-->
 

China tapi Lokal, Lokal tapi China

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 30 April 2010

Cinlok? Apakah itu singkatan dari cinta Lokasi? Sayangnya bukan! Cinlok adalah istilah baru untuk mengklasifikasikan produk di Indonesia yang ‘kedengarannya seperti merek China, tetapi ternyata produk lokal’.

Konsumen sering bingung. Ini produk lokal atau produk China, ya? Diskusi yang panjang pernah kami gelar di Facebook (FB), media sosial, tentang salah satu produk yang membingungkan tersebut, yaitu Nexian.

Dengan status FB berbunyi :”Apakah ada yang memakai hp Nexian – hp buatan China?”

Tidak satu pun yang menyangkal kata-kata produk buatan China yang saya samarkan di dalam status tersebut. Ini sebagian responsnya.

“Aku pake bu, sebab ada promosi internet gratis satu taun….. xixixi….ibu2 banget, ga bisa denger bonus”. Komentar lainnya “Aku pake bu, hehehe *kenapa badai china juga”.

“Iya saya juga semakin merasakan sesuatu yang agak berbeda…waktu boomingnya blackberry harganya 4 jutaan lebih, salah satu provider juga mengadakan promosi…namun merk cina datang bagai tsunami. orang-orang pada beli blackberry (walaupun yang dibeli adalah hp merek cina)”

Sisi negatif dibahas juga, yaitu selain masalah kualitas fisiknya, juga yang menyangkut gengsi. “keypadnya keras, gk bsa dbandingkan dg BB. baterainya jga cepat habis.” (fresh graduate, baru kerja di perusahaan selama 2 bulan)

Komentar dari Anti, teman baik saya, doktor di bidang hukum, Surabaya, lebih karena gengsi. “Kemaren mau beli….tp gak jadi juga….habis gak bs dipamer pamer kan….. nanti kalo buat FB….trus ada tulisan sent via FB for nexian…gmn??….hahaha..”

Krisis kepercayaan

Terjadi lagi penurunan kepercayaan terhadap produk lokal. Jika dulu produsen berlomba membuat nama mereknya ‘kebarat-baratan’ agar dianggap keren dan bermutu tinggi, maka tren terbaru adalah merek lokal dibuatlah “kechina-chinaan”.

Apakah perbedaan “kebarat-baratan” dan “kechina-chinaan?” Yang pertama dibuat untuk menyasar segmen yang sangat mementingkan ‘prestige’ atau gengsi. Yang kedua, dibuat menyasar sekelompok segmen yang punya aspirasi terhadap teknologi tinggi, yang mengerti bahwa harga teknologi makin lama makin murah, sehingga semakin realistis dalam memilih merek.

Mereka bukanlah gadget freak atau inovator. Segmen ini adalah sekelompok konsumen early adopters yang cukup tanggap terhadap teknologi baru di bidangnya, dan ingin mengaktualisasikan diri juga dengan ikut bermain di tengah lingkungannya.

Produsen lokal sudah tidak PeDe dengan brand name lokal. Ini adalah daftar merek-merek yang terekam di pasar, gabungan antara murni produk lokal, produk China sampai produk ‘cinlok’.

Kosmetik: Tje Fuk, Tull Jye, QL, Ja Hwa, Chiumiein, Yin Hua, Qianyan, Guangzhow, Meei Yung, Shi-Shi. Elektronik : Changhong, Midea. Ponsel : Nexian, Maxtron, Mixcon, Blueberry, HTC, Huawei, Ti phone, GSTAR, Vodastar, Lexus, SPC Mobile, GVON, Taxco, Bstar, Cross, Titan, Asia fone, K-Touch, dan Beyond.

 

Keinginan konsumen

Produsen dengan merek China seperti ponsel ini, jelas mengetahui bahwa arti durability sudah bergeser. Bukan lagi durable yang maknanya ‘bisa digunakan 5 tahun tanpa rusak’, melainkan sekadar ‘pasti tidak rusak selama setahun masa pakainya’ saja.

Saya teringat sebuah komik pendek di Koran Australia sekitar tujuh tahun yang lalu. Seseorang yang nasionalisme nya tinggi, yang sedang mempertimbangkan untuk menggunakan sebuah services apartment, mengatakan bahwa dia ingin menyewanya asalkan semua barang-barang buatan Cina dikeluarkan dari dalam apartemen tersebut. Hasilnya, ia menemui apartmen nya kosong melompong. Karena, ternyata semua isi apartemen itu sudah dibuat di Cina!

Inilah kenyataan yang sulit dihindari oleh kebanyakan negara. Strategi penetrasi barang-barang China yang dilakukan secara perlahan tetapi pasti, memang sebuah strategi jangka panjang.

Dari dicibirkan sebagai produk yang ‘sekali pakai’ saking gampang jebolnya, saat ini sudah banyak kategori produk yang mulai mengandal­kan ‘buatan China’ sebagai salah satu unggulan produk.

Persepsi dunia mulai bergeser ke arah yang diinginkan oleh China. Country of Origin sebagai sebuah jaminan, yang makna awalnya adalah ‘kualitas bawah’, ‘murahan’, nggak gengsi dan sebagainya, sekarang mulai bergeser masuk ke arah makna baru yaitu value for money not bad untuk digunakan selama masa pakainya.

Pada sebuah segmen yang jumlahnya cukup banyak, di mana harga dan model sangat penting, dan pemakainya tidak peduli pada aspek durability lebih dari 2 tahun’, produk China dengan mudah menjadi pemenangnya.

Didukung pedagang

Sebagai salah satu pemangku kepentingan, dukungan dari kaum pedagang produk Cinlok ini harus diwaspadai juga. Mereka juga pandai membaca pasar, dan sangat jauh dari kampanye pemerintah ‘aku cinta buatan Indonesia’.

Sederhana saja. Mereka melihat trend pasar, ke arah mana selera konsumen, needs konsumen. Berikut hasil observasi dan wawancara Etnomark di beberapa sentra ponsel.

- Muncul beberapa toko yang tidak memajang ponsel merek terkenal seperti Nokia dan Sony Ericsson, melainkan fokus 100% merek China.

- Pedagang mengaku bahwa ponsel China banyak diminati konsumen.

“Sekarang orang banyak yang nyari sih, soalnya murah tapi ga kalah keren model dan fiturnya. “Ponsel dari Cina Multifungsi tapi Harga bersahabat”. “Kalau kita yang penting yang laku aja deh. Mau produk buatan mana sih hayo aja. Buatan Cina sekarang memang sedang naik daun, sih.”.”Selama untungnya bagus, barangnya ’jalan’, pasti kita tawarkan duluan”.

Nexian: China, lokal atau CinLok?

Brand ponsel yang satu ini memang unik. Sebagian besar dari pemakai dan pedagang menganggap merek ini adalah merek China, barang China. Setelah menelusuri, informasi yang kami peroleh (mudah-mudahan benar), Nexian adalah merek lokal, produk lokal. Komponennya mungkin sebagian impor.

Apa pun itu, dalam komunikasi brand ini di tingkat pedagang dan konsumen di sentra ponsel, sengaja atau tidak sengaja, Nexian diarahkan ke produk China.

Sukseskah Nexian dalam branding? Bergantung pada apa tujuan yang diinginkannya. Apakah dalam jangka panjang Nexian ingin dianggap sebagai produk bermutu tinggi (tanpa embel-embel buatan mana), atau memang selama­nya masih mau mendompleng elemen produk China, yang terbukti telah mendongkrak penjualannya selama ini di kalangan segmen tertentu.

Waspadai produk Cinlok

Pemerintah dan media heboh sekali meng­ulas, membahas, dan seminarkan apa dampak ACFTA pada produk-produk lokal yang belum siap bertanding dengan produk China, di pasaran negeri sendiri.

Ternyata ada tantangan lain yang tidak kalah berbahayanya dan ini telah menggerogoti bukan saja pasar sendiri melainkan juga menekan mundur image ‘buatan Indonesia’ di negaranya sendiri.

Dengan mempromosikan ‘kechinaan’ nya, secara tidak langsung ikut mempromosikan bahwa produk China itu ‘lebih bagus dibanding­kan dengan produk lokal’.

Temuan studi etnografi dari Etnomark menjelaskan bahwa ini adalah sebuah fenomena yang tidak tampak, yang bisa mengancam keberadaan produk lokal, lebih daripada dampak ACFTA sendiri.

 

 

2 Comments on "China tapi Lokal, Lokal tapi China"

  1. pongoz says:

    Hape nexian tu bagus, cuma sayang User interfacenya gak bisa cantik kek bikinan bule. sama buatan barangnya agak kasar. “yang penting modelnya mirip BB, bisa fb-an ma cetting” – kata anak kantor saya. huehueheuhe.

    Kebanyakan dr masyarakat kita (sepengelihatan saya yah) pake gadget2 model begitu tujuannya cuma buat pamer, bukan fungsi (emang si gadget salah satu fungsinya buat pamer) banyak lho bu yg punya gadget lucu2 tp gak bisa makenya. saya sendiri bingung ma temen saya, beli Iph*ne kok buat nelpon ma sms doang? (sini kasi gue aje, huehehehe)

    Lagian kalo ditempelnya “made in Indonesia” kayaknya kurang gimanaaaaa gt bu, secara negara kita urusan teknologi “bikin handphone” belom pernah kedengeran, klo maen dijokul dipasaran en bersaing ma produk2 “cinlok” begitu aja keknya bakalan sepi peminat d bu. ya gak sih? klo sepi peminat begitu, mana ada pedagang yg mo jualin, mereka kan yg penting “cuan” aja, jual produk siapa juga asik, tp yg penting “cuan”. hahahahahahahaha!

    Apakah konsumennya yg udah keburu gak percaya ma produk buatan dalam negeri dan gak “worth it” bagi perusahaan buat ubah pandangan demikian (apa mereka cuma pikir “cuan”)?
    kalo emang demikian, how can we survive ACFTA??? dengan art stuff (mebel rotan, ukir2an, kerajinan tangan, dsb2)??

  2. wah, hal yang paling saya sorot tajam adalah kutipan :

    “maka tren terbaru adalah merek lokal dibuatlah “kechina-chinaan”…

    “…melainkan juga menekan mundur image ‘buatan Indonesia’ di negaranya sendiri.”

    sungguh memprihatinkan melihat produk lokal harus kalah dalam rumahnya sendiri.. dan ironisnya lagi, yang membuat kita kalah adalah kita sendiri..

    Dari satu sisi, seorang marketer tentu harus bisa menjual produknya sebanyak mungkin. Terlepas dari dimana ia bekerja. Ini yang menjadi tugas bagi marketer perusahaan “CINLOK” yang rela mengganti nama produknya menjadi “ke-china-chinaan”..

    Peluang itu terbuka semakin besar ketika pangsa pasar untuk masyarakat yang juga ingin merasakan kecanggihan dan tren “ke-WAH-an” BB namun tidak tersampaikan.. misal harganya yang mahal.. bagi masyarakat golongan tersebut, ketika marketer menerapkan nama produk CINLOK-nya, pasti masyarakat dapat ber-asosiasi dengan mudah ketika mendengar nama produk china—->murah. asosiasi tersebut mampu dengan hebat mengalahkan long term effect seperti pemikiran bahwa produk china cepat rusak, dsb.
    dengan adanya dorongan emosional seperti BB sedang tren dan harus dengan segera memiliki BB, kesemuanya itu pun dapat dikalahkan! AFFECT > COGNITION

    tapi sekali lagi, janganlah kita memperparah keadaan yang sudah ada.. kita kembali ke pemikiran bahwa produk lokal haruslah bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri..