Archive for June, 2009

Mengubah ’Point of Pains’ menjadi ’Point of Gains’

Tas kecil lucu berisikan Buavita rasa jambu datang tepat pada saat saya menulis kolom marketing pagi ini. Wow, surprise! Dilengkapi surat dari pemilik brand menyatakan terimakasih atas masukan yang saya sampaikan lewat blog beberapa minggu yang lalu.

Padahal saya masih ingat, hari dimana saya posting blog yang berjudul ’Brand Activation atau Deactivation?” menyangkut Buavita, suami saya memberikan peringatan via telpon, jangan sembarangan tulis tentang brand. Nanti dipenjara, lho! Itu kali pertama saya mengetahui kasus Prita vs Omni. Mendengar itu, saya sempat ’ngeper’ juga.

Tapi, saya putuskan untuk tetap memuat tulisan tentang Buavita. Terserah pemilik brand nya, mau melihat secara positif atau negatif. Yang penting saya tidak mengada-ada. Blog saya berisikan cerita tentang brand, kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan. Dengan menuliskan analisa brandingnya, diharapkan menjadi pembelajaran untuk siapa saja pembacanya.

Saya telpon suami, alhamdulillah, saya tidak dituntut, apalagi di penjara. Saya malah minum Buavita rasa jambu pagi ini.

Menyikapi Keluhan Pelanggan

Mendengar ungkapan ’Konsumen adalah raja’, ’Kepuasan pelanggan adalah segalanya’ pasti rasanya klise sekali ya? Sudah sering kita mendengar ungkapan ini disebut dan dibicarakan. Tetapi apakah semua perusahaan sudah memaknai ungkapan tersebut dengan benar? Saya ragu, karena masih banyak yang memajang ungkapan ini sebatas hiasan belaka atau baru sampai pada kumpulan kata-kata di visi misi perusahaan.

Buktinya, surat pembaca di media cetak sampai hari ini masih penuh berisikan keluhan tentang brand. Belum lagi, media-media milik konsumen sendiri yang sarat dengan cerita-cerita yang berisikan ‘consumer pains’, mengindikasikan bahwa konsumen belum diberi saluran yang tepat oleh pemilik brand untuk curhat langsung.

No news berarti good news…….Ayah saya selalu mengatakan ini pada saat saya minta maaf, sudah agak lama tidak menelpon beliau. Tidak mengapa kata beliau, karena kalau ada apa-apa pasti kamu telpon.

Analogi ayah saya tidak bisa diterjemahkan secara langsung dalam konteks interaksi konsumen dengan brand. ’No news’ dari konsumen bisa jadi ’bad news’. Hanya, beritanya saja tidak sampai ke pemilik brand secara langsung. Mengapa?  Karena konsumen tidak punya relationship dengan brand sekuat relationship saya dengan ayah. Dimana setiap ada ’point of pains’ yang dirasakan, saya akan curhat ke beliau.

Sebenarnya sebagian besar konsumen tidak bercerita apa-apa jika semua berjalan lancar, aman-aman saja, pengalaman dengan brand biasa-biasa saja. Analogi ayah saya masih relevan disini. Tetapi, begitu ada issue negatif,  ada ’pains’ yang dirasakannya tentang brand, ia akan menjadi terpancing untuk complain dan membeberkan ceritanya.

Lebih jauh analisa saya – hanya pengalaman yang ekstrem bagi konsumen yang membuatnya bergerak menceritakan sesuatu ke lingkarannya, ke teman-teman terdekatnya. Situasi ekstem pertama adalah, jika pengalamannya itu luar biasa menyenangkan. Lebih dari yang ia harapkan. Dengan kata lain, performance brand di atas expectation. Konsumen bukan saja mengalami kepuasan, tetapi sudah masuk ke dalam kategori ’delighted’, karena ’too good to be true’.

Pengalaman ekstrem lain, adalah, yang menyangkut ’pains’ atau ’ketidaknyamanan’ dengan pelayanan brand. Brand performance jauh di bawah yang ia bayangkan. Jika kita pancing sedikit saja, konsumen akan cenderung mampu bercerita panjang lebar, betah bercerita berjam-jam tentang pengalaman negatif yang lekat di benaknya.

Dalam riset consumer insights yang saya kerjakan untuk perusahaan, pengalaman-pengalaman ekstrem ini yang saya rangkum. Sangat senang dan sangat tidak senang dengan brand.  Mencari insights melalui Moment of happiness dan Moment of pains ini. Bukan saja dari pemakai brand, tetapi juga dari non-pemakai, karena kumpulan cerita konsumen selalu mengandung full insights.

Dari sini sebuah refleksi bisa dilakukan. Sebuah value gap bisa ditemukan. Salah satu tujuan riset adalah mengubah Point of Pains menjadi Point of Gains – merubah ancaman menjadi peluang. Ini menarik.

Pemilik brand yang mengerti pentingnya menggali insights dari consumer pains, malah sampai harus mengeluarkan biaya riset khusus untuk itu.  Karena itu, sangat mengherankan sikap pemilik brand yang ignorance terhadap keluhan pelanggannya yang dilontarkan langsung. Tidak perlu membayar biaya riset, informasi datang langsung ke hadapannya!

Dalam kasus Prita, saya menilai pemilik brand belum mengerti bagaimana mengolah Point of Pains menjadi Point of Gains. Prita adalah segelintir dari konsumen yang mau meluangkan waktu, untuk menuliskan cerita brandnya. Sebagian besar konsumen lainnya, mungkin sibuk dan tidak punya waktu untuk itu. Apakah ini berarti hanya Prita saja yang punya keluhan tentang brand?

Bila Omni bisa lebih bersikap consumer-oriented, justru Pains of Prita ini merupakan bahan meeting manajemen pembenahan mutu di internalnya. Titik-titik lemah rumah sakit bisa diuraikan satu persatu, dan dibahas bagaimana untuk mencegah hal yang sama terjadi lagi di masa datang.

Berapa banyak manajemen perusahaan yang bersyukur dan mengucapkan terimakasih atas keluhan yang disampaikan oleh pelanggan terhadapnya? Secara tulus – maksud saya, bukan sekedar ucapan terimakasih gaya lip service dan hanya berhenti sampai di bibir, dan tidak keluar dari lubuk hati yang paling dalam.

Dalam seminar saya tentang customer value management, saya menganjurkan kepada pengambil keputusan untuk mulai mengadakan brainstorming sessions secara internal, melihat diri sendiri terlebih dahulu, kira-kira issue positif negatif apa saja yang bisa kita bersama. Setelah itu, baru kita validasi ke eksternal – ke para stakeholders lainnya, apakah proses bercermin kita sudah sempurna, atau masih ada gap antara asumsi tentang diri sendiri, dengan persepsi di luar.

Memperbanyak kesempatan penggalian point of pains ini bisa membantu proses transformasi organisasi menjadi lebih consumer oriented.  Contoh sikap pemilik brand Buavita dalam menangani complain seperti cerita saya di atas bisa dijadikan pelajaran positif. Kesediaan saya untuk menuliskan lagi pengalaman berinteraksi dengan brand (kali ini pengalaman menyenangkan) adalah spontan saja. Konsumen juga manusia……punya hati punya rasa.

It is hard to say I’m Sorry – Omni and Buavita ways

Pikir-pikir, cara yang paling ampuh untuk mendekati consumer yang complain adalah langsung menghadapinya, menjelaskan duduk permasalahan, minta maaf (kalau memang keliru..) secara tulus. Cara-cara simpatik ini mudah dan murah, kok. Tidak membutuhkan orang-orang yang jago PR untuk melakukan ini on behalf of the company.

Orang-orang biasa yang bekerja di perusahaan, pun pasti bisa. Minta maaf kan pekerjaan kita sehari-hari. Katanya manusia itu tempatnya salah.. dan hanya dengan sikap assetif kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak. Sama seperti perusahaan, sekali-sekali buat kesalahan, wajar… ya minta maaflah. gampang, kan?

Tetapi seperti kata Bryan Simpson dalam lagunya… “It’s hard to say I’m sorry…” Ini terlebih lagi bila…you are a big, powerful corporation.. the mindset is “back-off.. jangan macem2 deh, berani2an”.

· Omni

Sayangnya justru bukan dengan mengatakan I am sorry yang dilakukan oleh RS Omni terhadap Prita, tetapi balik menyerangnya. selain pakai tangan2 peradilan, juga dengan mempublikasikan issue ini di harian2. Kalau iklan satu halaman di Kompas itu bukan publikasi besar-besaran, lalu apa namanya? Jadi sebenarnya siapa yang mencemarkan nama baiknya siapa?

Saya heran, mengapa dibilang Prita mencemarkan nama baik RS Omni.. kalau saya bilang, RS itu justru yang mempercepat pencemaran nama baiknya sendiri dengan mempublikasikan konfliknya dengan konsumen. Dalam Public Relations Communication, dalam managing crisis, setiap berita negatif harus diredam, bukan disulut.

Meminta maaf itu mudah, dan murah. Tapi persoalan terbesarnya adalah melawan EGO diri sendiri. Maukah perusahaan besar dan hebat meminta maaf kepada konsumennya dengan legawa, berbesar hati. Sayang sekali Omni menempuh jalan yang sangat tidak dianjurkan oleh PR Expert manapun di dunia ini, yaitu ikut menduplikasi dan menyebar luaskan berita buruk tentang dirinya sendiri.

· Buavita

Anyway, tidak semua perusahaan seperti itu.

Unilever kurang apa besarnya? Dan kurang apa berkibarnya? Kita perlu belajar dari cara-cara perusahaan yang consumer oriented seperti Unilever ini dalam menangani consumer complaint.

Sebulan lalu saya menulis blog yang berjudul “Brand Activation or Deactivation? ..tentang program activation nya Buavita yang menurut saya implementasinya kurang pas. It is not a big deal sih sebagai konsumen saya nggak kecewa2 amat. Hanya saya menuliskannya di blog dalam kapasitas sebagai brand reviewer.. sbg pembelajaran buat brand owner2 untuk lebih memperhatikan implementasi brand activation.

Karena biayanya brand activation itu lumayan mahal, kalau nggak efektif, ya berarti pemborosan.

Interestingly, Buavita memandang masukan saya sebagai salah satu stakeholdersnya ini sebagai hal yang positif. Senior Brand Managernya, Kathryn Pakpahan, menulis surat khusus menyatakan ucapan terimakasih atas masukan saya tersebut. Dan sebagai konsumen Buavita yang loyal saya mendapat kiriman produk..

Minta maaf itu mudah kok, murah lagi. So it should be easy to say I am sorry… Brand owners, pelajaran Omni adalah pelajaran yang sangat mahal. Winning consumers heart dalam arti yang sebenarnya harus menjadi agenda di perusahaan, terutama perusahaan yang lebih dominan unsur jasanya.

Konsumen yang kecewa akan menuliskan kembali brand experiencenya (revisi) dan hasilnya, everybody’s happy. Win-Win.

Report: Nielsen Workshop

Alhamdulillah, workshop Marketing for Non-Marketers berjalan dengan lancar, dua hari, di Crowne Plaza, minggu lalu. Pesertanya lumayan bervariasi dari berbagai industri, dari BCA, Bentoel Prima, Bintang Toedjoe, Carrefour, Djarum, DuPont, Frisian Flag, GE Money, Sampoerna, Holcim, Indofood,  Johnson Home Hygiene, KAO, Phoenix Mkt Research, Cuzzon, Reckitt Benckiser, Salim Ivomas (cooking oil), SHL Indonesia (human resources consultant), Sinar Sosro, SOHO, Telkomsel, Tudung Putra-Putri Jaya (Garuda Food), Ultra Prima Abadi (OTG). Ini listnya mengikuti daftar absensi.

Workshop kali ini dihadiri lebih banyak oleh research people – karena memang pemikiran kami, non marketers mana yang paling urgent paling butuh n perlu marketing principles – adalah teman-teman dari research, terutama yang jabatannya Research Analyst, Research Manager, Consumer Insight Manager, dll. Ini menyangkut email blast yang dikirim oleh panitia – lebih banyak ditujukan ke teman2 researcher.

Sebenarnya kalau dari segi modul, tidak ada eksklusivitas topiknya khusus researcher, jadi teman dari divisi lain (Non-Marketers) dan marketing pemula yang hadir dalam acara ini, termasuk dalam target audience workshop – sesuai dengan topik yang dibawakan, yaitu pencerahan prinsip-prinsip dasar marketing.

Dari feedback yang diberikan, baik secara lisan dan tertulis, most of the participants enjoy dan memperoleh pencerahan sesuai tujuannya (komen ini bias banget ya, soalnya yang cerita pembicaranya.. haha)

Kesulitan dalam acara workshop seperti ini, adalah tidak adanya pre-assessment, artinya penilaian awal sejauh mana sih sebenarnya tiap individu pemahamannya di bidang marketing basic. Sehingga dalam mendisain workshop, yang menjadi bayangan saya adalah rata-rata audience, mewakili populasi terbesarnya.  Karena itu, beberapa participant yang sudah lebih senior menyatakan merasa kurang ‘tinggi’, saya perlu ditambah materi yang lebih advance lagi…; tetapi sebaliknya ada di pihak lain, non-marketers yang benar-benar belum mengenal marketing itu spt apa,  menyatakan,” wah.. Bu, kayanya topiknya sudah advance, saya mengharapkan ini semacam ‘marketing for dummies’…

Well, well.. di dalam sebuah populasi, memang selalu ada outliers, dan ini bisa diterima, masukan ini membuat saya dan teman2 Nielsen menjadi lebih paham bahwa komunikasi tentang outline workshop (sebenarnya sudah ada, lengkap dan detail)..perlu dijelaskan kembali kepada prospect, sehingga semua peserta workshop tau koridor yang akan dideliver.

Berita baiknya, bulk of the audience, memperoleh pencerahan tentang prinsip marketing yang dideliver dalam workshop — dan ini sangat melegakan. Karena memang itu tujuan utama workshop.

Terimakasih untuk Pak Yongky Susilo, Ibu Catherine Eddy, Pak Hendra Gunawan dan Mbak Winda Ekariyani dari Nielsen sebagai penyelenggara workshop dan yang punya acara. Juga untuk Pak Vidy Nur M. yang menjadi guest speaker — juga telah membuka wawasan dan pemahaman peserta tentang aspek-aspek penting dan praktis yang dibutuhkan oleh marketer.

Tentang peserta- kelihatannya chemistry antar kalian OK banget, terutama di hari kedua saya amati makin akrab – selamat menjalin network baru.

It’s wonderful being a facilitator for such excellent audiences like you guys.. Nice meeting you all… Keep in touch.

Pencerahan: classical topic with new touch

Minggu depan saya akan running workshop: judulnya ‘Marketing Principles for Non Marketers” – Rabu dan Kamis, 17-18 Juni di Crowne Plaza. Penyelenggaranya kali ini adalah Nielsen. Seru juga bisa berkolaborasi dengan perusahaan riset kelas dunia. Dulu jaman kerja jadi brand manager, saya termasuk yang cukup rajin datang workshopnya Nielsen. Rasanya waktu itu nggak kepikir bahwa one day, saya justru yang pindah posisi. Mudah2an bisa memberikan pencerahan yang benar, dulu udah dapat ilmu banyak dari Nielsen.. sekarang time to share…

Kalau lihat judulnya kayanya bosen banget ya.. Marketing for Non Marketers…tapi sebenarnya ini topik Klasik, sepanjang jaman masih diperlukan, terutama karena dalam setiap era, pasti ada newbees di bidang marketing (para maketeting trainee), atau juga professional di divisi lain yang perlu pencerahan tentang prinsip2 marketing. Yang pasti walaupun topiknya klasik, tapi sudah dikemas dengan situasi kekinian yang relevan, new touch..lah.

Ide untuk pencerahan ini sebenarnya sebagian datang dari teman2 atau client2 marketing yang seringkali mengalami kesulitan dalam kerjasama dengan divisi non-marketing, baik itu di finance, di R&D dan di operation. Akhirnya ujung-ujungnya konflik atau nggak jalan dengan baik koordinasi pekerjaannya. Sederhana sebenarnya akar permasalahannya, yaitu karena bahasanya belum sama jadi jaka sembung deh, alias gak nyambung…

Jadi gunanya workshop ini selain untuk peserta yang memang bukan dari divisi marketing, kegunaan tidak langsungnya adalah untuk teman2 marketing juga, biar punya sparring partner yang sudah punya frekuensi gelombang suara marketing yang sama. Hidup jadi lebih harmonis dan lebih enak duduk satu meja dengan teman2 divisi lain.

Karena yang baca blog ini rata2 Marketer, jadi ini special request dari saya, Boleh dong promosikan workshop ini untuk koleganya…sekali-sekali asking you a favor. Thanks a million.

Ditunggu yang mau hadir acara minggu depan, kita bisa kopi darat.

Salam.

PLN dalam perubahan

Senang bisa bertemu langsung dengan para leaders PLN; menjadi fasilitator pada Executive Education Program mereka (penyelenggara TASS Consulting) – ini adalah kegiatan kecil dalam kerangka besar change management di PLN.

Benarkah PLN nggak perlu marketing? Kalau mau dilihat dari karakter captive market dan tidak ada pesaing nya, betul rasanya tidak perlu marketing.

Tetapi, karena marketing itu sangat luas.. maka selalu ada kesempatan untuk menambah wawasan dan mempertajam cara untuk memperbaiki organisasi. Saya pilih dua fokus relevan yaitu dari Customer Insights dalam Services Marketing dan B2B Marketing.

(1) Services marketing, karena bagi PLN yang dijual adalah kombinasi tangible dan intangible benefits. Maka, untuk konsep services, ada hal-hal spesifik yang perlu diketahui bagaimana untuk memasarkan jasa. Apa saja yang penting untuk diperhatikan. Feedback konsumen sebaiknya diserap secara kontinyu, tidak adhoc basis saja. ‘Suara konsumen’ sebenarnya bisa digali secara eksploratif dalam keseharian organisasi, customer insights ada dimana-mana.

(2) B2B marketing, karena selain punya pelanggan konsumen, PLN masih punya opportunity untuk membesarkan segmen B2B atau corporate/institusi.  Dengan decision making process yang lebih kompleks daripada pelanggan biasa, B2B marketer harus lebih mengenal ‘peta issues’ di tiap-tiap accountnya, dengan menjaring insights customer.

Dengan mengerti secara holistik customernya – perusahaan bisa mengatur prioritas membenahi issues dan punya strategi perencanaan pemasaran dan bisnis yg lebih sharp dan terarah.

Ibu Dewi Setiani, salah satu leader di bidang CSR, satu-satunya wanita dalam pelatihan batch yang sekarang ini (catatan: baik bgt dan ramah – asli nih!), banyak memberikan pencerahan selama jeda istirahat makan siang. Beliau menyatakan bahwa opportunity PLN untuk menjadi lebih baik lagi, terbuka luas.

Peserta training sangat bersemangat di kelas, group dynamic tinggi. Sehingga seharian penuh bersama mereka nggak terasa cape. Sukses untuk PLN era baru. Sebagai salah seorang konsumen PLN, saya menantikan PLN yang lebih baik lagi.