Archive for December, 2008

Nescafe = Kopi tubruk?

Nescafe is Instant Coffee

Instant Coffee is Nescafe

Sekuat inilah brand equity Nescafe sebagai sebuah produk kopi, di Indonesia.

————————————————————————————-

Makanya saya bingung.. Lho koq ada Nescafe Kopi tubruk? Gak salah nih, Nescafe is not kopi tubruk. Haiyya…. Alamaakk.. sayang ya Kekuatannya Nescafe as THE INSTANT COFFEE didegrade dengan cara ini.

Dari segi brand strategi, dengan masuknya Nescafe Kopi Susu Tubruk, berarti strategi nya adalah Brand Extension – karena sudah pindah kategori, dari instant coffee ke kopi tubruk. Memang tidak ada salahnya untuk masuk kategori lain as long as tidak mengganggu brand utamanya.

Awalnya dengan melengkapi jajaran Nescafe dengan Coffeemix yaitu Orginale 3 in 1, Coffeemix PAS, dan Creme 3 in 1 (lihat foto) – ya boleh-boleh aja deh, kan namanya juga memperbesar shelfing display, menambah market share, dll. Apalagi Nescafe sudah OK banget sebagai instant coffee, jadi kalau keinstant an nya ditambah, yaitu dengan tambahan susu/creamer+gula secara instant, ya make sense.  (Cuman, comment dikit, sebagai penggemar Nescafe, saya rada bingung dengan beda dari ketiga varian ini..kayanya beda-beda tipis rasanya).

Strategi yang satu ini namanya Line extension — karena masih dalam kategori yang sama yaitu Dari Nescafe original sebagai kopi instant ke Coffeemix , jadi stretching sih masih OK-OK aja, bahkan ada lagi tuh, Moccachino segala. Fine fne aja.

Cuman, yang brand extension ke kopi susu tubruk aja yang membuat tanda tanya saya ??? Kayanya Ini keputusannya lebih ke pertimbangan Sales (mengambil sebagian sales dari pasar kopi tubruk yang super besar). Ini jelas mengorbankan kepentingan maintenance brand equity Nescafe dalam jangka panjangnya.  Be very careful, Brand Leader…

Senyum berarti…

Senyuman bisa berarti…

Selamat Pagi

Hallo apa kabar..

Atau berarti “Anda cantik hari ini”

Atau “baju kita kembaran”..

Tadi malam di sebuah mall saya senyum pada seorang wanita yang berjalan ke arah saya, karena ada yang looks familiar di wanita itu, yaitu “baju kausnya sama”

Alhamdulillah, dia senyum kembali. Karena senyumnya diterima, saya jadi terusin deh, ngomong “Saya punya baju kaus persis spt yang Ibu pakai, dan tadi dari jauh saya lihat ternyata memang bajunya cantik ya..” Untung Ibu memang orang yang asli ramah, dia tertawa lebar mendengar kata2 tadi dan senang sekali tampaknya. It is not hard to spread the smile viruses.

Padahal dalam kasus lain, mungkin orang bisa pikir “gue beli baju pasaran dong..” hehe.. Untung aja ketemu Ibu ramah baik dan tidak sombong.


Exchange Policy? Which Policy?

Simak conversation di sebuah toko sport yang lumayan beken.

Konsumen: Saya mau exchange karena ternyata celana sport ini kekecilan, Kasir: Cuma boleh ganti size aja, Konsumen: Wah, gimana ya anak saya bilang yang sizenya lebih ternyata kebesaran banget. Mau ganti item lain aja; Kasir: Nggak bisa, sudah peraturannya. Konsumen: Peraturan yang mana? Lalu mengambil sebuah standing card yang didisplay di deretan display kartu kredit… Saya cek dulu ya Exchange policy nya– Nah, ini disini dibilang boleh ditukar dengan barang yang harganya sama atau lebih mahal, Kasir: Nggak bisa, sudah peraturannya cuma boleh ganti size, sebab sudah dimasukkan dalam pembukuan. Konsumen: Yang bener dong.. kalau ada exchange policy didisplay disini, mustinya kita ikutin itu aja..Kasir: (mulai nervous… terus panggil supervisornya).

Supervisor: Apa alasannya harus ditukar? Konsumen: Saya sudah jelaskan tadi, kekecilan. Supervisor: Kan seharusnya dicoba dulu, Konsumen: Sudah dicoba tapi maklum anak2 nyobanya cepet2an jadi nggak kebeneran. Tapi labelnya semua masih Rapi kok, ini juga baru 2 hari yang lalu – kan disini disebut exchange within 7 days. Supervisor: Kita harus buat laporan ke pusat alasan kenapa exchange, Konsumen: Saya nggak melihat ada keterangan itu dalam policy, bahwa alasan pengembalian harus disetujui oleh petugas.. kalau memang begitu, tulis dong di policy nya. Supervisor: (mulai mengalihkan pembicaraan) gantinya harus dari merek yang sama , Konsumen: Kenapa harus? Nggak ada dalam policy! (mulai pakai frekuensi tinggi) Supervisor: Karena ini berhubungan dengan masalah pajak jadi mereknya harus sama kalau bisa malah modelnya musti sama, Konsumen: Anda kok punya Policy sendiri sih.. sedangkan toko ini sudah jelaskan policynya dalam sebuah display yang jelas di kasir, dan inipun kalo saya nggak lihat ya udah dari tadi saya di-drive oleh kasir Anda tadi. Policy is policy.. mau urusan pajak atau apa, kan sudah dipikirkan oleh manajeman Anda sebelumnya. Supervisor: (mulai cari-cari jurus lain) Ini barang diskon bukan tanyanya ke kasir. Konsumen: Bukan, Pak – ini brand NEW! apa lagi nih yang bikin saya nggak bisa ganti barang? Supervisor: (speechless and muka masam) — diam aja. Konsumen: OK ya, saya cari dulu barang penggantinya (Diam berarti SETUJU kan., terjemahkan aja sendiri).

– end of conversation –

Ribet banget sih mau ganti barang aja.. kalau nggak boleh exchange, jangan bikin EXCHANGE POLICY – yang kemudian diterjemahkan sendiri untuk mempersulit konsumen. Banyak toko di Indonesia masih setengah hati menerapkan exchange policy. Padahal udah jelas2 barangnya belum dipakai. Berapa banyak sih orang yang mau beli baju habis dipake terus ditukar.. kurang kerjaan banget. Apalagi kalo tokonya bukan barang2 murah, ya konsumennya juga gak bakalan punya waktu untuk itu.

Jadi inget waktu di Sydney, anak2 (maklum cowok2) suka males kalo diajak ke toko or dept store utk beli baju, padahal kita kan harus sering beli baju maklum musim ganti terus tiap 3 bulan.  Seringkali saya ambil aja baju beberapa stel dan kemudian minta anak2 coba di rumah. Besok atau beberapa hari kemudian, sekalian belanja ke supermarket di mall yang sama, kembalikan baju yang gak pas atau gak disukai modelnya. And dikembalikan uang! And .. No question ASKED. Not at all.

Bisa mengerti deh, kalau kelas dept store yang barangnya banyak bgt, ato yang kelasnya rada menengah ke bawah, pasti repot kalau di Indonesia dibolehin tuker2. Tapi kalau di branded store, premium pula — Sudah waktunya change the attitude dari petugas2 tokonya. Exchange itu seharusnya sudah menjadi bagian dari service toko ke pelanggan. Makanya Konsumen rela bayar mahal, bukan hanya karena brandnya aja, tetapi layanan juga masuk dalam satu paket delivery dari sebuah brand.

Begitu sulit untuk cari konsumen (karena banyaknya persaingan). Begitu gampang untuk membuat konsumen nggak balik lagi ke toko yang sama. Bukan salah Brand baju dan Brand toko nya, cuman salah di front liners nya aja. Hal-hal kaya gini masuk radar Manajemen nya nggak ya?

Toilet bayar 1000 dan Point of Parity (POP)

Musim liburan gini jadi sering main ke mall, maklum anak-anak perlu macem-macam, dari baju, sepatu, buku, etc etc. Bolak-balik ke mall saya jadi perhatikan juga banyak hal. Sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan, gak usah tau brandnya kan.. gak penting juga… masih berlakukan bayar 1000 perak untuk pake toiletnya. Mending kalo toiletnya bersih wangi dan bling bling.. menurut saya sih di bawah standar. Memberikan layanan toilet pada pengunjung mall, bukankah itu sudah satu paket sebagai service pelanggan? Di jaman dimana mall mall lain berlomba-lomba memperbesar space toiletnya, mempercantik layoutnya dan membuat senyaman mungkin, ditambah nursing room ditambah ruang khusus musholla di dekatnya.. artinya kalau ini disebut benefit sudah sangat benefit augementation atau ekstra banget.

Jadi kalo masih ada mall yg pengunjungnya suruh bayar 1000 ke toilet ini mah jalan mundur (even bukan jalan di tempat) saya terheran-heran… hare gene.. musti ribet banget cari uang seribu perakan ke petugas yang pegang karcis toilet sambil duduk. Hey, serasa ada di terminal bus.. oh ini mall atau terminal ya…hihi…

Dalam brand management, benefit dibagi dua, dalam kelompok point of parity (POP) atau yang satu lagi point of difference (POD). Yang tadi saya sebutkan mall yang toiletnya udah super banget itu sebenarnya sudah menempatkannya sebagai POD (Point of Difference) yaitu satu diantara Differentiation servicenya dibanding mall lain.

Nah, kalau sebuah mall yang saya sebutkand di awal tadi, yang ke toilet standard nya aja musti bayar..ini Point of Parity aja bukan. Point of Parity adalah benefit2 yang masuk dalam kategori ‘standar’ dan diharapkan harus ada pada sebuah product category.

Kesimpulannya POD jelas nggak, POP pun nggak masuk, ya ini masuk kategori “Weakness” atau kekurangan. Brand Image dari mall ini jelas berkurang dengan POP yang nggak lengkap. Service di bawah standar!

Sudah saya sampaikan hal ini ke petugas yang pegang karcis, dia bilang sih memang udah banyak Bu yang complain.. wah kalo gitu sudah waktunya berubah dong Manajemennya… apa perlu dikirimin linknya blog ini ya?

APAI – Penganugerahan Award

Selamat ya untuk para pemenang APAI 2008.

Penerima Anugerah Produk Asli Indonesia (APAI) 2008:

1.   Susu bubuk SGM
2.   Susu cair Cimory
3.   Makanan ringan biskuit Gery (Garudafood)
4.   Sandang Hammer
5.   Obat Stimuno
6.   Jamu Sari Ayu
7.   Produk kimia Deorub
8.   Bahan makanan sarapan meises Ceres
9.   Bahan makanan siap saji Bihun Jagung
10. Bahan makanan segar Ayam Probio Pronic
11. Suplemen Kuku Bima
12. Akomodasi Hotel Santika
13. Minuman Kopi Kapal Api
14. Perlengkapan properti meter air Linflow
15. Komputer pribadi Mugen
16. Komputer jinjing Zyrex
17. Solusi olah data Cardnetic
18. Jasa kurir dan logistik Tiki JNE
19. Kategori bioteknologi Biotama

Yang belum mendapat penghargaan — masih ada ajang yang sama tahun depan. Jadi sampai ketemu lagi dan selamat berbenah. No worries…be Happy.