Archive for July, 2009

Dari Book Launch Consumer Insights via Ethnography

Barangkali setiap orang yang ingin menulis buku perlu membayangkan betapa indahnya saat-saat peluncuran buku seperti yang saya alami kemarin tanggal 28 Juli 2009. Itu bisa menjadi motivasi terbesar sehingga beratnya menulis buku tidak terasakan lagi.

Kenapa saya bilang berat, sebab ini memang buku pertama. Prosesnya panjang dan berliku, sembari nggak tau halangan apa saja – mungkin prosesnya seperti proses melahirkan bayi. Dikandung selama 9 bulan, dan selama itu banyak dinamikanya. Setelah melahirkan, lega sekali prosesnya dan ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.  Subhanallah, Alhamdulillah, hanya kata-kata pujian bagi Allah yang tepat untuk diekspresikan pada saat melihat bayi kita ada dihadapan. Mungkin rasa-rasa luar biasa seperti itulah sebagai seorang penulis pemula yang sudah bisa melihat bukunya berwujud, real.. dan ini bukan mimpi lagi.

Acara kemarin dibuka oleh Speech dari Bapak Victor Siburean, President of LSPR forum. Kemudian satu patah kata dari penulis, dan diikuti dengan seremonial peluncuran buku dipimpin Ibu Prita Kemal Gani, Ketua STIKOM LSPR yang telah berbaik hati untuk menjadi tuan rumah acara ini. Sebagai salah satu dosen di LSPR, saya merasa sangat tersanjung dengan penyelenggaraan ini. Thanks Ibu Prita dan team panitia peluncuran untuk segala kerepotannya: Ms. Rowena, Pak Ary, Angel dan Mamby dkk.

Kemudian Key Note Speech dari sahabat saya Pak Ahmad Mukhlis Yusuf yang dikenal dengan nick name Pak Emye, direktur utama LKBN Antara. Thanks for your beautiful speech, Pak. Beliau menggarisbawahi pentingnya ethnography untuk masa saat ini, terutama di era pasar yang hiper kompetitif. Banyak hal yang sudah tidak bisa diterangkan lagi dengan studi-studi yang bersifat teknis, kuantitatif, sehingga pemahaman kualitatif harus ditingkatkan, salah satunya dengan pendekatan ethnography ini. Pak Mukhlis angkat kisah Pimpinan Puncak Extra Joss Pak Joseph Angkasa (pada saat itu) yang mau bersusah payah ikut naik truk, masuk ke dalam kehidupan konsumennya, hanya untuk mendapatkan insights dengan mata kepala sendiri.

Acara seremoni ditutup oleh Pak Ary Widodo, Direktur Research Centre LSPR, yang menjelaskan arti kata ethnography dan beberapa cerita menarik seputar ethnography di Indonesia, yang menerangkan tentang how powerful this method untuk mengerti secara holistik karakteristik dan situasi sebuah masyarakat/budaya. Nggak sangka, Pak Ary ternyata lucu alias bodor banget. Kirain Direktur Research Centre pada serius-serius semua…

Acara dihadiri lebih kurang 200 orang, campuran antara teman-teman Media, teman di industri, teman-teman sesama pengajar di LSPR maupun di Universitas lain, teman dari penerbit, teman dari Etnomark, my very own company dan teman-teman mahasiswa termasuk student2 bimbingan thesis saya yang setia. Thanks everyone for coming. You are wonderful, mau meluangkan waktu khusus untuk share this glory with us.

Terimakasih untuk para pengisi testimonial di dalam buku yang juga sudah hadir pada acara kemarin yaitu Pak Ahmad Djauhar (Bisnis Indonesia), Pak Nukman Luthfie (Virtual Consulting), Pak Iriawan Hartana (I Care OTG), Pieter (Binus). Sayang pengisi testimoni lainnya berhalangan hadir Pak Erik Meijer, Pak Kemal Gani, Bu Anna, Pak Ninok Leksono dan Akhmad Yainal (dari Yogya).

Acara ditutup dengan talk show, saya manggung ceritanya, highlight isi buku tersebut. Selamat untuk 10 pemenang buku dalam acara tanya jawab dalam talk show, yang salah satunya adalah teman lama saya Mas Bambang Sumaryanto, petinggi P&G Indonesia. Acara talk show yang dipandu oleh Mas Rizky mahasiswa terbaik LSPR postgrad ini, berjalan seru..Pertanyaan-pertanyaannya tajam-tajam.

Acara berakhir jam 5 sore – Lampu ruang benderang di Auditorium and Performance Hall Prof. Djajusman, LSPR yang mewah mulai dipadamkan. Dalam perjalanan pulang, saya merenung, what’s gonna be my next book destination.. Lembar demi lembar harus diisi lagi. Selamat bertemu dalam peluncuran buku saya yang kedua. Insya Allah.

Baca liputannya di Kompas:

- Kenali Konsumen dengan Etnografi

- Etnografi: Mengungkap yang Tak pernah Terungkap

Akhirnya jadi juga bukunya

Memang apa-apa kalo pertama itu gak gampang, ya. Anak-anak belajar jalan pasti berat awalnya. Dulu inget waktu pertama kali belajar nyetir mobil juga gitu, sampai pakai acara nabrak mobil orang lain segala, dan harus bayar bengkelnya..padahal gaji (masih) kecil hehe..

Pengalaman, bikin buku kalau pertama kali seperti ini ya memang panjang prosesnya. Tapi, karena publishernya (terutama editor2nya) baik, sabar dan kooperatif, ya alhamdulillah, terlaksana juga niat ingsun.

Ucapan terimakasih untuk Daniel W. Purba dan Audina Furi, para editor buku di Penerbit Esis, Erlangga ini, dan juga Gia Josie untuk disain cover buku. Input-input nya sangat berharga.

Tidak lupa para ethnographers pendukung case studies: Indira, Deary, Alvin, Deva, Lolik, Ina dan Mitha – yang semuanya adalah lulusan MM-Strategic Marketing, Binus Business School. Now you can see your work in the book. Mudah2an bisa buat contoh untuk teman2 lainnya. I am proud of you guys.

Acara peluncuran tgl 28 Juli, bentar lagi. Mudah-mudahan setelah acara tersebut, bukunya langsung tersedia di toko-toko buku – jadi buat yang ingin belajar tentang ethnography, at least sekarang ada tambahan buku lagi disamping buku lain yang sudah lebih dulu terbit (masih nggak banyak sih yang ngangkat riset ini, yang bahasa Indo ya).

Harga buku Rp 55,000 (saja).

Pemenang Riset Cover Buku

Selamat untuk pemenang Riset Cover buku Ethnography tulisanku – Dari 3 disain yang ada, dipilih DESAIN no. 1 seperti yang bisa dilihat di gambar ini. Bukunya juga sudah terbit, lho… mudah2an sebentar lagi akan ada di toko-toko buku.

Bagi yang namanya disebutkan di sini, buku dapat diambil langsung dalam acara Launching dan Talk Show di London School of Public Relations (LSPR) tanggal 28 Juli 2009, mulai jam 1 siang. Anggap ini sebagai undangan ya. Untuk teman-teman lain, juga boleh datang, ini acara untuk public koq. Free of Charge. Tetapi mohon konfirmasi kehadirannya,  RSVP ke saya (amalia.maulana@gmail.com) – sebab tempatnya terbatas.

Aida F. Umaya, Dianti Arudi, Hani Syarief, Malla Latif, Uyan Laisa, Hanifa Azalia, Telisiah, Catur PW, Deden Sumadilaga, Syafiq Assegaf, Leila Djawas, Andrias Eko Yuwono, Bambang Sukmajaya, Andi Primaretha, Abah Effi Harfiana, Wayah S. Wiroto, Timoteus Lesmana, Deriz Syarief, Felix Ferdinand, Eddy Soestrisno.

Saya ingin sharing hasil riset tersebut. Boleh dikatakan riset ini berguna sekali, karena dengan masukan dari berbagai pihak, saya dan my creative partner, Gia Josie bisa mempelajari kelebihan dan kekurangan tiap-tiap disain.

Seru, dari posting yang diluncurkan di FB, dalam 2 hari saja, terkumpul 165 responses, semuanya adalah teman-teman FB yang masuk network. Belajar sesuatu disini, bahwa social media memang powerful. Disain no.3 hanya mendapat 5 suara, yah berarti itu dengan mudah saya dan Gia kesampingkan. Yang kemudian kita lakukan adalah secara seksama membaca satu persatu komen dari tiap-tiap respon. Sebab, kalau dilihat dari jumlahnya, disain no.1 dan disain no.2 berimbang, 50-50.

Inilah yang disebut dengan riset kualitatif, jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan jumlah suara terbanyak saja, harus masuk ke dalam lagi pada issue2 yang diangkat dalam tiap komen. Dengan demikian diamati dan blended dari sisi perspektif yang berbeda, karena keahlian saya perspektifnya dari sisi marketingnya dan Gia dari segi disainnya sendiri.

Ini lho wajah asli yang namanya Gia Josie my creative partner – oke kan disainnya. Sudah duluan mejeng dengan buku.

Book Cover Designer

Walhasil, kembali soal proses pemilihan disain, setelah masuk lebih jauh dan berenang dalam komentar responden, kesimpulannya kita lebih nyaman dengan pilihan disain no.1 – tetapi tentu dengan touch up dan perbaikan disana-sini sesuai dengan saran-saran responden.

Misalnya: warna tidak pure black and white, tetapi ditambah maroon/merah; lalu nama penulis gak ada Ph.D nya, nggak penting, jadi didrop, lalu juga untuk subjudul yang awalnya “Jurus Jitu Pemasaran Mutakhir” sudah dirombak besar-besaran, karena banyak yang bilang klise – lah, nggak oke lah, dll – kemudian kita brainstorming lagi dengan beberapa responden dan terbitlah subjudul ” Mengungkap yang tidak pernah Terungkap” Khusus untuk ini, thanks juga untuk masukan dari Felix Ferdinand, moderator Branding zone, makanya ikutan menang buku ya Felix.

Kriteria respondent yang memenangkan hadiah buku dari riset tersebut adalah komen nya memberikan inspirasi tersendiri, membuat kami berpikir dari kacamata yang berbeda. Selebihnya tentu, tanpa terkecuali saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua responden (165 teman saya di FB) yang sudah meluangkan waktunya untuk memberikan respons. Sangat berguna.

Rencananya mau memberikan buku untuk responden sebanyak 10 buah, tetapi dengan alasan bahwa bukunya ternyata lebih murah dari yang saya perkirakan, maka jumlahnya saya kalikan dua. Karena itu ada 20 orang pemenang. SELAMAT YA…

For your info, harga buku yang saya peroleh dari publisher katanya akan dijual di toko buku dengan harga Rp 55.000 – murah kan?

Ini adalah sebagian dari komentar- komentar responden yang menginsiprasi kami:

“Saya suka no.1. Lebih simple & bersih kesannya..cuman kalo bisa, sedikit di re-touch, misalnya tambah aksen 1 color aja.. Akan terlihat spt buku2 import dan menghilangkan kesan ‘fotocopy’..”

“Aku senang cover no 1. Clear n Clean, tapi Loopnya mubajir kalo ditaruh disitu..krn ga ada yg di “perbesar”..akan lbh sampai massage-nya kalo loop itu ada di atas kata “tno” dr etno…or di “mer” dari kata customer…. kalo background “jurus jitu…” di pake warna maroon mungkin lebih “Hidup” kali yach…..”

“No 1 bersih, clean line, lebih menjanjikan isi yg up to date”

“Desain saya pilih no 1, justru eksklusif dan lebih terlihat.
kalo boleh sy sarankan, di cover cukup ditulis Amalia Maulana saja (mudah utk brandingnya, apalagi namanya bagus). Sementara embel2 gelar Ph.D cukup di halaman dalam saja.”

“I go for no. 1, cuman gimana ya supaya nggak terkesan fotokopi. Jurus jitu pemasaran mutakhir? are you sure, sound a little bit cliche? Ethnography nya udah terkesan sangat elegan.”

“Paling bagus yang no 1. Clean, serius tapi berkesan enak dibaca..”

“Utk yang pertama, lebih cerah dan terbuka untuk siapa saja. “

Setelah dianalisis menggunakan Ethnomethodology juga Semiotik dan Tak Lupa Analisis Wacana…Pilihan jatuh No. 1, kenapa?? Karena Trend Cover Buku memang Simple seperti buku2nya Malcolm Gladwell Series.. Dari Font, Pemilihan Warna, Tata letak huruf jelas mencerminkan Si Penulisnya yg Memang Ahli di Bidangnya.. Yg terakhir, emg no.1 justru yg paling Eye-Catching dan bikin Penasaran pengen liat isinya seperti apa ;) ..”

“Saya vote no.1. tampak smart, simple, clean.. cuma biar tdk trkesan jadul, boleh salah satu tulisan (ethnography atw customer insights) atau block-nya diwarnai aja, tapi jgn jauh2 dr item, misalnya warna maroon atw coklat/biru tua.. ohya, gambar loop-nya juga agak mengganggu, kenapa ngga dikecilin aja? toh itu hanya pemanis.. kalo kegedean sperti buku kedokteran, atau bahkan terkesan cheap.. jadi melunturkan kesan smart dan elegan secara keseluruhan

“Saya rasa desain nomer 1 paling pas karena clean dan elegan serta tidak berkesan -maaf- buku murahan. Tapi nanti finishingnya minta material yang tebal, syukur2 tulisan di covernya bisa dicetak timbul.Kemudian bisa ndak gambar lup nya dihilangkan saja ? Karena lup menurut saya malah tidak mencerminkan isi bukunya dan mengurangi kesesuaian konsep clean designnya.”

“Nomor 1. Mungkin tambah 1 warna yg eye-catching seperti merah??? sebagai aksen, sedikit aja. Tapi black & white saja juga oke— I love it”


“numero uno Mba Amalia….but not using black, but another color….with vibrant and exciting one, just a color…. we look forward for the book”

“Saya kira nomor 1 tapi sebaiknya dipoles sedikit dengan aksen warna (mungkin merah atau jingga) — satu tarikan arsir saja — somewhere in between those letters.”

“Saya suka disain nomor 1. IMHO, secara keseluruhan disainnya terlihat clean & elegant…
Text “ethnography” nya lebih clear dibanding disain yg lain. Memang sengaja dibuat 2 baris ya, tanpa tanda hubung/dash?”

“Nomor 1, simple…tapi seharusnya kaca pembesarnya di kata “Ethnography.” terus mengenai tagline-nya “jurus pemasaran mutakhir” kayaknya klise banget…enggak banget deh…mendingan tentang metode ethnography itu, misalnya yang berkaitan dengan pengalaman dan pengamatan langsung ke target pasar…”

“Menurut saya, Mbak, untuk LAYOUT = nomor 1 yg paling keren, anggun, blocking-nya perfect, mungkin cuma ketebalan font utk kata ETHNOGRAPHY-nya lebih catchy kalo dipertebal 2-4 poin — utk mempertegas bahwa inti bahasannya adalah alat penelitiannya, dan bukan Customer Insights-nya.. utk WARNA, akan lebih menarik kalo warna maroon atau biru gelap (benhur/donker) yg dipakai sbg warna background.. ATAU background tetap putih, tapi tulisan ETNOGRAPHY-nya pake warna merah maron — supaya lebih “keliatan” ( warna huruf utk tulisan lainnya tetap hitam)..”


Sekali lagi thanks ya TEMANS (teman-teman). Sampai ketemu di acara launching buku “Consumer Insights via Ethnography” ini, di kampus London School of Public Relations” tanggal 28 Juli mendatang jam satu siang.

Analisa Branding Seputar Pemilu

Tulisan di kolom Bisnis minggu lalu tentang Prabowo: Brand Sukses Pemilu 2009 - sebenarnya adalah tulisan saya kedua seputar branding pemilu. Yang pertama adalah “Capres Alternatif: Distorsi Komunikasi Uncontrollable Media” dimuat di Warta Ekonomi. Waktu itu masih jamannya capres-capres alternatif, jadi bukan hanya Prabowo brand saja yang yang saya angkat, tetapi juga Sutrisno Bachir, Rizal Mallarangeng dan Yusril Mahendra.

Tulisan saya ini memang mengundang kontroversi, dari judulnya saja mungkin sudah banyak yang mengrenyitkan kening. Namanya juga judul, kalau nggak intriguing, kan nggak seru, nggak ada yang mau baca tulisanku. Tapi honestly apa yang saya angkat judul itu memang benar – bahwa dari segi branding, brand Prabowo perolehannya banyak banget dalam pemilu, banyak orang yang tadinya nggak tau jadi tau (awareness meningkat), kemudian banyak orang yang tidak mengerti proposisinya ekonomi kerakyatan, jadi mengerti, dan kemudian karena digabung dengan megawati, eh, pasangan Mega-Pro merebut 30% suara, ya itu jadi prestasinya brand Prabowo. Kalau sendirian (nggak pakai Mega), belum tentu kan bisa setinggi itu. Brand JK saja berat banget, tidak mencapai targetnya.

Catatan saya dalam tulisan ini sebenarnya cukup jelas mengungkapkan bahwa Brand Prabowo bukannya tanpa masalah. Seperti yang saya tulis di Warta Ekonomi sebelumnya, setelah saya lakukan riset pendalaman dalam media-media yang ditulis oleh konsumen (Consumer Generated Media), banyak sekali pihak-pihak yang masih mempunyai persepsi negatif terhadap brand Prabowo. Mungkin sampai saat inipun juga demikian. Makanya tidak heran, baru saja tulisan kolom saya dimuat, sudah ada 2 tanggapan keras dari pembaca kolom yang menyinggung tentang masa lalu brand Prabowo. Sudah saya ramalkan akan ada tanggapan seperti itu, tapi nggak apa-apa, karena itu juga sekaligus testing, bener nggak sih bahwa retained association yang saya katakan masih negatif dari brand ini memang masih seperti itulah adanya. Ya, ini kan alert atau masukan untuk brand team nya Pak Prabowo, dong, you have to do something — buktikan bahwa asosiasi itu tidak benar, kalau perlu Pak Prabowonya sendiri diminta klarifikasi (atau kalau sudah ya berarti masih kurang).

Anyway, mudah-mudahan tulisan di kolom itu tidak menggambarkan warna politik ku, lha memang tidak berpolitik kok.. cuma duduk di pager aja nih, sit in a fence, memperhatikan dan menganalisa brand-brand yang bertempur. Kalau pas pemilu sih jelas aku ikutan voting, tetapi tidak perlu dibahas dalam analisa branding, yang aku pilih brand mana, karena that is a personal preference, not academic point of view.

Selamat ikut berkomentar tentang brand Prabowo – brand JK dan brand SBY, so far kalau aku bilang ya cuman 3 brand ini yang menarik untuk didiskusikan strategi brandingnya.

Prabowo: Brand Sukses Pemilu 2009

Amalia E. Maulana

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, July 2009

“SBY boleh saja menang pemilu, tetapi di mata saya, dalam pencapaian branding, Prabowolah yang berkibar”.

Leo, student MM Executive di sekolah bisnis tempat saya mengajar, awalnya tidak sependapat dengan pernyataan saya di atas. Bukankah memenangkan pemilu adalah tujuan dari semua kampanye? Demikian argumetasi Leo.

Ini sama saja dengan mengatakan bahwa dari dua brand yang bertempur, yang cemerlang harus selalu yang mendapatkan penjualan lebih tinggi. Padahal tidak selalu demikian.

Dalam konteks pemilu – jika kita hanya fokus pada titik ini saja – mungkin benar yang dianggap sebagai  the ‘ultimate goal’ adalah perolehan suara terbanyak.  Tetapi dari sisi proses branding, sasaran brand belum tentu sama.

Pencapaian prestasi sebuah brand bisa saja di level peningkatan awareness, peningkatan positive attitude atau positive image, dan di level preference.  Pencapaian penjualan yang merupakan tahap akhir dalam proses hierarchy-of-effect sebuah komunikasi, tidak selalu menjadi prioritas utama.

Brand building bukanlah pertandingan lari jangka pendek 100 atau 200 meter. Untuk sebuah brand agar jadi pemenang jangka panjang, butuh ketangguhan lari marathon. Napas panjang, dan strategi brand membentuk equity yang kuat yang terarah dengan road map yang jelas.

Return on Investment dari sebuah kampanye brand harus dihubungkan dengan target atau sasaran periode tersebut.  Jika baru sampai tahap awal atau pertengahan, pengukuran keberhasilannya digambarkan dengan seberapa tinggi pencapaian brand equitynya, dan ini bukan jumlah penjualan (atau jumlah voters) semata.

- Brand Prabowo : Sukses

Saya kira Prabowo dan brand team nya cukup realistis dan apik dalam menyusun strategi brand jangka panjang. Siapapun dibalik pencitraan brand Prabowo, mengerti bahwa Branding is a process, dan ini diaplikasikan dengan baik.

Target Prabowo, seperti yang sudah ditebak banyak orang, bukanlah memenangkan pemilu tahun ini. Pemilu barusan hanyalah sebuah persinggahan yang sangat kritikal di dalam road map – grand strategy yang sudah disusun untuk pencapaian hasil maksimum di pemilu mendatang.

Prabowo tidak ngotot memicu untuk memperoleh voting terbesar (brand action). Fokus utamanya adalah kesadaran orang bahwa brand ini exist atau ada (awareness), disamping terus mengisi brand understanding melalui positioning ekonomi kerakyatan.

Sebuah brand yang kuat adalah yang memiliki atribut dan asosiasi positif. Ini sebenarnya Pekerjaan Rumah terbesar dari brand Prabowo. Brand team nya harus bekerja keras untuk menghapus atau minimal menutup asosiasi-asosiasi negatif yang masih muncul berkaitan dengan sejarah brand ini.

Ekonomi kerakyatan, memihak kepada buruh dan petani, adalah sebuah positioning yang memikat banyak kalangan masyarakat. Keberpihakan kepada rakyat kecil tentu menimbulkan apresiasi tersendiri, baik pada masyarakat yang terwakili kepentingannya, maupun untuk pemilih pemula yang tidak kenal Prabowo sebelum masa pemilu.

Ini bukan pekerjaan sederhana. Menurut banyak ahli komunikasi, lebih mudah membina citra brand dari nol, dibandingkan harus mengganti citra sebuah brand yang sudah punya endapan asosiasi tertentu.

Keputusan menjadi cawapres adalah keputusan strategis. Dengan strategi co-branding dengan Mega, Prabowo meluncur sebagai brand independen dengan pencitraan tersendiri. Lihatlah iklan pasangan Mega-Pro yang selalu menampilkan citra Prabowo sebagai brand partner, bukan sekedar bagian dari Mega.

Ini tidak sama dengan strategi brand SBY, dimana SBY tidak butuh lagi brand partner untuk memenangkan pemilu. Brand SBY secara independen sudah dalam posisi yang sangat kuat. Dalam proposisi yang ditawarkan oleh SBY-Boediono, brand SBY berada sebagai core brand – Boediono hanyalah sebuah elemen pendukung saja.

Menariknya, walaupun kalah suara, kekalahan Mega-Pro lebih disorot sebagai kekalahan Megawati, bukan Prabowo. Perolehan hampir 30% voters jelas sudah sebuah prestasi bagi Brand Prabowo. Awareness melesat ke atap, knowledge dan preferensi meningkat drastis.

Kedepannya, Prabowo harus terus mengisi kegiatannya secara konsisten dengan positioning yang diusungnya. Jika saat ini masih berupa pencitraan, masyarakat luas tentu butuh kerja nyata. Masyarakat menunggu bukti, sebelum benar-benar bisa mengkonversi simpatinya terhadap brand menjadi real action atau voting di kemudian hari.

- Musuh JK adalah waktu

Sekali lagi, branding is a process.  Bandung Bondowoso saja tidak mampu membangun 1000 candi dalam satu malam, untuk menuruti permintaan Putri Loro Jonggrang. Demikian pula dengan membangun JK sebagai sebuah brand. Butuh waktu.

Banyak yang mengatakan apa yang ditawarkan JK sebenarnya merupakan sesuatu yang baik, bahkan lebih baik bahkan daripada calon-calon lainnya. Sayangnya, brand adalah persepsi. Dengan branding dibentuklah persepsi.

Adakalanya persepsi di benak konsumen tidak berhubungan langsung dengan kualitas teknis produk tersebut.  Itu adalah penjelasan mengapa banyak produk yang kualitasnya biasa-biasa saja menang penjualannya dibandingkan produk yang secara teknis lebih unggul.

Dari segi tahapan branding, JK sudah masuk dalam tahapan tersulit dan kritikal yaitu tahap preferensi. Sebagian masyarakat memang sudah mulai aware dan cukup mengerti dan membeli proposisi JK. Tetapi, untuk mengubah preferensi dari SBY ke JK? Nanti dulu. Disini issuenya adalah : bermasalahkah existing brand yaitu SBY? Jawabannya tidak.

Brand SBY ada pada tahapan maintenance (oleh karena itu tagline “Lanjutkan” cocok dan mengena). Brand SBY sudah sampai pada tahapan awareness yang maksimum, knowledge yang maksimum. Jika sebagian dari yang aware dan mengerti itu berpindah ke lain hati, jumlahnya tidak akan cukup substantial karena mangkok awareness SBY sangat jauh melebihi mangkok awareness JK.

Sekarang kita sudah sampai pada era SBY tahap 2. Tugas SBY makin berat. Karena simpatisan JK dan Prabowo tidak akan tinggal diam. Mereka telah berhasil diyakinkan bahwa SBY tahap 1 bukan the best option.

Team SBY tahap 2 harus bekerja ekstra keras. Dengan perolehan 60% suara bagi SBY, bisa diartikan bahwa tagline “Lanjutkan!” tidak mempan bagi 40% suara yang masuk. Khusus untuk segmen yang satu ini SBY harus mengganti tagline dengan ”Saya Akan Buktikan!” Selamat bekerja, Pak.