Archive for March, 2009

iPhone: Pasar Red Ocean?

Bisnis Indonesia Minggu, Maret 2009.

“Ini bukan handphone biasa. Ini Smartphone!”

OK, deh! Jadi itu smart phone; bukan handphone. So what? Kalau fungsi yang sepele saja tidak bisa, smart-nya dari mana? Dari Hong Kong?

Saya tersenyum sendiri jika ingat betapa tinggi pembelaan konsumen fanatik iPhone terhadap produknya, waktu saya kritik, mengapa ada fungsi dasar yang tidak dikuasainya.Ini terjadi pada peluncuran awal iPhone generasi pertama.

Smart atau tidak, di mata kebanyakan orang, kategori produk ini masih jadi satu dengan sesama handphone. Keinginan iPhone untuk menciptakan kategori baru pada saat meluncurkan iPhone, menurut pendapat saya, tidak realistis. Pembandingnya masih tetap merek lain dengan fitur yang kurang lebih sama.

Ini sangat berbeda dengan pada saat Apple meluncurkan iPod. Produk yang satu ini memang sukses membentuk sebuah kategori produk baru yang perbedaannya dengan kategori produk sebelumnya cukup signifikan. Keberadaan iPod sebagai device untuk pencinta musik dengan gaya hidup mobile, langsung membuat definisi baru di industrinya.

iPod adalah contoh yang tepat untuk strategi blue ocean, di mana terjadi rekonstruksi nilai-nilai yang dilakukan oleh brand pada industrinya, dan memberikan sebuah tawaran produk yang ber beda dan breakthrough.

Fenomena blue ocean ini yang ingin diulang oleh iPhone. Namun, benarkah produk keluaran Apple ini masuk ke dalam blue ocean? Ataukah hanya sebagai pemain baru di dalam peperangan red ocean yang sudah terbentuk sebelumnya, di pasar handphone?

Apple dan AT&T Mobility berhasil menjual iPhone sebanyak 1 juta unit dalam waktu 74 hari peluncurannya (Juni – pertengahan September 2007). Ini sebenarnya pencapaian yang lebih tinggi dibandingkan dengan peluncuran iPod yang khusus untuk musik. Pada saat peluncuran iPod, perlu waktu 2 tahun untuk menjual 1 juta unit produk ini. Memang, setelah itu, penjualan iPod meroket, di akhir tahun 2007 saja sudah terjual lebih dari 100 juta unit.

Cita-cita Steve Job, CEO Apple memang lumayan muluk. Pada pidato peluncuran iPhone di Macworld Expo Januari 2007, ia mengatakan bahwa iPhone bukanlah sekadar paduan antara handphone dengan iPod. Job bermaksud me-reinvent telephone. Intinya redefinisi ulang kategori mobile phone. Karena itu muncullah istilah ‘smartphone’.

Mengatakan bahwa produk baru yang bernama iPhone ini adalah smartphone dan bukan handphone tentu tidak berarti terjadi kesepakatan de ngan konsumennya. Tidak ada fitur-fitur yang luar biasa breakthrough waktu iPhone ini meluncur, kecuali hype yang dibuat gegap gempita oleh media dan sebagian brand ambassador Apple.

Kenyataan bahwa produk ini adalah adik dari iPod dan membawa serta segala glamour dan citra baiknya – tidaklah cukup untuk menempatkannya di sebuah samudra biru yang baru, tanpa pesaing. Hampir semua fitur yang ditawarkannya, telah tersedia di ponsel merek lain.

Sayangnya semua fitur yang ada di iPhone bisa diperoleh dari merek lain yang sudah lebih dulu ada di pasar. Great news-nya apa? Untuk bisa meredefinisi sebuah kategori tidak cukup dengan jaminan Apple brand saja.

Tetap saja, konsumen menunggu sebuah great news – fitur yang breakthrough.

Jika tidak, persaingan akan memasuki arena red ocean. Dan demikianlah halnya. Itu hasil pengamatan saya terhadap iPhone.

iPhone di Indonesia

Memang terlalu awal untuk justifikasi berhasil tidaknya pemasaran iPhone di Indonesia, tetapi tidak ada salahnya kita lakukan analisa dari apa yang telah dikerjakan oleh pemasarnya.

Masalah utamanya: Salah momentum. Pada saat hype yang terjadi di pasar global di mana di negara-negara lain konsumen sudah menunggu-nunggu hadirnya produk baru iPhone ini, di Indonesia malahan tidak tersedia. Di mana pasar dan target audience-nya baru saja bermanis-manis dengan BlackBerry dan euphoria social media facebook, iPhone baru melenggang masuk. Di mana produk lain sudah memberikan layar lebar, terobosan baru perangkat Internet mobile, layar sentuh, peta GPS, games dan fitur-fitur canggih lainnya.

Masalah kedua: Harga. Untuk masuk ke dalam pasar secara terlambat seperti yang dilakukan oleh iPhone di Indonesia ini, pertanyaan saya sederhana: Apa sih berita baiknya? Apa sih yang ditawarkannya yang tidak bisa dimiliki oleh brand alternatifnya? Rasanya semua fungsi utama yang ditawarkan oleh iPhone sudah dimiliki oleh handphone merek lain sekelasnya.

Karena masuk dalam pasar red ocean, maka harga menjadi penting.

Kalaupun bukan yang utama, tetapi masuk dalam proses menimbangnimbang sebelum mengikat dalam transaksi. iPhone tidak cukup hanya mengandalkan kebesaran brand Apple-nya saja.

Walaupun tidak secara eksplisit dikatakan dalam komunikasinya yang masih banyak mengekspose fungsi-fungsi, di balik itu ada sebuah pesan yang menggambarkan bahwa memiliki iPhone akan menjadikan seseorang menjadi “keren banget, cool, modern, gadget freak”. Pokoknya produk ini di mata konsumennya diharapkan mencapai sebuah sasaran pesan ‘gw banget deh!

Sayangnya, sasaran pencapaian emosional be nefit ini adakalanya masih dibarengi dengan rational benefit. Terutama bila sasaran segmennya dibuat lebih luas. Bukan hanya yang melihat brand Apple atau iPhone sebagai brand yang ‘oke banget’, tetapi juga menarik minat segmen-segmen yang ingin ikut nimbrung di dalam komunitas iPhone ini.

Untuk segmen yang saya sebut terakhir ini, masih tercampur rational benefit value for money dan emotional benefit yang dikejarnya. Kira-kira ekspresi target audience bisa saja seperti begini : Gw banget sih boleh aja, asal harga cocok…. Ini yang mungkin luput dari per hitung – an pemasar iPhone dan tentu saja rekan yang digandengnya yaitu Telkomsel di Indonesia. Kalau harganya paket dengan pulsa, dan mahal sekali, ya kemudian tidak heran banyak yang mengundurkan diri. Permisi…

iPhone Kurang Hot?

Well, kenapa sih iPhone baru masuk sekarang? Kenapa nggak waktu lagi hot-hotnya dulu.. pas diluncurkan di pasar global? Ini pertanyaan banyak orang.

Bagi yang Apple minded ato udah sangat ingin punya iPhone kebanyakan udah beli di black market atau nitip ama teman yang pergi ke luar negeri, jadi akhirnya mereka sudah punya iPhone. Itu mungkin yang dikategorikan sebagai Innovator atau Early Adopter yang sangat ingin punya sesuatu yang baru, lebih dulu dari yang lain.

Kalau the rest of the market, yang termasuk kategori early majority – memang masih banyak sih orangnya, tapi tentunya tidak bisa ditembus dengan mudah oleh iPhone, di Indonesia. Harus bisa meyakinkan mengapa alternatif lainnya seperti halnya Blackberry tidak lebih baik.

Seperti yang saya tulis dalam kolom saya di Bisnis Indonesia Minggu yaitu iPhone: Pasar Red Ocean? sepertinya Steve Job kali ini over estimate pasar. Reinvent the telephone dengan memberi judul iPhone sebagai Smartphone kesannya seru sih, tetapi harus ditunjang dengan bukti kongkrit yang menjelaskan bahwa memang ada breakthrough features nya.

Suami saya pengguna iPhone sejak dari generasi pertamanya lahir – belinya di black market. Waktu baru beli sih, seru banget kayanya seminggu nggak ngapa-ngapain, cuman asyik dengan iPhone aja. Alhasil anak2 dan saya dicuekin deh pokoknya. For your info, hp saya non iPhone, dan sekarang sedang mikir2 untuk beli Blackberry. Dengan alasan, biar bisa anytime update FB (saya belum punya twitter).

Malam ini saya tanyakan lagi ke suami saya, fitur apa sih yang benar-benar tidak ada di hp lain? Menurutnya touch screennya lebih halus, beda dengan touch screen yang kemudian dimiliki oleh hp2 yang ikut menawarkan touch screen. Hal lainnya menurutnya sudah ada/diadopsi hp2 lainnya. Khusus untuk Blackberry Storm, yang ia tau, memang punya fitur lebih dari iPhone, tetapi masih banyak keluhan. Dengan kata lain, masih oke lah iPhone kalau sekarang ada di pasar kita, cuman jangan mahal-mahal aja.

Wah, kalo gitu cocok dong analisa saya dengan pendapat yang punya iPhone (sekarang iPhone suami saya sudah model terbaru). Masih besar pasar yang bisa digarap – asal harganya disesuaikan. Kalau pilihannya cuman satu yaitu harus dibundle dengan Telkomsel, itu yang juga jadi mempersempit pasar. Yang sebenarnya berpotensi untuk beli menjadi makin sedikit. Saya juga baca dan dengar bahwa peluncuran iPhone resmi minggu lalu banyak yang kecewa karena harganya.

Pasar Red Ocean memang lebih berat, tetapi bukan tidak mungkin digarap dengan baik. Jika benefit yang diberikan tidak ‘breakthrough’ atau not significant enough dibandingkan dengan produk serupa, alternatif strateginya antara lain:

1. Target audience nya adalah Apple lovers – yang menempatkan Apple produk lebih dari segalanya, artinya harga berapapun doesn’t matter. Yang penting mereknya keren, dan dipakai juga oke. Kelemahannya dari sisi size of market, mungkin tidak terlalu besar.

2. Target audience lebih luas dari Apple lovers – nah ini ada hubungannya dengan rekrutment non-Apple users. Disini karena merek saja belum menjadi jaminan 100% beli, yang ditawarkan harus fitur yang seru. Kalau fitur tidak ada yang unik banget, ya kembali lagi kepada harga – jangan premium, tapi at least di dalam batasan ‘value for money’. Ini memang mengurangi eksklusifitas nya.

Wah, ini saya jadi bikin contekan untuk kelas MM Executive yang saya ngajar. Soalnya besok siang topik yang dibahas adalah dua kasus sekaligus, dua-duanya harvard cases, (1) Apple Computer, 2006, (2) iPhone vs Cell Phone (2007) — in line dengan tulisan saya ttg iPhone, memang di case tersebut dibahas kesulitan iPhone menembus pasar, lebih sulit dari yang diperkirakan oleh penciptanya.

cuplik sedikit ya dari HBR case, Iphone, 2007: “Every major US mobile operator already offered both music-enabled cell-phones and smartphones (incl. Blackberry and the Palm Tre0 750). Handset makers, meanwhile, had begun to roll out products that took more direct aim at the iPhone. Early in 2007, LG and Samsung introduced high-end touch screen phones that used a Falsh UI: The LG Prada device and Samsung F700. As yet no mobile opeator distributed either device. Nokia’s N95 multimedia smartphone supported WiFi connectivity, plyaed music and DVD quality video. Nokia, according to one report, was also developing a touch-screen phone that it would call the Aeon. Sony Ericsson offered a successful line of Walkman phones, the latest model, the W-960i, had a touch screen and could store 8,000 songs.”

Itu tahun 2007 lho.. sekarang pasti udah makin canggih lagi pasarnya, contohnya BB Storm itulah salah satunya. Makanya, persaingannya tidak sederhana bagi iPhone.

Kesimpulannya:

1. Grab the market while it is still hot.

2. Get the real insights from the consumer – local market situation could be different from the situation in other countries.

3. Translate the insights wisely – salah satunya adalah dalam pricing strategy, value for money berdasarkan perspektif prospects itu dalam range berapa?

Sekian deh ceritanya panjang banget, ini bukan curhat lho, apalagi marah atau kesel ama iPhone atau Telkomsel. Ya, kita kan pengamat, fair aja sih, berada di pagar. Oke ya, pemasar iPhone, Lanjutkan! (tapi sesuaikan). itu saranku.

Konsumen Juga Manusia…Needs beyond the needs

Konsumen belum tentu bisa sepenuhnya diajak ‘diskusi’ atau ngomong yang tinggi-tinggi kalo tentang future needs nya. Kan, konsumen juga manusia… Kata konsumen, eh, emangnye gw pikirin, tugas product development mah bukan tugas gw atuh!

Konsumen punya keterbatasan dalam mengekspresikan kebutuhannya, makanya bagi seorang product designer, misalnya di bidang arsitek, ya yang penting adalah bagaimana menangkap keseharian konsumen dan menjaring needs dasarnya, menangkap issues and concerns nya. Needs beyond the needs ini adalah sebuah proses pemersatuan antara kebutuhan konsumen masa kini dan masa depan dipadukan dengan kepiawaian atau kreatifitas disainer dalam mengekspresikan kebutuhan tersebut ke dalam sebuah wahana baru yang belum ‘terbayangkan’ oleh konsumennya.

Menarik kan! Memang tampaknya sepele, tapi di lapangannya tidak sesederhana itu. Di luar negeri, sudah banyak bangunan arsitektur kreatif yang menggunakan jasa ethnographer – yang dalam hal ini mendampingi arsitek/disainer untuk eksplorasi, terutama pada bagian needs yang paling mendasar dari keseharian konsumennya dan menangkap ‘aspirasi’2nya.

Saya pernah menjadi juri di Young Creative Entrepreneur Award nya British Council tahun 2007 dan disana bertemu dengan Pak Irvan Nukman – arsitek/disainer senior (salah satu juri lain) yang menjelaskan tentang peranan ethnography ini di dunia arsitektur, dan sudah mulai banyak diterapkan di industrinya. Secara tidak terstruktur, mungkin disainer di dalam negeri sudah melakukan eksplorasi needs tersebut – terbukti dengan hasil-hasil arsitektur kreatif yang dihasilkannya. Tapi apakah sudah menggunakan proses ethnography yang benar atau belum, ini wallahualam.

Mungkin ada yang punya masukan tentang hal ini?

Bagaimana dengan Mas Prasetyo Budi Santoso, yang isi blog nya saya angkat dalam tulisan saya yang berjudul “Arsitektur Kreatif: Needs beyond the Needs”. Mungkin mau ikut nimbrung diskusi di blog ini, monggo lho Mas. Sekalian saya juga ingin klarifikasi, ternyata Mas Pras ini sudah tidak bekerja lagi di PTI Architect, seperti yang saya cantumkan dalam tulisan di Bisnis Indonesia Minggu – tentang bedah korporasi tersebut.

Kalau yang belum sempat baca atau tidak punya koran Bisnis Indonesia Minggu, ya silakan baca langsung saja di published articles di blog saya. Yang di dalam blog ini extended version, ya. Soalnya karena tulisan saya kepanjangan, jadi sudah mengalami proses editing oleh teman-teman editor di media Bisnis Indonesia Minggu tersebut. Tentang judul, juga dibahasa Indonesiakan menjadi “Menjawab Kebutuhan yang Tak Terbayangkan”. Kalau saya lebih suka judulnya tetap dalam bahasa Inggris, sih, karena lebih catchy dan mengena MAKSUDnya secara padat mengikat. Nggak tau, ya kalau di Indonesiakan sering2 jadi panjang en  blukuthuk blukthuk blablabla.. terus rada buyar meaningnya. Ya ngerti, kok kalau di media berbahasa Indonesia, teman2 editor lebih cenderung untuk membahasaindonesiakan – ini maybe soal policy aja.

Ada juga pesan untuk PTI Architect di akhir tulisan saya yang juga kena gunting – sekali lagi masalah space media cetak, itulah kerugian media konvensional ini karena hitungannya adalah jumlah karakter jumlah kata, penulis agak-agak terbatas kreasinya hehe…. – yaitu saya kasih Pe Er bagi company yang dibahas hari itu (PTI Architect) untuk lebih memikirkan Corporate Social Responsibility juga – karena menghasilkan sebuah mahakarya arsitektur memang luar biasa, tetapi berguna bagi komunitas juga harus menjadi cita-cita sebuah korporasi besar sekelas PTI Architect tersebut.

Ini penting untuk saya bahas di blog ini, karena saya nggak mau cuman jadi corongnya korporasi besar, ngomong yang bagus-bagus aja, eh, belum tentu nggak punya PR dong dia, gicu kali ya.. silakan aja ikut dipikirin keseimbangan stakeholder needs nya juga.

Arsitektur Kreatif: Needs Beyond the Needs (extended version)

Amalia E. Maulana

Bisnis Indonesia Minggu, 20 Maret 2009.

Menjual ide kreatif di bidang arsitektur tentu tidak semudah menjual produk. Jika produk lebih bersifat tangible yang berarti dapat dilihat dan disentuh; ide kreatif arsitektur lebih bersifat intangible. Walaupun dalam bentuk gambar atau visualisasi disain mungkin masih bisa dibayangkan sebuah ide kreatif, tetapi tetap saja dalam secara keseluruhan lebih dominan unsur abstraknya.

Dikatakan, tidak semua produk atau jasa bersifat eksklusif tangible atau intangible. Banyak yang bisa dikategorikan sebagai produk dan jasa sekaligus. Yang membedakan satu dengan lainnya adalah kadar tangibility atau kadar intangibilitynya. Bisnis restoran papan atas, misalnya, lebih dominan pada aspek intangible dibanding yang tangible. Artinya, makanan, minuman atau produk-produk yang ditawarkan dalam restoran itu kalah penting dibandingkan dengan layanannya, suasana restoran, kenyamanan, prestise, ambience musiknya, dll.

Arsitektur kreatif juga merupakan sebuah bentuk kombinasi antara tangible dan intangible. Uniknya, dominasi tangible dan intangible ini berubah dari sejak awal proses penanganan klien, hingga proses perampungan produk berbentuk fisik/nyata dari yang ditawarkannya. Jika di awal lebih abstrak dan penuh imaginasi, maka di tahap akhir, bentuk kongkrit dari disain yang ditawarkan sangat bersifat tangible.

Mengapa penting untuk mengetahui kadar intangibility dari apa yang ditawarkan oleh perusahaan? Jawabannya adalah, karena memasarkan jasa lebih kompleks dibandingkan dengan memasarkan produk. Jika dalam pemasaran produk dikenal Marketing Mix 4P –Product, Price, Place dan Promotion; maka dalam pemasaran jasa Marketing Mix ini dikembangkan dengan 3P lagi yaitu People, Process dan Physical Environment.

Melibatkan Konsumen

Dalam proses berlangsungnya service performance, sebenarnya konsumen punya peranan yang penting di dalam menentukan kesuksesan. Ketelibatan konsumen akan membuahkan hasil yang lebih baik karena service provider tidak hanya menggunakan asumsi-asumsinya sendiri. Justifikasi puas dan tidaknya sebuah service performance bisa diukur selama proses dan koreksi bisa dikerjakan pada setiap kali terjadi kesalahan dalam interpretasi.

Seperti yang disampaikan oleh salah seorang disainer dari PTI Architect, Prasetyo Budi Santoso dalam blognya: http://interiorpras.blogspot.com/, keterlibatannya sebagai disainer dimulai pada tahapan yang sangat awal dari proses pembuatan disain proyek. Interaksi dengan konsumen langsung menjadi kunci utama keberhasilan Peedle Thorpe Architect Indonesia (PTI Architect) memberikan sesuatu yang ‘meaningful’ tetapi tetap pada estetika yang dikendalikan oleh kreatif disainnya.

As an Interior Designer for PTI Architect – Jakarta Indonesia, in 1998 I was deeply involved in the design development of Balicamp Software development Camp in Bali. There were close relationship in-between Interior Designer, Building Architect and Client to formulate and generate the idea from early conceptual stage.

Ada tiga kata kunci disini: (1) deep involvement, (2) close relationship, dan (3) early stage. Jadi memang dibutuhkan keterlibatan personal dan komitmen yang kuat untuk menghasilkan sebuah maha karya seni. Dan perusahaan kreatif tidak bisa menuangkan ide secara pihak. Butuh close relationship atau hubungan yang erat yang terjalin selama proses berlangsungnya pembuatan maha karya, agar needs konsumen tergali dan bisa diterjemahkan dengan baik. Dan teamwork yang baik antara pemberi kerja dan konseptor ide kreatif dan yang menuangkannya dalam bentuk kongkrit harus dimulai seawal mungkin, agar tidak ada yang merasa kepentingannya tidak tersalurkan.

Beyond the Needs

Kita belajar bahwa proses pemasaran dimulai dengan identifikasi customer value. Seringkali ini diartikan sebagai proses penggalian secara sepihak, yaitu pihak perusahaan mencari tahu apa needs dari konsumen dan semata-mata kemudian memberikannya dalam bentuk produk atau service yang diinginkannya.

Sebenarnya pemasaran lebih menitikberatkan pada kepandaian mengelola customer value needs. Ini bisa diartikan bahwa dalam pemasaran services, kita bisa lebih jauh dibandingkan dengan mengartikan needs apa adanya. Dengan bantuan ide kreatif, needs yang digali perlu didorong lebih jauh lagi, ke arah yang belum terbayangkan oleh konsumen sekalipun, didorong beyond their needs.

Konsumen adalah makhluk sederhana (‘konsumen juga manusia….’), tidak selalu tau apa yang dia mau. Hal-hal yang menyangkut sebuah karya disain kreatif, ini sudah barang tentu di luar kepekaan dan pengetahuannya.

Tugas seorang disainer adalah menggali lebih dalam needs dan issues yang paling mendasar yang dibutuhkan oleh konsumen dan komunitas di sekelilingnya. Eksplorasi insights yang jitu inilah yang kemudian dikupas secara bertahap dan dituangkan ke dalam disain yang memenuhi aspirasi – atau future needs dari konsumennya. Sudah banyak produk arsitektur di luar negeri yang menggunakan studi ethnography untuk melengkapi pemahamannya tentang konsumen dan aspirasinya tersebut.

Peranan seorang disainer/arsitek adalah memberikan sentuhan dan perspektif yang berbeda tentang trend, warna, style dan hal-hal yang beyond the needs dari konsumennya. Dan dalam level ini pulalah yang membedakan satu disain dengan disain lainnya, menjadi competitive advantage yang ditawarkan oleh perusahaan disain.

Salah satu kunci keberhasilan perusahaan disain interior dan arsitektur bangunan terkemuka, seperti halnya PTI Architect adalah mampu menterjemahkan customer needs – beyond their needs.

Keseimbangan Kepentingan Stakeholders

Keberhasilan membuat sebuah maha karya dibidang arsitektur tidak hanya dilihat dari sisi berguna secara fungsi bagi penggunanya, atau mendatangkan untung bagi investornya saja. Maha karya tersebut haruslah relevan dari segi trend disain dan relevan eksistensinya bagi komunitas di sekelilingnya. Ini membutuhkan kejelian. Bagaimana mencari titik keseimbangan antara kebutuhan setiap stakeholders dari sebuah maha karya.

PTI Architect sudah membuktikan kepiawaiannya dengan banyaknya mega projects yang dikerjakannya dan setumpuk Award yang telah diraihnya. Ini membuktikan bahwa perusahaan ini secara umum telah menjalankan praktek arsiktektur yang mengintegrasikan nilai-nilai kreatifitas disain yang tinggi dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan para stakeholdersnya.

Tetapi apakah perusahaan sekelas PTI Architect telah menyelami kebutuhan multiple stakeholders dengan baik dan menjaga keseimbangan diantara kepentingan-kepentingan untuk setiap proyeknya, terutama pada Mega Projects nya? Saya masih mempertanyakan sisi ‘berguna bagi komunitas umum’, terutama dalam konteks komunitas terdekat yang berada dalam lingkaran super blok atau mega projectsnya. Belum cukup informasi akan kegiatan Corporate Social Responsiblity yang telah dilakukan oleh perusahaan yang sukses ini. Hitung-hitung, ini Pe Er untuk perusahaan. Ada pertanyaan untuk dijawab dan dijelaskan ke komunitas.

Online PR Strategy dari Sang Pakar

Minggu lalu saya hadir di acara satu hari seminar “Sharpening your Online PR Strategy” oleh Pak Nukman Luthfie di hotel Ritz Carlton, Pacific Place. Rame dan seru – saya tanya, yang hadir 170an, kebanyakan dari PR ya, jadi banyak yang muda-muda dan cantik-cantik, hehe.. saya termasuk outlier hari ini. Gak papa, hiks.. Itu yang ditengah (lihat foto) adalah yang termasuk yang saya bilang muda dan cantik, Mbak Malla CEOnya Human Capital. Pak Nukman makin keren aja ilmunya (selain orangnya lho Pak..). Makin pantas disebut Pakar Online Strategy. Walaupun sudah banyak ngerti tentang ilmu ini, tetapi hari ini saya banyak belajar hal baru, banyak insight yang diperoleh dari seminar satu hari ini. Sayang yang nggak sempat ikutan acara ini, siapa tau lain kali diulang lagi, bahkan kalau memungkinkan bisa dalam bentuk workshop juga dong Pak, karena teman-teman mungkin ada yang ingin belajar sampai ‘dalam’.

Hal-hal penting yang saya catat hari ini:

“Branding di dunia online adalah gabungan kemampuan Marketing Communication, Pemahaman Online Behaviour dan Online Media serta penguasaan Teknologi Informasi”

- PR Manager kalau nggak aktif Facebook atau social media lainnya, gak asik, gak gaul, ya ketinggalan berita what is going on- dan seperti nggak punya tangan dan kaki. Jadi yang belum punya FB account, kudu harus, dan jangan cuman Be there aja, tetapi aktif menggunakannya dengan baik. Buat citra yang ok di media ini. Intinya social networking secara online itu sudah mandatory bagi PR Mgr.

- PR Manager harus lebih proaktif lagi dalam memPR kan brand company, mengingat begitu banyaknya media dan divergensi dari informasi yang jika tidak ditangani dengan baik – komunikasi yang telah dibangun secara konvensional bisa terdistorsi.

- PR Manager : Pembinaan corporate dan individual brand via Online ini harus dikerjakan dengan planning dan strategi yang benar – supaya tidak tambal sulam, dan brand imagenya kekanan kekiri campur aduk.

- Sudah waktunya untuk ikut dalam arus horizontal marketing – jadikan consumer partner. Kalau masih punya alam vertical marketing, artinya ngomongnya masih dari kita ke Anda terus – ya ketinggalan jaman. Pikirkan mulai sekarang bagaimana caranya konsumen ikut serta dalam pembinaan brand. Masih banyak poin lainya, tetapi ini sekedar catatan yang ada di benak saya tentang seminar tadi.