-->
 

Baris-Baris JANJI

Dimuat di Kolom Expert Says di Kick Andy Magazine, Januari 2012

“Promises are not meant to be broken.”

Apakah Anda rutin membuat resolusi di setiap tahun baru? Jika jawabannya ya, berarti Anda layak dapat bintang. Karena tidak semua orang punya dan meluangkan waktunya untuk itu.

Pertanyaan berikutnya, berapa banyak resolusi tersebut yang terealisasi? Karena bintang yang lebih besar baru bisa diberikan kepada yang membuat resolusi dan kemudian menepatinya.

Bagi sebagian dari kita, menuliskan resolusi hanya sekadar ritual, tetapi makna pemenuhan resolusi itu yang belum dipahami dan dihayati. Menuliskan resolusi awal tahun sama seperti menuliskan daftar janji. Bedanya dengan janji biasa, janji yang satu ini adalah janji untuk diri sendiri.

Berjanji memang mudah. Apalagi janji untuk diri sendiri. Tidak usah menunggu setahun sekali, setiap malam sebelum tidur pun kita sering merenung dan kemudian berjanji mulai besok akan menjadi sosok yang lebih baik dalam berbagai urusan. Tetapi, besoknya hidup berjalan seperti biasa lagi. Janji tinggal janji.

Dalam kategorisasi janji, tipe janji diri sendiri inilah yang paling sering dilanggar. Bahkan, kadang tanpa proses penjadwalan ulang–hilang begitu saja menguap dari agenda resolusi tahunan.

Beratkah memegang janji?

Jawabannya tergantung. Ada jenis janji yang selalu kita usahakan untuk ditepati. Contohnya, janji pada bank untuk membayar cicilan rumah atau mobil. Kalau perlu malah auto-debet rekening, agar kalau kita lupa, masih ada komputer yang ingat untuk mengambil sendiri cicilannya.

Mengapa ada janji yang mudah dilanggar dan ada janji yang  sulit dilanggar? Semua ada hubungannya dengan tingkat risiko yang terjadi bila tidak menepati janji. Janji pada bank, kalau tidak tepat, risikonya penalti. Hukumannya jelas, kasat mata, yaitu membayar bunganya.

Janji pada diri sendiri? Pada umumnya, kita menganggap risikonya rendah bila tidak terealisasi. Tidak ada yang marah, tidak ada yang memberikan penalti. Itulah sebabnya kita tetap santai saja dan terus mengumbar janji pada diri sendiri dan terus saja mengingkarinya. Seperti syair lagu lama, “Kau yang berjanji, kau yang mengingkari”.

Masalahnya, kebiasaan tidak menepati janji pada diri sendiri ini sedikit banyak akan berpengaruh kepada sikap kita dalam menepati janji-janji yang lainnya, yang lebih berisiko. Banyak janji yang sebenarnya mendesak untuk ditepati, tetapi karena penalti risiko kasat matanya tidak tampak, maka cenderung terabaikan. Sama sekali tak terpikirkan bahwa itu berefek pada personal brand.

Perhatikan sikap kontras sebagian orang terhadap klien versus pemasok. Kepada klien,  janji itu hukumnya wajib, karena penaltinya berat, bisa-bisa tidak dapat proyek lagi. Tetapi, janji kepada pemasok, hmmm… nanti dulu. ‘Mindset’ tiba-tiba berubah. Tagihan bisa ditangguhkan beberapa kali. “Ah… kan dia pasti masih membutuhkan proyek dari kita, tentu tidak keberatan pembayaran ditunda lagi”.

Apakah tebersit kepedulian jika mengundurkan janji itu membuat pemasok atau rekan kerja kita kesulitan aliran dana tunai dan juga kalah janji lain, misalnya tidak bisa membayar THR karyawannya tepat waktu,? Mungkin tidak pernah terpikir sampai sejauh itu risikonya. Kerugian finansial memang tidak secara langsung kita bayar, tetapi tetap merupakan kerugian pada pihak lain.

Mungkin sudah waktunya untuk berpikir dalam kerangka yang lebih luas. Jika pihak ketiga tersebut kecewa, yang akan terpengaruh bukan saja merek perusahaan, tetapi menyangkut  I-Brand (personal brand) kita sebagai narahubung. Kita akan dianggap tidak bisa memegang janji.

Dalam ilmu branding, pemenuhan janji adalah urusan yang tidak bisa ditawar. Merek yang cemerlang adalah merek yang memenuhi komitmen yang dibuatnya sendiri.

Tangibilize the Intangible

Agar kita tidak terjebak pengabaian janji penting, maka dalam menuliskan resolusi tahunan, perlu dilengkapi dengan dua aspek yaitu kapan tenggat waktunya dan seperti apa kerugiannya jika tidak tercapai.

- Tulis tenggat waktu, kapan janji harus dipenuhi. Jangan hanya mengatakan ‘akan berhenti merokok tahun ini’ saja, tetapi mulai kapan pelaksanaan berhenti merokok tersebut. Sebutkan saja bulan pada saat Anda berulang tahun, di bulan itulah berhenti merokok benar-benar dimulai.

- Kerugian apakah yang terjadi bila resolusi tersebut tidak terpenuhi sesuai tenggat waktu? Jabarkan secara konkret. Risiko yang awalnya laten, buatlah sehingga menjadi jelas dan kasat mata dan ingin dihindari karena risikonya tinggi. Sebagai contoh, tuliskan, bila Anda tidak berhenti merokok, maka tidak bisa menasehati anak-anak yang menjelang remaja untuk juga tidak merokok. Atau, mungkin ada hubungannya dengan kenaikan jabatan di kantor yang syaratnya ketat tentang kesehatan.

Dalam tabel ini, Anda bisa melihat beberapa contoh resolusi yang cukup populer dan perkiraan kerugiannya bila tidak terlaksana.

Contoh Resolusi 

 

Tenggat Waktu Kerugian jika tidak terlaksana
Berhenti merokok Februari, saat ulang tahun Tanda gejala sakit paru-paru akan terdeteksi pada tes kesehatan di kantor pada bulan Oktober. Jika itu terjadi, kesempatan naik jabatan hilang.
Kursus Bahasa Inggris Mulai Maret Jika hasil test TOEFL bulan Agustus tidak bagus maka tidak bisa mengajukan beasiswa ke luar negeri.
Menabung uang muka rumah Mulai Januari Harga rumah semakin tidak terjangkau kalau tidak mulai KPR tahun ini.
Memberangkatkan orang tua umroh Bulan September Kondisi ayah semakin kurang sehat, sehingga semakin cepat jadwal berangkat umroh semakin baik.
Bersepeda bersama keluarga tiap Minggu pagi Mulai Januari Anak-anak semakin banyak bermain permainan elektronik lainnya, tidak sehat. Minus mata si kakak bertambah. 

 

 

Dalam Services Marketing, proses ini disebut dengan tangibilize the tntangible, yaitu membuat konkret hal-hal yang laten menjadi kasat mata sehingga kita menjadi lebih waspada.

Tidak cukup untuk melatih benak bawah sadar kita tentang risiko tidak tercapainya resolusi. Harus dituliskan dan bahkan jika perlu, disosialisasikan kepada pemangku kepentingan terdekat: pasangan, sahabat atau bahkan atasan di kantor. Dalam pembinaan I-Brand, peranan pemangku kepentingan sangat tinggi. Menjelaskan resolusi berarti telah membangun ekspektasi kepada mereka. Dengan demikian, kita akan berusaha lebih keras untuk menepatinya.

Karena, sekali lagi, promises are not meant to be broken.

 

2 Comments on "Baris-Baris JANJI"

  1. Nur Pamudji – nurpamudji@gmail.com via FB:

    Menuliskan apa yang ingin kita capai (cita-cita) sangat penting, menuliskannya akan menguatkan niat itu, dan mengatakannya di depan khalayak akan membuat khalayak ikut share dengan cita-cita tersebut. Seolah cita-cita tersebut menjelma menjadi makhluk, yang akan merasuk ke alam bawah sadar saya dan setiap orang yang mendengarnya, dan kemudian mencari jalannya sendiri untuk menjadi realitas aktual.

  2. Hikaman Prasojo – himawan@abk.co.id via FB:

    Suwun Lia … Atas tulisannya. Kalau di Qur’an Ar Rad diingatkan oleh Alloh bahwa orang yg berhasil itu pertama bisa pegang janji ke Alloh ( hanya Alloh dan diri sendiri yg tahu), kedua bisa pegang janji ke orang lain, ketiga hobby menghubungkan apa apa yg harus dihubungkan ( ini dasar kreativitas dan jaringan kerja). Janji yg orang lain nggak tahu dinomor satukan krn memang itu yg paling sulit ngelatihnya …. Salam