-->
 

Android Inside! Belajar dari Pertemanan Samsung

Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 4 January 2012

Jika tahun baru selalu dikaitkan dengan resolusi janji pada diri sendiri yang berdampak pada personal branding, berapa banyak dari Anda yang menyempatkan diri memikirkan resolusi janji brand perusahaan?

Jangan mengatakan bahwa itu tidak perlu lagi, karena business plan sudah selesai disusun. Marketing plan sudah siap diperbanyak untuk dilaksanakan. Ada yang masih perlu direnungkan lagi yang mungkin belum masuk dalam dokumen resmi perusahaan. Resolusi brand terhadap para partnernya.

Renungkan kembali, bukankah pencapaian brand di mata konsumen merupakan sebagian sumbangan dari kerja para partner perusahaan? Seperti apa persepsi mereka terhadap partnership yang sedang terjalin?

Para pemilik brand masih berpikir satu dimensi melihat persaingan. Bahwa brand motor bersaing melawan motor lain. Bahwa brand tissue berjuang melawan tissue merek lain. Bahwa brand oli bersaing dengan oli merek lain.

Dunia bisnis yang semakin kompleks menuntut perusahaan untuk berpikir menembus batas lingkup interaksi perusahaan dengan konsumen. Customer bukan lagi satu-satu nya stakeholder penting. Dalam pertandingan lari marathon, partner bisnis yang ikut bersama membesarkan brand, termasuk kunci sukses keberhasilan.

Sudah terbukti, bahwa mobile phone tidak lagi bersaing dengan mobile phone lainnya. Dalam persaingan bisnis ini, termasuk di dalamnya adalah persaingan Operating System (OS) nya. Pertanyaannya tidak lagi sebatas bagaimana posisi Samsung vs iPhone? Tetapi juga bagaimana situasi penerimaan konsumen terhadap OS Android vs iOS?

Kabar terakhir dari Nokia, brand yang posisinya di pasar semakin terdesak, mereka sudah menggandeng partner nya yaitu Microsoft dengan OS Windows Phone 7.5 (Mango). Apakah Nokia akan bangkit kembali? Terlalu dini untuk mengatakan bangkit. Tetapi, usaha Nokia kearah sana dengan membina pertemanan dengan Microsoft harus dihargai. Masih butuh waktu untuk membuktikan apakah partnership baru ini benar-benar bisa memberikan tawaran yang brilliant bagi konsumennya.

Evaluasi Derajat Trust dan Respect

Jika setiap periode kita meluangkan waktu dan biaya untuk riset persepsi konsumen terhadap brand, mengapa tidak memperluas pemahaman persepsi para partner bisnis, terhadap kita? Pernahkah berpikir untuk mengukur, derajat trust dan respect yang selama ini kita proyeksikan dalam sikap dan keseharian bermitra?

Yang sering terjadi tanpa disadari, salah satu brand merasa peranannya lebih dominan sehingga memandang remeh partner lainnya. Dalam keseharian, salah satu brand merasa dibutuhkan, sehingga semua aturan dibuat untuk kepentingan sepihak saja.

Apakah harus menunggu pecah pertemanan terlebih dahulu baru dievaluasi apa sebabnya? Dalam kasus mundurnya Priyanto sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, publik tentu mempertanyakan banyak hal. Bagi Fauzi Bowo, yaitu brand yang ditinggalkan, review ulang persepsi partnership sudah tidak berguna lagi setelah keputusan mundur Priyanto dipublikasikan. Damage has been done.

Dalam retaknya partnership, selalu ada imbas untuk image kedua brand. Sebagian orang menyalahkan Priyanto yang disebut tidak commit kepada partnernya, bahkan tidak punya loyalitas kepada kepada masyarakat yang memilihnya.

Tetapi bagaimana dengan image Fauzi Bowo sendiri? Tentu agak sulit menghindar dari kenyataan untuk dipersepsikan sebagai leader yang ‘one man show’ dan tidak mau sharing panggung.

Di jaman yang semakin hiperkompetitif seperti sekarang ini, perusahaan perlu lebih jeli dalam memilih brand partner untuk bisa memberikan tawaran yang lebih kompetitif untuk konsumennya.

Samsung sudah membuktikan kepiawaiannya dengan menggandeng OS Android. Bagi konsumen, ‘Android Inside’ menjadi salah satu trigger dalam pemilihan terhadap Samsung smart phone.  Dalam hal ini, ilmu matematika sederhana tidak bisa lagi digunakan.  Sebab, penggabungan dua brand yang berhasil, 1 + 1 bukan sama dengan 2 lagi, melainkan menjadi lebih dari 10.

Salah memilih partner dalam bisnis, yang terjadi bisa sebaliknya, 1+1 malah menjadi 1.5 atau, bahkan lebih parah lagi, menggerogoti image brand sendiri,  sehingga 1+1 justru lebih rendah dari 1.

Apakah pertemanan Samsung dengan Google OS Android akan berlangsung terus?

Pemerintah Korea memberikan tekanan bagi perusahaan besar negaranya yaitu Samsung dan LG untuk tidak bergantung kepada OS Android, dan menghimbau untuk membuat OS nya sendiri. Dalam persaingan bisnis, semua hal memang mungkin terjadi. Siapa yang berani garansi bahwa Google tidak sedang mempersiapkan hardwarenya sendiri dan ikut dalam kancah persaingan.

Jika sampai sekarang Android Inside merupakan kunci keberhasilan Samsung di dunia mobile phone, maka sebaiknya tetap dipertahankan bahkan diperkuat. Google akan berpikir dua kali untuk tampil sendiri, pada saat pertemanan dengan Samsung tersebut merupakan pertemanan yang honest, trusted, dan menunjukkan komitmen jangka panjang.

Sekali lagi, bahan pertemanan adalah trust dan respect, yang kadarnya tidak boleh dikurangi. Jangan berasumsi bahwa dalam perjalanan kemitraan, tidak ada penurunan kadar kedua aspek penting ini. Perusahaan harus mengevaluasi dari waktu ke waktu, agar alert untuk memperbaikinya sebelum terjadi degradasi pertemanan.

Awal tahun baru merupakan momen yang tepat untuk merenung, apakah brand masih dipersepsikan baik oleh partner, sama baiknya seperti saat partnership dimulai?

Ataukah, derajat trust dan respect sudah tererosi dengan keinginan salah satu brand untuk tampil sendiri, dengan motivasi untuk meraup untung lebih banyak dari partner?

Tidak ada kata terlambat dalam resolusi janji kepada partner, kepada siapa kita bergantung dan menuai kesuksesan bersama.

Keep smilin’, keep shinin’

Knowin’ you can always count on me, for sure

For good times and bad times

I’ll be on your side forever more

That’s what friends are for……

 

(photo by Glen10 on photobucket)

One Comment on "Android Inside! Belajar dari Pertemanan Samsung"

  1. Rismi says:

    Saya melihat bahwa Samsung lebih identik dengan Android Inside dari OS Bada milik Samsung sendiri. Mungkin juga karena strategi pricing yg digunakan Samsung yang membuat orang enggan menggunakan OS Bada karena lebih murah daripada Android. Apalagi Android sudah mampu memberikan aplikasi yang diinginkan oleh pasar.