-->
 

Brand CALEG: Utang Makna

Bayangkan sebuah percakapan imajiner berikut ini.

Tanya: Caleg yang mana? Jawab: Yang menyiram teh dari gelas minum ke lawan debatnya di TV.

Tanya: Caleg yang mana? Jawab: Yang disiram teh dari gelas minum oleh lawan debatnya di TV.

Insiden ‘aksi siram teh’ tersebut akan melekat dan membentuk impresi kuat dan jika impresi tersebut dianggap negatif, maka kesan itu lah yang akan menjadi warna dan makna dari personal brand kita.

Branding diri adalah total impresi yang dirasakan oleh stakeholders dari waktu ke waktu. Termasuk di dalamnya adalah pada saat blog seseorang dibaca, pada saat foto seseorang ditayangkan di Facebook. Termasuk apa yang dituliskannya dalam postingan di Twitter. Termasuk pada saat seseorang sedang berbicara di publik, menjadi narasumber tayangan TV yang disaksikan berjuta orang.

Personal Brand yang kuat tidak lagi tergantung pada apa yang diiklankan dalam spanduk-spanduk yang berjejer sepanjang jalan. Personal brand kita ditentukan oleh apa saja yang dibahas oleh para stakeholder di belakang punggung kita.

Personal Branding adalah ‘the art of shaping Stakeholders Perception over time’. Seni mengelola dan membentuk Impresi Stakeholders – dari waktu ke waktu. Masih banyak yang meremehkan bentuk interaksi dengan stakeholder. Selama foto di spanduk masih bagus, berwibawa, tulisan di blog masih mengalir dengan baik maka tidak perlu membuat impresi yang baik pada saat berinteraksi langsung.

Mengelola Brand Caleg

Sebagai salah satu pembicara dalam pembekalan Caleg (Calon Legislatif) kemarin, saya menyampaikan dalam branding Caleg, proses pengenalan nama brand adalah tahap termudah dan tercepat. Untuk konteks Caleg, jika kita punya dana untuk pasang spanduk sepanjang jalan, maka dengan cepat dan mudah nama kita menjadi dikenal.

Tetapi, pengenalan saja tentu jauh dari cukup. Dikenal sebagai apa? Dipahamikah siapa diri kita? Apakah voters mengerti bahwa kita memiliki kekuatan yang sangat berharga dan akan bermanfaat bagi diri mereka? Apakah kekuatan ini akan menjadikan kita opinion leader, influencer bahkan trend setter di Daerah Pilihan (dapil) yang ditunjuk?

Tahap inilah yang sering gagal dalam branding. Bahwa sebuah nama brand itu sudah melekat, memang benar, tetapi makna nya tidak seperti yang telah dibayangkan dan ditulis dalam spanduk. Terdapat mismatch antara apa yang diproyeksikan oleh Caleg dengan yang dirasakan oleh voters.

Memahami diri sendiri dan audience

Permasalahan utama dalam Tahap pengenalan brand mulai dari diri sendiri yang belum paham sebenarnya siapa diri kita dan apa kekuatan yang bisa menjadi nilai jual dalam mempengaruhi vote audience.

Kesulitan yang dihadapi oleh Caleg pada umumnya adalah pemahaman yang kurang terhadap audiencenya, calon voters. Terutama bagi Caleg yang Daerah Pilihan (dapil) nya di tempat dimana ia sendiri masih asing karena ia hanya ditunjuk untuk mewakili daerah tersebut.

Masih banyak Caleg yang diproyeksikan untuk menjadi wakil daerah tertentu tetapi tidak mengenal dengan baik needs and wants dari audience nya sendiri. Padahal syarat utama untuk terpilih adalah karakteristik ‘relevan’.

Relevan adalah kunci utama kesuksesan sebuah brand, termasuk juga kesuksesan membina personal brand Caleg. Relevan itu artinya FIT antara kekuatan personal brand yang dimiliki oleh Caleg dengan kebutuhan dan keinginan para votersnya.

Jika diri sendiri saja belum punya deskripsi yang jelas dan kongkrit, maka jangan terlalu berharap bahwa voters akan mempunyai pemahaman ke arah yang kita harapkan. Jadi pekerjaan rumah pertama bagi Caleg atau siapapun yang ingin membina personal brand adalah merenungkan dan kemudian menuliskan brand positioning statement yaitu sebuah kalimat kunci yang menggambarkan:

- siapa diri kita

- bagi target audience yang mana

- dan mengapa kita adalah solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh voter

Dalam banyak kasus, seorang Caleg dipilih karena dikenal saja, tetapi tidak karena dipahami makna dan kekuatannya. Seorang artis, misalnya, yang terpilih hanya karena keartisannya, mempunyai UTANG MAKNA bagi pemilihnya. Karena dalam pekerjaan sebagai legislatif nantinya, bukan kekuatan sebagai artislah yang akan membuatnya mampu bekerja mewakili daerah tertentu. Ia berhutang janji untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi voter di dapilnya.

Ujian terberat bagi brand Rhoma Irama sebagai sebuah personal brand yang repositioning dari artis terkemuka menjadi calon presiden adalah apakah ia mampu memberikan keyakinan kepada calon pemilihnya bahwa ia memiliki dimensi yang kuat untuk memimpin Negara. Tidak bisa selalu berkelit bahwa nanti akan ada staf ahli yang akan membantunya. Kepercayaan voter harus dibangun, bahwa Rhoma Irama bukan lagi di kecemerlangannya sebagai raja dangdut, tetapi janji untuk menepati makna baru Brand nya.

Karena tantangan terberat bagi seorang politisi termasuk Caleg adalah pada saat moment of truth – di saat sudah terpilih dan ia ditagih untuk bekerja menepati janji-janji kampanyenya.  Pada saat berinteraksi langsung dalam pekerjaannya, seorang legislatif harus bisa menyuarakan needs dari para voters. Pada tahap ini, ia tidak bisa lagi mengandalkan keartisannya, kepopulerannya saja.

Berhasil atau tidaknya ia bekerja dalam tugas barunya yang akan membuat raport brand menjadi cemerlang. Yang terjadi adalah sebaliknya. Kecemerlangan sebagai artis yang tetap dipertahankan, tetapi kekuatan baru yang seharusnya dibangun sebagai wakil rakyat, menjadi tidak diperhatikan.

‘Brand is things people say about you when you are not there’ (Jeff Bezos, CEO Amazon.com)

(Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 3 Juli 2013)

 

6 Comments on "Brand CALEG: Utang Makna"

  1. Biebie says:

    Saya setuju sekali bu , bahwa Personal Branding adalah ‘the art of shaping Stakeholders Perception over time’. Impresi langsung dengan stakeholders sangat penting karena stakeholders dapat mengenal lebih dekat dan hal ini berpotensi untuk melekatkan kesan / persepsi akan suatu brand. disinilah kesempatan personal branding terbuka lebar karena impact nya lebih luar biasa daripada sekadar foto di baliho, poster ataupun kaos. bahkan tidak menutup kemungkinan branding nya menjadi “heart to heart” . Contoh sangat nyata ditunjukkan oleh Gubernur DKI , Jokowi dengan turun langsung ke lapangan mendengar suara rakyat. Impresi dan Impactnya luar biasa, mengalahkan voters dari koalisi puluhan partai. A good article to refresh our mind about branding. Thanks for sharing Bu ^_^

  2. Nia says:

    Dear Ibu Amalia,

    Membaca tulisan mengenai personal branding dari Ibu selalu menarik, tidak semua orang ‘ngeh’ dengan hal ini dan menyadari bahwa ini penting, seperti halnya untuk caleg, untuk kita para pekerja yang ingin membina karir juga penting. Personal Brand ini sudah saya masukan sedikit demi sedikit pada saat saya bicara atau coaching dengan tim saya bu di kantor, supaya mereka yang muda-muda udah bisa mengerti pentingnya membentuk personal branding dari sekarang dengan mengetahui strength mereka, dan memperbaiki terus area for improvement-nya dan bisa “menjual” kelebihan kita dengan cari yang positif dan tidak instan apalagi pake cara cari muka or pencitraan sesaat.

  3. Nisa says:

    ijin posting ke blog saya yaa bu.. sangat menarik bgt ulasannya.
    nanti saya taruh sumbernya hehehe