Archive for September, 2009

Brand Promise vs Experience – Blue Bird

Saat yang tepat untuk menguji “reliability’ dari sebuah janji pada konsumen yang digaungkan dalam marcomnya, adalah pada saat konsumen mengalami problem, apakah brand akan menjadi SOLUSI atau tidak. Jika pengalaman menunjukkan bahwa brand experience selalu positive dan menyelesaikan masalah, ini menggambarkan Komitmen Brand terhadap janji-janjinya.

Blue Bird positioning yang juga merupakan image nya selama ini adalah drivernya yang reliable dan honest. Memang terbukti, buat saya, itu bukan sekedar janji. At least statement ini di-derive dari pengalaman saya hari ini.

Karena driver saya sudah pulang kampung, walhasil sudah dua hari ini, saya terpaksa kemana-mana naik taksi (nggak ada yang sanggup nggendong kemana-mana sih..). Hari ini pun demikian, ada rapat di Kantor Kementrian BUMN di jl Merdeka Slt jam 10 – 12.30. Peranan saya dalam meeting tersebut adalah sebagai salah satu juri website BUMN terbaik, yang akan digelar bulan Oktober nanti. Pak Nukman Luthfie dari Virtual Consulting adalah Ketua Dewan Jurinya.

Agak sulit saya menemukan taksi pada saat pulang, walaupun sudah mejeng di pinggir jalan selama 10 menitan, yang mampir kebanyakan taksi brand selain blue bird. Sebenarnya I dont mind dengan Taksi Express dan Putra, kalau ada pasti saya stop. Tetapi belum ada sampai akhirnya taksi blue bird lah yang menghampiri.

Judulnya ngejar deadline, jadilah sambil di taksi kerjaan diterusin, pakai laptop. Padahal itu jam-jam ngantuk luar biasa.. pas puasaan gini, akhirnya nggak efektif karena 75% dari perjalanan tersebut ternyata saya tidur sambil gayanya aja kerja.

Rupanya waktu saya membereskan perlengkapan laptop atau ambil uang di dalam tas, saya nggak ingat yang mana persisnya, flash disk ku yang berisi 4GB terjatuhlah, tanpa saya ketahui.

Setelah nyampe rumah — udah berkemas-kemas pindah ke desk top dan butuh USB baru tersadar bahwa USBku yang tercinta itu udah nggak ada. Coba-coba telpon tanya ke Pak Rudi Rusli di Kementrian BUMN, kalau-kalau ada terjatuh di ruang meeting. Ternyata gak ketemu (berarti nggak jatuh disana).

Wah… langsung sakit perut mengingat begitu banyak pekerjaan yang belum sempat di -save yang ada di si mungil USB itu. Huh, ini pelajaran bagi orang yg malas memback-up data…

Saya tau chancenya kecil banget bahwa si mungil bisa ditemukan di taksi, karena saya nggak ingat sedikitpun ciri2 taksi nopol nama driver maupun IDnya. Wong tadi tidur terus kok…

Tapi katanya kita kan harus terus berusaha, mencoba berbagai cara, dan kemudian saya telponlah Customer Servicenya Blue Bird, Sangat ramah, super menyenangkan, dengan Mita yang berjanji akan membroadcast laporan ini ke seluruh armada, mengingat saya nggak tau sedikitpun Idnya taksi tadi. Setiap 1 jam saya tanya, dan hasilnya nihil, sudah kami coba Ibu… dan belum ada tanda-tanda ada yang menemukannya. Tapi kami akan cek hingga besok pagi, karena nanti malam semua driver taksi akan pulang ke pool dan akan ada laporannya. Saya, masih sakit perut, berusaha pelan-pelan melupakan chance kecil bahwa si mungil bakal ketemu.

Subhanallah, kira-kira sepuluh menit sebelum buka puasa, someone from Blue Bird called me dan bilang bahwa USB saya sudah ditemukan. Supervisor dari driver Pak Asep yang membawa saya dari Monas ke Bintaro hari ini, mengatakan bhw Pak Asep telah melaporkan penemuannya.

Satu jam kemudian, Pak Asepnya sendiri yang menelpon, janjian untuk ketemu di sekitar CBD (besok saya akan ada rapat di Bisnis Indonesia sekalian buka puasa bersama) — Insya Allah saya akan bertemu lagi dengan 4GB file ku tersebut via Pak Asep yang baik.Seigatku, Pak Asep ini masih muda, mungkin sekitar early 30.

Tulisan ini aku buat sebagai testimoni dari seseorang yang mendapatkan services yang sangat baik dari sebuah brand. Mudah2an seterusnya Blue Bird bisa mempertahankan aspek “RELIABLE” tersebut. Tidak mudah memasarkan Jasa/services. Salah satu aspek dari Marketing Mix services yaitu 7P adalah People. Dan ini menjadi sustainable competitive advantage nya Blue Bird.

Nggak papa lah beda harganya, walaupun harus bayar lebih (karena bukan ‘tarip lama’). Tapi perasaan berada di tangan pengemudi yang reliable itu adalah customer value yang luar biasa.

Baru ingat, teman saya Yana Arsyadi minggu lalu juga sempat mereview pengalamannya naik taksi BB (bukan Blackberry ya, yg ini Blue Bird) , yang mana dia lagi cape dan suntuk, ternyata ditawarkan oleh driver taksi untuk mendengarkan lagu-lagu. Dan ini membekas di hati Yana, karena kemudian lagu2 tersebut mencairkan suasana hatinya. Hallo Yan, ingat nggak saya sempat komen di FBmu, customer relationship nya driver itu oke banget, dan jangan-jangan adalah lulusan MM Strategic Marketing tempat saya ngajar haha…

Thanks ya Blue Bird, I really appreciate your services.

Book Review: Consumer Insights via Ethnography

Riset Ethnography, Pendekatan Kepada Customer Yang Masih Relevan
Judul Buku :CONSUMER INSIGHTS VIA ETHNOGRAPHY
No. ISBN :61120820
Penulis :AMALIA E. MAULANA
Penerbit :Essensi-Erlangga
Terbit :Juli 2009
Jumlah Halaman : 115
Jenis Cover : Softcover
Dimensi (LxP) : 13 x 23
Kategori : Pemasaran dan Penjualan
Text, Bahasa : Indonesia 

_________________________________________________________

Review ini telah dimuat di Koran Jakarta, 2 September 2009.
Versi cetak lebih ‘kurus’ dari versi aslinya (yang dalam Note ini).
Untuk melihat versi yang di Koran Jakarta, silakan klik link berikut:

http://www.koran-jakarta.com/ver02/detail-news.php?id=16744&&idkat=78
————————–————————–————————–——–

Perubahan perilaku konsumen, berkembangnya teknologi, membuat strategi pemasaran baik produk dan jasa mau tak mau harus terus berubah. Riset dan survey konvensional yang dulu biasanya kita sering temui berupa lembaran kuisioner tentang sebuah produk atau layanan jasa, sepertinya sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan saat-saat ini. Karena menurut Amalia E. Maulana, Ph.D, saat ini yang kita perlukan adalah riset Consumer Insight via Ethnography.

Amalia sendiri merupakan Ethnographer, atau praktisi bidang Ethnography di Indonesia. Doktor alumni University of New South Wales, Australia tahun 2006 ini, membagi ilmu yang semula dimuat secara terpencar-pencar di beberapa majalah dan surat kabar seperti majalah Swa,Majalah MIX, The Jakarta Post, Bisnis Indonesia dll, dari kurun waktu tahun 2005 hingga 2009, dikumpulkan pada sebuah buku barunya yang berjudul Consumer Insight via Ethnography-Mengungkap yang tidak pernah terungkap.

Apa sebenarnya Consumer Insight dan apa Ethnography itu?
Bagi sebagian orang mungkin hal tersebut masih terasa asing di telinga. Tapi bagi orang-orang yang sudah berkecimpung di bidang pemasaran mungkin sudah sering mendengarnya. “Definisi Consumer dan Insight kira-kira akan menjadi seperti ini: “Proses mencari tahu secara lebih mendalam dan holistic, tentang latar belakang perbuatan, pemikiran dan perilaku seorang konsumen yang berhubungan dengan produk dan komunikasi iklannya” (Hal. 25)

Lalu Ethnography sendiri adalah suatu studi atau riset tentang perilaku masyarakat atau konsumen yang dipelajari langsung dari habitatnya atau dari lingkungan naturalnya. (hal.35).

Dalam buku ini, Amalia sudah mengungkapkan jika sebenarnya riset ethnography sendiri sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu. Bila menengok pada sejarah, kita bisa temui seperti perdagangan Jalur Sutra (The Great Silk Road) yang bisa menembus batas-batas Negara,tentu hal tersebut tidak akan lepas dari peranan riset ethnography, tapi implementasinya mungkin lebih menitik beratkan pada pendekatan sosial budaya kala itu. Ethnography juga telah lama dilakukan oleh produsen Intel dan perusahaan-perusahaan besar lainnya termasuk Unilever.

Riset yang memerlukan pengamatan secara langsung di habitat konsumen tersebut, tentu memiliki kendala tersendiri yaitu dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperoleh hasil riset yang maksimal . Sedangkan roda operasional perusahaan tentu juga harus terus berjalan. Saat ini dengan adanya internet dan teknologi video juga dimungkinkan melakukan riset melalui keduanya, yang disebut netnography (seperti diskusi-diskusi di mailing list,online chatting) dan videography. Sehingga nantinya bisa diperoleh pencapaian untuk mengkomunikasikan secara benar tentang sebuah produk kepada konsumennya dan tentunya akan berimbas pada peningkatan penjualan.

Teknik-teknik riset Etnography bisa seperti story telling,netnography,creative focus discussion dll. Dan selain bisa diterapkan untuk produsen kepada customer, juga bisa diterapkan untuk kebutuhan Business to business (B2B).

Meskipun secara teori, riset seperti ini sepertinya ‘sangat menjanjikan’ akan tetapi dalam dunia yang serba cepat berubah seperti ini, tentu diperlukan riset yang terus-menerus ataupun berkala untuk memantau pasar. Reaksi pasar yang tidak bisa diprediksi adalah tantangan terbesar bagi semua perusahaan. Riset ethnography merupakan salah satu solusi selain juga di internal perusahaan dibutuhkan personel yang kapabel dan memiliki rasa ‘belong to’ terhadap perusahaan tempatnya bekerja. Terkadang sebuah perusahaan karena terlalu ‘customer oriented’ melupakan merawat apa yang di dalam. Sehingga sering kali terjadi, karyawan akhirnya loncat ke perusahaan lain bahkan competitor. Dalam hal ini, customer oriented dengan riset etnoghaphy dan menumbuhkan rasa memiliki karyawan pada perusahaan tentu akan berimbas pada kemajuan perusahaan itu sendiri.

Buku yang dicetak dengan kertas eksklusif ini, juga mengetengahkan contoh perusahaan yang sedang eksis saat ini, juga beberapa perusahaan yang digadang-gadang akan menjadi usaha masa depan.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan pasar yang notabene ada kita sendiri di dalamnya adalah sebuah dunia yang sarat akan peristiwa tak terduga, seperti halnya yang pernah di tulis Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan. Akan tetapi, dengan consumer insight via ethnography ini, seolah mengajak kita untuk tetap optimis menapaki dalam dunia yang penuh kejutan ini. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku ini yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Eviwidi

Written on Monday · · · Report Note

 

Dharma Hutauruk 

Dharma Hutauruk 

Siapa dulu dong yang nulis??????
Amelia khan masih utang satu sessi seminar sama aku
September 1 at 6:57pm
Evi Widi 

Evi Widi 

Ditagih dong Pak Dharma…:)
September 1 at 7:51pm
Leonowens Sp 

Leonowens Sp 

Review yang luar biasa bagusnya…
September 1 at 11:38pm
M Iqbal Dawami 

M Iqbal Dawami 

Selamat ya mbak, resensi ini dimuat di Koran Jakarta hari ini.
Wed at 8:43am
Evi Widi 

Evi Widi 

Ohya?…padahal aku kira gagal waktu kirim emailnya….thanks..aku akan segera berburu…Koran jakarta ini hari….
Wed at 9:30am
Evi Widi 

Wed at 9:41am
Avis Unsoed 

Avis Unsoed 

selamet mba evi…hihihihi
wah termasuk bacaan berat neh^_^
Wed at 4:43pm
Syafruddin Azhar 

Syafruddin Azhar 

Wuah keren… mantabs, enak to…
Wed at 9:21pm
Zeventina Octaviani 

Zeventina Octaviani 

wahh selamat ya Vi dimuat lagi..
Thu at 1:59pm
Amalia Maulana 

Amalia Maulana 

Dear Evi Widi yang baik, terimakasih yang setulus-tulusnya atas book review yang positif ini. Gimana nih cara balas dendamnya? Kapan bisa ditraktir makan pagi, makan siang dan makan malam? 

@Pak Dharma: wah apa benar saya masih utang, ya Bapak nggak pernah nagih, saya lupa deh. Please contact me ya..

30 minutes ago · Delete
Evi Widi 

Evi Widi 

@Ibu Amalia,
Wadaw..kacau nih..kalau balas dendam..hehe..tapi berhubung balas dendamnya sepertinya tidak ada pertumpahan darah..ya..sudah..saya ladeni..hihihihi….
about a minute ago

Kekuatan Employer Branding

Kekuatan Employer Branding

Amalia E. Maulana

Bisnis Indonesia Minggu,  4 September 2009.

Ketika Bisnis Indonesia meminta saya me-review PT Frisian Flag Indonesia, saya sempat ragu, apakah saya terima atau tidak tawaran ini. Pasalnya, saya pernah bekerja cukup lama di perusahaan tersebut dan sebagian besar kenangan saya terhadap perusahaan ini cukup positif. Jangan-jangan tulisan saya kali ini akan lebih bersifat promosi daripada sebuah bedah korporasi yang objektif.

Dengan pertimbangan kedekatan saya dengan employer brand tersebut, akhirnya saya putuskan untuk membahas Frisian Flag dari sisi employer branding.

Sudah cukup lama saya meninggalkan ‘bangku kuliah’ di bidang brand management di Frisian Flag. Sudah lebih dari 15 tahun yang lalu. Namun, setiap kali saya bertemu dengan apa pun elemen yang mengingatkan pada brand, saya merasa masih menjadi bagian dari perusahaan.

Ini menggambarkan bahwa seorang eks karyawan yang mempunyai sejarah yang baik dengan perusahaan, akan menjadi seorang brand ambassador yang andal. Eksposur positif bisa selalu diharapkan darinya. Misalnya saja sebagai salah satu alumnus Frisian Flag, saya selalu siap untuk membantu mencarikan the best’ students di kelas sekolah bisnis saya atau, dalam setiap kesempatan menceritakan latar belakang riwayat pekerjaan, Frisian Flag akan saya masukkan dalam urutan atas.

Contoh lain bahwa keterlibatan secara emosional saya masih tinggi adalah sering mengatakan ‘kita’ kepada audiens karyawan perusahaan di mana saya memberikan pelatihan pemasaran. Seolah-olah, saya masih merupakan bagian dari perusahaan tersebut pada saat menjelaskan strategi pemasaran yang baik, seakan saya sedang ikut bertempur. Aneh tetapi nyata.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan empolyer brand? Isitilah ini bisa dijabarkan sebagai berikut : “citra dari organisasi sebagai ‘great place to work’ dibenak para stakeholder, terutama karyawan yang sedang bekerja saat ini. Termasuk pula eks karyawan, prospek atau kandidat karyawan, konsumen brand, client, dan pemasok produk dan jasa yang bekerja sama dengan perusahaan dan sebagainya.”

Dengan demikian employer branding mencakup segala macam aktivitas perusahaan untuk menarik, melibatkan hingga menahan (attraction, engagement dan retention) yang ditujukan guna memperkuat brand perusahaan dimata stakeholders.

Dalam masa senang, mudah untuk membina employer brand. Segala macam benefit yang diberikan kepada karyawan, dari mulai fasilitas pelatihan atau pelatihan berkelas, fasilitas kendaraan, menginap di hotel berbintang, pesawat kelas utama atau bonus sekian kali gaji tentu dengan mudah menarik simpati.

Bagaimana dengan masa sulit? Saat persaingan sedang mengetat, dana perusahaan yang terbatas harus dialihkan dari fasilitas karyawan ke pos biaya yang ada hubungannya dengan penjualan. Apakah karyawan akan tetap merasa nyaman bekerja?

Pembinaan employer brand juga melalui sebuah proses tahapan yang mirip seperti pembinaan brand pada umumnya. Ini meliputi pemikiran strategis jangka panjang, penyusunan sasaran yang jelas dan diterjemahkan dalam bentuk aktivitas antardivisi yang saling berkaitan dan terintegrasi.

Pembinaan employer brand bukanmonopoli divisi SDM. Aktivitas employer branding bukan semata-mata berhubungan dengan rekrutmen dan pembinaan karyawan saja. Keterlibatan divisi pemasaran, khususnya marketing communication dan public relations sangat sentral.

Komitmen dan keterlibatan CEO dalam urusan employer branding juga sangat menentukan keberhasilan pembangunan sebuah employer brand.

Menguji kekuatan sebuah employer brand bisa dilakukan pada saat sulit. Apakah karyawan merelakan jatah kepemilikan mobilnya ditunda (biasanya 3 tahun sudah bisa ganti mobil, sekarang harus tunggu hingga 4 tahun). Apakah karyawan rela bila jatah tiket kelas eksekutif dipangkas menjadi kelas ekonomi dan bentuk pemangkasan benefit lainnya.

Apakah karyawan mau diajak untuk ‘susah senang bersama?’ Resahkah mereka bila haknya dikurangi dan kewajibannya ditambah, demi untuk bisa bertahan menghadapi tantangan eksternal?

Jika karyawan memilih mundur, pindah perusahaan atau menyatakan persetujuan, tetapi tidak mau ikut serta dalam kegiatan ‘singsingkan lengan baju’ bersama pimpinan perusahaan yang memintanya, di sini tanda-tanda bahwa perusahaan bermasalah dalam pembinaan employer brand.

Belum lama ini CEO PT Frisian Flag Indonesia Cees Ruygrok menerapkan program kencangkan ikat pinggang seperti di atas untuk menghadapi krisis global. Downgrade fasilitas eksekutifnya merupakan salah satu cara beliau untuk penghematan.

Bagaimana karyawan FFI menghadapi saat-saat seperti ini? Di sinilah moment of truth dari sebuah employer brand Frisian Flag atau yang lebih dikenal sebagai sebutan Susu Bendera tersebut.

Di tangan yang tepat

Cees Ruygrok berlatar belakang marketing yang kuat. Beliau adalah marketing director FFI pada tahun jadul dimana saya bekerja sebagai brand manager di sana. Lebih tepatnya, beliau merupakan guru besar marketing in practice buat saya. Beliau sempat menjabat posisi-posisi penting di Thailand, Nigeria dan Malaysia, sebelum akhirnya ditarik kembali ke Indonesia menjadi orang nomer satu.

Dalam kesempatan berdiskusi dengannya, tertangkap kesan kuat pembenahan di segala bidang, terutama dalam hal branding dan sales, dua area yang sangat dikuasainya. Dilakukannya rasionalisasi dari produk baru yang tidak sejalan dengan core value corporate brand, termasuk salah satu agenda yang telah dijalankannya.

Hal-hal yang telah dilakukan oleh Ruygrok yang berkaitan dengan SDM dan kesehatan keuangan perusahaan bukan hal yang baru. Rekrutmen lulusan baru terseleksi, mengirimkan karyawan ke berbagai pelatihan dan perbaikan fasilitas benefit sudah menjadi hal rutin yang saya alami dulu.

Proses transformasi menjadi karyawan andal dalam perusahaan dengan learning environment yang kuat akan memberikan kedekatan terhadap employer. Ini adalah keuntungan yang tidak tampak yang ditanamkan oleh perusahaan, yang bisa dituai dalam bentuk positive brand ambassador.

Frisian Flag Indonesia berada di tangan yang baik untuk pembinaan employer brand jangka panjang. CEO yang punya landasan strategi pemasaran yang kuat akan menjadi modal utama bagi brand ini dalam pembinaan citranya di mata stakeholder.

Lebih jauh lagi, gaya kepemimpinan Cees Ruygrok yang people-oriented, friendly tetapi tetap tegas dan punya arah strategi yang jelasakan membantu eksekusi strategi employer branding.

Keep up the good work. Untuk saya masih tetap: “Susu Saya Susu Bendera…..”

Memperbaiki Raport Country Brand

Memperbaiki Raport Country Brand

Amalia E. Maulana

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 29 Agustus 2009

Malaysia lagi, Malaysia lagi. Lagi-lagi Malaysia. Cape deh.. Begitu kira-kira kalau saya simpulkan dari berbagai diskusi yang marak baik di media cetak dan elektronik, di milis-milis, termasuk di social media paling heboh saat ini yaitu di Facebook. Topik pencatutan Arts&Culture menyedot perhatian publik.

Saya setuju dengan keluhan berbagai pihak yang marah dengan realita ini. Saya sepenuhnya berpihak bahwa kebudayaan itu milik yang tidak bisa diganggu gugat. Dan, bahwa, we have to do something about it, tidak bisa tinggal diam.

Di sisi lain, saya menjadi berpikir. Mengapa kita berulang kali ‘kecolongan’ seperti ini? Mungkin karena kita kurang ketat dan keras terhadap Malaysia, seperti yang dinyatakan oleh Yusril Ihza Mahendra anggota DPR. Atau, bisa jadi kita hanya panik pada saat-saat kejadian, dan kemudian setelah itu, adem lagi. Setelah angin reda, kembali ke asal – ‘business as usual’, tidak ada follow up yang greget, yang bisa mengantisipasi hal yang sama terulang kembali.

Jika alasannya budget budpar yang kecil, kurang, tidak cukup untuk promosi Art& Culture seperti yang saya dengar di talkshow Metro TV, yah…itu kan lagu lama. Dalam kondisi yang urgent seperti pada saat lagu rasa sayange dan reog ponorogo di’ambil’, seharusnya moment itu sudah menjadi titik balik yang menjadi perhatian semua jajaran di Indonesia. Kalau perlu kita habis-habisan mempertahankan heritage yang kita miliki.

Pekerjaan Rumah Indonesia sebagai Country Brand masih menumpuk – banyak sekali. Karenanya, sudahlah, mari kita berhenti marah-marah. Tidak berguna, bahkan diskusi berkembang ke arah issue-issue yang tidak berhubungan dengan pokok permasalahannya sendiri. Saya miris membaca kata-kata ‘mutiara’ di milis-milis yang isinya campuran antara orang Indonesia dan Malaysia. Issue berkembang ke arah issue TKI, rasis, agama, dll, yang benar-benar tidak relevan.

Sebaiknya kita melihat ketidaknyamanan ini sebagai berkah yang harus disyukuri. ‘Blessing in disguise’, kata kerennya. Jika tidak ada masalah seperti ini, bangsa kita tetap saja tidur, kurang berbuat sesuatu untuk mempopulerkan kekayaan budaya kita sendiri.

Mari kita pikirkan bersama secara cepat dan meminta pihak terkait agar langsung bertindak. Menuntut Malaysia adalah satu hal, tetapi bekerja membesarkan country brand kita lebih penting lagi.

Pekerjaan rumah pertama, apa tagline Indonesia? Saya tidak ingat apakah kita punya. Yang saya ingat justru tagline negara-negara lainnya. Uniquely Singapore, Amazing Thailand, Incredible India, Sparkling Korea, Wonderful Greece, Canada – Keep exploring, dan tentu saja, Malaysia – Truly Asia. Sebagai salah seorang stakeholder (internal customer), seharusnya saya hapal luar kepala tagline country brand saya sendiri, kalau ada. Yang saya tau tagline sudah gencar dibuat, masih di tingkat kota dan propinsi. Bali – Shanti, Shanti, Shanti, misalnya. Atau Jember, kota festival.

Bagaimana dengan raport Country Brand Indonesia? Sudahkah kita memiliki informasi, sudah sejauh mana pencapaian prestasi Country brand kita? Dengan adanya raport brand, akan lebih mudah bagi pengelola brand (siapapun atau instansi manapun), untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumah ini.

Mungkin sebagai gambaran, kita bisa melihat brand performance Thailand negara tetangga sendiri sebagai benchmark. Dengan kampanye bertajuk Amazing Thailand, country brand ini menunjukkan perbaikan raportnya untuk beberapa aspek kunci yang menjadi brand association bagi target audiensnya.

Data di Tabel berikut diambil dari Global Quantitative Survey, Future Brand, yang diselenggarakan tiap tahun, mencakup lebih dari 2000 respondent di 9 negara, usia 21- 65 tahun, baik travellers yang bertujuan bisnis maupun tujuan liburan.

Raport Country Brand Thailand

Top 5 best country brand categories

Ranking 2008

Ranking 2007

Value for money

1

1

Authenticity

3

5

Friendly Locals

3

5

Nightlife

4

4

Shopping

4

9

Dari laporannya di tahun 2006, survey ini menyimpulkan bahwa 5 motivasi penting yang bersifat experiential adalah natural beauty, authenticity, art/culture, lodging resorts options, dan outdoor activities/sports. Kelima aspek penting lainnya, tetapi lebih bersifat praktikal diantaranya adalah safety, value for money, ability to communicate easily, proximity dan weather.

Hasil survey tahun 2006, Indonesia menonjol untuk aspek value for money (nomer 2 setelah Thailand), sedangkan untuk aspek rest& relaxation dan tempat eksplorasi yang eksotis menduduki top 10. Baru itu saja.

Perbedaan prestasi Contry brand kita cukup jauh dengan perolehan prestasi Thailand. Seperti dalam table, Thailand punya 5 aspek yang masuk ranking 1-5. Sebagai pembanding, country brand yang dianggap sukses adalah yang punya 8 aspek yang menduduki ranking 1-5.

Art & Culture

Bukan berarti Thailand sudah selesai tugasnya. Aspek penting yang memotivasi travellers untuk datang ke negara lain yaitu Art&Culture masih menduduki ranking 18. Safety, bahkan masih jauh di ranking 47.

Malaysia juga tidak masuk dalam ranking top 10 untuk Art&Culture. Padahal dari hasil survey, Art&Culture masuk 5 hal penting. Pada tahun 2006 negara yang menduduki peringkat top 3 untuk aspek ini adalah Mesir, Italia dan India. Yang dimaksud Art&Culture disini adalah Architecture, Fine Arts dan Performing Arts.

Mungkin itu sebabnya Malaysia ‘ngotot’ sekali untuk memperbaiki citra negara sebagai negara yang cemerlang Art&Culture nya, sampai-sampai kalau perlu ‘pinjam’ punya tetangganya.

Bagaimana dengan Art&Culture yang kita banggakan? Jika masih sangat sedikit dari travellers dunia yang mengetahuinya bahkan hingga mengapresiasinya, berarti kita harus berbuat banyak untuk perbaikan.

Sudah waktunya berbenah, membuat program Integrated Marketing Communication yang solid dan ayo mulai membangun Country Brand dari kekuatan Art&Culture yang punya nilai tinggi. Apakah kita akan tunggu hingga the next ‘reog, batik, dan tari pendet’ terjadi lagi? Cape deh.