Archive for February, 2009

Spanduk oh Spanduk…

Makan dan Minum Memakai Tangan Kanan? Wah saya udah lupa tuh……. harus ya?

Belum lama ini beredar di milis foto-foto spanduk dari tokoh-tokoh dan calon legislatif (caleg) yang aneh-aneh. Salah satunya yang ada di foto diatas. Mudah2an ini benar ya, nggak ada unsur ‘photoshop’ nya. Teman saya bilang, dia pernah lihat koq aslinya spanduk ini. Soalnya spanduk dan baligo lainnya yang dipajang di milis itu banyak yang ajaib – ajaib, jangan-jangan sudah di’permak’.

Memang secara umum cape…deh… lihat spanduk dan baligo bertebaran di mana-mana dan pesan komunikasinya nggak jelas. Fotonya sih guede banget, jelas…., tapi tujuan dari komunikasi gambar orang dan nomer ini apa sih? Apakah cukup hanya dengan awareness aja, nggak perlu diisi oleh knowledge tentang siapa dan ngapain aja dia eh beliau tersebut? Terus apa benefitnya buat kita kalo nanti nyoblos nomernya?

Jadi iklan-iklan itu menurut saya cuma menimbulkan perhatian sesaat, pengamatan terhadap gambar, dan setelah itu.. dilupakan. Karena ‘what is in it for me” nya gak ada.

Pemandangan sehari-hari di jalan2 tadi yang memotivasi tulisan saya hari ini yang terbit di Bisnis Indonesia Minggu yaitu “Partai, Pemasaran dan Ethnography”.. intinya mengajak kalangan partai atau pemerintahan supaya studi dulu yang mendalam tentang consumer insights sebelum menterjemahkan menjadi sebuah komunikasi yang mengena, pas dengan apa yang dicari oleh khalayaknya.  Baca di sini.

Partai, Pemasaran dan Ethnography

Amalia E. Maulana – dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, Februari 2009

Siapa melayani Siapa?

Sering kita lihat tanda “Khusus parkir dokter” di bagian yang paling nyaman untuk parkir di banyak rumah sakit. Mengapa dokter harus dikhususkan? Alasannya mungkin dokter harus segera parkir karena sudah ditunggu banyak pasien. Bukankah dokter-dokter punya sopir yang punya waktu cukup untuk parkir di belakang setelah menurunkan majikannya di lobby? Saya tidak melihat urgensi parkir khusus di lokasi yang premium.

Ini terjadi juga di kantor-kantor pemerintahan. Tempat parkir terbaik di’reserve’ untuk pamong-pamong nya. Jadi kalau yang datang kebetulan adalah saya atau Anda, dan tidak punya jabatan penting, berarti harus cari parkir di mana saja, sampai ketemu. Lho, bukankah kantor pemerintahan adalah tempat abdi negara melayani masyarakat?

Logika terbalik-balik ini – ‘Siapa melayani siapa?’ – masih kita temukan di mana-mana. Tidak terkecuali dalam urusan pemerintahan dan partai. Bahwa partai yang baik adalah dekat dengan masyarakat, mungkin masih sebatas pernyataan permukaan saja. Sangat sarat dengan kepentingan menarik simpati pada saat pemilu nanti. Masih sekedar di dalam tingkat janji – dan unsur promosi jangka pendek terasa sekali.

Partai yang sudah merasa mengerjakan sesuatu, juga kemudian mengiklankan hasil kerjanya secara berlebihan, tanpa perlu investigasi ulang, apakah betul aspek-aspek tersebut yang menjadi minat dasar dalam pemilihan sebuah partai dalam pemilu nanti. Ini adalah pendekatan selling, bukan marketing. Pendekatan selling lebih mengarah pada proses membujuk konsumen agar setuju untuk ‘butuh’ produk yang kita tawarkan, dan kemudian diarahkan agar mengikat dirinya dengan transaksi.

Pendekatan marketing lebih luwes daripada selling, karena akan diawali terlebih dahulu dengan sebuah proses pengenalan, apa yang dibutuhkan oleh masyarakat target audience utama dari produk. Dengan informasi yang komprehensif dan insightful tentang kebutuhan dan aspirasi dari pengguna produk dan calon pengguna produk, maka tawaran kepada prospek menjadi sangat mungkin untuk disambut baik.

Dimana pendekatan dari pengurus partai kepada anggota dan calon anggota atau calon pendukungnya masih sebatas pendekatan selling, hasilnya tidak akan maksimal. Perlu dana besar, kerja keras yang luar biasa untuk bisa meyakinkan pihak lain, bahwa apa yang ingin di’pasar’kan oleh partai ini adalah sesuatu yang bermanfaat.

Lain halnya pendekatan marketing dalam pemasaran partai. Jika yang dipasarkan adalah ide, program kerja, atau personal branding seorang icon dari partai, tentu partai butuh tahu terlebih dahulu seperti apa cara berpikir, perspektif, kebutuhan yang mendasar dari audience yang ditujunya. Partai harus menemukan ‘issues’ atau aspek-aspek penting apa saja yang paling bermakna dalam kehidupan prospeknya, dan bagaimana secara organisasi dan individu icon nya, bisa memberikan solusi terbaik terhadap issues tersebut.

Mungkin sebagian partai politik punya argumentasi, bahwa sudah dilaksanakan dialog dengan masyarakat, sudah ada survey-survey yang dibuat untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan mereka.

Dialog memang baik. Survey juga sangat membantu. Tetapi ada kalanya, masyarakat sendiri sebagai sebuah obyek penelitian, mereka tidak bisa mengekspresikan keinginan dan aspirasinya dengan baik. Banyak issues yang kemudian tidak tergali, karena periset terlalu dibatasi oleh koridor apa yang teringat dan terekspresikan saja. Demikian pula bila dilakukan survey, yang secara teknis pertanyaan/jawabannya sudah disiapkan oleh periset, maka prospek pendukung partai tidak punya cukup ruangan untuk digali di luar koridor survey.

Sayang belum banyak pihak partai yang memanfaatkan studi yang lebih tepat untuk tujuan penggalian insights mendalam, sampai ke akarnya, yaitu melalui studi ethnography. Dengan metode ini, yang diteliti bukan saja pendukung dan calon pendukung, tetapi juga mencakup stakeholders penting lainnya. Selain itu ethnography merupakan kumpulan dari beberapa teknik riset yang dikerjakan secara simultan. Misalnya saja, untuk sebuah jasa wedding organizer, studi ethnography yang baik merupakan gabungan antara interview terhadap aktor-aktornya, observasi aktif dan pasif, serta terjun langsung dalam event-eventnya untuk menyelami secara dalam proses yang terjadi dalam pengambilan keputusan.

Kita mengenal hubungan sebab-akibat, hubungan faktor – proses – dan efek. Jangan sampai issue yang diangkat oleh brand (atau dalam hal ini partai) adalah sebuah simptom belaka. Apa penyebab dan proses yang menyebabkan terjadinya simptom itu sendiri tidak tergali dengan baik. Simptom memang harus disembuhkan, tetapi tanpa mengerti proses mengapa simptom itu terjadi dan mengenali faktor-faktor apa saja yang menyebabkan issue itu muncul – apapun yang ditawarkan oleh pemasar partai bukanlah sebuah solusi yang akan disambut secara luas.

Studi ethnography di pemasaran produk dan jasa sudah mulai banyak digunakan. Apple dengan produk andalannya yaitu iPod lahir dari eksplorasi studi ethnography dalam konteks pemasaran. Produk iPod ini disambut secara luar biasa oleh target audiencenya karena sangat akurat membidik needs dan wants mereka.

Ethnography bukan saja membantu menemukan ide produk baru, tetapi juga untuk membantu team kreatif mendapatkan ide konsep iklan yang benar-benar ‘mengena’ di hati konsumennya. Sebagai contoh, Rinso yang mengangkat tema ‘Berani kotor itu baik’ (membebaskan Ibu dari kekuatirannya melepaskan anak bereksplorasi dalam bermain, ber’kotor-kotor’ dengan lumpur).

Pengamatan saya, belum banyak pihak partai yang mau bersusah-susah melakukan sebuah studi ethnography yang secara holistik bisa memotret insights yang sebenarnya. Lihat saja dari gaya komunikasi yang masih satu arah, yaitu monolog dari pemilik ‘brand’ atau pengurus partai, kepada calon pendukungnya. Kedua, pesan-pesan yang diusung dalam komunikasi tidak jelas, tidak memberikan solusi terhadap ‘issues’ yang membumi.

Masyarakat sudah jenuh dengan janji, mereka menanti sebuah perubahan yang punya makna solusi. Ethnography sebagai sebuah metode riset, bisa digunakan untuk membantu partai mencari peranan apa yang paling sesuai dalam mengatasi persoalan bangsa.

 

Narsis? Siapa takut…..

Tulisan saya berjudul “Narsisme Sehat dalam Digital I-Branding” baru saja dimuat di Majalah SWA. Kangen juga nih, udah lama nggak kontribusi di majalah bisnis utama ini.  Pas banget, ada salah satu ex student yang nanyain – ‘mana Mam, tulisannya di SWA koq nggak ada lagi?’

Yang merasa udah sering disebut2 narsis ama teman2nya mudah2an bisa berbesar hati, karena narsis kan ada yang sehat juga, nggak semua narsis jelek. Asal dijaga aja jangan sampe kebabablasan, nah kalo udah kronis ini dia yang susah mengkoreksinya – terus takutnya masuk dalam sifat wah makin nggak oke aja I-Brand kita. Kategorinya udah masuk NPD (Narcissistic Personality Disorder).

Tulisan ini saya persembahkan untuk crew MM Executive, Binus Business School yang udah hampir beres kuliah ‘Integrative Marketing Decision’ – Harly (the President), Afi, Inda, Conny, Herry (the CEO), Zakky, Kemal, Irene, Suhartono, Nelson dan Hendri.  Diskusi kita di kelas seru banget yah, terutama pas membahas kasus Facebook nya Harvard case. Thanks sudah pada mau saya ‘paksa’ buka account di FB, walaupun ada yang sampai dibikinkan anaknya (hmm.. Inda?). Afi yang heboh, bingung kenapa Maia nggak mau jadi friend gara-gara udah ada Ahmad Dani di list friends nya. Padahal maunya Afi jadi friends dua-duanya.  Tinggal dua orang lagi nih yang belum jadi believernya FB, Conny dan Herry. Apa nilainya saya kurangi aja ya karena nggak ‘relevan’ dengan jamannya —-  huahahaha… maksa banget sih jadi fasilitator!

Baca langsung di majalah SWA nya boleh – ato ada juga sih di link sini.

Have a nice weekend everyone….

Narsisme Sehat dalam Digital I-Branding

Amalia E. Maulana -   Dimuat di Majalah SWA, 5 Februari 2009

“I love everyone, especially myself”

“Mbak, Narsis banget sih!”. Saya ingat celaan dari salah seorang kenalan baru yang bertemu dalam sebuah seminar, mengacu pada foto di blog saya yang menurutnya berukuran terlalu besar.

Saya jadi berpikir, apa kriteria layak disebut narsis? Dia pasti belum kenal teman saya. Bukan cuma sekedar foto yang ukurannya kebesaran di blog. Di bawah adalah daftar dari sebagian kegiatannya:

- Update blog beberapa kali sehari

- Mengubah status di Facebook dan Yahoo Messenger setiap jam

- Sibuk mengirim laporan “what I am doing” lewat Twitter dan Plurk dari Blackberry

- Repot mengundang orang untuk jadi ‘friend’ dan menghitung jumlah ‘friend request’

- Ganti foto profile setiap minggu

- Album foto di Facebook, Flickr, dan MySpace aksesnya dibuka untuk umum

- Cek Technorati – seberapa disukainya blog berdasarkan links dan statistik

- Self googling minimal tiga kali seminggu

Sering kita dengar istilah narsis belakangan ini. Sebenarnya narsisme atau ‘Narcissism’ bukan hal baru. Narcissism berasal dari mitos Yunani tua tentang Narcissus, seorang pemuda yang kena kutuk jatuh cinta pada bayangannya sendiri di sebuah kolam. Istilah Narcissism kemudian digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang mempunyai sifat mencintai diri sendiri yang berlebihan, berdasarkan pada ego pribadi, merasa lebih baik dari orang lain. Seseorang yang narsis atau ‘narcissistic’ cenderung ingin selalu sempurna dan mengontrol orang lain. The American Psychiatric Association memperkirakan satu dari setiap 100 orang memenuhi kriteria narsisme yang parah, yang disebut dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Jika, sekarang seolah-olah lebih banyak orang yang berubah menjadi narsis, ini sebenarnya karena tersedianya saluran untuk mengekspresikan ke-narsis-an tersebut dengan bantuan teknologi. Dengan multimedia dan software networking, memudahkan seseorang mendadak jadi selebriti kecil-kecilan di lingkungannya.

Jadi apa bedanya narsisme dulu dan sekarang? Sifat dasar manusianya tidak berbeda, tetapi yang membedakan mungkin adalah dalam cara pengekspresiannya. Old Narcissism lebih dikonotasikan negatif karena lebih mengacu pada narsisme kronis atau NPD yaitu pada tahap yang membuat lingkungannya tidak nyaman.

Di era sekarang, narsisme tidak sepenuhnya mengandung arti negatif. Muncul berbagai istilah baru, yaitu Narcissism 2.0 atau Digital Narcissism yang diyakini merupakan bagian dari kegiatan Cyber PR (public relations via dunia maya).

Dengan berkembangnya teknologi informasi melalui Internet, mobile communication serta Web 2.0, tersedia fasilitas untuk menjelaskan siapa diri kita melalui ekspresi pemikiran, foto diri, dan rangkaian kegiatan sejak bangun pagi hingga malam menjelang tidur. Dikatakan, media ini menjadi sarana untuk konvergensi sifat-sifat human selfishness dan self-centeredness dalam diri kita. Ini merupakan kemewahan tersendiri bagi I-branding, yang sebelumnya lebih mengandalkan pencitraan melalui keseharian dalam interaksi langsung.

Sampai pada batas tertentu, sifat narsisme ini masih dikategorikan sebagai healthy narcissism, atau sifat narsisme yang sehat. Banyak psikolog yang menyatakan sifat ini baik untuk keseimbangan pribadi, meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas interaksi dengan network. Narsisme yang sehat inilah komponen penting dalam I-Branding atau pencitraan diri seseorang.

Digital I-Branding

Gary C. Sain memperkenalkan istilah The I-Brand untuk membedakannya dengan personal branding yang titik beratnya lebih kearah pencitraan individu menjadi seorang public figure (tokoh masyarakat, artis, ekspert, konsultan, dll).

I-Branding ditujukan pada perorangan yang ingin membina keberadaannya dalam keseharian di dalam lingkungan sosialnya. I-Brand menggambarkan seberapa besar nilai yang dipersepsikan tentang diri seseorang oleh audience, relatif dibandingkan dengan orang lain di lingkungan yang sama.

Walaupun audiensnya lebih terbatas, I-Brand juga harus dibina dengan cara yang sama seriusnya dengan pencitraan produk/jasa. Strategi segmentasi, targeting dan positioning perlu ditetapkan sejak awal. Seringkali seseorang langsung masuk ke dalam komunitas dan forum (online) tanpa punya gambaran yang pasti citra seperti apa yang sedang dibangun.

Banyak yang berkata, tidak perlu strategi dalam Digital I-Branding – just do it. Mengalir sajalah, apalagi jika yang digunakan adalah media-media sosial seperti facebook, twitter, plurk, dan sejenisnya. Apa yang ada di benak, sampaikan saja, secara impulsif. Saya tidak sependapat. Walaupun media ini terkesan santai dan informal, koridor citra diri tetap perlu dibuat dan direncanakan.

Tidak seperti personal branding yang harus menghabiskan banyak uang untuk publikasi di paid-media (media massa berbayar), dalam Cyber PR, biaya untuk Digital I-Branding relatif murah. Kreatifitas dan kepiawaian menggunakan setiap celah dalam new media (blog, social media, online forum, dll) menjadi kunci sukses.

Dalam publikasi diri ini, seseorang harus punya sifat narsis yang sehat. Tanpa kemauan untuk tampil, I-brand tidak bisa dikembangkan. Narsisme disini bukan berarti komunikasi dengan menggunakan cara-cara promosi yang menitikberatkan pada ekspresi “Look at me, I am good!”. Tetapi, lebih mengarahkan orang-orang di dalam network untuk menceritakan dalam bahasa mereka masing-masing tentang keberadaan dan keunggulan kita dengan ekspresi yang bunyinya “Look at him/her. He/She is good”. Diibaratkan sebuah kampanye Public Relations untuk sebuah brand yang sarat menggunakan pihak ketiga, demikian pula strategi yang digunakan dalam Digital I-Branding ini.

Keseimbangan antara komunikasi I-Brand secara langsung dalam keseharian dengan komunikasi Digital I-Branding via web 2.0 harus dijaga. Apa yang secara digital dianggap sebagai narsisme yang sehat belum tentu bisa diterima dalam interaksi langsung dengan lingkungan. Jika tidak hati-hati, kebiasaan mengekspresikan diri dalam Digital I-Branding akan terbawa ke dalam dunia sehari-harinya. Kemudian akan timbul kesan seolah-olah dirinya adalah ‘center of the world’. Ini bisa merusak I-brand yang sudah dibina sejak lama.

(Amalia Maulana, ditulis di Jakarta – Januari 2009)

Consulting projects by student!

Asli nih, bulan Januari dan February ini tutup buku untuk student consulting project- mereka harus presentasi hasil akhir thesis mereka (yang bentuknya project). Sehari bisa sampai dua ujian, lumayan deh capeknya. Tapi asiik, terutama kalo pada ujian yang memang udah ketauan studentnya oke banget selama studi berlangsung (supervisor can tell everything about the process) – kita kan tinggal menikmati ‘show’ nya aja at the end.

Selamat ya yang udah pada selesai/lulus – Mitha dan Ina consulting work untuk Rina Gunawan Wedding Organizer, Reny dan Nia untuk consulting work untuk Mama Roz, premium juice dengan layan antar, Aulia dan Ryan untuk Sony BMG, Danny dan Putut untuk Toyota Prius, Grant untuk gado2 Boplo (yang ini coming soon).

Makasih juga untuk Teteh Rina Gunawan atas kesempatannya memberikan consulting work for my students – you are awesome. Sangat baik dan membantu sekali dalam proses berlangsungnya project. Semoga hasil consulting nya bisa terpakai ya Teh.

Juga makasih untuk Pak Hendrik (MamaRoz), Pak Peter/Widi (Sony BMG), Pak Basuki (Toyota Astra), Pak Calvin (Gado-gado Boplo). You have given the students guidance and support, more over the chance to do this consulting project.