-->
 

Blusukan Terus, Kapan Kerjanya Jokowi?

Kalimat ini terus menerus digencarkan oleh banyak pihak yang skeptis terhadap kepemimpinan Jokowi. Menganggap Jokowi bisanya hanya blusukan saja.

Mereka yang ragu akan Jokowi sekarang bisa melihat bukti nyata (bukan janji). Foto-foto yang bisa didownload dengan mudah, yaitu before vs after dari Waduk Pluit dan Pasar Tanah Abang, adalah display pertama bukti bahwa Jakarta layak disebut sebagai Jakarta Baru.

- Waduk Pluit : Sampah Berantakan vs Taman dan Lahan Hijau.

- Pasar Tanah Abang: Macet Kumuh vs Rapi Lancar.

Teori vs Action

“An ounce of action is worth tons of theories” – Friedrich Engels.

Kalimat bijak Friedrich Engels ini saya catat pada saat mendengarkan dengan seksama sesi bedah buku “Mendidik Manajer ala Harvard” oleh pengarangnya sendiri, Bapak Hadi Satyagraha, Ph.D.

Beliau adalah salah satu pendiri sekolah bisnis IPMI yang menggunakan metode kasus Harvard dalam pengajarannya. Dosen favorit saya hampir duapuluh tahun yang lalu, sewaktu mengambil program MM, MBA di sana. Inspirasi menjadi seorang Marketing Educator seperti karir saya sekarang, memang dimulai sejak berada di kelas beliau.

Banyak perdebatan seputar mana yang lebih penting untuk dipelajari oleh Manajer: teori atau prakteknya.

“Ah, Teori! “ Sering kita dengar sanggahan dari para praktisi bisnis jika mendengarkan para akademisi berbicara. Terlalu banyak teori dan analisa, kapan actionnya?

“Trial and Error!” Itu adalah gumaman para akademisi yang memberikan komentar betapa para praktisi yang tidak mendasarkan actionnya dengan pemahaman teori, akan berujung lebih banyak error.

Jadi, lebih penting mana, teori atau action? Tentu saja jawabannya adalah dua-duanya. Sangat afdol apabila Action itu didasari dengan teori, karena akan menurunkan tingkat ‘error’. Tanpa teori, action saja akan berujung seperti gambling, dan ini merupakan pemborosan resources yang serius.

Mencari keseimbangan antara kedua nya adalah seni tersendiri bagi pebisnis dan pengambil keputusan organisasi manapun. Ada beberapa cara balancing teori dan praktek. Pertama, belajar dari pengalaman perusahaan lain, yaitu dengan mempelajari case study yang diterbitkan institusi ternama. Pengalaman adalah guru yang terbaik, tetapi pengalaman tidak selalu harus dialami sendiri. Belajar dari pengalaman perusahaan dan Manajer lain. Itu pengajaran case study ala Harvard.

Kedua, dari case study tersebut, kita menjadi mengerti berbagai pilihan framework atau teori yang sesuai dengan konteks permasalahan – tidak harus mempelajari dan menggunakan berton-ton teori yang membebani. Cukup selection of framework saja, tetapi yang mumpuni.

Buku baru Pak Hadi Satyagraha membahas pentingnya melatih Manajer agar ACTION nya selalu didasari oleh teori. Manajer dilatih untuk berpikir cepat, berpikir kritis, segera menganalisa masalah dan situasi dengan framework yang tepat, mencari alternatif solution, diuji lalu tetapkan satu solusi, dan segera ACTION! Jadi bukan bertumpu pada retorika analisa yang tidak ada habisnya.

Jokowi, dalam bedah buku tersebut juga dijadikan ilustrasi, sebagai contoh kasat mata ‘Man of Action’, Jokowi adalah seorang yang Action oriented.

Setuju. Blusukan itu kental dengan Action. Bahkan, pendapat saya, blusukan gaya Jokowi itu mengandung tiga tahapan Action. Ini sekaligus untuk mematahkan pendapat skeptis tentang Jokowi yaitu Jokowi dianggap overdoing, ‘Blusukan terus, kapan kerjanya”? Jokowi kerja sambil blusukan, itu analisa yang lebih sesuai.

- Action Blusukan tahap 1.

Jokowi adalah seorang Ethnographer, langsung identifikasi permasalahan di lokasi terjadinya masalah. Bukan dilihat dari tumpukan laporan yang ada di meja kerjanya. Langsung Action, turun ke lapangan. Sejalan dengan studi ethnography yang saya tekuni, apa yang dikerjakan oleh Pak Jokowi merupakan sebuah contoh Decision Makers yang ikut serta dalam menelusuri dan menguraikan benang kusut persoalan.

Apa yang terjadi di lapangan dilihat dengan mata hati dan telinganya sendiri. Jokowi menjadi lebih alert dan mengerti akar permasalahan dan ini modal utama dalam prioritas Action nantinya.

- Action Blusukan tahap 2.

Realisasi apa yang diimpikan, harus terwujud. Jokowi tidak hanya NATO – No action, Talk Only.

Manajer mengerjakan sesuatu via orang lain. Pembenahan Waduk Pluit tidak dikerjakan oleh Jokowi dan Ahok sendiri. Beliau-beliau belum tentu paham konstruksi, belum tentu mengerti bagaimana menyulap tempat sampah menjadi taman yang indah. Melalui teamnya, beliau menjadikan 2 masalah besar di Jakarta yaitu Waduk Pluit dan Pasar Tanah Abang menjadi kembali ke fungsi semula.

Jokowi adalah Manajer sekaligus pemimpin yang handal.  Bukan hanya memerintahkan untuk bertindak, kadang langsung di lokasi. Beliau adalah role model, tidak hanya memberikan perintah dari balik meja saja. Ini memotivasi team nya untuk segera mengerjakan sesuatu karena motor di balik keberhasilan pekerjaan ada pada Jokowi yang Action oriented.

- Action Blusukan tahap 3

Jokowi ahli di bidang Strategy Execution. Membuat strategi untuk perbaikan wilayahnya mungkin bisa dibuat oleh banyak orang, tetapi tidak banyak yang bisa mewujudkan tujuan dari strategi itu melalui eksekusi yang terarah, tetap di dalam koridor untuk pencapaian cita-cita.

Proses mengawal eksekusi strategi ini tidak sederhana, dan terbukti merupakan penyakit terbesar manajemen saat ini. Action blusukan Jokowi sebagai proses mengawal agar eksekusi berjalan sesuai dengan rencana, melihat hambatan dan halangan langsung di sumbernya, dan mencari solusi nyata.

Kesimpulannya, yang Jokowi lakukan bukan Blusukan biasa, tetapi Blusukan yang Meaningful.

(Kolom Branding Solution, Koran Sindo Aug 28, 2013)

One Comment on "Blusukan Terus, Kapan Kerjanya Jokowi?"

  1. Yang terpenting adalah bukti! Yuk kita lihat bersama bagaimana perubahan Jakarta :)
    Blusukan lebih baik karena benar2 merasakan…..