-->
 

Case Activation: Mie Sedaap vs Indomie

 

 Jumat malam tgl 10 Okt lalu, di kelasku,  di Binus Business School S2 MM Prof, pertama kali diaktifkan case study yang aku tulis tahun 2007 lalu (case yang diterbitkan oleh Research Centernya BBS) berjudul “Overpowering Instant Noodle Market: Mie Sedaap vs IndoMie’ . Diaktifkan:  artinya digunakan di kelas.   Ternyata memang lain, ya ngajar casenya Harvard business school dengan ngajar case lokal, karena knowledge pasarnya beda. Kelas lebih hidup, lebih seru diskusinya. Mungkin karena semua menghayati baik sebagai konsumen, pengamat pasar, dll. Ya gak berarti kasus HBS nggak oke, itu mah udah pasti OK banget, tapi sekali-sekali memang perlu kita tulis banyak2 local case ini.

Ada beberapa tahap pembahasan casenya: yang pertama: class discussion, mengupas sejarah Indomie (Indofood) dulu – bagaimana sampai brand ini menjadi sesukses itu, menggurita sampai menduduki posisi market leader yang super dominan (90% market share — gila’).

Kemudian diskusinya menyangkut cerita seputar brand2 lain yang mencoba menggoyang Indomie tapi gak berhasil. Diskusi paling seru kayanya waktu cerita seputar launching Mie&Mie nya Unilever.. banyak insights2 yang mencengangkan.

Setelah itu, baru masuk ke kancah masuknya Mie Sedaap di tahun 2003 yang oleh Indomie dipandang sebelah mata pada awalnya, tapi ternyata bisa menggerogoti market sharenya Indomie (merosot sampai 70%, edan tenan). Di sini kita diskusikan list of activities nya Indomie untuk retalliate Mie Sedaap, yang ternyata gak sesuai sama ilmu ” the discipline of Market Leader”. Topik ini cukup integrative karena yang jadi key success factors nya Mie Sedaap bukan cuman di satu aspek aja tapi di banyak hal.. jadi karena kebetulan ini dibahas di akhir course, cocok untuk sekaligs reminding students tentang konsep2 awal hingga akhir, dari mulai Segmentation Targeting Positioning, sampai Marketing Mixnya termasuk IMC.

Setelah break, students saya bagi menjadi 2, yang pertama as if they’re working for Mie Sedaap dan yang group satu lagi, working for Indomie. Surprise-surprise.. lebih banyak yang mau kerja di organisasi besar ya daripada yang kerja di brand yang Challenger. Padahal, lebih sulit mempertahankan lho! Dan organisasi besar juga belum tentu lebih asiiik.. birokrasinya bo’ jangan tanya. Masing2 group diminta untuk bikin action plan what to do Next.. ditutup oleh presentasi dari masing-masing group. Pembahasan akhir di kelas kita gunakan juga framework growth strategy nya Ansoff untuk melengkapi the big picturenya.

Yang paling berkesan kayanya pas break deh.. soalnya semua bisa nyobain indomie goreng vs mie sedaap goreng secara langsung. Makan-makan kecil2an. Judulnya sih agar bisa lebih menjiwai nanti dalam section 2 dimana harus ‘bekerja’ untuk brand tersebut.

Lesson learnt: (1) jangan setengah-setengah kalo mau jadi ‘penantang pasar’ (2) jangan ‘meleng’ kalo pas jadi market leader, dan activities untuk retalliation harus solid, nggak sporadis, buang2 duit. Dan harus disesuaikan dengan GAYA market leader.

Kita kedatangan tamu malam ini, yaitu Edgar & his girl friend, sit in di kelas ini. Part of my tryvertising program.  Mudah2an ikut dapat manfaat ya.

Juga tidak lupa thanks buat Yanita (Ming) dan Robert dari WRC yang sudah barengan nulis case. Untuk my students : Cecil (Maria Chriswanto) dari LSPR yang datanya dipakai di kasus, juga Pak Rujito, Pak Saleh dan Yayuk dari IPMI yang datanya juga dipakai di dalam case study ini.

 

11 Comments on "Case Activation: Mie Sedaap vs Indomie"

  1. gia says:

    Good practice!.. I like it! Nah, seperti ini kelas, bisa bener2 langsung merasakan “understand the brand with activity”. It’s not just only course of discussion “the lecturers talk, the students only as a listener, it’s boring!. But with a class like this, yang ngantuk jadi melek, yang tidak mengerti jadi ngerti. Dan satu yang kurang…. kurang lama waktunya. :)

  2. Amalia E. Maulana says:

    Bener banget Gia, waktunya kurang lama. This is a very rich case. Sebenarnya ada videonya juga, yaitu iklan-iklan mereka. Tapi, ya itu tadi, gak sempat!
    Mungkin bisa dibahas dalam 2 kali pertemuan? Ini jadi bahan pemikiran. Thanks for input.

  3. Lis Hendriani says:

    Kasus yang menarik. Yang lebih menarik lagi, saya jadi tahu bahwa sejarahnya, Me & Mie diluncurkan sebagai bagian dari sebuah grand plan. Hanya sebagai distraction. Seandainya “almarhum” nasi instant Tara Nasiku enak dan gampang dibuat, pastilah kerepotan Indofood sekarang berlipat-lipat. “Jebakan” Me & Mie tidak akan sia-sia tentunya… Anyway, thx for the new insight bu Amalia. Pelajaran berharganya adalah cermatilah selalu hidden agenda dari sebuah marketing atau corporate action.

    Best regards,
    Lis

  4. Kalo kuliah di Indonesia kaya begini semua, saya ga perlu jauh2 ke amerika :)

  5. sindhu says:

    salam,
    saya sering mengikuti tulisan-tulisan Ibu Amalia,
    pemaparannya bagus!

    keep goin’(‘,^)//

  6. Amalia E. Maulana says:

    Thanks Sindhu.. keep posting juga dalam blognya. Apa kabar Bali?

  7. Wahhh menarik sekali jadi pengin ikutan kelasnya Bu Amalia hehehe

  8. Dicky Darmali says:

    Saya mendapat gambaran ttg kelas bu Maulana.
    Tapi tentang kasus Indomie yang mencoba mempertahankan pasarnya atau Mie Sedap yang mencoba menggoyang market leader cerita akhirnya bagaimana?
    Apakah Mie Sedap berhasil? Menyenggol dan jadi buzzword sih, kayaknya sukses yah.
    Jadi ada tips bagaimana menggoyang dan bagaimana mempertahankan?

  9. Muhammad Husni says:

    Saya sangat tertarik tentang segala sesuatu yang berhubungan business development & brand development.

    Kalau boleh tanya, dari hasil diskusi,
    1. kira2 faktor apa saja yang bisa membuat Mie Sedap mampu menggerogoti market dari Indomie?

    2. “Diskusi paling seru kayanya waktu cerita seputar launching Mie&Mie nya Unilever.. banyak insights2 yang mencengangkan”,…. kalau boleh tahu, apa saja hal yang mencengangkan itu?

    the last, kira kira website atau literatur mengenai biz dev. atau brand dev. bisa saya dapatkan dimana?

    Thanks,

  10. Aziz Fahmi Hidayat says:

    pertarungan yang dahsyat…
    mampu menggoncang hegemoni indomie yang meraja. saya perhatikan kekuatan utama mie sedap adalah sesaat sebelum peluncuran produknya mereka (tim mie sedap) sudah memasang iklan diberbagai media dengan iklan yang sangat gencar namun tanpa menyebutkan identitas produk tersebut. Hasil dari iklan tersebut adalah seluruh konsumen di Indonesia menunggu hadirnya produk dan akan tersugesti untuk mencoba produk baru tersebut..
    nama besar ternyata tidak menjamin keberlangsungan hidup indomie..

  11. Meylani says:

    Wah dari semua comment sebelumnya, case ini sangat bagus.
    Apakah malam ini pembahasannya akan sebagus sebelumnya??
    Semoga, will see..
    Malam ini ada makan mienya juga ga Bu?..hehehe..

    Thanks