jakarta penuh pohon
Event Kota Tua ‘Jakarta Punya’ Kota yang menghargai peninggalan sejarah
Jakarta Jazz Festival ‘Jakarta the City of Music Festival’ Kota tempat berkumpulnya musisi
Di Pot bunga sepanjang Jalan Utama ‘Jakarta Sejuta Bunga’ Jakarta ceria, dipenuhi warna warni bunga 

Dari beragam tema diatas, salah satu gambaran kota Jakarta ada di website yang lumayan menarik tampilannya, yaitu bertemakan ‘Enjoy Jakarta’ beralamat di www.jakarta-tourism.go.id.

Saya menyukai kalimat-kalimat yang disusun dalam website ini yang menjelaskan keunggulan Jakarta, yaitu di bidang Culinary, Heritage, Shopping Centers, dan Culture.

Sayangnya, Tema ‘Enjoy Jakarta’ tiba-tiba punya makna berbeda di website lainnya, yaitu yang dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta. Enjoy Jakarta digabung dengan slogan yang sama sekali berbeda maknanya yaitu “Nyaman dan Sejahtera, Untuk Semua”.

Bahkan, di website yang satu ini, diberikan penjelasan spesifik tentang Kota Jakarta “sebuah Kota yang bisa menjanjikan kehidupan yang nyaman dan sejahtera untuk semua”. Enjoy nya tidak lagi dari sisi kuliner, shopping, heritage maupun culture.

Sampai disini saya sudah cukup bingung, dan mulai kesulitan untuk menilai bagaimana event PRJ telah digunakan secara bijak untuk meningkatkan performance brand Kota Jakarta. Brand Positioning Kota Jakarta tidak berhasil saya rangkai dari berbagai info tadi.

MarCom Manager Kota Jakarta (jika ada), perlu mereview ulang brand positioning sebagai landasan tujuan komunikasi kegiatan seperti event ini.

PRJ dan Top of Mind

Banyak definisi Event atau Experiential Marketing, salah satu yang bisa diangkat disini adalah ‘acara yang mengusung pesan brand kepada audiencenya’. Wood dan Masterman (2007) menjelaskan prinsip 7-I yaitu adanya Involvement, Interaction, Immersion, Intensity, Individuality, Innovation dan Integrity dalam pengelolaan event.

Dari ketujuh ‘I’ tadi, semuanya membutuhkan strategi komunikasi pemasaran yang tersusun dengan matang. Siapa target audiencenya, siapa stakeholdersnya, pesan brand apa yang ingin dibawa selama pengunjung berinteraksi dan setelah pulang kerumahnya– semuanya menjadi penting.

Dari beberapa contoh slogan yang terekam pada Tabel pesan Kota Jakarta diatas, yang paling mirip dengan top of mind orang berpikir tentang PRJ adalah “Jakarta Surga Belanja” – artinya, banyak diskon dimana-mana.

Benarkah itu image PRJ, sinergikah dengan image kota Jakarta?

Sekali lagi, betulkah image diskon ini yang menjadi fokus dari Pemprov DKI Jakarta pada saat menggelar event setahun sekali ini? Bukankah dalam tema Enjoy Jakarta, ada banyak value lain yang akan dikejarnya? Satu lagi pekerjaan rumah untuk MarCom Manager Kota Jakarta.

One Comment on "Djakarta Fair atau Diskon Fair?"

  1. Handaja says:

    Jakarta sudah kehilangan arah.