DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA April 27, 2009
Kemarin sore sepulang dari Alfa minimarket dekat rumah, pembantu saya bilang Bu saya belikan Susu Bendera 123 nya yang isi 900 gram (saya pesan yang kecilan isi 600 gram). Soalnya ada hadiahnya, lumayan kan Bu, hadiahnya Indomilk.
Saya belum ‘ngeh’ ada yang aneh dalam percakapan tadi, sampai malam-malam waktu anak saya yang SD mau minum susu, saya keingetan ada susu Indomilk yang ‘hadiah’ tadi. Kebetulan pembantu sudah tidur, jadi nggak bisa ditanyain. Saya cari, ubek-ubek, mana nih susu Indomilk nya kok nggak ada. Dalam bayangan saya, susu Indomilk yang UHT yang di kemasan tetrapak, dong.. (pikiran aja).
Setelah nggak ketemu, baru nyarinya diarahkan ke lemari lain. Nah, ini dia mungkin… saya bilang ke Ovan, anak saya, “jangan-jangan ini nih yang dimaksud Mbak dengan susu Indomilk hadiah tadi. Pantesan gak ketemu dicariin, lha ini mah bukan Susu Indomilk atuuuuuhhhh… Ini adalah susu kental manis merek nya Frisian Flag juga.” Saya ketawa sendiri, sebab ini adalah cerita masa lalu waktu masih jadi brand manager di Frisian Flag kejadian begini sebenarnya sudah umum.
Indomilk adalah cara sebagian masyarakat menyebutkan produk category SUSU KENTAL MANIS. kalau orang Jawa malah bilangnya lebih lekoh, yaitu Indomelek.. (melek itu spt melek bahasa Belanda), bukan milk, bahasa Inggris.
Saya teringat beberapa kejadian lucu, waktu visit ke pasar (jaman dulu), observasi di toko kecil. Ada ibu-ibu belanja, bilangnya minta Indomilk. Oleh pelayan toko diberikan Indomilk kental manis, dijawabnya, nggak mau yang ini, maunya INDOMILK yang mereknya BENDERA. Buat saya, itu benar2 dalam artinya. Indomilk memang yang pertama buka pasar, yang pionir dalam kategorinya, tetapi market kental manis itu miliknya SUSU BENDERA (mkt leader) - sampai sekarang.
Saya pernah iseng2 ngetest teman dengan pertanyaan : Indomilk mu mereknya apa? Dijawabnya: Indomilk ku mereknya Cap NONA. Hah… opo tumon? Ini mah sama aja seperti bilang Aquaku mereknya Vit.
Yah, demikianlah, sekilas info, jadi nggak benar judul tulisan ini, ada Susu Bendera berhadiah Indomilk, yang benar adalah ini mah cross category promotion, yaitu Susu Bendera 123 berhadiah Susu kental manis Bendera (juga).
DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA April 27, 2009
April 29th, 2009 at 12:34 pm
Aduh bu Susu Bendera memang sangat melekat di hati ibu, sampai-sampai meski ibu sudah tidak lagi bekerja di sana tapi ibu masih tertarik menulis tentang mereka. Tidak seperti umumnya ketika orang sudah keluar dari tempat bekerja biasanya yang diomongin kekurangannya. Jadi memang merek susu ini sangat kuat ya karena melekat di hati konsumen dan mantan pegawainya. Bravo Susu Bendera ini selayaknya jadi perhatiannya Brand Managernya. Sepertinya promosi cara menempelkan hadiah dalam bentuk lain mungkin perlu dikembangkan untuk menarik perhatian anak-anak.
May 1st, 2009 at 3:55 pm
Halo Ibu Amalia,
Kasus klasik tapi tetap menarik. Benar kata Ibu, fenomena seperti ini merupakan salah satu keuntungan sebagai pioneer (pioneer advantage) seperti yang dialami oleh Aqua, Rinso, Honda, Handyplast, dll. Samudra biru emang top ya bu
Tetapi apakah fenomena generic brand ini pasti menjamin brand bisa tetap bertahan sebagai pemimpin pasar?
Saya pernah baca sebuah artikel tentang brand yang menyarankan, Jangan sekedar menjadi brand, tapi jadilah product category!
Salam Ibu
May 2nd, 2009 at 10:14 am
Har, ungkapan ‘jangan sekedar menjadi brand, tapi jadilah product category’ itu benar tetapi to some extent aja karena jangan sampai terperangkap pada situasi dimana orang mengasosasikan kepada kategori tetapi preferensinya tidak kepada brand yang bersangkutan.
Contoh: orang beli Aqua, tetapi dikasi merek Gemilang diam aja, ok ok aja.. ini kan gawat, berarti dia menganggap Aqua hanya sebatas kategori saja.
Kalau contoh lain, misalnya mau beli Aquaproof dong di toko bangunan nih ceritanya.. terus dikasihnya Terraproof.. ditolak, dia bilang yang mereknya Aquaproof nggak mau yang ini, nah, ini berarti masih aman. Jadi brand preferensinya masih kuat.
Sebagai market leader yang sudah menjadi kategori harus dilakukan sebuah studi khusus untuk melihat sudah sampai taraf manakah namanya itu masih kuat sebagai preferensi.
Jadi tidaklah membanggakan punya status sebagai kategori bila di kenyataannya orang pilih merek lain.. Seperti beli Kodak yang mereknya Fuji.. terbukti Kodak sudah turun terus preferensinya di pasar.
Salam Hari.
May 9th, 2009 at 6:55 am
BRANDING vs PUBLIC SPEAKING
Kasus menarik, benar yang ibu Amalia sampaikan Di Medan kalau kita mau naik Becak Motor (sejenis ojek tapi ada gandengan-nya di samping untuk penumpang) masyarakat atau motor lainnya, orang Medan umumnya menyebut motor sebagai “HONDA” Karena mungkin saja Top Of Mind motor “HONDA” sejak dulu melekat di Orang Sumatera. Padahal jenis motor yang dipakai untuk ojek di atas bermacam-macam. Konon Acara “Motor Setan” pertunjukan di pasar malam dimana sebuah motor berderu kencang mengelilingi sebuh Tong Besar berbahan Kayu menyerupai tugu dengan knalpot dibuka sehingga suaranya nyaring sekali, dimana ertunjukan ini menyedot banyak penonton, merek Motor HONDA terpampang jelas di Tangki Bensinnya.
Kalau Mbak Aamalia melihat dengan seksama kasus-kasus ini sebetulnya TOP OF MIND melekat sekali di benak para konsumen, namun cara mereka menyampaikan (Public Speakingnya) salah. Jelas kalau masyarakat dengan karakter ini di Survei dan Surveyornya mentah-mentah mencatat Public Speaking konsumen yang salah, ketidakakuratan hasil survei dapat terjadi.
Menarik, menggelitik karena kasus-kasus seperti di atas saya alami sendiri.
Salam Komunikasi
Charles Bonar Sirait
“The Power Of Public Speaking - Kiat Cerdas Berbicara Di Depan Publik”
May 15th, 2009 at 3:07 pm
Salam kenal ibu. Saya antusias sekali membaca artikel-artikel ibu. Khususon ttg Ethnopraphy. Terimakasih banyak krn telah sudi berbagi ilmu pengetahuan.
Berkaitan dengan market leader…apakah saat ini masih penting apabila hanya nama/merk yang disebut tetapi produk tidak dibeli atau dikonsumsi?.
May 16th, 2009 at 10:27 am
Dear Sagita,
Tentu penting untuk menjadi brand yang sedemikian kuat namanya sehingga menjadi generik dari sebuah kategori. Yang harus disikapi adalah pada saat menjadi generik, tetapi benar-benar generik - dalam arti orang tidak peduli lagi akan differensiasi yang ditawarkan oleh brand pionir tersebut. Disini sudah terjadi erosi dari brand equity brand pionir. Ini berarti lampu kuning…hati-hati. Need to do something untuk memperkuat kembali relationship dengan brand sebagai independent brand bukan sebagai generik.
Hope this helps.
May 28th, 2009 at 2:47 pm
Tanggapan yang diimport dari Facebook
Andre Kusuma
Sama kayak “numpak Honda merek Yamaha”
Abah Effi Harfiana
sy suka miris kalo teman2 yang melek informasi (bukan awam) suka bilang “pinjam infocus dong” atau “ini saya sudah siapkan infocus”…padahal, yg dia tunjukkan LCD yg mereknya Sony, atau Toshiba…duh…
kasihan memang brand yg menjadi generik. kalo sudah begini mau milih mana, dikenal luas namun keok di pasar atau sebaliknya?
June 6th, 2009 at 12:05 pm
siapa yang untung? dan siapa yang rugi? semua motor kok dibilangnya honda… ( didaerah wonosobo juga kayak begitu)hehehe
March 1st, 2010 at 2:44 pm
saya yakin, indomilk tetap di hati masyarakat sejak dulu
March 2nd, 2010 at 3:31 am
Masing-masing brand tentu punya “sahabat” - dan dalam hal ini ada sahabat Indomilk yaitu Pak Budi, dan saya sebagai sahabat “Frisian Flag”. Itu wajar dan sangat oke untuk dua brand besar.
March 12th, 2010 at 12:43 am
Mencintai brand tertentu adalah kebebasan bagi tiap individu, yang pastinya telah merasa nyaman & puas dengan brand tersebut. Saya, salah satu nya, I loved You Frisian Flag, karenamu aku bisa memahami banyak hal. Teruslah berubah ubtuk maju, Frisian Flag.