Analisa Branding Seputar Pemilu

Tulisan di kolom Bisnis minggu lalu tentang Prabowo: Brand Sukses Pemilu 2009 - sebenarnya adalah tulisan saya kedua seputar branding pemilu. Yang pertama adalah “Capres Alternatif: Distorsi Komunikasi Uncontrollable Media” dimuat di Warta Ekonomi. Waktu itu masih jamannya capres-capres alternatif, jadi bukan hanya Prabowo brand saja yang yang saya angkat, tetapi juga Sutrisno Bachir, Rizal Mallarangeng dan Yusril Mahendra.

Tulisan saya ini memang mengundang kontroversi, dari judulnya saja mungkin sudah banyak yang mengrenyitkan kening. Namanya juga judul, kalau nggak intriguing, kan nggak seru, nggak ada yang mau baca tulisanku. Tapi honestly apa yang saya angkat judul itu memang benar – bahwa dari segi branding, brand Prabowo perolehannya banyak banget dalam pemilu, banyak orang yang tadinya nggak tau jadi tau (awareness meningkat), kemudian banyak orang yang tidak mengerti proposisinya ekonomi kerakyatan, jadi mengerti, dan kemudian karena digabung dengan megawati, eh, pasangan Mega-Pro merebut 30% suara, ya itu jadi prestasinya brand Prabowo. Kalau sendirian (nggak pakai Mega), belum tentu kan bisa setinggi itu. Brand JK saja berat banget, tidak mencapai targetnya.

Catatan saya dalam tulisan ini sebenarnya cukup jelas mengungkapkan bahwa Brand Prabowo bukannya tanpa masalah. Seperti yang saya tulis di Warta Ekonomi sebelumnya, setelah saya lakukan riset pendalaman dalam media-media yang ditulis oleh konsumen (Consumer Generated Media), banyak sekali pihak-pihak yang masih mempunyai persepsi negatif terhadap brand Prabowo. Mungkin sampai saat inipun juga demikian. Makanya tidak heran, baru saja tulisan kolom saya dimuat, sudah ada 2 tanggapan keras dari pembaca kolom yang menyinggung tentang masa lalu brand Prabowo. Sudah saya ramalkan akan ada tanggapan seperti itu, tapi nggak apa-apa, karena itu juga sekaligus testing, bener nggak sih bahwa retained association yang saya katakan masih negatif dari brand ini memang masih seperti itulah adanya. Ya, ini kan alert atau masukan untuk brand team nya Pak Prabowo, dong, you have to do something — buktikan bahwa asosiasi itu tidak benar, kalau perlu Pak Prabowonya sendiri diminta klarifikasi (atau kalau sudah ya berarti masih kurang).

Anyway, mudah-mudahan tulisan di kolom itu tidak menggambarkan warna politik ku, lha memang tidak berpolitik kok.. cuma duduk di pager aja nih, sit in a fence, memperhatikan dan menganalisa brand-brand yang bertempur. Kalau pas pemilu sih jelas aku ikutan voting, tetapi tidak perlu dibahas dalam analisa branding, yang aku pilih brand mana, karena that is a personal preference, not academic point of view.

Selamat ikut berkomentar tentang brand Prabowo – brand JK dan brand SBY, so far kalau aku bilang ya cuman 3 brand ini yang menarik untuk didiskusikan strategi brandingnya.

Comments are closed.