-->
 

Bieber, Bocelli, Merpati dan Pariwisata Kita

Dimuat di harian Seputar Indonesia, Kolom Branding Solution, Mei 2011.

Di media sosial Twitter, seberapa besar pengaruh Anda kepada khalayak pengikut (follower), bisa diukur. Ini yang disampaikan oleh Andi Primaretha dalam seminar yang diselenggarakan oleh Virtual Consulting beberapa waktu yang lalu.

Salah satu cara mengukur seberapa penting tingkat influensial seseorang adalah dengan Klout Score atau Nilai Klout. Andi menjelaskan bahwa faktor yang menentukan nilai Klout merupakan gabungan dari tiga aspek yaitu Network influence, Amplification probability dan True Reach.

Sebagai selebriti yang eksis di dua dunia (nyata dan maya), Justin Bieber mempunyai Klout Score yang paling tinggi saat ini, yaitu dengan nilai 100. Menurut Klout.com, Bieber mempunyai pengaruh online lebih besar dari Presiden Obama dan Dalai Lama.

Bisa dibayangkan, betapa tinggi pengaruh anak muda ini saat menuliskan apa yang ingin ia tuliskan dalam status updatenya. Di sini, setiap kata akan dihayati dan diresapi oleh para fans Bieber yang disebut “Beliebers”.

Nilai Klout diperoleh dari tingginya tingkat engagement, jadi bukan sekedar status update searah saja, tetapi adalah dari seberapa banyak followernya yang menanggapi dan sharing retweet kepada network masing-masing. Intinya, terjadi komunikasi dua arah atau lebih, dan ditambah dengan interaksi atau percakapan yang memperkaya keterkaitan seorang influencer kepada massanya.

Mengapa penting membahas Bieber di sini adalah karena pariwisata kita harus berterimakasih padanya. Sebagai tokoh selebriti di dunia sosial yang sangat berpengaruh, Bieber telah menyumbangkan banyak berita positif tentang Indonesia pada saat konsernya akan, sedang berlangsung serta setelah acara usai. Ini promosi intangible yang sangat powerful. Ciri khas Twitter adalah berita dari pemilik akun yang terus menerus dan sambung menyambung.

Di satu sisi penyelenggara event concert Justin Bieber bersyukur concertnya laris manis. Di sisi yang lain, para remaja putri ‘Beliebers’ merasa di langit ketujuh bisa melihat langsung pujaannya.

Di sisi yang lain pula, pemerintah dan penyelenggara pariwisata kita ikut menikmati promosi sampingan yang telah dilakukan oleh Bieber di media sosial.

Secara strategis, kedatangan Bieber memberikan sumbangan yang tidak sedikit kepada perbaikan citra pariwisata Indonesia di mata dunia.

Kontribusi pada pariwisata ini juga disampaikan oleh Peter Gonta yang sudah sejak lama menjadi penyelenggara event concert bintang-bintang pujaan dari negeri sebrang. Ia jelaskan bahwa usahanya tersebut bukan semata untuk mencari keuntungan.

Mendatangkan Andrea Bocelli sebagai event berikutnya bagi Gonta adalah eksposure yang luar biasa untuk pariwisata kita. Setidaknya bisa mematahkan argumen larangan perjalanan ke Indonesia (travel ban). Jika Bieber dan Bocelli saja tidak segan untuk datang dan tampil di bumi Indonesia, seharusnya para wisatawan asing tidak perlu terlalu paranoid untuk beranggapan Indonesia penuh dengan teroris yang setiap saat mengancam dengan bomnya.

Influencer Negatif

Berhubungan dengan brand-brand besar seperti Bieber dan Bocelli sangat baik untuk perbaikan citra pariwisata kita. Bagaimana dengan Influencer negatif? Apa contoh situasi yang bisa menggeret turun citra brand Indonesia?

Pada umumnya, penurunan citra dilakukan oleh usaha kompetitor. Pesaing yang ingin menang, menghalalkan segala cara dengan menjelekkan brand lain.

Kasus kecelakaan Merpati belum lama ini merupakan contoh kontra produktif untuk perbaikan citra pariwisata kita. Sayangnya, justru penurunan citra secara tidak sengaja dilakukan oleh Internal Indonesia sendiri, bukan eksternal pesaing.

Ada banyak brand yang dilibatkan dalam pemberitaan kasus kecelakaan pesawat Merpati di Teluk Kaimana, Papua Barat, belum lama ini.

Analisa awal bahwa kecelakaan pesawat Merpati adalah karena cuaca yang buruk segera ditepis banyak jurnalis dan analis. Ini karena semua pihak ingin memberikan justifikasi dari berbagai aspek ‘citra buruk’ yang sudah tertanam sebelumnya. Sulit untuk bisa mengelak dari kenyataan ini.

Ada 5 brand utama yang masuk dalam pembahasan kasus Merpati: Merpati Airlines, Indonesia, Pesawat MA-60, Xian Aircraft dan China.

Dua brand baru muncul ke permukaan. Pertama, sebuah Corporate Brand perusahaan pembuat pesawat terbang Xian AirCraft. Kedua, brand pesawat produksinya yaitu MA-60.

Xian dan MA-60 bukanlah brand yang dikenal publik, karena itu yang menjadi ‘rujukan’ image bagi publik kemudian tertumpu pada citra negara tempat produksinya yaitu China.

Informasi bahwa pesawat MA-60 tidak bersertifikat FAA AS membuat asumsi rendahnya kualitas safety menjadi berkembang lebih cepat. Ditambah lagi, retained image tentang produk China, sangat kental mewarnai debat tentang penyebab kecelakaan pesawat.

China masih saja tergores dengan citra kualitas rendah, kualitas di bawah standar. Ini yang membuat para analis mempunyai bahasan yang mengarah pada kaitan citra produk China untuk apapun yang sedang dibicarakannya tentang MA-60 dan Xian Aircraft.

Ini dipertegas lagi dengan situasi yang diungkapkan oleh Jusuf Kalla, mantan Wapres, yang personal brandnya secara luas dikenal publik sebagai seorang yang tegas dan keras. Beliau pernah menolak pembelian pesawat MA-60 dengan alasan pertimbangan 3-S yang berarti Safety, Safety dan Safety.

Kasus kecelakaan Merpati ini dilihat dalam kasus yang lebih melebar adalah semakin menurunkan citra brand Indonesia di mata Internasional. Dua aspek yang tercanang disini, yaitu KKN pembelian pesawat dan meremehkan aspek paling penting dalam transportasi udara, yaitu Safety.

Dari sebelum kecelakaan merpati kali ini, penerbangan indonesia sudah mendapat cap kurang baik dari dunia luar, bahkan beberapa negara mengeluarkan travel advisory untuk tidak menggunakan penerbangan lokal indonesia. Lebih lengkapnya bisa dibaca di situs milik pemerintah Inggris = http://www.fco.gov.uk/en/travel-and-living-abroad/travel-advice-by-country/asia-oceania/indonesia1 (updated 12 May 2011).

Retained image adalah image brand yang telah diusung dan terpatri di mata stakeholdernya. Image ini secara kumulatif dibangun dan disulam ke dalam benak publik.

Pada saat terjadi sebuah kesalahan, apapun itu, apalagi yang menyangkut nyawa manusia, yang dibongkar pertama kali oleh publik adalah retained image tersebut. Apalagi semua brand terkait mempunyai catatan-catatan yang mendukung “cerita” yang sedang dirangkai. Ini sangat tidak menguntungkan.

Kita butuh lebih banyak lagi event Justin Bieber, Andrea Bocelli dan yang setara dengannya untuk membantu menghapus catatan panjang citra Indonesia di mata dunia Internasional.

Kirim pertanyaan seputar branding ke amalia@etnomark.com

Comments are closed.