Archive for May, 2009

Hati-hati pencemaran nama baik?

Wah, serem juga nih kasus konsumen complain salah satu rumah sakit mewah, yang kemudian dipublikasikan ke consumer generated media – CGM (blog, milis, dkk, pokoknya any CG media) – dan berbuntut dituntut pencemaran nama baik dan akan masuk penjara. Turut berkabung.

Sebagai konsultan brand and marcomm saya selalu menganjurkan bagi brand owner untuk selalu alert dengan apapun yang ditulis oleh konsumen. Apapun yang dikeluhkan atau ditulis, walaupun sangat berat sebelah karena one-sided perspective, pasti ada benarnya, somehow. Jadi lebih baik introspeksi ke dalam, dan cegah jangan sampai terulang lagi. Jualan services memang 100 kali lebih sulit daripada jualan produk biasa. Tanya aja marketing managernya rumah sakit manapun, pasti ngerti deh soal ini.

Seharusnya sikap brand owner lebih elegan. Tidak menunjukkan power lewat jalur hukum pula – seperti ini. Dengan pendekatan yang simpatik, siapapun tentu akan luluh, dan bisa diminta untuk merevisi tulisannya sendiri. Pemadaman api yang baik adalah dengan air, dan air itu bisa dialirkan kepada konsumen yang complain, kalau yang punya brand cukup sensitif untuk itu.

Lah, kalau ini, justru menimbulkan kontroversi, dengan menyiram api dengan minyak….makin tinggi apinya.

Sekarang sudah jamannya web 2.0 dan horizontal marketing. Perlu disadari hal itu.  Kan tidak mungkin akan membendung CGM (consumer generated media) dengan cara-cara konvensional seperti jaman dulu dimana media aja dibreidel gara-gara nulis nggak sesuai dengan maunya pejabat. Apakah menuntut blogger yang menulis kejelekan sebuah brand akan membuat orang lain menjadi simpatik?  Dalam Public Relations justru penting meredam issue, bukan memperpanjang issue. Semakin dibahas seperti sekarang berarti nilai PR nya makin tinggi, dan dampak negatifnya jadi lebih luas dari kalau kita ukur sebelum issue itu ada. Sebagai contoh kecil, saya sendiri nggak aware dan nggak masuk radar cerita ttg rumah sakit itu sebelum issuenya dibesarkan oleh actionnya brand owner sendiri.

Perenungan: Saya baru saja selesai menulis 2 short notes di blog (1) brand activation or deactivation, (2) takluk pada bolu — ada 2 brand yang dibahas, satunya sisi baik dan satu lagi sisi buruk.  Tujuannya satu sih, pembelajaran buat semua brand owner yang kebetulan baca blog ku. Hmm.. nggak akan dipanggil sidang pencemaran nama baik brand kan gw? Aduh, mak.. hare gene…

Takluk pada Biskuat bolu

Takluk deh ama rayuan SPG Biskuat .. namanya Cindy. Rayuannya dimulai dengan kata-kata yang enak didengar.. Bunda.. anaknya umur berapa nih Bunda.. dst, dst.. dan kemudian tanpa terasa sampailah kita digiring ke stand nya Biskuat. Diminta beli bolunya langsung 10 buah, no issues.. suruh bayar dulu lalu balik lagi ke stand.. boleh boleh saja, yang penting Emir ku boleh foto sama Om Badut.

Brand activation ini efektif. Konsumen langsung tergiring ke stand, anaknya senang, involved, sekaligus udah nyobain juga karena beli banyak sekaligus.

Brand Activation or Deactivation?

Hari Minggu santai.. ke Carrefour. Lagi mau cari buavita rasa mangga titipan anak, eh di dekat raknya ada tim yang sedang mengadakan free sampling.. OK banget ‘kereta’ produknya, well-design. Sayang nggak bw kamera padahal menarik.

Free drink siang-siang, Lumayan juga, biar tau rasa-rasa lain, kan. Kalau Buavita nya sendiri memang sudah rutin beli, yang orange dan mangga.

Enak rasa jambunya. Ya udah aku putuskan untuk beli 2. Karena lagi berhadiah juga jadi sekalian mau beli beberapa varian. Kata SPGnya wah gak ada tuh Bu rasa jambu lagi habis stoknya.  Hah? kalau lagi habis stocknya kok tadi saya justru ditawarin sampling rasa jambu? Yah, gimana lagi Bu…. (tampak2 seperti curhat ceritanya), dari kantornya memang begitu, kita pokoknya dikasi stock sample nya yang rasa jambu. Koordinasinya memang kurang.

Wah, repot nih, kalau tidak mengerti prinsip brand activation, bisa-bisa activity ini menjadi beralih fungsi ke brand deactivation.

Mengaktifkan minat konsumen terhadap produk tertentu berarti ya secara operational sudah harus siap. Apalagi urusan stock produk.. harus dimonitor banget.

Saya tanya, kenapa nggak khusus hari ini free samplingnya yang jeruk aja.. biar kalau mau beli kan stock di raknya banyak. (unfortunately rasa mangga yang rencananya mau aku belipun saat itu juga kosong). Jadi kan lebih make sense, gitu loh… masa free drink udah seneng konsumennya mau beli, nanti aja Bu, kalau belanja lagi bisa beli yang rasa jambu (dengan catatan: kalau nggak sedang kosong lagi maksudnya hehe).

Sebagai konsumen, ya too bad aja sih kupikir. Kalau datang lagi, nggak janji ya masih ingat beli Buavita jambu. One opportunity lost.. and probably there were more and more prospects like me that day.. yang suka rasanya tapi belinya tunda dulu sampai barang ada.

Dalam brand activation — mempromosikan barang yang stock out adalah pemborosan resources! Brand deactivation seperti ini harus dimonitor secara ketat oleh pemilik brand. Sayang kan, budgetnya pasti tinggi.

Artikel: Berteman dengan Lawan

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”?? ??”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face {font-family:”@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> Amalia E. Maulana

Bisnis Indonesia Minggu, 22 Mei 2009

Banyak pemimpin pasar yang mengabaikan pentingnya membenahi situasi kategori produk yang masih penuh masalah. Kesibukan di pasar difokuskan pada bertempur melawan pemain lainnya. Padahal kedua aktifitas ini (membereskan persoalan kategori dan membendung pesaing) bisa dilakukan secara simultan.

Beberapa kategori produk tidak bisa bertumbuh secara baik karena masih banyak hambatan yang terkait dengan image atau asosiasi kategori tersebut – dan tidak ada pemain yang turun tangan untuk membereskannya.

Jika pemain kecil tidak punya dana cukup untuk berjuang membersihkan image negatif dalam kategori, bisa dimengerti. Tetapi, bagi para pemimpin pasar, saya anggap ini adalah tanggung jawab ‘sosial’. Bagi yang menikmati pangsa pasar terbesar, haruslah ada dana untuk menjadi lokomotif perubahan kategori produk menjadi lebih baik lagi. Rewardnya sudah jelas. Jika kategori produk bertambah baik reputasinya, yang memperoleh manfaat paling banyak adalah produk leader yang awarenessnya paling tinggi.

Sebagai contoh, pada awal meluncurnya susu cair dalam botol plastik di Indonesia pada tahun 1991, kategori baru ini mengalami hambatan. Produk dipersepsikan mengandung pengawet. Butuh waktu yang lama, kesabaran yang terus menerus dan konsistensi dalam komunikasinya bagi pemimpin pasar untuk bisa menepis kekuatiran konsumen terhadap produk jenis baru seperti ini. Kita bisa lihat hasilnya. Penetrasi produk susu cair dalam botol termasuk sangat cepat perkembangannya. Berbagai jenis merek bermunculan karena masalah kritikal sudah teratasi. Kepercayaan terhadap kategori tinggi.

Di Australia, kampanye pemasaran bertajuk “We Love Our Lamb” yang dilakukan oleh gabungan peternak telah berlangsung sejak tahun 2000 hingga kini, terutama gencar disuarakan pada saat pesta Australian Day. Keberhasilan nyata dari usaha ini bisa dirasakan. Konsumsi daging kambing kembali meningkat secara nyata. Jika dahulu daging kambing jarang digunakan sebagai menu barbecue, sekarang hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan yang umum bagi orang Australia.

Ini bukan satu-satunya contoh. Di banyak textbook pemasaran, selalu diangkat kasus klasik, kampanye ‘Got Milk?’ yang dimulai sejak tahun 1993. Kerjasama erat antar stakeholder pasar susu yaitu industri pengolahan susu dan peternak yang punya tujuan bersama, mengatasi persoalan dalam kategori produk. Iklan ini cemerlang dan sukses meningkatkan konsumsi susu sapi di Amerika setelah menurun terus selama 20 tahun sebelumnya.

Di Indonesia, konsumsi susu belum pernah sangat besar. Selain harganya memang mahal, ada faktor kebiasaan juga. Kebiasaan minum susu, turun sangat drastis menjelang anak menjadi remaja dan dewasa. Untuk mendidik pasar tentang pentingnya minum susu di Indonesia, tidak bisa hanya dilakukan secara sendiri-sendiri oleh satu dua perusahaan susu.

Tahun 2008 yang lalu digencarkan kampanye “Sadar Minum Susu” yang dikerjakan secara bersama oleh para beberapa produsen susu cair – Susu Ultra, Frisian Flag, Indomilk, Real Good, Susu Juara, Susu Anlene dan didukung Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (PERWATUSI). Tujuannya banyak; Selain meningkatkan konsumsi susu nasional, kesejahteraan peternak sapi perah akan menjadi lebih baik. Kegiatan ini bagus sekali. Sayang gaungnya tidak cukup luas, dan tidak ada kontinuitas untuk mendukung keberhasilan kampanye.

Berteman dengan Lawan

Untuk kategori produk yang masih relatif kecil penetrasi di pasar dan masih harus berjuang, sudah seharusnya pemimpin pasar mempunyai inisiatif membereskan masalah kategori. Jangan menjadi pemimpin pasar yang sibuk menghalangi pemain baru yang masuk dalam kategori. Memotong dan memojokkan pemain baru secara langusng dan tidak langsung. Ini tidak kondusif. Karena semua asosiasi negatif yang menyangkut kategori masih butuh digerus bersama. Intinya, jangan menambah persoalan dalam kategori yang masih bermasalah.

Sekedar contoh. Pasar TV berlangganan (TV kabel) di Indonesia belum berkembang sesuai potensinya karena masih banyak resistensi di non-pelanggan. Salah satu penyebab kurang pesatnya pertumbuhan adalah karena Indovision sebagai pemimpin kurang agresif dalam mendidik pasar, tidak cukup memberikan alasan mengapa konsumen harus membayar acara TV jika ada yang gratis. Sebagai lokomotif penetrasi pasar, seharusnya Indovision menjadi corong kategori, mengkomunikasikan secara terus menerus dan konsisten, apa hal terbaik yang ditawarkan oleh TV berlangganan, yang tidak diperoleh dari saluran TV konvensional biasa.

Kritik membangun yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini kepada pemimpin pasar adalah untuk jangan terlalu cepat mengkomunikasikan ‘the best in category’ pada kategori yang masih relatif rendah penetrasinya.

Dengan tagline “bukan yang lain” oleh Indovision, semangatnya adalah “I am the best in this category”. Mengapa tidak memilih tagline yang menggambarkan benefit produk ini dibandingkan TV tidak berbayar? Jika non pelanggan bisa melihat benefit dari produk/jasa yang ditawarkan, mereka akan mempertimbangkan Indovision sebagai brand yang paling mereka ingat diantara yang lain. Tingkat confident untuk memilih Indovision pasti lebih tinggi dengan sendirinya.

Contoh lain. Kegiatan kampanye bersama seperti IB- Islamic Banking, yang secara berkolaborasi memberikan pendidikan tentang bank syariah, adalah sebuah kegiatan yang baik untuk terus mendidik pasar bank syariah. Menjawab banyak pertanyaan yang masih bersimpang siur tentang apa bedanya bank syariah dengan bank konvensional.

Sayang sekali pemimpin pasarnya belum seratus persen kooperatif, karena dengan tagline yang berbunyi “Pertama, murni syariah” – secara tidak langsung bank Mualamat mengatakan bahwa bank nya lebih baik dari bank syariah lainnya. Murni atau tidak murni syariah sebenarnya bukan issue utama mengapa orang belum bergabung ke bank syariah. Konsep syariahnya sendiri yang belum dimengerti dengan baik. Jadi kurang tepat jika pemimpin pasar sudah mendeklarasikan ‘the best in category’. Pilih tagline yang memberikan semangat juang melawan kategori bank konvesional, bukan sesama syariah.

Penutup

Jika masalah kategori masih banyak, tunda dulu persaingan antar pemain dalam kategori yang sama. Jadikan lawan sebagai teman. ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’. Dengan persatuan, kategori akan menjadi solid. Jika pasar sudah terbentuk secara nyata dan substantial besarnya, maka disanalah perebutan pangsa pasar antar pemain menjadi lebih relevan untuk dibahas dan dikerjakan.

Ayo belajar menjadi pemimpin pasar yang bijak.

Berteman dengan Lawan!

Siapa mau berteman dengan lawan? Ah, yang mboten-mboten aja sampeyan. MungkinAnda berpikir demikian membaca judul blog ini.

Dalam konteks membesarkan sebuah kategori produk, kita butuh persatuan antar brand yang bertanding. Jadi, lawan harus dijadikan teman. Jangan buru-buru bertanding — di pending dulu pertempurannya sampai sudah besar kategorinya. Disitu kita transformasi agar ‘teman’ dijadikan lawan kembali. Tapi jangan sekarang-sekarang dong..dimana kita masih saling membutuhkan.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Pribahasa yang udah nggak aneh dan bosen banget kali ya dengernya. Tapi masih banyak yang mengabaikan prinsip2 dari pribahasa tadi. Persatuan antar brand dalam satu kategori produk kelihatannya masih dipandang aneh. Lho, bukannya di pasar kita harus bertempur satu dengan lainnya? Mood menggempur kompetitor ini yang harus rada dikikis untuk produk-produk yang masih tergolong baru di pasar.

Misalnya, Indovision, untuk tv prabayar, jangan heboh deh nglawan tv berbayar lainnya. Tugas membesarkan kategori masih banyak. Indomie — nggak usah panik, nglawan Mie Sedaap — karena kesempatan membesarkan kategori masih besar. Consumption per capita instant noodle di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara oritental lainnya. Penetrasi pasar masih tinggi opportunity nya, terutama jika image unhealthy dalam kategori ini bisa dikikis dengan inovasi produk2 baru.

Contoh lain, Pasar syariah di Indonesia yang juga masih bertumbuh, juga membutuhkan kekompakan para pemainnya untuk saling support mengatakan bahwa syariah is better than conventional bank. Bank syariah Bukopin yang baru spin off dari Bank induknya juga perlu melihat bahwa tidak bisa membesarkan pasar sendirian, menerobos masalah2 yang masih dominan dalam kategori. Baca artikel tentang Syariah Bukopin di sini.

Mungkin ada cara yang lebih baik daripada mengiklankan “Saya lebih syariah daripada yang lain lho….”  Ini saya meng-highlight cara Bank Muamalat beriklan dengan menyebutkan “Satu-satunya yang syariah murni”. Menurut hemat saya itu sudah masuk ke dalam melawan sesama syariah.  Tugas Market leader adalah penetrasi ke pasar non-users, sehingga dalam komunikasi apapun sebenarnya dari kacamata saya, yang lebih mengena adalah menjelaskan ‘why you need syariah bank, more than your existing bank”.

Mungkin prinsip berteman dengan lawan kayanya akward dan nggak umum ya, tapi kalau untuk kepentingan bisnis itu lebih menguntungkan, why not.. bottom linenya kan merubah mindset aja, teman dan lawan itu hanya sebatas beda atau sama kepentingan kok.

Ayo.. belajar berteman dengan lawan!