DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA November 21, 2009
Asuransi ya? Cegat saya begitu ada teman masuk ke ruangan kerja saya bilang minta waktu untuk presentasi. Bukan… sanggahnya. Soalnya setau saya produk2 finansial gitu kan yang rada rumit jadi harus pakai presentasi segala. Pasti MLM ya.. saya masih tetap ‘negatif’ nadanya.. saya nggak sempat nih ikut2 MLM, percuma deh.
Kali ini dia membenarkan, ya sih, memang ini MLM, tapi kalau nggak mau bisnisnya gak papa Mbak, siapa tau mau jadi konsumennya aja. Ya udah, aku ngalah… tapi setengah jam lagi, ya ini masalahnya ada deadline.
Setengah jam kemudian…. dia mulai ceritanya dengan mengeluarkan dua buah produk pembalut wanita dari sebuah tas khusus — rupanya itu the whole peralatan peragaan ada disana (Ooooh… itu toh produknya, kata saya dalam hati, jauh banget sama asuransi hehe). Satu produk yang mereknya sering saya lihat, dan satu lagi merek yang belum kenal. Presentasi pun dimulai.
Secara santai dia mulailah mengeluarkan ‘perlengakapan’nya, yaitu gelas berisi air putih, semacam pipet untuk menakar volume air, tisu… Mulai dari menyiram permukaan pembalut dengan air (volume sama) di keduanya, dan dia meletakkan tisu di atasnya. Telapak tangan saya secara perlahan dia letakkan di dua permukaan tadi, dan diminta merasakan… mana yang terasa basah dan mana yang terasa kering?
Sukses dengan demo bagian pertama ini, kemudian lanjut ke demo bagian kedua, yaitu dia robek permukaan pembalut dan menunjukkan beda antara bagian dalam yang satu dengan yang lainnya. Sebagian bahan dimasukkan ke air, juga dilakukan perbandingan. Dia kasih lagi argumen, mengapa yang satu lebih baik daripada yang lainnya.
Dan demikian seterusnya, saya ikuti demo itu sambil merasa kagum dalam hati. Sabar sekali dia menjalankan presentasinya, step by step sambil terus cerita. Padahal dia bilang ini termasuk pertama kali berprofesi sebagai ‘penjual’ dan rada keder presentasi ke saya krn tau saya konsultan mktg hehe..
Saya hitung sedikitnya ada 4 peragaan yang dipresentasikan, dan setelah selesai, tidak bisa tidak… saya langsung kasih applause, tepuk tangan untuk Dini….. wow, hebat ya. Ini real sekali presentasinya, very effective tryvertising.
Hasilnya, walaupun harganya 10 kali lipat, karena saya melihat ‘benefit’nya, saya langsung pesan produk tersebut. Hebatnya, dia juga berikan satu piece untuk langsung dibawa dan dicoba, dia bilang, ini pesan dari kantornya, memang part of the tryvertising (sampling).
Kemudian, saya baru ingat, bahwa pernah baca semacam brosur produk yang sama di praktek dokter anak saya, dan kalau nggak salah, saya pikir waktu itu “hallaaahhhh… promosi opo meneh iki…” nggak tertarik lah pokoknya.
Berhasil. Dini berhasil menjual produk tersebut ke saya, padahal settingan saya sudah “mode off” atau nggak akan ‘ketipu deh gw”. Produk kategori yang sederhana, sepele, ternyata bila ingin di’angkat’ dan dibuat menjadi kategori baru — dengan mengetengahkan “fear factor : janji kesehatan dong…” it really works.
Nggak usah disebut brandnya, ya, tapi yang jelas, setelah dipakai, memang “promises delivered” - dan saya benar-benar terkesan, sampai ingin menuliskan pengalaman ini.
DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA November 21, 2009
November 22nd, 2009 at 2:06 am
Komentar ini ditransfer dari comment Note yang sama dari Facebook.
Bang Zoel
BZ juga pernah di tawarkan bisnis itu bu..itu produk dari korea klo gak salah,..kantornya di STC senayan…bagus memang bu…dan banyak cowo yang ikut berprofesi sbg sales seperti Dini itu…dan kalau targetnya itu cowo, salesnya akan bilang : ini untuk kesehatan istri mas, pasangan mas…kapan lagi bisa berbuat baik untuk orang lain..ckckc..benar2 tryvertising technic yang mujaraab..:)
Welli Wilyanto Abakus
jadi yang hebat si Dini atau cara presentasinya, Bu?
Hindah Jatiningrum
saya sering mengalami hal yang sama, ujung-ujungnya ya…beli produk karena kasih…Nah lo… tapi gaka disuruh beli lagi ya… pikir-pikir..EFEKTIF nggak tuh?
Kristianus Setyawan
Wah kalau pakarnya aja dah bilang cost-benefit analysisnya udah masuk… produknya OK punya donk… ceritanya ngga dikasih pesan sponsor toh… :)) Kalau sampai nama Doktor Marketing nya dipake buat jualan gimana tuh ya??? wkwkwkwkwk…
Coba donk dianalisis lebih dalam lagi… btw koq produk spt ini dijual pake MLM yah… kalau memang produknya OK koq ngga Mass Marketing aja? Toh segmentasi dan positioningnya bisa diatur… mohon donk Ibu pakar, dijelaskan…
Amalia Maulana
@BZ, thanks utk additional infonya, berarti memang serius nih produknya menggarap pasar.
@Willy, mungkin bisa dibilang kombinasi keduanya
@Hindah, kalau memang motivasi pada saat pertama sudah dengan dasar kasian, berarti that is not benefit yang berhubungan dengan produk, it won’t stay for long, agree, yang gini juga saya ngalamin, dan belinya ya cuman 1x aja. Tantangan pada saat face to face tryvertising adalah convey the message clearly - tetapi most of all, benefit yang disampaikan tadi memang harus menjadi ’solusi’ tersendiri bagi konsumen.
@Kris, sebenarnya yang menjadikan unik adalah proses dalam tryvertising itu sendiri, yaitu bagaimana secara sistematis konsumen diajak berpikir, dan digiring untuk setuju dengan konklusi bahwa ‘yes, I do need this product” dan ternyata karena “sehat itu mahal” — jadi lebih baik mencegah daripada mengobati. Harga yang 10 kali lipat itu menjadi justified. Belum tentu proses ‘edukasi’ yang dicapai dalam face-to-face tryvertising tadi bisa dipindahkan secara mudah dengan cara mass advertising. Kan ada proses ‘interaksi’ yaitu tanya jawab secara langsung nya, yang tidak bisa diperoleh begitu saja dengan iklan. Lagipula dalam pemilihan target tryvertising tersebut, sudah dilakukan assessment pendahuluan bahwa kira2 dari income no issues, dan juga kira-kira ‘health conscious’ orang tersebut. Sehingga proses edukasinya nggak bertele-tele.
Sebenarnya cara2 spt ini sudah dilakukan oleh banyak produk lain, food supplement misalnya. Dia bisa membuat orang berpikir bahwa produk vitamin C yang harganya murah yang dia beli selama ini, tidak akan se’ampuh’ atau se’natural’ atau se’oke’ vit C yang dijual oleh perusahaan food suppl tersebut.
Tetapi harus ada ceritanya dulu, sehingga konsumen bisa ‘buy-in’. … Read More
Contoh lainnya adalah Tupperware yang produk plastik, sebetulnya kekuatan marketingnya terletak pada ‘demo’ atau tryvertising ini, yang mana dalam proses tersebut, target audience dibuat ‘percaya’ bahwa ia akan mendapatkan benefit2 yang ditawarkan spt kedap udara, makanan lebih fresh, dst… jadi akhirnya kalaupun diminta membayar 5 kali harga plastik merek umum, no issues.
Sorry Kris jadi panjang lebar begini, kuliah kale…..tapi spt itu penjelasanku.