Archive for January, 2010

The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Branding

The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Branding

Amalia E. Maulana

Dimuat di Majalah Eksekutif, 2007.

Dalam ilmu pemasaran, pembicaraan tentang branding tampaknya tidak habis-habis dibicarakan orang. Sebagai buzzword, branding termasuk cukup bertahan, masih didengung-dengungkan, digunakan dalam berbagai konteks. Topik saya kali ini juga masih seputar branding, khususnya membahas bagaimana membangun sebuah I-Brand yang kuat. Istilah I-Brand memang belum begitu populer. Pertama dikenalkan oleh Gary C. Sain pada tahun 2005. Terminologi yang saya sendiri sempat agak rancu dengan i-brand, yang berarti internet-brand. I-Branding tidak ada hubungannya dengan internet branding, walaupun pada implementasinya, Internet bisa saja menjadi salah satu alat untuk membangun I-Brand.

I-Brand hampir mirip dengan personal brand, dimana tokoh utama yang di-branding adalah diri seseorang. Perbedaannya, jika branding untuk personal pada umumnya dilakukan dalam rangka menjadikannya seorang public figure atau ahli/tokoh tertentu; dimensi I-Brand lebih terbebas dari tujuan tersebut. Branding ”I” atau ”Aku” mengajak seseorang memikirkan goal yang hendak diraih, apapun bentuknya. I-Branding lebih berorientasi pada diri sendiri, mewujudkan mimpi-mimpi pribadi yang berkaitan dengan pekerjaan. Tidak harus menjadi seorang CEO atau public figure untuk mempunyai sebuah I-Brand yang solid. Strategi I-Brand adalah strategi pembinaan diri untuk menjadi seseorang yang punya nilai tinggi di mata stakeholdersnya.

Saya teringat salah satu segmen wawancara kerja di masa lampau, dimana seorang CEO yang kebetulan ikut dalam proses rekrutmen menanyakan ’Ingin berada dimana Anda lima tahun mendatang?” Secara spontan saya katakan saya ingin duduk di kursi yang beliau duduki. Setengah berkelakar, beliau bangkit dari kursinya, dan menawarkan kursi tinggi yang penuh wibawa itu. ”Silakan, Anda bisa duduk di sini sekarang kalau mau”. Secara fisik bisa saja saya duduk disitu kapan saja saya mau, tetapi nyatanya, setelah lima tahun berlalu, bahkan sampai hari inipun, saya belum juga menduduki posisi beliau.

Seringkali kita bekerja tanpa tahu persis kemana muaranya, menuju kemana kita bergerak. Kehidupan mengalir begitu saja, menikmati apa yang ada di hadapan mata. Pernahkah terpikir untuk berhenti sejenak, dan merenung: dalam tiga tahun, posisi apa yang ingin kita raih, ilmu apa harus sudah dikuasai, dll. Untuk meraih tempat atau posisi yang kita inginkan, selain kerja keras, kita juga perlu merencanakan dan mengatur strategi, mengemas diri dan melakukan branding dengan baik. Ini yang disebut dengan I-Branding.

Tips untuk I-Branding menurut Gary ada lima, yaitu : unik, relevan, kredibel, esteem,dan knowledge. Secara garis besar, kelima komponen tersebut tergambar dalam pertanyaan yang harus kita jawab antara lain: Apakah kita mempunyai keunikan atau differensiasi yang bernilai di mata target audience? Ada berapa orang lagi selain kita yang bisa memberikan kontribusi yang sama nilainya? Dalam melaksanakan tugas, apakah kita selalu siap untuk memberikan yang terbaik? Apakah kita adalah pribadi yang dapat diandalkan dan dipercaya? Seberapa tinggi pengetahuan yang kita miliki tentang apa yang sedang kita geluti, mengertikah terhadap apa yang terjadi di tingkat konsumen, di tingkat perusahaan dan industrinya?

Jika kita amati, tips di atas tidak berbeda jauh dengan kunci sukses pembangunan sebuah brand produk atau perusahaan. Step-step yang harus dikerjakan dalam membangun dan membina I-Brand setara dengan brand lainnya.

- Pertama, tentukan siapa saja target audience I-Brand dalam kelompok stakeholders. Buat ranking, dari target audience utama hingga yang sampingan.

- Kedua, memahami apa saja kebutuhan dan aspirasi mereka.

- Selanjutnya, posisikan I-Brand di tempat yang punya nilai unik dan differensiasi tertentu.

- Kemudian, langkah implementasi. Dalam keseharian, yang penting adalah konsisten memberikan kontribusi terhadap target audience sesuai dengan nilai yang telah dijanjikan.

- Ciptakan brand experience yang menyenangkan

- Evaluasi dan review keberadaan I-Brand setiap periode. Sesuaikan langkah dan arah apabila terjadi perubahan eksternal yang di luar kendali kita.

- Jangan melupakan bahwa perusahaan dimana kita bekerja merupakan co-branding bagi I-Brand. Sulit untuk membina I-Brand bila citra co-brand tidak sesuai dengan citra yang hendak kita tanamkan.

Perbedaan utama antara personal brand dengan I-Brand mungkin bisa dilihat dari tingkat intensitas dan cara berkomunikasi dengan target audience. Personal branding hampir tidak mungkin dapat dilakukan tanpa bantuan media masa. Tidak demikian halnya dengan I-Brand. Mengkomunikasikan siapa diri kita dan memproyeksikan kemampuan, keunikan dan differensiasi personal tidak harus melalui media formal. Disini yang lebih berperan adalah media informal, dimana kontak langsung dengan target audience mendominasi terciptanya citra I-Brand.

Dalam keseharian kita di kantor, penilaian berjalan terus melalui berlalunya waktu, menggambarkan I-Brand seperti apa yang ingin diraih. Bagaimana pemilihan bahasa verbal dan non-verbal (bahasa tubuh) yang digunakan sehari-hari, bagaimana menciptakan rasa nyaman untuk setiap interaksi dengan pihak lain. Bahkan, mau atau tidak mau, pemilihan ’kemasan’ dalam hal ini busana yang dikenakan, juga bisa ikut mendorong terciptanya I-Brand. Kegagalan dalam berkomunikasi dalam lingkungan terdekat bisa membawa dampak yang luas dalam proyeksi nilai-nilai I-Brand yang sudah dirancang sebelumnya.

Saran terakhir, dan ini menyangkut tanggung jawab sosial. Seperti yang diutarakan dalam buku Pengalaman Starbucks oleh Joseph A. Michelli, salah satu dari lima prinsip sukses Starbucks adalah ”leave your mark”. Jika dalam konteks Starbucks, itu berarti ’corporate social responsibility’, maka jika diterapkan dalam I-Branding, ini berarti ’personal social responsibility’. Sudah berapa banyakkah kontribusi kita terhadap pembinaan rekan atau bawahan di lingkungan tempat bekerja? Di lingkungan dimana kita tinggal? Di masyarakat luas? Ini penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan. Seperti halnya prinsip corporate social responsibility, apa yang dikembalikan ke masyarakat pada akhirnya akan memberikan arti bagi pengembangan I-Brand yang solid.

Selamat membangun dan mengembangkan I-Brand.

http://elzulaikha.multiply.com/journal/item/12

http://soilman.wordpress.com/2008/10/17/the-brand/

http://www.mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-05/2008-05-31_16.pdf

Perguruan Tinggi Harus Miliki “Branding” Hadapi Persaingan

Dimuat di Antara News, 13 Januari 2010.

Jakarta (ANTARA News) – Perguruan tinggi harus memiliki “branding” yang baik dan berusaha mempertahankannya untuk tetap eksis menghadapi persaingan antar-perguruan tinggi yang semakin ketat.

“Apalagi perguruan tinggi asing juga makin gencar melakukan promosi untuk menarik minat calon mahasiswa baru di Indonesia,” kata konsultan brand dan etnografer Amalia E Maulana, di Jakarta, Rabu malam.

Dikatakannya, “branding” adalah sebuah proses memperkenalkan “brand” sampai bagaimana lingkungan memberikan penilaian yang baik pada “brand” tersebut.

Dikatakannnya, perguruan tinggi yang tidak memiliki “branding” baik akan dilupakan oleh konsumennya yakni mahasiswa dan calon mahasiswa.

Ia mencontohkan ada beberapa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang saat ini nyaris bangkrut lantaran kesulitan mendapatkan mahasiswa yang berminat kuliah di perguruan tinggi tersebut.

Menurut dia, untuk memiliki “branding” yang baik sebuah perguruan tinggi harus terus melakukan proses transformasi informasi dan lainnya kepada mahasiswa dan

“stake holder” dari sekadar diketahui menjadi selalu diingat dengan baik.

Doktor ilmu pemasaran lulusan Universitas New South Wales Australia ini mengusulkan untuk memiliki “branding” yang baik hendaknya perguruan tinggi merekrut tenaga “chief marketing officer” (CMO) profesional.

“Apalagi perguruan tinggi adalah bisnis yang kompleks dan unik, yang dalam pembentukan `branding`nya ada beberapa isu yang kontradiktif seperti lembaga profit sekaligus sosial,” katanya.

Keberadaan CMO di perguruan tinggi bertugas melakukan transformasi informasi kepada mahassiawa dan masyarakat dari sekadar tahu (“just friend”) menjadi sahabat karib (“soul mates”).

Perguruan tinggi yang yang mampu mentransormasikan informasinya dengan baik, katanya, akan memiliki “branding” yang baik di masyarakat.

Tugas CMO, katanya, terus melakukan proses sosialisasi “brand” hingga mahasiswa dan masyarakat memiliki penilaian yang baik dan selalu teringat pada pergutuan tinggi tersebut.

“CMO yang baik akan bekerja dengan perencaan dan pencapaian tahapan secara baik serta menjangkau akses yang seluas-luasnya,” katanya.

Diakuinya, untuk memperoleh “branding” baik tidak bisa hanya dalam waktu sekejap tapi dibutuhkan waktu lama, karena itu “branding” juga dinamis.(*)

Gus Dur, Sang Mega Brand

Amalia E. Maulana

dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 8 Januari 2010

“Ma, siapa sih Gus Dur? Heboh banget ya kayanya” tanya anak saya yang SMP kelas satu. “Wah, masa nggak tau sih, kan beliau adalah presiden Indonesia yang keempat. Gus Dur itu nama panggilan Abdurrahman Wahid. Pasti tau dong, di sekolah sudah pasti ada di pelajaran.” Harap maklum pada saat Gus Dur menjadi presiden, dia masih terlalu kecil untuk register ‘Gus Dur’ sebagai sebuah brand.

Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan ‘Gus Dur’ sebagai salah satu pemimpin bangsa, diyakini banyak orang dan lembaga, pantas mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Bahkan, belakangan muncul 2 grup di facebook yang menggalang simpatisan Gus Dur untuk ikut berpartisipasi dalam merealisasikan diberikannya gelar terhormat tersebut untuk bintang pujaannya. “Dukung Gus Dur ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional 10 November 2010′, saat ini mencapai hampir 1.000 orang. Grup kedua 5.000.000 facebookers tetapkan Gus Dur pahlawan nasional’ mencapai lebih dari 13.000 orang.

Layak atau tidaknya Gus Dur dikategorikan menjadi salah satu pahlawan nasional, tentu pemerintah dan yang ahli di bidang sejarah dan tata negara akan mengacu pada definisi dan kriteria-kriteria yang sudah disepakati bersama sejak lama.

Pada jaman yang sudah berubah seperti sekarang ini, sudah waktunya kriteria-kriteria pengkategorian seseorang menjadi pahlawan nasional di-review kembali. Wafatnya Gus Dur dan tuntutan untuk memberikan label pahlawan ini adalah sebuah momentum bagi para ahli sejarah dan tata negara untuk membedah kembali komponen pengukuran. Apakah masih relevan dengan kondisi masyarakat masa kini?

Sebagian dari kriteria yang bersifat sangat mendasar dan prinsip, jelas harus dipertahankan. Namun, ada beberapa komponen yang perlu diterjemahkan ulang, karena konteks yang berbeda saat ini, lebih tepatnya beberapa komponen ini perlu dimodifikasi. Komponen yang sudah jelas usang dan tidak lagi relevan, dibuang saja. Digantikan dengan hal-hal baru yang belum terpikirkan bakal muncul pada awal berdirinya negara, dan ternyata perlu dicakup.

Tulisan saya kali ini adalah ingin membantu mengkaji ulang kriteria dari kacamata saya sebagai seorang brand consultant, yang nantinya bisa dipertimbangkan oleh team ‘redefinisi ulang pahlawan nasional”. Tujuannya agar kriteria Pahlawan Nasional versi baru nanti, lebih punya dimensi, karena diukur dari berbagai perspektif, tidak murni hanya dari kacamata ilmu sejarah dan tata Negara.

Kriteria seorang calon pahlawan nasional menurut Prof. Nina Lubis adalah: (1) Semasa hidupnya berjuang (bersenjata maupun politik dan bidang lain): persatuan dan kesatuan bangsa, (2) Memiliki ide besar utk kemajuan bangsa, (3) Pengabdian tidak sesaat, (4) Jangkauan luas dan berjarak nasional, (5) Semangat kebangsaan/­nasionalisme tinggi, (6) Akhlak moral yang tinggi, (7) Tidak mudah menyerah, (8) Sepanjang hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang merusak nilai perjuangannya.

Mungkin kriteria terakhir ini yang menjadi bahan perdebatan. Perbuatan tercela atau negatif ini bisa jadi sangat subyektif dan terkontaminasi dengan berbagai sudut pandang yang politis.

Kriteria tambahan yang akan saya ajukan disini adalah yang berhubungan dengan apakah seorang tokoh tersebut adalah “Mega Brand” atau tidak. Masyarakat dan stakeholders penting lainnya harus sepakat dulu bahwa brand tokoh tersebut sudah sampai pada sebuah tingkatan yang disebut dengan mega brand.

Gus Dur adalah Mega Brand

Apa persamaan Gus Dur dengan Michael Jackson (MJ) di mata seorang brand consultant? Keduanya adalah Mega Brand. Brand yang sangat besar. Keduanya juga dipenuhi oleh kontroversi pro dan kontra. Pemakaman Mega Brand dibanjiri massa yang ingin memberikan penghormatan terakhir.

MJ dielu-elukan, dipuja sebagai raja pop yang belum ada tandingannya. Walaupun banyak sisi negatifnya dibeberkan di media dan bahkan menjadi bahan ejekan sebagian orang, karisma MJ tidak menjadi pudar.

Penampilan terakhir MJ dalam filmnya ‘This is It” memberikan pelajaran berharga dan membuat saya punya catatan tersendiri tentang seperti apa yang disebut dengan ‘Mega Star’ atau ‘Mega Brand’.

Mega Brand:

- Push Beyond The Boundaries. Unthinkable

- Make a ‘significant’ change (for the community)

- Mega Brand is forever. Irreplaceable (so unique)

- It is about making connection with the audience.

Gus Dur memenuhi keempat kriteria di atas. Pemikiran beliau sangat mendahului jaman, push beyond the boundaries, unthinkable. Memberikan significant change, irreplacable (unik).

Kriteria terakhir, ‘making connection’ dengan khalayak sangat tergambar pada hari pemakaman beliau. ‘Kedekatan’ dengan masyarakat luas, intelektual dan nonintelektual, partai dan nonpartai, semuanya tergambar dengan jelas.

Gus Dur adalah pelopor demokrasi dan pluralisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal-hal yang negatif yang dialamatkan ke beliau masih perlu dikaji ulang. Jika banyak yang tidak setuju dengan perspektif beliau, ini barangkali menjadi sebuah bukti bahwa perbedaan pendapat menjadi salah satu yang mewarnai kehidupan demokrasi. Tuduhan bahwa Gus Dur diduga terlibat Buloggate sampai dia wafat, belum terbukti.

Gus Dur adalah seorang pemimpin bangsa, yang mempunyai karisma luar biasa di berbagai kalangan. Sinar karisma ini lebih cemerlang dibandingkan dengan keredupan perbedaan pendapat dan hal-hal negatif yang dialamatkan padanya.

Gus Dur memenuhi syarat sebagai Mega Brand. Pembicaraan dan pembahasan yang tidak ada hentinya dan lebih dititikberatkan kepada hal positif, menjelaskan bahwa brand ini layak dapat award. Dan award itu bernama gelar pahlawan nasional.

Seorang Mega Brand tidak petentang-petenteng. Baik MJ maupun Gus Dur mempunyai sifat humble dan down-to-earth, tetapi tetap perfeksionis. Kombinasi sifat yang sangat jarang.

Selamat jalan MJ, the Great. Selamat jalan Gus Dur, The Great. Your brands are forever in our heart…..

Email address & personal brand image

Sudah sering saya advice student atau relasi yang nama email address nya suka aneh-aneh. Do you realize that all of what you wrote there express who you are?

Your personal brand image – tergambar dari email address yang dipilih. Kalo aneh-aneh, nyeleneh, ruwet penuh angka, dst.. perlu direview ulang. Apakah expression dalam email itu menggambarkan diri kita atau tidak? Apakah email itu membuat kita mudah dihubungi atau tidak? dst. Ada cerita pengalaman seperti di bawah ini. simak ya.

Saat saya berkunjung ke dokter langganan karena sebuah keluhan yang agak urgent, saya dihadapkan dengan situasi. Dokter saya yang sudah senior dan canggih dimata saya tersebut sedang keluar negeri, dan yang sekarang bertugas adalah dokter pengganti. Kalau tidak urgent, mungkin saya pulang lagi.

Kemudian secara spontan saya tanyakan siapa dokter pengganti tersebut? Staff di bagian penerimaan pasien menyebutkan sebuah nama yang buat saya tidak ‘bunyi’ apa-apa alias saya tidak pernah dengar apalagi kenal siapa beliau.

Karena itu, ‘customer rewel’ spt saya ini bertanya terus… Dokter yang ini sudah berapa lama bertugas di klinik situ dan sehari-harinya bertugas di rumah sakit mana dll.. apa saja yang saya bisa tanyakan sekedar untuk memberikan keyakinan bahwa saya lanjutkan saja berobatnya.

Staff merangkap receptionist merasa tidak terlalu tau 100% dengan latar belakang dokter pengganti, tetapi dengan Pe-De nya mengatakan Insya Allah beliau adalah lulusan terbaik! Wow, great.. lulusan terbaik? canggih dong mustinya ya.. mulai meningkat nih minat untuk stay. Cuma saya tanyakan lagi, ehm… Mbak, lulusan terbaik ini yang dimaksud lulusan terbaik pada saat lulus jadi dokter tahun berapa ya? Setahun lalu, lima tahun lalu atau 10 tahun lalu…?

Bukan bermaksud rese’ sih (padahal iya juga), tapi infonya general banget. Lulusan terbaik? Keponakan saya juga dokter lulusan terbaik, lho.. tapi lulusnya baru kurang lebih dua bulan yang lalu. Untuk bentuk services yang kompleks dan resiko tinggi ini, buat konsumen, semakin tinggi jam terbang, akan semakin oke lah expert tersebut.

Infonya jangan sepotong dong Mbak….. apa barangkali ada sedikit penjelasan ttg CVnya Dokter atau apa punya materi promosi klinik yang saya bisa baca sambil iseng nunggu giliran? atau ada di websitenya? sy bisa akses Internet kok disini. Saya disini masih dalam proses pengumpulan info.

Maaf Bu, kami nggak ada info yang se-spesifik itu. Saya taunya beliau itu lulusan terbaik, jadi dokter senior yang sedang cuti sudah mempercayakan kepadanya. tapi ini ada kartu nama beliau, silakan ibu boleh ambil satu.

OK, lumayan… paling tidak saya tidak tangan hampa kembali ke antrian duduk di ruang tunggu. Kepada teman yang hari itu menemani, saya mulai curhat.. gimana neh, terusin nggak ya berobat di sini, gw rada males nih, maunya ketemu dr yang senior yang sudah pasti paten.. ini nggak jelas profilnya dokter pengganti.

“Halaaah, udah sakit gitu, terusin aja, siapa tau ok, kan tempat ini lumayan representatif (maksudnya mahal huhu..), jadi gak lah pilih dokter sembarangan.’ begitu teman saya meyakinkan.

Sambil menunggu, mata saya tertumbuk pada email address beliau sang dokter ini yang menggunakan email yahoo (masih OK lah, tapi saya mulai menganalisa… pasti ini dokternya masih muda/yahoo generations). Di bawah email perama, ada satu email address lainnya. kedua email ini buat saya termasuk mengarahkan kepada gambaran senior atau junior seseorang. Email address yang kedua lebih mencengangkan. Menggunakan free mail sejenis yahoo juga, nama yang ditulis sangat informal dan menjelaskan karakter seseorang, yang kira-kira maknanya adalah ‘suka iseng’ dll.

“Oh No! dari judul2 email addressnya langsung tergambar profil beliau yang lulusan terbaik ini, saya berani tarohan, kata saya ke teman tadi, pasti dia muda, dan bukan cuma muda tapi muda banget. Student saya juga banyak yang emailnya aneh-aneh spt ini, belum memikirkan bahwa one day, as a professional, ini akan sedikit banyak mempengaruhi citra.

Kalau dipakai untuk account facebook, sih, yah masih oke lah, tapi excuse me.. jangan ditulis di name card kantor kaya gini, pliz dong ah.

Ah, udahlah, keputusan saya waktu itu, terusin aja rencana berobat. Pertama – udah males pindah tempat lain. Kedua – memang juga udah sakit pengen dapat obatnya, dan yang terakhir – jadi pengen tau, bener gak sih, dokternya muda? jangan2 saya kebanyakan analisa aja..

‘Emang loe nih dasar’ kata teman saya, ‘segala macam dianalisa, repot deh kalau ada 10 konsumen kaya gini tiap harinya, pasti resign tuh staff receptionistnya.’ Hehe.. nyengir aja saya. Jadi inget anak-anak yang suka ngumpet kalo Mamanya mulai tanya2 dan mulai menjadi ‘rewel customer’ di tempat2 umum…malu ‘kali mereka.

Singkat cerita, sampai juga giliran saya. Begitu bertemu, oooopps….Nah, ternyata benar kan, masih muda…Perasaan sakit yang biasanya kalau ketemu dokter langganan sudah hilang separo begitu masuk ruang kerjanya, ini masih tetap 100% sakit. Maklum, sakit kan 50% nya sugesti, kata orang.

Setelah diperiksa dan diberi obat, saya iseng aja sekalian confirm neh ceritanya. Dokter lulusan terbaik tahun berapa ya… gayanya sy kaya udah kenal n tahu CVnya aja. Ternyata belum sampai tiga tahun yang lalu…dan kemudian saya tunjukkan name cardnya, benarkah ini email address yang bisa saya hubungi? oh iya, jelasnya. Dari ekspresi bertanya saya yang mengandung minta penjelasan (ge-er..) beliau kemudian jelaskan bahwa belum sempat punya email address baru semenjak jaman mahasiswa yang mana beliau memang termasuk ‘orang gaul’ yang punya ‘email gaul’ juga.

Well, that’s enough to complete my puzzle. Saya nggak keberatan diperiksa oleh dokter lulusan terbaik tetapi di kasir saya agak merengut waktu harus bayar harga yang sama mahalnya spt dokter senior langganan. This is not right.. (dalam hati aja), bukannya gak mau berobat pada dokter muda, lho…. tapi kan harganya jangan disamain begitu. Too expensive for the value I got. Ini kesalahan pricing strategy. Untuk services atau jasa, People (dalam hal ini dokter senior) itu adalah bagian dari Value offering yang terpenting dari keseluruhan proses interaksi konsumen dengan brand (rumah sakit/klinik).

Sebenarnya simple saja solusinya, bikin dua rate dokter – senior lebih tinggi sekian persen dari yang junior dan itu diumumkan. Seperti di hairdresser, mereka cukup canggih menjelaskan di awal, kalo sama Jonnny itu favorit paling mahal, potong rambut 200rb, kalau sama Mike, harganya 125 rb, kalau sama Kirana dan yang lain sekelasnya, harganya 75 rb, dst..

Sambil build pengalaman jam terbang yang junior lama2 pasti akan jadi senior juga. Apalagi modalnya udah top, kan lulusan terbaik. Mungkin utk mencapai level skill yang dipunyai oleh senior nya bisa lebih cepat diperoleh.

Customer butuh reassurance bahwa menggantikan yang senior ke junior artinya sudah ‘under-deliver’ (vs expectation). Tetapi under deliver itu sebenarnya masih bisa diterima selama ada adjustment dari ‘cost’ yang harus dibayarkan oleh pasien.

Akhir cerita pendek ini, obatnya oke juga kok ternyata. Cukup manjur. Berarti sekolahnya pinter beneran deh dokternya. Cuma, untuk kapan2, kalo sakit lagi, saya mau telpon dulu, dokter langganan saya yang lebih senior apakah sedang cuti atau tidak, sebelum jauh-jauh kesana.