-->
 

Catatan Perjalanan Solo Best Brand Index 2009

Memenuhi undangan dari SoloPos tanggal 25 Juni yang lalu saya berangkat ke Solo, menjadi salah satu pembicara dalam acara penganugerahan Solo Best Brand Index (SBBI) 2009. Sejak di airport rasanya sudah ada cerita tersendiri.

Di ruang tunggu, ada seorang bapak yang ‘akhirnya’ duduk di sebelah saya setelah minta tas yang diletakkan di atas kursi diturunkan oleh si empunya. Bapak ini ngedumel. Masa mau duduk di ruang tunggu aja sulit banget sih.. katanya. Di ujung sana ada kursi kosong isinya tas semua, dan diminta menurunkan, gak ada yang mau.. kursi kan untuk tempat duduk orang, bukan tempat taruh tas.

Orang Indonesia ini memang kebangetan yah katanya. Hanya soal menghargai sesama penumpang aja sulit, ujarnya. Waktu beliau tinggal di Amrik dulu, terasa sekali bahwa yang namanya apresiasi sesama itu bukan cuma lip services. Katanya kita bangsa berbudaya tinggi, halus, sopan santun, lha ternyata kok banyak yang masih egosentris. Sharing tempat duduk aja sulit.

Dari keterangan Pak Ahmad Djauhar, pimred Bisnis Indonesia yang ketemu sepesawat pagi ini, saya tau bahwa ternyata Bapak tadi adalah mantan dirut salah satu bank pemerintah. I share his concern.. yah, sedih memang melihat hal-hal seperti ini masih ada di sekitar kita.

Catatan kedua, pada saat masuk ruang tunggu, penumpang diberi card dengan warna yang berbeda-beda sesuai dengan urutan tempat duduk. Saya kebagian warna kuning. Tapi, kenyataannya, waktu boarding masuk pesawat, gak ada instruksi apa-apa tentang card warna tertentu harap antri dulu.. jadilah, akhirnya penumpang campur aduk ada yang card nya kuning, merah jadi satu. Tetep aja semrawut.

Eh, Bapak lain nih yang duduk di sebelah saya di pesawat memanggil pramugari dan mulai complain soal card itu. Beliau bilang apa gunanya dikasih card kalau amburadul antriannya. Wah, hari ini saya ketemu sama orang-orang kritis banget. Seru.. seru… Pramugarinya cukup attentive, dengerin complainnya, dan kemudian beberapa waktu berlalu dia balik lagi, bilang, ya Pak, sudah saya sampaikan untuk perbaikan lain kali. Bapak ini juga kebetulan pernah lama di luar negeri karena istrinya ambil master disana.

Nggak usah dibilang ya saya naik pesawat apa, nggak penting kan..

Sampai di Solo…ikut rombongan Pak Ahmad Djauhar langsung meluncur ke SoloPos dan makan pagi di salah sebuah warung pecel, lupa namanya tapi pokoke asli warung kuliner deh. Foto2 artis berjejer dari ujung ke ujung. Kapan2 aku share fotonya.

Acara SBBI dimulai pagi itu juga jam 9.30. Baru kali ini ketemu Pak Adji Watono, bosnya Dwi Sapta Group. Ternyata beliau baiik banget.. apreciate kepada nobody likes me ini. Nggak sombong walaupun udah terkenal dan sukses. Banyak yang bisa dipelajari dari bapak dua orang putri tersebut. Seru banget dengerin Pak Adji cerita di panggung, gayanya sangat natural dan blak-blakan, practitioner dan applied oriented banget. Peserta bisa langsung digest easily.

Selamat ya untuk para pemenang Anugerah Solo Best Brand Index 2009. Keep up the good work!

Ulasan tentang acara SBBI dan isi materi seminar saya dan Pak Adji bisa dibaca dalam ulasan dari korannya langsung :

SOLO POS 25 Juni 2009

Anugerah Solo Best Brand Index 2009:
Menangkan hati konsumen dengan pahami keseharian mereka

Kita saat ini memasuki era hiperkompetisi. Cirinya, konsumen masa kini bersikap demanding, meminta. Mereka akan berkata ”I want it now! Saya ingin produk itu sekarang!” dan tidak mau menunggu.
”For me! Untuk saya, hanya untuk saya”, lebih berkuasa dan menuntut perusahaan untuk mendengarkan mereka.
Hal ini diungkapkan Director Etnomark Consulting, Amalia E Maulana dalam seminar dan talk show bertema Marketing Kontemporer di Era Hyper Competitive. Seminar ini menjadi satu rangkaian dalam acara penganugerahan Survey Best Brand Index (SBBI) 2009 yang digelar Harian Umum (HU) SOLOPOS di Lorin Business Resort & Spa Solo, Kamis (25/6).
Perubahan perilaku
Menurut Amalia, untuk menyikapi perubahan perilaku konsumen tersebut perusahaan masa kini seharusnya lebih berorientasi kepada konsumen, proaktif, responsif, fleksibel dan mampu bekerja dalam sebuah tim kerja yang solid.
”Perusahaan masa kini juga seharusnya mampu bersikap consumer insights, membentuk Customer Relationship Management (CRM) dan senantiasa mengakses berbagai informasi terbaru terkait perkembangan pasar mereka,” ujarnya.
Menurut Amalia, menjadi perusahaan yang berorientasi terhadap konsumen atau customer oriented, tidak sama dengan competitor benchmarking.
”Customer oriented dalam hal ini berarti perusahaan tersebut harus kembali ke dasar, yakni ke konsumen. Lakukan redefinisi ulang kombinasi value atau benefit yang ditawarkan ke konsumen. Selain itu, perusahaan juga perlu melakukan sustainable competitive advantage (SCA), yang membuat produk tersebut lekang, tidak mudah ditiru atau dikopi oleh produk perusahaan lain,” ujarnya.
Menurut Amalia, penting bagi perusahaan saat ini untuk mempelajari perilaku konsumen dalam keseharian di dalam habitat atau lingkungannya yang asli, misal di rumah, di tempat pekerjaan, di toko dan tempat-tempat lainnya.
Perusahaan bisa menerapkan ethnography in marketing, yang bertujuan untuk menangkap apa yang konsumen lakukan dengan produk, bukan apa yang mereka katakan mereka lakukan.
Pembicara lainnya, Presiden Direktur Dwi Sapta Group, A Adji Watono menilai dalam situasi krisis seberat apapun, bisnis periklanan tetap tumbuh.
”Artinya, adanya krisis justru melahirkan peluang bisnis baru. Saya mencontohkan dari bisnis periklanan yang digeluti Dwi Sapta Group. Dalam situasi persaingan bisnis yang sangat ketat, tidak hanya melawan sesama berbagai perusahaan periklanan nasional yang sudah besar, tapi juga harus menghadapi perusahaan periklanan multinasional, Dwi Sapta harus mempertajam strategi bisnisnya, terutama melakukan diferensiasi perusahaan yang kuat dan bisa diterima oleh pasar atau klien,” urai Adji yang menyampaikan materi seminarnya bertema Hyper-competition Market in Turbulent Times: Strategi & Kiat Bisnis Dwi Sapta Group di Era Pancaroba Globalisasi.
Pada acara itu pula, sebanyak 58 merk produk yang telah terpilih secara resmi menerima anugerah SBBI 2009. Vice President Marketing & Promotion Matahari Food Business PT Matahari Putra Prima Tbk, Joosje Tatipata mengaku bangga atas anugerah SBBI 2009 yang diterima Hypermart untuk kategori Service jenis hypermarket. ”Ini menunjukkan kami masih memperoleh kepercayaan dari konsumen,” ujar Joosje.
Sementara menurut Manager Branch Yogya-Solo PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), Erik Rudianto yang produknya menerima penghargaan SBBI 2009 untuk kategori Service jenis simcard GSM pascabayar melalui Kartu Halo, menyatakan penghargaan itu merupakan kali kesembilan yang diterima perusahaan tersebut. – Oleh : Septhia Ryanthie






Comments are closed.