DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA May 28, 2009
Hari Minggu santai.. ke Carrefour. Lagi mau cari buavita rasa mangga titipan anak, eh di dekat raknya ada tim yang sedang mengadakan free sampling.. OK banget ‘kereta’ produknya, well-design. Sayang nggak bw kamera padahal menarik.
Free drink siang-siang, Lumayan juga, biar tau rasa-rasa lain, kan. Kalau Buavita nya sendiri memang sudah rutin beli, yang orange dan mangga.
Enak rasa jambunya. Ya udah aku putuskan untuk beli 2. Karena lagi berhadiah juga jadi sekalian mau beli beberapa varian. Kata SPGnya wah gak ada tuh Bu rasa jambu lagi habis stoknya. Hah? kalau lagi habis stocknya kok tadi saya justru ditawarin sampling rasa jambu? Yah, gimana lagi Bu…. (tampak2 seperti curhat ceritanya), dari kantornya memang begitu, kita pokoknya dikasi stock sample nya yang rasa jambu. Koordinasinya memang kurang.
Wah, repot nih, kalau tidak mengerti prinsip brand activation, bisa-bisa activity ini menjadi beralih fungsi ke brand deactivation.
Mengaktifkan minat konsumen terhadap produk tertentu berarti ya secara operational sudah harus siap. Apalagi urusan stock produk.. harus dimonitor banget.
Saya tanya, kenapa nggak khusus hari ini free samplingnya yang jeruk aja.. biar kalau mau beli kan stock di raknya banyak. (unfortunately rasa mangga yang rencananya mau aku belipun saat itu juga kosong). Jadi kan lebih make sense, gitu loh… masa free drink udah seneng konsumennya mau beli, nanti aja Bu, kalau belanja lagi bisa beli yang rasa jambu (dengan catatan: kalau nggak sedang kosong lagi maksudnya hehe).
Sebagai konsumen, ya too bad aja sih kupikir. Kalau datang lagi, nggak janji ya masih ingat beli Buavita jambu. One opportunity lost.. and probably there were more and more prospects like me that day.. yang suka rasanya tapi belinya tunda dulu sampai barang ada.
Dalam brand activation — mempromosikan barang yang stock out adalah pemborosan resources! Brand deactivation seperti ini harus dimonitor secara ketat oleh pemilik brand. Sayang kan, budgetnya pasti tinggi.
DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA May 28, 2009
June 6th, 2009 at 12:26 pm
kiat-kiat biar braand activation gak berubah menjadi brand deactivation gimana ya bu?
June 20th, 2009 at 5:23 pm
Mas Isnan,
Agar brand activation tidak berubah menjadi deactivation, kuncinya adalah monitoring dan kontrol dalam pelaksanaan/implementasinya.
Banyak dari brand activation plan itu excellent di atas kertasnya, tetapi karena tidak diikuti dengan baik pelaksanannya, mulailah terjadi penyimpangan-penyimpangan. Adakalanya bukan karena disengaja, tetapi karena front liners nya tidak terlatih dan tidak handal. Sehingga mereka menterjemahkan sendiri tugas-tugas mereka.
Salah satu saran saya adalah traning yang baik, bekali front liner dengan knowledge cukup tentang product dan juga penjelasan tentang objective program, dll.
June 21st, 2009 at 2:05 am
bagaimana kaitannya dengan strategi “pull” dalam marketing bu? saya ingat beberapa waktu lalu pengajar saya pernah mencontohkan Fanta yang sudah jor2an beriklan tetapi produknya belum ada di pasaran (kasus Fanta kemasan botol baru). menurut pengajar saya, itu menjadi suatu strategi “pull” karena akan membawa (calon) konsumen ke arah penasaran, sehingga nantinya jika produk telah ada di pasaran, konsumen langsung memiliki hasrat untuk memilikinya
Thanks, good review bu
June 21st, 2009 at 11:41 pm
Sebenarnya pull harus dibarengi dengan push marketing (tersedianya produk dengan display menarik di toko2). Pull marketing bagus, memang create demand, tetapi demand itu adakalanya baru berhenti sampai di kepala dan keinginan dalam hati saja. Jika pull marketing gaya ini tidak dibarengi dengan activation langsung bertemu dengan prospek, akibatnya keinginan untuk membeli tersebut ya hanya sebatas pada keinginan saja, tidak terkonversi menjadi penjualan.
Pada masa dimana iklan massive belum tentu ’sampai’ ke target audience, peranan brand activation menjadi dua kali lebih penting — ini yang disebut dengan sales-oriented marketing program.
July 23rd, 2009 at 2:05 pm
Dear Ibu Lia,
Ada kiat untuk membuat Activation ’semacam apa’ yang ‘cocok untuk siapa’? misalkan Produk layanan telekomunikasi untuk komunitas pekerja di sebuah perusahaan(target area).
Terima kasih
July 26th, 2009 at 1:10 am
Ben, usul saya mulai dulu dengan mengerti dan mendalami seperti apa sih karakteristik dari target audience tersebut. Apalagi kalau ini dalam komunitas, biasanya punya shared interest tertentu. Kalau kita sudah mengenal karakteristik, brand activation yang bagaimana yang cocok adalah yang disesuaikan dengan ‘gaya’ mereka, dari segi bahasanya, dari segi komunikasinya, yang penting kegiatan activasi ini harus melibatkan mereka, sehingga akan terjadi interaksi yang nyata antara brand dengan target audience.
July 31st, 2009 at 9:43 am
bu,gimana melakukan brand activation,sementara klien inginkan budgetjauhlebih rendah daripada yang sudah di estimasi
July 31st, 2009 at 2:34 pm
Hallo Mas Ari, mungkin ada baiknya dikembalikan ke objective communication nya dulu, apa yang paling penting yang ingin diperoleh dari brand activation activity yang sedang dirancang. Adakalanya terlalu banyak objective yang ingin digarap dari sebuah brand activation plan. Kemudian kalau terbentur oleh budget, perkecil scope dari kegiatan, misalnya jumlah acara dikurangi, atau jumlah titik kegiatan dikurangi, atau periode waktu diperpendek. Client juga perlu diajak berdiskusi tentang prioritas, sehingga bisa dipersempit scope berdasarkan prioritas tersebut.
September 8th, 2009 at 3:30 pm
bu, saya mau tanya.. apakah ada kesamaan (overlap) dari brand activation dan cross selling?
terima kasih..
September 8th, 2009 at 10:41 pm
Hallo Richard,
Brand activation adalah kegiatan dari sebuah brand untuk mengaktifkan “brand’ yang sudah ada di benak dan hati konsumennya, agar menjadi kegiatan yang berhubungan dengan sales (dengan kata lain : brand nya jadi dibeli, nggak cuman dikagumi aja).
Cross Selling melibatkan lebih dari satu produk. Artinya, bila ada satu brand yang sudah berhasil, kemudian perusahaan berusaha menjual brand lain ke konsumen yang sama.
Contoh: Nestle yang sudah punya customer base untuk produk Nescafe, kemudian mencoba untuk menjual coklat Kit-Kat ke customer base yang sama.
Atau, Toyota Corolla yang juga sekaligus menjual produk asuransi mobil dari Toyota Astra Finance..
October 8th, 2009 at 5:43 pm
Saya lagi iseng2 search di google tentang APAI sampai nyasar ke Blog Ibu ini… begitu baca postingan yang ini, langsung ngakak… hahahaha
Sebuah brand besar kok bisa2nya tak memperhatikan detil seperti itu ya, hmm kemungkinannya antara sang brand manager nya yang tidak detil, atau controlling nya tidak sampai ke lapangan…