-->
 

Cobranding Sensasional ala SBY-Roy Suryo

Habibie & Ainun. The Best Cobranding of the Year.

Personal brand Habibie yang cemerlang dipadukan dengan personal brand Ainun yang tidak kalah cemerlang menjadi sebuah kekuatan baru yang saling menambahkan. Mungkin sudah banyak yang mengenal sosok BJ Habibie tetapi belum banyak yang mengerti siapakah Ainun. Dalam film mereka, yang ditampilkan adalah penjabaran dua personal brand yang kokoh, yang saling melengkapi dan menguatkan.

Jika dalam matematika murni 1 + 1 adalah 2, maka dalam ilmu Cobranding, 1+1 belum tentu sama dengan 2, bisa lebih atau justru bisa kurang dari 2. Nilai penjumlahannya tergantung apakah brand pertama dan brand kedua sama-sama cemerlang atau tidak. Tetapi, pada prinsipnya, dalam rumus penggabungan dua brand cobranding, 1+1 jangan kurang dari 3 untuk bisa disebut efektif.

Cobranding ala Habibie & Ainun adalah contoh dimana satu brand yang kuat ditambah satu brand lain yang juga kuat menjadikan sinergi keduanya menjadi powerful. Bisa dipastikan 1+ 1 ala Habibie & Ainun nilainya bisa mencapai 10. Gabungan keduanya menjadi inspirasi audience nya akan kesetiaan dan ketulusan cinta, jiwa nasionalisme, kerja keras, tekun dan fokus dalam mencapai cita-cita.

Last Impression Counts

Masih banyak yang menganggap enteng personal branding atau citra diri. Dibiarkan mengalir saja tanpa dikelola dengan sebaik-baiknya. Citra diri adalah apapun yang dikatakan oleh para stakeholders tentang diri seseorang, terutama di saat orang tersebut tidak berada di ruangan yang sama.  Memilih aliansi yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap pembinaan personal brand.

Personal brand umumnya hanya dipikirkan pada saat seseorang ingin masuk kerja ke sebuah perusahaan. Atau, pada saat seseorang ingin mendapatkan promosi jabatan. Jarang yang berpikir bahwa personal brand itu tidak berhenti sampai disana.

Banyak karyawan yang mulai kehilangan gairah bekerja di sebuah perusahaan pada saat menjelang kepindahan ke tempat barunya. Biasanya kerja sudah setengah hati dan konsentrasi sudah mulai terpecah, berpikir ke tempat baru.  Padahal, justru pada saat-saat terakhir bekerja di sebuah perusahaan, kita harus bisa memberikan The Best Last Impression. Karena kesan yang terakhir itulah yang akan tertinggal di benak para stakeholdersnya. Jika memungkinkan, berikan kesan terbaik.

Dalam situasi Personal Brand SBY, saat ini bisa dikatakan adalah menjelang akhir dari masa pemerintahannya. Last Impression akan menentukan apakah kesan masyarakat terhadap beliau positif atau negatif.

Saya merupakan salah satu dari pemilih SBY yang cukup kecewa dengan performance Brand SBY karena di era pemerintahannya yang kedua ini begitu banyak janji yang tidak ditepati. Janji terpenting yaitu pemberantasan korupsi secara utuh dan sampai ke akar-akarnya, masih belum terlaksana juga. Bahkan, yang menyakitkan adalah melihat display kasus korupsi justru tampil dari partai beliau sendiri.

Karenanya, saya menyambut baik semua kegiatan SBY akhir-akhir ini yang berlandaskan tujuan positif. Blusukan misalnya. Banyak pengamat yang skeptis dan meragukan motivasi SBY dalam kegiatan blusukannya. Mungkin hanya ikut trend saja, karena Jokowi sebagai Guberner DKI begitu dicintai setelah melakukan kegiatan Blusukan. SBY dianggap hanya acting saja untuk mengambil hati rakyat dengan cara yang sama.

Saya tidak mempermasalahkan apakah Blusukan ini genuine (asli, tulus) dari lubuk hati yang paling dalam atau bisa dikategorikan sebagai Blusukan Semu atau Blusukan Dadakan. Yang saya nilai adalah niat positifnya. Sebagai seorang ethnographer, saya mengerti apa artinya bila seorang leader langsung berhadapan dengan masyarakatnya di habitatnya. Ia akan menyaksikan secara langsung dengan mata kepala sendiri, apakah aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat itu masuk akal atau tidak. Jadi, berada di dalam lokasi itu saja sudah merupakan sebuah nilai tambah.

SBY-Roy Suryo: Sensasional

Last Impression Personal brand SBY saat Blusukan saya perkirakan akan meningkat karena kegiatan itu sudah menjanjikan sesuatu yang positif. Tetapi, berita tentang pemilihan Menpora baru membuat saya tersentak. Ini berita sensasional, dan Personal Brand SBY sangat tidak membutuhkan sensasi di akhir pemerintahannya.

Memilih Roy Suryo mengandung unsur sensasi. Roy Suryo memang sudah selalu dikaitkan dengan berita-berita yang sensasional. Hujatan kekecewaan terhadap pilihan Presiden bisa dibaca secara gamblang di media sosial.

Dalam banyak interview di Media, bahkan Roy Suryo sebagai Menpora baru mengakui bahwa dirinya tidaklah mempunyai kompetensi yang cukup untuk posisinya. Lalu, mau dibawa kemana Kementerian Pemuda dan Olah Raga jika Leadernya sendiri saja mengakui bahwa dirinya tidak kompeten.

Bandingkan reaksi masyarakat pada saat SBY mengangkat dr Nafsiah Mboi sebagai pengganti almarhumah dr Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Kesehatan. Tidak ada yang menghujat, tidak ada yang mempersoalkan. Itu karena masyarakat sudah melihat kompetensi dari pilihan SBY, dengan track record yang positif. Semua pihak merasa nyaman dengan dr Nafsiah Mboi dan ini merupakan modal kepercayaan internal Kementerian dan eksternal masyarakatnya.

Cobranding antara atasan-bawahan merupakan salah satu cara jitu dalam strategi personal branding.  Pada saat personal brand seseorang membutuhkan dukungan aspek-aspek yang di luar kompetensi dirinya, maka aliansi menjadi solusi bagi audiencenya.

Sayangnya, dalam kasus Cobranding SBY-Roy Suryo, yang saya kuatirkan jika dipadukan, maka 1+1 akan menjadi kurang dari 2. Bagaimana dengan cita-cita memperoleh The Best Last Impression di akhir pemerintahan, Pak Beye?  Blusukan demi blusukan akan jadi sia-sia sebab penonton kecewa.

(dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 17 January 2013)

4 Comments on "Cobranding Sensasional ala SBY-Roy Suryo"

  1. Mega fatanti says:

    Saya setuju dengan pendapat Ibu Amalia ttg personal brand dan co-brand. Sayangnya, kadang kita terlalu berkonsentrasi pada first brand saja tidak memperhatikan second brand, atau bahkan third brand. Terkait dengan pernyataan Roy Suryo ttg “kompetensi”, saya juga pernah menemukan pernyataan demikian oleh salah satu calon Walikota di tempat saya tinggal, ia berkata bahwa “saya ini hanya wayang, tergantung dalangnya nanti membawa saya kemana”. Ini menururt saya sebuah pernyataan yang anti klimaks, di satu sisi dia berusaha mati-matian membangun personal brand nya sebagai calon kuat Pemimpin daerah, di satu sisi lain dia menjatuhkan sendiri kepopularitasan nya sebagai seseorang yang memiliki personal brand yang bagus. Dia membangun, dia sendiri juga yang menjatuhkan…

  2. Bunga Indah says:

    Saya setuju dengan yang dikawatirkan Ibu dengan Cobranding SBY-Roy Suryo nilainya 1+1 kurang dari 2, karena masyarakat sudah menilai masing-masing personal brand ini nilainya sudah bukan 1 lagi tetapi kurang dari 1 dikarenakan kesan masyarakat yang sudah menjadi negatif terhadap kedua personal brand ini. Apapun kegiatan positif yang dilakukan untuk negara ini, tidak akan di lihat lagi oleh masyarakat karena lebih besar rasa kecewa mereka dibandingkan dengan kepercayaan yang di timbulkan oleh masing-masing personal brand tersebut.

    Tetapi saran saya apabila Pak BY bisa melakukan gebrakan besar dimasa akhir jabatannya contoh bisa bertindak tegas untuk semua pelaku korupsi baik itu dari partainya sendiri maupun dari luar partainya, kemungkinan masyarakat juga sedikitnya akan melirik upaya Pak Beye dalam memberikan The Best Last Impression dlm akhir masa jabatannya. Setidaknya nilai Pak Beye akan bertambah sedikit dibanding dengan sebelumnya didukung oleh keberanian yang dilakukannya. Bukan hanya kegiatan sosial yang semata-mata hanya ikut-ikutan dari pihak lain, karena bukan hanya itu yang masyarakat inginkan, yang masyarakat inginkan adalah janji-janji Pak BY diawal-awal masa jabatannya yaitu memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya.

  3. Angie Palar says:

    Saya sependapat dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan SBY yang sudah mulai menurun krn semua tidak terlepas dari begitu kompleksnya masalah2 yg ada di negara ini, tapi menurut saya juga apresiasi patut juga di berikan terhadap pemerintahan SBY dimana dalam permasalahan korupsi krn kita ketahui bersama SBY tidak pernah pandang bulu dalam pemberantasannya, seperti contoh besannya Aulia Pohan yg lalu ttp dihukum krn terlibat kasus korupsi dan sampai sekarang saya msh optimis SBY ttp konsisten dlm pemberantasan korupsi seperti hal yg baru saja menggemparkan tanah air yaitu ditetapkannya tersangka oleh KPK Menteri negara yang sementara aktif padahal yg kita tau bersama beliau adalah org dekat SBY, fenomena ini sangat jarang bahkan mungkin belum pernah terjadi di negara ini dimana Menteri yg msh aktif ditetapkan sbg tersangka. Terlepas dari Cobranding Sensasional SBY-Roy Suryo menurut saya nilainya 1+1 bisa saja 2 lebih dan bisa saja kurang dari 2 tinggal dari sisi mana kita memandangnya, kalau kita memandang dari sisi profesionalitas kerja mmg Roy Surya belum mumpuni utk jabatan Menpora krn disiplin ilmunya bkn di bidang olahraga tp kita jangan lupa juga Menpora itu bkn hanya olahraga tp termasuk juga Pemuda dan dlm hal ini beliau termasuk dlm representasi kaum muda. nah kalau di pandang dari sisi politis ditunjuknya Roy sbg Menpora adanya keinginan SBY menunjuk org yg mampu berdiri tengah dlm konflik yg ada di PSSI dan KPSI yg aroma politik kepentingan sangat kental didalamnya.

  4. AnggaRifandi says:

    Kalau menurut saya, kedua brand (SBY & Roy Suryo) sudah memiliki image yang melekat di benak masyarakat Indonesia. Nah image ini sangat tergantung dari sisi mana kita melihatnya, contohnya Roy Suryo, bagi para penggiat teknologi informasi, dia banyak dikecam karena pernyataannya mengenai para blogger dan beberapa pernyataannya yang terkesan “asal-asalan”, namun ia juga disanjung (sebagian orang) dengan diblokirnya situs-situs pornografi di Indonesia.

    Sedangkan untuk Pak SBY, beliau merupakan orang yang sedikit terkesan kurang cepat dalam merespon permasalahan, namun gebrakan yang dilakukan beliau dalam pemberatasan korupsi mendapatkan sanjungan dari banyak pihak.

    Ketika Pak SBY kemudian menunjuk Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga di masa-masa akhir jabatannya, mengutip dari sebuah pesan yang pernah saya dengar, “Ternyata Pak SBY tidak hanya pintar bernyanyi, tapi juga melucu” :D