Memperbaiki Raport Country Brand

Memperbaiki Raport Country Brand

Amalia E. Maulana

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 29 Agustus 2009

Malaysia lagi, Malaysia lagi. Lagi-lagi Malaysia. Cape deh.. Begitu kira-kira kalau saya simpulkan dari berbagai diskusi yang marak baik di media cetak dan elektronik, di milis-milis, termasuk di social media paling heboh saat ini yaitu di Facebook. Topik pencatutan Arts&Culture menyedot perhatian publik.

Saya setuju dengan keluhan berbagai pihak yang marah dengan realita ini. Saya sepenuhnya berpihak bahwa kebudayaan itu milik yang tidak bisa diganggu gugat. Dan, bahwa, we have to do something about it, tidak bisa tinggal diam.

Di sisi lain, saya menjadi berpikir. Mengapa kita berulang kali ‘kecolongan’ seperti ini? Mungkin karena kita kurang ketat dan keras terhadap Malaysia, seperti yang dinyatakan oleh Yusril Ihza Mahendra anggota DPR. Atau, bisa jadi kita hanya panik pada saat-saat kejadian, dan kemudian setelah itu, adem lagi. Setelah angin reda, kembali ke asal - ‘business as usual’, tidak ada follow up yang greget, yang bisa mengantisipasi hal yang sama terulang kembali.

Jika alasannya budget budpar yang kecil, kurang, tidak cukup untuk promosi Art& Culture seperti yang saya dengar di talkshow Metro TV, yah…itu kan lagu lama. Dalam kondisi yang urgent seperti pada saat lagu rasa sayange dan reog ponorogo di’ambil’, seharusnya moment itu sudah menjadi titik balik yang menjadi perhatian semua jajaran di Indonesia. Kalau perlu kita habis-habisan mempertahankan heritage yang kita miliki.

Pekerjaan Rumah Indonesia sebagai Country Brand masih menumpuk - banyak sekali. Karenanya, sudahlah, mari kita berhenti marah-marah. Tidak berguna, bahkan diskusi berkembang ke arah issue-issue yang tidak berhubungan dengan pokok permasalahannya sendiri. Saya miris membaca kata-kata ‘mutiara’ di milis-milis yang isinya campuran antara orang Indonesia dan Malaysia. Issue berkembang ke arah issue TKI, rasis, agama, dll, yang benar-benar tidak relevan.

Sebaiknya kita melihat ketidaknyamanan ini sebagai berkah yang harus disyukuri. ‘Blessing in disguise’, kata kerennya. Jika tidak ada masalah seperti ini, bangsa kita tetap saja tidur, kurang berbuat sesuatu untuk mempopulerkan kekayaan budaya kita sendiri.

Mari kita pikirkan bersama secara cepat dan meminta pihak terkait agar langsung bertindak. Menuntut Malaysia adalah satu hal, tetapi bekerja membesarkan country brand kita lebih penting lagi.

Pekerjaan rumah pertama, apa tagline Indonesia? Saya tidak ingat apakah kita punya. Yang saya ingat justru tagline negara-negara lainnya. Uniquely Singapore, Amazing Thailand, Incredible India, Sparkling Korea, Wonderful Greece, Canada – Keep exploring, dan tentu saja, Malaysia - Truly Asia. Sebagai salah seorang stakeholder (internal customer), seharusnya saya hapal luar kepala tagline country brand saya sendiri, kalau ada. Yang saya tau tagline sudah gencar dibuat, masih di tingkat kota dan propinsi. Bali – Shanti, Shanti, Shanti, misalnya. Atau Jember, kota festival.

Bagaimana dengan raport Country Brand Indonesia? Sudahkah kita memiliki informasi, sudah sejauh mana pencapaian prestasi Country brand kita? Dengan adanya raport brand, akan lebih mudah bagi pengelola brand (siapapun atau instansi manapun), untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumah ini.

Mungkin sebagai gambaran, kita bisa melihat brand performance Thailand negara tetangga sendiri sebagai benchmark. Dengan kampanye bertajuk Amazing Thailand, country brand ini menunjukkan perbaikan raportnya untuk beberapa aspek kunci yang menjadi brand association bagi target audiensnya.

Data di Tabel berikut diambil dari Global Quantitative Survey, Future Brand, yang diselenggarakan tiap tahun, mencakup lebih dari 2000 respondent di 9 negara, usia 21- 65 tahun, baik travellers yang bertujuan bisnis maupun tujuan liburan.

Raport Country Brand Thailand

Top 5 best country brand categories

Ranking 2008

Ranking 2007

Value for money

1

1

Authenticity

3

5

Friendly Locals

3

5

Nightlife

4

4

Shopping

4

9

Dari laporannya di tahun 2006, survey ini menyimpulkan bahwa 5 motivasi penting yang bersifat experiential adalah natural beauty, authenticity, art/culture, lodging resorts options, dan outdoor activities/sports. Kelima aspek penting lainnya, tetapi lebih bersifat praktikal diantaranya adalah safety, value for money, ability to communicate easily, proximity dan weather.

Hasil survey tahun 2006, Indonesia menonjol untuk aspek value for money (nomer 2 setelah Thailand), sedangkan untuk aspek rest& relaxation dan tempat eksplorasi yang eksotis menduduki top 10. Baru itu saja.

Perbedaan prestasi Contry brand kita cukup jauh dengan perolehan prestasi Thailand. Seperti dalam table, Thailand punya 5 aspek yang masuk ranking 1-5. Sebagai pembanding, country brand yang dianggap sukses adalah yang punya 8 aspek yang menduduki ranking 1-5.

Art & Culture

Bukan berarti Thailand sudah selesai tugasnya. Aspek penting yang memotivasi travellers untuk datang ke negara lain yaitu Art&Culture masih menduduki ranking 18. Safety, bahkan masih jauh di ranking 47.

Malaysia juga tidak masuk dalam ranking top 10 untuk Art&Culture. Padahal dari hasil survey, Art&Culture masuk 5 hal penting. Pada tahun 2006 negara yang menduduki peringkat top 3 untuk aspek ini adalah Mesir, Italia dan India. Yang dimaksud Art&Culture disini adalah Architecture, Fine Arts dan Performing Arts.

Mungkin itu sebabnya Malaysia ‘ngotot’ sekali untuk memperbaiki citra negara sebagai negara yang cemerlang Art&Culture nya, sampai-sampai kalau perlu ‘pinjam’ punya tetangganya.

Bagaimana dengan Art&Culture yang kita banggakan? Jika masih sangat sedikit dari travellers dunia yang mengetahuinya bahkan hingga mengapresiasinya, berarti kita harus berbuat banyak untuk perbaikan.

Sudah waktunya berbenah, membuat program Integrated Marketing Communication yang solid dan ayo mulai membangun Country Brand dari kekuatan Art&Culture yang punya nilai tinggi. Apakah kita akan tunggu hingga the next ‘reog, batik, dan tari pendet’ terjadi lagi? Cape deh.

DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA September 5, 2009

One Response to “Memperbaiki Raport Country Brand”

  1. Bagus Ba blognya, terima kasih atas infonya.

    Soal Malaysia, memang sudah banyak komentar di berbagai milist. Kalau dirangkum memang pemerintah sepertinya belum optimal dalam komitmennya … seolah permasalahannya duit duit saja. Barangkali dengan membenahi diri dulu kemudian menggunakan WOM sebagai eksternal branding… jauh lebih efektif.

Leave a Reply