-->
 

Berteman dengan Lawan!

Siapa mau berteman dengan lawan? Ah, yang mboten-mboten aja sampeyan. MungkinAnda berpikir demikian membaca judul blog ini.

Dalam konteks membesarkan sebuah kategori produk, kita butuh persatuan antar brand yang bertanding. Jadi, lawan harus dijadikan teman. Jangan buru-buru bertanding — di pending dulu pertempurannya sampai sudah besar kategorinya. Disitu kita transformasi agar ‘teman’ dijadikan lawan kembali. Tapi jangan sekarang-sekarang dong..dimana kita masih saling membutuhkan.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Pribahasa yang udah nggak aneh dan bosen banget kali ya dengernya. Tapi masih banyak yang mengabaikan prinsip2 dari pribahasa tadi. Persatuan antar brand dalam satu kategori produk kelihatannya masih dipandang aneh. Lho, bukannya di pasar kita harus bertempur satu dengan lainnya? Mood menggempur kompetitor ini yang harus rada dikikis untuk produk-produk yang masih tergolong baru di pasar.

Misalnya, Indovision, untuk tv prabayar, jangan heboh deh nglawan tv berbayar lainnya. Tugas membesarkan kategori masih banyak. Indomie — nggak usah panik, nglawan Mie Sedaap — karena kesempatan membesarkan kategori masih besar. Consumption per capita instant noodle di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara oritental lainnya. Penetrasi pasar masih tinggi opportunity nya, terutama jika image unhealthy dalam kategori ini bisa dikikis dengan inovasi produk2 baru.

Contoh lain, Pasar syariah di Indonesia yang juga masih bertumbuh, juga membutuhkan kekompakan para pemainnya untuk saling support mengatakan bahwa syariah is better than conventional bank. Bank syariah Bukopin yang baru spin off dari Bank induknya juga perlu melihat bahwa tidak bisa membesarkan pasar sendirian, menerobos masalah2 yang masih dominan dalam kategori. Baca artikel tentang Syariah Bukopin di sini.

Mungkin ada cara yang lebih baik daripada mengiklankan “Saya lebih syariah daripada yang lain lho….”  Ini saya meng-highlight cara Bank Muamalat beriklan dengan menyebutkan “Satu-satunya yang syariah murni”. Menurut hemat saya itu sudah masuk ke dalam melawan sesama syariah.  Tugas Market leader adalah penetrasi ke pasar non-users, sehingga dalam komunikasi apapun sebenarnya dari kacamata saya, yang lebih mengena adalah menjelaskan ‘why you need syariah bank, more than your existing bank”.

Mungkin prinsip berteman dengan lawan kayanya akward dan nggak umum ya, tapi kalau untuk kepentingan bisnis itu lebih menguntungkan, why not.. bottom linenya kan merubah mindset aja, teman dan lawan itu hanya sebatas beda atau sama kepentingan kok.

Ayo.. belajar berteman dengan lawan!

2 Comments on "Berteman dengan Lawan!"

  1. rendra says:

    Salam kenal ibu,

    Saya tergugah sekaligus setuju sekali dengan kalimat ‘why you need syariah bank, more than your existing bank”. Dimana kita masih sering berkompetisi dengan lawan sejenis. Padahal apabila komunikasinya dikemas secara kreatif dan luas, makin besar potensi pasar yang bisa dirah.

    Ditunggu artikel lainnya yang menarik bu, salam sukses

  2. Amalia E. Maulana says:

    Tanggapan yang diimport dari Facebook

    Abah Effi Harfiana
    masih banyak sebetulnya contoh produk atau merek yg memaksa konsumen agar memilihnya, jangan yg lain, dg cara menghantam telak pesaingnya tsb. Ini sudah menjadi kutukan kayaknya. Padahal, ibarat bersantai di pantai, kita ini sedang berada di pantai yg luas & indah dg banyak penorama cantik yg tdk akan habis dinikmati sendirian, mengapa pula harus … Read Moremenyuruh orang lain enyah…apalagi tikar yg digelar orang lain juga belum sampai mengganggu privasi kita…
    Kiriman bu Amalia ini bagus utk mengingatkan para pemasar, msh begitu banyak ruang dan peluang utk mengkerek popularitas selain dg sekadar menyikut dan menendang pesaing di arena yg msh sangat lapang utk dikembangkan…

    Eddy Soetrisno
    Setuju, tidak ada musuh atau teman yang abadi, yang ada hanyalah untung atau rugi.

    Weli Wilyanto Abakus
    Lawan adalah pelindung terbaik dan guru terbaik

    Endy Juli Setiawan

    Kalo saya masih di Activia saya akan bikin tag line plesetannya Yakult. “Sudahkah hari ini anda minum Youghurt; Saya minum Activia dua!”

    Gabriel Wu
    Selama masih persamaan kepentingan, gak ada salahnya kok temenan dengan kompetitor…dan itu terjadi di real world. So Klin perang di lapangan dgn Rinso, tapi di level atas kan tetep temenan , wong Unilver beli raw material deterjen dari UIC yg notabene masih sister company dgn wings :)
    yg compete kan cuma di level operation aja…hahahaha…

    Ferry Haryanto
    Ya ya setuju, cuman kadang kalau pas market share kemakan – biasanya pada kebakaran jenggot

    Debbie Sianturi
    Di Indonesia, seringkali perbedaan pendapat diakhiri dengan permusuhan. Lihat saja, Ibu Megawati dan SBY yang sampai detik ini belum juga berbaikan. Bahkan Hatta Rajasa mendapat teguran keras dari SBY karena Hatta Rajasa dengan Pramono Anung,Taufik Kiemas dan Puan Maharani. Padahal kalau kita perhatikan dalam kampanye Obama, Hillary pun menentang … Read MoreObama tetapi apa yang terjadi kemudian, perbedaan pendapat diakhiri dengan kerjasama yang baik. Obama menunjuk Hillary menjadi Sekretaris Negara dan Menteri Luar Negeri US. Apakah di Indonesia bisa dua orang yang berbeda pendapat dan kemudian saling bekerja sama? Sudah saatnya Indonesia memiliki jiwa yangbesar BUKAN hanya badan besar.

    Endy Subiantoro
    Alberto Hanani Mba paling seneng.. tema begini. Knowing your competitor (Kenali Pesaing Anda).. Kita pernah membuat kampanye semacam itu 3 tahun yang lalu… Biasanya jadi berguna kalau kita mau menang tidak hanya dari sisi volume, tapi juga market share.. Repotnya. di Indonesia pasar sering dianggap jenuh (semua sudah dikoversikan menjadi konsumen) sehingga bermitra dengan competitior menjadi sesuatu yang tabu..apalagi kalau hal itu sudah menyangkut menjaga market share masing-masing..