Spanduk oh Spanduk…

Makan dan Minum Memakai Tangan Kanan? Wah saya udah lupa tuh……. harus ya?

Belum lama ini beredar di milis foto-foto spanduk dari tokoh-tokoh dan calon legislatif (caleg) yang aneh-aneh. Salah satunya yang ada di foto diatas. Mudah2an ini benar ya, nggak ada unsur ‘photoshop’ nya. Teman saya bilang, dia pernah lihat koq aslinya spanduk ini. Soalnya spanduk dan baligo lainnya yang dipajang di milis itu banyak yang ajaib - ajaib, jangan-jangan sudah di’permak’.

Memang secara umum cape…deh… lihat spanduk dan baligo bertebaran di mana-mana dan pesan komunikasinya nggak jelas. Fotonya sih guede banget, jelas…., tapi tujuan dari komunikasi gambar orang dan nomer ini apa sih? Apakah cukup hanya dengan awareness aja, nggak perlu diisi oleh knowledge tentang siapa dan ngapain aja dia eh beliau tersebut? Terus apa benefitnya buat kita kalo nanti nyoblos nomernya?

Jadi iklan-iklan itu menurut saya cuma menimbulkan perhatian sesaat, pengamatan terhadap gambar, dan setelah itu.. dilupakan. Karena ‘what is in it for me” nya gak ada.

Pemandangan sehari-hari di jalan2 tadi yang memotivasi tulisan saya hari ini yang terbit di Bisnis Indonesia Minggu yaitu “Partai, Pemasaran dan Ethnography”.. intinya mengajak kalangan partai atau pemerintahan supaya studi dulu yang mendalam tentang consumer insights sebelum menterjemahkan menjadi sebuah komunikasi yang mengena, pas dengan apa yang dicari oleh khalayaknya.  Baca di sini.

DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA February 20, 2009

3 Responses to “Spanduk oh Spanduk…”

  1. saya sering liat tuh spanduk itu, versi yg lebih besarnya malahan hampir setiap hari….mungkin dia merasa sebagian besar orang depok udah mulai makan pake tangan kiri ato bahkan pake kaki…benar2 mengganggu, apalagi mengingat sy ikut memilih orang itu dlm pilkada lalu..*nyesel

  2. Amalia E. Maulana Says:

    Waduh udah kesel banget nih Mas Fajrin, sampai-sampai menyebutnya aja “orang itu”…Sabar Mas.. badai pasti berlalu, eh maksud saya Pemilu pasti berlalu..

  3. seperti masalah tradisi. caleg berumur 40-an lebih cenderung membawa itu tradisi, pembangunan, kemapanan dan kewibawaan. sedangkan utnuk dibawah 40-an lebih kepada isu perubahan, idealis, ya sedikit masukin isu ketampanan dan kecantikan sich. Tapi padabeberapa kasus juga ditemukan para caleg kehabisan uang, sehingga mereka berkoalisi dalam satu baliho ditampung beberapa foto caleg dari pusat, propinsi dan kabupaten. pada kasus PKS dan PAN foto tidak dicantumkan hanya nama dan no urut serta nuansa partai yang dilebihkan

Leave a Reply