-->
 

Branding Kota Tangerang

Wawancara Amalia E. Maulana oleh Majalah MIX, April 2011

Pertanyaan: Menurut penilaian Anda, bagaimana upaya branding yang dilakukan pemerintah Kota Tangerang? Apakah upaya itu sudah cukup? Jika masih belum, ke depan apa lagi yang harus dilakukan pemerintah kota Tangerang?

Jawaban:

Dalam branding ada dua pekerjaan penting: pekerjaan branding internal dan branding eksternal. Ini juga berlaku pada proses branding kota pemerintahan. Branding kota Tangerang sampai hari ini menurut pengamatan saya masih lebih dititikberatkan pada branding internal. Walaupun belum sempurna, tetapi proses branding internal ini tampak dan mengalir.

Branding yang bersifat eksternal yang kurang mendapat perhatian. Apa makna kota Tangerang? Kalau makna Bogor mungkin jelas kota hujan dan kota wisata kebun raya dan jalan menuju Puncak. Kota Tangerang? Bagi yang tinggal di luar Jabodetabek mungkin bahkan ‘have no idea’ seperti apa tepatnya gambaran kota Tangerang tersebut.

Bagi penduduk Jakarta dan sekitarnya, walaupun mungkin sudah lebih dirapihkan oleh pemerintahnya, tetapi kesan Tangerang masih tetap ‘ruwet, macet, gersang’ dan perumahan serta industri campur aduk, tidak secara rapi terpisahkan – yang jelas bukan kota impian.

Internal Branding

Dari data penduduk, dijelaskan bahwa 60% dari penduduk Tangerang adalah kaum komuter, dimana mereka bekerja di Jakarta, menghabiskan uangnya di Jakarta, dan Tangerang hanya dijadikan tempat ‘numpang tidur dan istirahat’ saja.

Komunitas komuter ini bahkan belum secara sadar tinggal di Tangerang, kecuali sedang memperpanjang KTP dan SIM, selebihnya selalu meng-klaim tinggal di Jakarta (bukan di pinggir Jakarta lagi,  tetapi di luar Jakarta).

Fenomena ini agak berbeda dengan warga Depok yang sudah secara spontan menyebutkan Depok sebagai tempat tinggalnya. Para Depokeese ini mempunyai sense of belonging yang lebih tinggi dibandingkan dengan Tangerangers.

Ada banyak alasan mengapa penduduk Tangerang komuter belum merasa punya alamat di Tangerang. Salah satunya saja, adalah penduduk yang mobile ini yang belum masuk radar pemkot Tangerang. Dari beberapa kali pilkada, masih banyak yang merasa tidak dihubungi dan tidak jelas suaranya dikemanakan. Berita Pilkada ada di pohon-pohon di setiap ujung jalan, tetapi penduduk ‘komuter’ ini masih terasa asing di daerahnya sendiri. Tidak dihitung, tidak dilibatkan.

Jika dalam media massa sering diulas pemberitaan tentang betapa dekatnya hubungan antara pemkot dengan warganya dari banyaknya acara interaksi yang digalang dan digelar, mungkin yang dimaksud disini adalah warga tetap, warga yang 40% jumlahnya, tidak mewakili keseluruhan komunitas Tangerang.

Pemkot Tangerang perlu untuk melakukan upaya dialog dengan pihak-pihak yang belum masuk radar tersebut, bahkan karena mereka termasuk golongan pendidikan tinggi dan cukup mapan, keberadaan mereka dalam satu wadah dengan pemkot Tangerang akan menjadi sumbangan pemikiran dan biaya yang lumayan.

Involvement bukan hanya akan meningkatkan sense of belonging, tetapi juga sebagai proses  ‘buy-in’ warga untuk penerapan strategi pembangunan kota yang sedang dikerjakan.

Pemahaman terhadap kebutuhan tiap segmen dari warganya perlu diketahui dan dipetakan, agar tidak dilakukan strategi pembangunan generic yang menyamaratakan kebutuhan tiap warga. Jika dalam survey dikatakan tingkat kepuasan warga Tangerang tinggi, saya ragu, pertanyaan saya, warga kelompok mana yang diwakili?

Eksternal Branding

Dalam menjelaskan keunikan kota Tangerang, perlu digali secara lebih mendalam potensi apa pada kota ini yang bisa diangkat dan dijadikan ‘hero’. Sebab, kota Tangerang sendiri terkenal ‘kering’ dari wisata alam, tidak punya kultur budaya yang khas dan memukau, pokoknya jauh bila dibandingkan dengan kota-kota lain yang lebih dulu bersinar di Indonesia seperti Yogyakarta, Denpasar, dan Manado.

Tentu saja ada hal-hal yang bisa dicreate, diciptakan oleh kota Tangerang, dengan tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan sebuah daya tarik tersendiri. Beberapa yang pernah dibahas di media adalah pembuatan wisata alam buatan seperti danau, taman kota, taman impian dll.

Hal lain yang dibicarakan di media adalah kemungkinan untuk mengusung Tangerang sebagai kota pelajar. Ini mungkin, asalkan dari segi penambahan universitas dan populasi pelajar saling mengikuti ‘promise’ atau janji tersebut.

Pertanyaan: Sebenarnya, apa kunci sukses sebuah pemerintah kota dalam melakukan branding kotanya? Apa saja langkah yang harus mereka lakukan?

Jawaban:

Sebelum menciptakan ‘keunggulan’ kota, yang harus dilakukan oleh Pemkot adalah melakukan studi ethnography terhadap internal dan eksternal kota Tangerang.

Internal: meliputi pihak-pihak internal yaitu pejabat dan staff pemkot, para warga yang terdiri dari beberapa kelompok yang berbeda, dst. Dalam studi ini digali sampai sejauh mana mereka mempunyai kedekatan dengan kota Tangerang dan apa yang dirasakan masih kurang dan perlu diperbaiki. Apakah selama ini kegiatan yang dilakukan oleh Pemkot Tangerang sudah ‘sampai’ ke para warganya? Materi marcom atau kegiatan apakah itu?

External: meliputi pihak lain di luar kota Tangerang tetapi yang berkepentingan. Misalnya industri yang ada di kota Tangerang (Investor), pengelola universitas yang ada di Tangerang, juga prospek turism penduduk di luar kota Tangerang baik di jabodetabek maupun di luar tersebut.  Apakah arti kota Tangerang untuk mereka, atau ingin dijadikan seperti apa Tangerang ini sehingga mereka bisa mempunyai keterikatan yang khusus.

Setelah penelusuran internal dan external untuk memperoleh insights ini kemudian barulah dipikirkan strategi marketing communicationnya. Di dalam pemikiran strategi marcom, juga dimasukkan pembahasan tentang tagline yang harus diusung dan melalui kegiatan marcom apa saja bisa dicapai tujuan komunikasi kota Tangerang.

Comments are closed.