-->
 

Bakso, Bandara Soeta dan Shock Therapy

Berita tentang pencampuran bakso dengan daging babi/celeng membuat kita shock.

Berita tentang rusaknya UPS di Bandara Soeta yang menyebabkan kekacauan penerbangan juga membuat kita shock.

Mungkin masih akan ada shock-shock lainnya, sedang mengantri, tidak tau kapan beritanya akan meledak.

Dalam banyak hal, memang konsumen sederhana seperti kita ini cenderung ‘take it for granted’ bahwa orang-orang yang kita percaya sudah mengerjakan tugasnya dengan baik.

Shock demi shock yang kita alami belakangan ini menyadarkan kita bahwa ternyata tidak semua orang ‘PEDULI’ akan hajat hidup orang banyak.

Orang-orang yang berkomplot memainkan peranan di pencampuran daging bakso hanya memikirkan keuntungan ekonomi dirinya sendiri. Kalaupun ternyata karena ulah mereka, ada yang terpaksa makan makanan tidak halal, ‘emangnya gue pikirin’? Mungkin ini ekspresi di benak mereka.

Orang-orang yang ada di dalam manajemen Bandara Soeta yang seharusnya memikirkan secara holistik setiap perangkat untuk melancarkan tugas sebagai bandara, toh gagal melakukan tugasnya dengan baik. Mungkin juga sama pemikiran di belakang benak manajemen tersebut. Kalaupun sampai terjadi sesuatu di Bandara, ‘emangnya gue pikirin’?

Untuk makan siomay dan bakso keliling, sebagian dari kita mungkin tidak merasa membutuhkan untuk periksa dulu apakah ada sertifikasi halal dari MUI atau tidak (atau mengecek apakah sertifikat halalnya itu asli atau palsu). Itu karena kita PERCAYA bahwa pedagang itu mengerti apa yang kita butuhkan, yaitu bukan hanya enak, tetapi makanan halal.

Untuk pergi dengan pesawat melalui Bandara Soekarno Hatta, kita tidak pernah terpikir untuk memeriksa apakah manajemen bandara ini baik atau tidak? Apakah alat-alat yang digunakan untuk operasional selalu diperiksa kondisinya agar tidak rusak pada saat sedang digunakan? Itu karena kita PERCAYA bahwa kita berada ‘in a good hand’.

Kenyataan demi kenyataan berkata lain. Ketidakpastian tentang kualitas produk makanan, ketidakpastian tentang kualitas manajemen Bandara merubah peta kepercayaan konsumen, dan ini sangat merisaukan.

Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena ulah segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan dari harga daging bakso, maka harus merusak kepercayaan masyarakat terhadap semua pedagang bakso. Ini menyedihkan.

Dampak krisis kepercayaan memang meluas. Pedagang bakso baik itu dalam kemasan di supermarket maupun pedagang keliling dan pedagang resto, jadi turun omsetnya. Ini sudah bukan masalah satu brand bakso saja, melainkan masalah kategori produk.

Pembenahan persoalan di kategori produk lebih kritis dan lebih membutuhkan waktu yang lama. Disini peranan Asosiasi pedagang bakso, peranan pemerintah terkait menjadi sangat sentral. Tetapi bukan itu saja, Konsumen sebagai obyek yang mengalami ‘pemalsuan’ juga harus bangkit dan ikut ambil bagian. Ketelitian dalam menyeleksi produk yang halal dari yang tidak halal tidak bisa lagi dilakukan sambil lalu. Konsumen perlu memperkaya diri dengan pengetahuan tentang produk yang lebih tinggi daripada biasanya.

Tingkat edukasi konsumen ikut berperan dalam keterlibatan dalam menjadi ‘pengawas’ bagi produsen. Seperti dalam report yang berjudul “The Culture of Distrust in Latin American Public Administration,” oleh Jorge Nef dari the University of South Florida, level of experience dan edukasi ikut berperan dalam pengambilan keputusan memilih produk. Yang sebelumnya dianggap bahwa komunitas Hispanic adalah sangat loyal dan tidak pernah mempertanyakan produk yang digunakannya, studi itu menjelaskan kenyataan yang sebaliknya, disaat tingkat edukasi sudah semakin meningkat.

Selain tingkat pendidikan, tingkat kepedulian konsumen juga termasuk yang harus ditingkatkan agar bisa lebih teliti dalam pengambilan keputusan.

Kepedulian masyarakat sebenarnya sudah semakin bisa diikuti dari cara mereka berdiskusi di dunia maya. Misalnya saja, untuk mengatasi permasalahan di Bandara Soeta mereka menyatakan tidaklah cukup dengan permintaan maaf saja.

“Simsalabim tanpa penjelasan masalah dan solusi pencegahannya tiba tiba datangkan UPS baru. Pejabat indonesia tidak bisa dipercaya mulutnya…”

“…rahasia umum.. tender bandara.. “wani piro”, ada pemainnya, apapun bisa dipasang..”

“Nggak ada yang mundur nih? Masa sih bandara internasional sepenting itu tidak punya backup ups sama sekali? Mundurrrrrr!”

Ketidakpercayaan kepada ‘pihak yang seharusnya terpercaya’ dan Ketidakpastian soal mutu ini juga bisa merambat kepada persoalan-persoalan lain yang merupakan hajat hidup orang banyak.

Sebenarnya persoalan ketidakpastian dan ketidakpercayaan ini sudah sejak lama terbentuk kepada pemerintah. Ketidakpastian dalam menyelesaikan kasus Bank Century, dalam menyelesaikan korupsi seputar kasus Hambalang, dan masih banyak lagi. Sudah terbentuk krisis kepercayaan kepada pemerintah.

Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karna ulah segelintir politisi pengambil keputusan, maka masyarakat tidak percaya kepada pemimpinnya lagi, diwakili dengan ketidakseriusan membereskan debu-debu di dalam karpet kasus Century dan Hambalang.

Shock Therapy Tingkatkan Ketelitian

Apakah kita membutuhkan shock therapy terlebih dahulu seperti ditemukannya bakso tidak halal dan lumpuhnya bandara sebelum kita rame-rame ikut mengawasi apa yang terjadi yang tidak tampak tetapi sangat penting dalam hidup kita?

Shock therapy ini adalah pelajaran bagi masyarakat bahwa kita tidak bisa lagi ‘take it for granted’ terhadap apa dan siapa saja yang selama ini kita percaya. Masyarakat juga harus lebih kritis terhadap persoalan-persoalan negara yang tidak kunjung selesai. Pemberantasan korupsi dan pengentasan kemiskinan jangan dipercayakan kepada orang-orang yang tidak ‘peduli’.

Karakteristik peduli ini sudah sangat urgent untuk masuk ke dalam syarat pemilihan pemimpin yang baik. Agar menghindari Shock yang lebih besar lagi, negara ini butuh masyarakat yang bisa memilih dengan lebih teliti.

(dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo  2 Januari 2013)

Comments are closed.