Archive for February, 2010

Pembicara 2.0 & Analogi Teman untuk Branding

Ada berapa teman kita yang bisa digolongkan sebagai ‘just friends’?, berapa yang digolongkan sebagai ‘good acquaintances’? dan berapa pula yang sudah bisa kita hitung sebagai our ‘soul mates’?  Yakin seyakin-yakinnya, pasti yang soul mates jumlahnya terhitung yang paling minimalis. Dalam keseharian kita, mungkin tidak ada waktu untuk memikirkan berapa jumlah teman kita, apalagi yang berpikir berapa yang sudah bisa kita konversi dari teman biasa ke teman baik, lalu dari teman baik ke teman karib/sohib.

Rasanya semua pertemanan mengalir begitu saja. Hasilnya: jumlah teman biasa bertambah terus, tetapi teman baik segitu-segitu saja, apalagi sobat, mungkin bisa dihitung dengan jari. Belum lagi, kadang kala saking sibuknya, secara tidak sadar kita sudah men-downgrade teman-teman kita dari yang sudah tinggi tingkatan pertemanannya, turun jadi teman biasa. Sudah jarang telpon, jarang silaturahmi.. maintenance sobat kadang terasa terabaikan karena kesibukan.

Padahal hidup kita baru berharga bila punya banyak sahabat, banyak teman baik, jauh di atas teman-teman biasa. Ini yang overlook… Semangat Valentine’s day ini sebaiknya tidak fokus pada perayaannya, tetapi pada semangatnya. Yaitu, semangat memperbanyak teman berkualitas.

Pelajaran branding – dari Analogi Pertemanan. Apakah cukup hanya melihat banyaknya konsumen brand? Ini tidak cukup untuk melihat cemerlang tidaknya sebuah brand. Itu kan refleksi kesuksesan transaksi, yaitu baru sampai merekrutnya menjadi teman biasa. Karena itu, pertanyaannya haruslah berapa banyak soul mates nya brand, nama lainnya brand loyalty? Sudah cukup banyakkah? Apakah kita sendiri punya informasi gambaran siapa-siapa sahabat baik brand ini? Jangan-jangan kita belum pernah cari tau. Oh, No!

Tiap hari kita sibuk merekrut konsumen, menjadikannya teman, tetapi tanpa disadari usaha kita belum maksimal untuk mengupgrade konsumen agar kedekatannya dengan brand bukan hanya sekedar transaksional saja.. tetapi bisa sampai pada kedekatan emosional ala sohib berattss..

Buat apa itu semua? Sahabat adalah orang pertama yang akan bilang kalau dia tidak puas. Dalam kaitannya dengan brand, jika dia tidak puas, maka our brand ambassador ini tentu akan lapor duluan ke kita langsung sebelum lapor ke milisnya, atau ke circle of friends nya. Dengan laporan sahabat, brand bisa berbenah secara cepat, alert terhadap hal-hal negatif yang mungkin tidak disadari oleh brand.

Pembicara 2.0 di Astra PR Forum

Cuplikan bahasan tentang analogi Pertemanan vs Branding tadi adalah bagian dari sharing saya di PR Forum Astra Jumat yang lalu. Terimakasih Pak Yulian Warman, Kapten Corporate Communication nya Astra yang sudah mengundang untuk berbagi cerita dan pengalaman.

Senang bisa bertemu dengan begitu banyak praktisi PR dan komunikasi secara langsung – yang hadir adalah wakil dari anak-anak perusahaan Astra yang bervariasi dari automobile hingga asuransi.

yang lebih senang lagi, saya jadi banyak istilah baru hari ini.

Perusahaan 0.0 :

Saya jelaskan bahwa perusahaan jaman sekarang harus bisa mengikuti gaya irama tariannya konsumen. Jadi kalau konsumennya saja sudah ‘modern’, masa perusahaannya masih ‘juaduull pangkat seratus’. Ya, pertemanan yang dibangun pasti akan berantakan, atau bahkan nggak terjadi. Karena “nggak nyambungss”. Salah satu ciri perusahaan ‘modern’ adalah sudah menerapkan web 2.0 yaitu memberikan ruangan bagi konsumen untuk ikut bicara, dalam berbagai bentuk, termasuk dalam website atau blog korporat. Bahkan, sekarang perusahaan juga sudah mulai meningkatkan lagi kelasnya masuk di era web 3.0 yang lebih otomasi dan kaya lagi features nya untuk mempererat “persahabatan” dengan konsumen.

Paling gampang contoh perusahaan ‘jadul’ ya Omni Internasional. Konsumen ‘modern’ kaya Prita kok dilawan dengan jurus ‘kuno kuadrat’. Kalau istilah Pak Yulian, ini perusahaan nya masih web 0.0, boro-boro web 1.0 aja belum kalee..

Berkaitan dengan isi bahasan, pada sesi tanya jawab yang seru ada salah satu peserta yang mengusulkan untuk mengganti istilah “modern customers” vs ‘modern company’ dalam slide saya, karena rancu dengan definisi Alvin Tovler yang membagi-bagi periode dan salah satunya pakai istilah ‘post-modern’.

Wow. Disini saya ditantang untuk tidak stay pada gaya “Guru” tetapi harus sudah bergaya “Web 2.0″ yaitu interaktif dan dengan semangat “wisdom of crowd”. Rasanya saya bisa terima masukan Mas…. siapa ya lupa lagi namanya (maap disc memori saya kepenuhan, gampang lupa).

Saya tanya jadi diganti apa istilahnya, ternyata beliaunya blocking, gak ngasih istilah. Teman2 yang lain pada geli juga sebab judulnya “yang protes tanggung jawab lho…”. Setelah saya tawarkan, gimana kalau saya ganti aja dengan istilah “cool customers” vs “cool company” – setuju nggak, sebab yang saya maksud modern itu ya pokoknya ‘keren, n masa kini’ lah. Tidak bermaksud membakukan istilah “modern company’ anyway, cuma pakai istilah itu untuk bilang bahwa “BERUBAH” atau “CHANGE” dong… company, jangan jadul terus gayanya.

Alhamdulillah, teman kita senang dengan istilah baru tadi “cool” – menggantikan “modern”. Kata dia, lebih gaul Bu! Hehe, boleh juga nih, jadi lain kali di acara lain, akan saya ganti slidenya dengan istilah baru ini. Thanks buat inspirasinya. Sudah dapat hadiah buku belum ya…? Kalau belum nanti saya titipkan Pak Yulian. Seingat saya, sudah saya acknowledge sebagai salah satu penerima buku “consumer insights via ethnography’ karangan saya.

Senang sudah naik kelas jadi Pembicara 2.0, horizontal communication dengan pesertanya. Bukan hanya media yang horizontal, bukan hanya marketing yang horizontal, sekarang pun Pembicara harus transformasi diri. Dari ‘guru-murid’ ke ‘teman sharing’.

Sekali lagi thanks Pak Yulian untuk kesempatan bertemu teman2 PR Astra. Juga untuk Mas Boy dan Mbak Ningsih yang sudah arrange. Untuk semua yang hadir sore itu, keep in touch ya. Semoga sukses di tahun 2010 ini.

Ikut berbela sungkawa atas kepergian sang Maestro Astra, Pak Michael Ruslim. Saya sudah dokumentasikan tentang beliau dalam tulisan saya di Bisnis Indonesia Minggu, silakan kalau ada yang mau komentar di tulisan tersebut, mau menambahkan dan menguatkan sebagai pihak yang kenal lebih dekat lagi. Tentu akan menambahkan deretan memori indah tentang beliau.

CEO Branding : Pelajaran dari Michael D. Ruslim

Amalia E. Maulana

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 12 Februari 2010.

SMS teman di suatu pagi yang cerah membuat saya terhenyak, Pak Michael Ruslim sudah tiada. Ini sebuah kehilangan besar. Bukan hanya di perusahaannya, tetapi juga untuk negeri ini. Saya sudah tidak berselera lagi mengerjakan hal-hal yang ingin saya kerjakan hari itu.

Saya tidak kenal Pak Michael secara pribadi. Walaupun saya punya pengalaman mengajar di AMDI, Astra Management Development Institute, dan buku saya sempat direview di forum Astra.

Seorang CEO yang punya branding kuat seperti beliau ini tentu punya circle of fans. Saya mungkin tepat digolongkan sebagai salah satu dari fan tersebut. Apa yang menarik perhatian saya adalah semangat membuat perubahan. The real Agent of Change. Agen Perubahan sejati. Dan, karena semangat ini, saya merasa kehilangan seorang idola.

Makna Sebuah Brand

“Ultimately, a brand is the things people say about you when you’re not there” Demikianlah ungkapan seorang Jeff Bezos, CEO dari Amazon.com.

Pendapat tentang Michael Ruslim:

Low profile dan dekat dengan karyawan , selalu sharing value dan pengalamannya tentang kehidupan, pekerjaan untuk produktivitas kerja.” (inilah.com)

“Salah satu pemimpin terbaik Astra, Saham naik terus” – Mantan PresKom Astra Abdurrahman Ramly (vivanews.com)

“Lebih suka berada di belakang layar. Dikenal sebagai spesialis restrukturisasi perusahaan dan membangun bisnis baru bagi Astra Group”(kompas.com)

Apakah personal brand baru bisa terlihat gaungnya pada saat ‘dia tidak berada di sana”? artinya benar-benar meninggalkan dunia ini? Tentu itu tidak benar. Jika Jeff Bezos menyatakan ‘when you are not there’, itu hanyalah sebuah ungkapan bahwa kita perlu mengatur langkah dengan baik, mumpung kita masih diberikan kesempatan untuk berbuat positif sebanyak-banyaknya, selama masih hidup. Apabila terdapat gap yang cukup besar antara ‘what they say’ dengan ‘what we want them to say’ tentang diri kita’ – berarti perjalanan pembangunan brand kita masing panjang.

CEO Branding

Secara sadar atau tidak sadar, sebenarnya Michael Ruslim sudah melakukan aktivitas CEO Branding, secara baik dan benar. Ini tergambar dari berbagai komentar positif baik dari kalangan bisnis maupun non bisnis. Dan juga pada pergerakan harga saham.

Seberapa guncangan pasar modal yang ditimbulkan oleh kepergian seorang CEO? Saham Astra yang cenderung turun dalam minggu-minggu kepergiannya, menggambarkan bahwa di dalam kebesaran Brand Astra saat ini, terkandung juga kebesaran sang “CEO Brand” nya, yaitu Michael Ruslim.

Michael Ruslim adalah sebuah contoh CEO Branding di Indonesia, yang bisa kita pelajari bersama. Tidak harus gembar-gembor dan menjadi selebriti dadakan untuk mencapai level CEO Brand yang cemerlang. Dalam banyak kasus, sering kita temukan, seorang CEO yang setengah memaksakan citranya dalam sebuah kampanye produk atau perusahaan.

CEO Branding dan Corporate Branding : Komplemen

Lebih dikenal mana dalam sebuah perusahaan: Corporate Brand atau CEO Brandnya? Sebenarnya, pertanyaan umum ini tidak penting untuk dibahas. Dalam hal ini keduanya tidak berkompetisi melainkan merupakan komplemen.

Yang harus diteliti adalah, apakah makna dari kedua brand yang berdampingan ini saling menguatkan, bersinergi, dan penggabungannya akan menjadikan 1+1 = 10? Jika tidak, maka sebaiknya dilakukan review ulang. Apakah CEO Brand tidak lagi menjadi sebuah elemen penting pendukung cita-cita Corporate Brand. Atau sebaliknya, citra Corporate Brand sudah bergeser ke arah yang tidak menguntungkan bagi CEO Brand untuk beraliansi di dalamnya. Manapun situasinya, harus diambil tindakan segera.

Kualitas leadership CEO adalah cermin kualitas Corporate Brand. Seperti Michael Ruslim, walaupun dikenal sebagai sosok yang lebih senang bermain di belakang layar, tetap saja hasil pekerjaannya diakui dan dipublikasikan. Memperoleh penghargaan sebagai Best CEO dari Majalah SWA adalah salah satu publikasi yang mungkin tidak bisa dihindarinya sendiri. Mau tidak mau, beliau juga harus menampilkan diri.

Dalam konteks CEO Branding, tidak mungkin lagi mempunyai cita-cita murni pribadi. Dalam banyak hal, perlu dipikirkan bagaimana dampak dari pencitraan dirinya sebagai pemimpin tertinggi sebuah organisasi, apakah akan menjadi faktor pendukung atau menjadi faktor penghambat?

Semua orang yang berinteraksi dengan seorang CEO baik itu adalah internal stakeholders maupun stakeholders eksternal, akan membentuk sebuah impresi – dan Brand Impression inilah yang dinilai. Konsistensinya, Konvergensi dari citranya dari berbagai sumber, formal dan non-formal – akan menjelaskan siapa beliau dan apa saja yang telah dirasakan oleh sekitarnya telah dilakukannya.

Tiga pertanyaan penting untuk mereview sinergi antara CEO Brand dengan Corporate Brand. Cukup tanyakan pada stakeholders untuk masing-masing brand: (1) What do people value most about your brand? (2) What makes your brand distinctive from the competitors? (3) What is it that your brand do well and consistently deliver to their customers?

Apabila esensi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut yang merupakan komponen dalam DNA masing-masing brand, sama atau sejalan (tidak harus sama, tetapi senafas), berarti keduanya bisa tetap bergabung dan saling mencemerlangkan.

Personal Social Responsibility (PSR)

Jika Corporate Brand yang cemerlang adalah yang mementingkan Corporate Social Responsibility (CSR). Demikian pula pada CEO Brand, bagaimana secara individu secara tulus meluangkan waktu dalam kegiatan Personal Social Responsibility (PSR).

Sharing knowledge yang sering dilakukan oleh Michael Ruslim baik di industri maupun di dunia akademik, merupakan kegiatan PSR beliau. Sebagai contoh, sharing di acara CEO Speaks Binus Business School (tahun 2009), merupakan salah satu bentuk interaksi langsung beliau dengan dunia pendidikan.

Semangat yang akan tetap menyala adalah semangat perubahan. Hanya dengan perubahan yang substantial, organisasi bisa berkembang dan mencapai cita-citanya.