-->
 

Dalam Kasus Prita, Siapa yang Pantas Dihukum?

Mam, benarkah Prita Mulyasari mencemarkan nama baik Omni hospital? Tanya student saya semalam. My response : ‘I don’t think so…’ Yang benar adalah : Pengelola Omni hospital yang mencemarkan nama baik brandnya sendiri, berkali-kali pula (nggak cuma sekali) – kan sudah bolak-balik jadi headline negatif….

Jadi kalau begitu siapa yang layak dihukum, my student tanya lagi? Jelas bukan Prita. Salah alamat sekali, kayanya penegak hukumnya kapan-kapan harus belajar strategic brand management (saya bersedia pro bono kalau dibutuhkan) – supaya ngerti kalau kasus seperti ini siapa yang pantas dihukum. Prita-kah?

Yang bersalah dan pantas dihukum (sesuai dengan undang-undang brand management pasal 27 ayat 5) adalah pengelola brand Omni, karena tidak bisa menjaga nama brand nya dengan baik. Padahal pemilik brand pastinya sudah mempercayakan pengelola ini untuk menjaga reputasi brand, bukan membuatnya sakit, sekarat. Dokter mana yang mampu memulihkan kondisi brand yang sudah seperti ini? Hmmm… berat, harus banyak amputasi sana-sini.

Kalau saya jadi PEMILIK brand Omni, maka saya minta pengelola brand yang ngawur itu untuk mengganti kerugian sebesar minimum Rp 200 milyar, 200 juta mah cetek, nggak cukup untuk repotision brand name yang udah diadul-adul ama pengelola brand yang sudah saya gaji mahal.

Kalau 200an juta itu dijadikan koin beratnya sekitar 2.5 ton, kalau 200 milyar, jadi berapa ton itu semua? Nggak cukup deh koin kita se-Indonesia.

Brand is your major investment in business. Guard it well.

5 Comments on "Dalam Kasus Prita, Siapa yang Pantas Dihukum?"

  1. Exactly!! Pengelola omni itu mungkin bekas preman tobat tapi belum insaf. Tau-nya ribut melulu atau dia mendpt keuntungan dalam hal ini? Bisa saja setelah kejadian yang dihire adalah para pengacara dari temannya si pengelola. Yang jelas, untuk ke depan, saya menganjurkan kepada family, teman2 untuk menjauhi RS.Omni, karena ada pepatah: kalo mau sehat jangan ke dokter, tapi pergilah ke motivator…. He,he…..

  2. deriz says:

    Bisa jadi produk atau layanan apapun diluar RS yang ada label Omni-nya berkonotasi negatif. Keyword yang harus dihindari.

  3. giajosie says:

    Kalau menurut saya dari sisi online media, kesalahan terbesar pada Rumah Sakit Omni karena kaget dan mungkin terlalu parno dan juga tidak wise dalam menyikapi perubahan teknologi di online. Berbeda dengan kebudayaan diluar, bahwa feedback apapun selama itu untuk koreksian ataupun positif buat pemilik brand bukannya untuk di konfrontasi tetapi dijadikan kawan bicara untuk menaikkan brand identitynya menjadi lebih bagus.

    Banyak cara dalam dunia online jika brand reputationnya diobrak abrik untuk bisa diperbaiki. Dalam kasus ini sudah terlalu backlist untuk diperbaiki, karena persepsi konsumen sudah melekat dan dunia sudah mengetahuinya. Dan sangat disayangkan permasalahan ini sampai berlarut-larut, terlihat bahwa kedewasaan dalam dunia online masih rentan menerima feedback dari orang lain.

    Belajar dari Dell, Starbuck dan Ford yang sudah bisa merubah persepsi/feedback yang jelek menjadi sebuah komunitas yang sangat diterima oleh konsumen dengan mengedepankan conversation dua arah.

  4. Amalia E. Maulana says:

    Comment via Facebook:

    Jefry Marla (9 Des 2009, 8.00 am)

    Setuju mbak, saya baru sekali ini melihat ada perusahaan yg mempertontonkan (maaf) kekonyolan sedemikian rupa…, betul2 mereka ga ngerti marketing communication…, saya jg bingung knapa ownernya diam aja..apa kagak ngerti..??
    mereka ini mau bisnis atau mau hebat2an di pengadilan..?? walah..walah…kalo punya management kaya gini ya lama2 bangkrut…

  5. Aida says:

    Setuju banget bu Amalia. Mereka cara berpikirnya kok “so yesterday”, menunjukkan superioritas dengan memanfaatkan pengadilan di Indonesia yang… yah tahulah ya..:-). Herannya kok ngotot kelamaan ya…, sampai “damage..damage..damage..”. Kalau jaman bbrp bulan lalu, begitu kasus meruak dan dukungan publik membanjir melalui FB, bahkan para capres turut turun tangan, mereka langsung corrective action, damai, masih lumayan lah, mungkin masih bisa tertolong imagenya… kalau sekarang mah.. parah..