Archive for September, 2008

Perspektif Baru Kepuasan Pelanggan

Perspektif Baru Kepuasan Pelanggan

Majalah SWA, 18 September – 8 Oktober 2008

Untuk menciptakan kepuasan pelanggan, sering hanya aspek people yang digarap. Padahal, ada dua aspek lain yang mutlak diperlukan, yakni produk dan proses. Inilah perspektif baru para praktisi dan pakar tentang kepuasan pelanggan.

Amalia E. Maulana :  Menggali Kepuasan Pelanggan Lebih Kontekstual

Ada tiga komponen umum yang dikandung dalam konsep kepuasan pelanggan (customer satisfaction/CS). Pertama, pengukuran respons konsumen terhadap produk/jasa. Kedua, respons terhadap CS mengacu pada fokus tertentu. Dan ketiga, ada unsur waktu, karena respons bisa muncul pada saat sebelum memilih, pada saat memilih atau setelah memilih.

Dengan demikian, CS sangat kontekstual terhadap siapa konsumen yang ditarget, seperti apa produk/jasanya, dan situasi atau waktu pada saat dilakukan studi. Upaya membandingkan secara langsung satu produk dengan lainnya, seperti yang dilakukan dalam pengukuran indeks, berarti menyederhanakan banyak aspek, karena yang dikejar adalah generalisasi atau pemahaman umum dengan menggunakan jenis pertanyaan yang sama antar produk/jasa.

Upaya mengukur indeks CS oleh Majalah SWA dan Frontier memang bagus dan berguna sebagai indikasi umum. Namun, perusahaan atau pemilik merek harus tetap menyelenggarakan studi CS secara terpisah, yang lebih sesuai dengan konteks merek. Pasalnya, survei di perusahaan tidak bisa dibuat hanya dengan menggunakan sebuah template yang sudah umum digunakan oleh banyak perusahaan lain dari tahun ke tahun. Template tersebut tidak bisa menjawab situasi yang dihadapi oleh merek. Ia akan salah menangkap dimensi elemen produk/jasa apa saja yang lebih penting pada kurun tertentu. Periset CS di perusahaan harus membuat batasan yang jelas dan spesifik tentang ketiga komponen CS seperti yang dijabarkan di atas.

Survei CS yang baik harus dimulai dengan eksplorasi isu dengan metode riset kualitatif. Hasil studi kualitatif akan memberikan gambaran yang lebih kaya tentang interaksi konsumen dengan merek, sehingga pada saat penyusunan pertanyaan dalam survei CS, isunya menjadi mendasar dan hasilnya bisa langsung diterapkan untuk menjawab permasalahan.

Dorongan riset kualitatif CS makin hari akan semakin kuat. Sebab, pada akhirnya siapa pun ingin membuat koneksi antara CS dan nilai keuangan (financial value) terhadap bisnis. Karena, yang menjadi pertanyaan selalu menyangkut bottom line pengelolaan merek, apakah ada hubungan langsung antara meningkatnya CS dan meningkatnya nilai keuangan merek. Mengejar CS tanpa batas akan menyebabkan turunnya profibilitas.

Selain itu, memasukkan dimensi customer dissatisfaction (CDS) dalam pengukuran CS juga diperlukan. Alasannya, CS adalah variabel yang sangat abstrak. Karena itu, ada kalanya bila konsumen diminta menjelaskan secara keseluruhan tingkat kepuasan terhadap sebuah produk atau merek, ia mengalami kesulitan untuk menjawab dengan akurat. Pendekatan dengan memisahkan factor yang menyebabkan CS dan yang menyebabkan CDS akan memberikan juga gambaran yang lebih konkret lagi, variabel apa dari sebuah produk/jasa yang masih oke, dan mana yang perlu memperoleh perhatian serius. Pengukuran CDS ini penting untuk mengidentifikasi hal-hal yang membuat frustasi konsumen, yang disebabkan penyederhanaan informasi dalam survei tidak tertangkap secara baik.

Belakangan ini banyak dibahas dan dilakukan studi Customer Experience Improvement Program (CEIP). Ini diyakini lebih bisa langsung menjawab permasalahan perusahaan, karena customer-oriented company mengerti hanya produk yang dimanfaatkan secara optimal oleh konsumennya yang akan membuat perusahaan bisa menghitung cost vs. benefit yang optimal pula. Saat ini Microsoft melakukan CEIP dengan cara memberikan opsi kepada penggunanya untuk ikut dalam studi usability. Dalam studi ini dilakukan pengamatan langsung terhadao perilaku konsumen terkait produk-produk yang digunakannya, dengan cara tracking dan mapping terhadap pemakaian produk sehari-hari. Studi usability merupakan salah satu dari sekian banyak teknik dalam metode riset etnografi, yang diyakini dapat menangkap aspirasi dan kebutuhan konsumen secara lebih kontekstual dan bermakna.

Komentar “iPod tipis…”

Komentar ulasan  ”How Tipis Can You Go, iPods?”

 

 

Handoko Gani – marketer_soktau@yahoo.com

 

Nice posting Ibu Amalia…^^

Hhhh hidup ini memang penuh dengan tekanan ya.
Semakin berisi padi,semakin besar tuntutan kita akan kualitas si padi.

Di belakang sebuah ekuitas nama besar dan stempel
positioning “innovative newly proud lifestyle” yang disandang Apple,
sebetulnya juga sebuah beban. Beban u/ setara dengan positioning- nya
tersebut.

Jangan salah. Ada perbedaan antara Microsoft ataupun Intel dalam
konteks innovative yg saya sebutkan. Khusus untuk Apple, setiap kali
sebuah produk baru dari Apple diharapkan bukan hanya sekedar
innovative atau memperbaiki versi sebelumnya seperti kedua nama besar
di atas tetapi justru menciptakan “newly proud lifestyle”.

Terkait dengan improvement menjadi “makin tipis dan makin besar
space”, saya ragu kalo itu disebut “newly proud lifestyle”.
Innovative atau memperbaiki versi sebelumnya, saya setuju. Tapi tidak
akan menciptakan “newly proud lifestyle”.

Sy tidak bicara apakah misleading atau tidak insight research Apple
tentang keinginan dan ekspektasi konsumen, tetapi sy justru TAKUT
Apple kehilangan core/essense- nya sebagai seseorang “innovative yg
menciptakan newly proud lifestyle”

Mungkin mereka perlu diajari juga bahwa kalo research itu bisa juga
meng-eksplorasi NON-Users atau USED-TO BE Users.

Dari Used-To Be Users mungkin barulah bisa dilihat munculnya
komentar “Ah…menggunakan iPod, menggunakan iPhone ga sebangga itu
ah.Pertama beli bangga, lama-lama biasa aja.” atau bahkan “Ah…yg
keluaran baru ga ada tambahan berarti ah…” dsbnya…dan ujung2nya
bisa ditarik benang merah bahwa mulai ter-erosinya ekuitas sebuah
merek bernama Apple.

Wah wah…saya mulai Sok Tau lagi ya…
Btw, teman-teman yg mengenal saya, mohon mohon dengan amat sangat
tidak menganggap saya PINTAR dan jadinya sombong, saya hanya Sok Tau.
Maafkan saya bila menyinggung siapapun dalam forum ini ataupun blog
saya. ^^

MST
http://marketersokt au.wordpress. com

 

 

Handojo Soetanto” boenming@yahoo.com

 

 

Saat ini banyak analis mau melihat cara apple untuk menaikkan penjualan ipod karena saat ini harga ipod overlap dengan iphone (dengan kontrak). banyak analis meragukan konsumen mau beli nano ($149) atau touch ($229) dibandingkan iphone ($199).
saya lihat hal ini juga di sadari oleh apple sehingga apple mati2an di nano. upgrade memory dari 4 ke 8 gb dan penambahan accelerometer dan multi color dengan harga tetap sepertinya akan mengurangi cm nano (yg lama 60%).

 

steve jobs memang menyebutkan ‘apa saja’ nilai positif nano, bahkan di sebut sebagai ipod tertipis …. namanya juga jualan …. kalau lihat design nya, saya lihat ini memang nano terbaik yg pernah ada ….

sebagai catatan, saham apple dropped 6% setelah launching ipod baru ini …. para pemain saham meragukan produk2 ini bisa memberikan pertumbuhan untuk sales ipod di akhir tahun ini …. mesti nunggu macworld tahun depan untuk produk yg lebih ‘mengejutkan’ …

 

 

“dody prata” doprat@gmail.com

 

 

ya gitu deh steve jobs…
anyway, kalo feature emang udah gak mempan, ya paling gampang memang main diharga,
tapi krn bedanya ga significant amat, akhirnya ya harus create sesuatu yg ekstrem yg
produk di line upnya sendiri jg emg hrs beda, apalagi dgn saingannya.. .
dan ujung2nya ya ke nilai stock mereka juga…., kita tunggu saja apa emang langkahnya
bisa ditrima pasar atau ya emang cuman gimmicks spt biasa…

 

 

Andang Prihatnoko pru_aprihatnoko@ymail.com

 

launching ipod apple ini memang di luar harapan banyak orang, mungkin akibat strategi iklan dan pemberitaan yang terlalu bombastis sebelum peluncuran produk. Sama seperti halnya windows vista yang juga melempem penjualannya

 

 

 

Marketing Audit

Pembicara utama dalam acara seminar “Marketing Audit”.  Menara Cakrawala, September 11th, 12.00 – 18.00. Event Organiser: MIX Interactive. Pembicara tamu: Pak Yongki Susilo, AC Nielsen.

 

How ‘Tipis’ can you go, iPods?

Baca deh berita menarik tentang New iPods launch berikut ini:“On Tuesday, Jobs introduced a thinner iPod nano for $149 with 8 gigabytes of storage, a new version of the Internet-ready Touch device and said that iPhone users had downloaded more than 100 million applications from a new online store. The new nano has a “shake to shuffle” feature to change song play……”

Selengkapnya klik aja disini…….http://au.news.yahoo.com/a/-/technology/5003952/jobs-unveils-apples-thinnest-ipod/

Komentarku:

Kadang2 company suka kebablasan ya menterjemahkan keinginan konsumen. Apa iya betul bahwa semakin tipis iPod semakin ‘baik’. Lha wong… yang sekarang aja sudah kalibernya tipis banget sampe kadang2 susah nyari keselip-keselip. Kalo dari segi teknologinya making canggih sih, ya oke dong, setuju.. harus makin ditingkatkan, cuma feature ‘tipis’ itu nya yang saya rada mikir. How ‘tipis’ can you go iPods?   Sudah setipis itu koq masih ditipisin lagi. Makin tipis makin gampang ilang lho!

Jadi ingat kasusnya mie goreng yang bawangnya kriuk, terus mie yang berikutnya bilang ini makin kriuk lho….(?) kadang2 R&D mikirnya cuma menambah nilai tanpa kepikir apakah nilai yang ditambah itu signifikan ato tidak untuk konsumennya. Padahal kata konsumen, ‘makin kriuk? So what gitu…?

Kali aja yang ini juga akan banyak yang mikir… iPods makin tipis? So what gitu!

 
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Qualitative Judgment dan ROI MarComm

Oleh: Amalia E. Maulana

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, September 2008

 

 

The problem with most organizations is they think they can measure ‘everything’ with numbers.”

 

Teman saya kesal.  Kredit Pemilikan Rumahnya ditolak oleh sebuah bank. Padahal dalam assessment awal, tim marketing bank tersebut ‘haqul yakin’ bahwa dia memenuhi persyaratan yang diminta. Tidak ada penjelasan sedikit pun pada surat penolakan yang diterimanya – di mana letak kekurangannya. Tim marketing yang dihubunginya juga seolah cuci tangan, menyatakan tidak bisa mencarikan informasi ke internal mereka dengan alasan peraturan. Seolah-olah keputusan itu adalah sabda seorang dewa yang tidak bisa dibantah.

 

Direnungkannya kembali, apa penyebab kegagalan ini. Dia merasa tidak ada cacat pada reputasinya. Jangan-jangan surat pengangkatannya untuk jabatan baru di perusahaan tidak laku, gumamnya. Karena dalam data historis yang tertera di dalam buku tabungan masih tertera gaji lamanya, sedangkan gaji barunya baru sebatas catatan pada ’surat pengangkatan’ belaka.

 

They don’t know what they missed! Saya mencoba menenangkannya. Begitulah kalau kerja sudah seperti mesin, tidak ada pertimbangan kualitatif (qualitative judgment). Data kuantitatif yang diterima tim analis telah menggiring mereka ke arah penolakan calon nasabah. Jika ini yang disebut sebagai analisa resiko, saya tidak habis pikir. Resiko apa? Menolak teman saya berarti membuang kesempatan yang besar untuk menjadikannya brand ambassador dari bank tersebut.  Dengan jabatan barunya, bukan saja dia bisa membayar cicilan KPRnya dengan mudah. Dia juga akan bisa mempengaruhi keputusan perusahaan tempat dia bekerja untuk punya hubungan yang erat dengan bank tersebut. Ini yang luput dari perhatian. Dengan qualitative judgment yang sederhana saja, sebenarnya sudah bisa disimpulkan bahwa teman saya layak dan berpotensi dapat kredit.

 

Cerita ini penting untuk saya sampaikan, karena masih banyak organisasi atau perusahaan yang terjebak dalam kekakuan penilaian kuantitatif model begini. Saya menjadi teringat pada saat berdebat dengan  beberapa kolega tentang penerimaan seorang calon dosen baru. Di mata saya, qualitative judgment harus mendapat porsi yang cukup untuk menentukan seorang dosen qualified atau tidak, akan memberikan kontribusi terhadap program studi atau tidak. Sayangnya, mereka terjebak pada satu parameter pengukuran kuantitatif yang kurang substantial dan jika akhirnya diputuskan untuk tidak meloloskan calon dosen ini, ya sekali lagi, they don’t know what they missed!

 

 

ROI MarComm

 

Qualitative judgment juga berperan dalam pengukuran ROI MarComm (komunikasi pemasaran).  Dengan semakin mahalnya harga media, perusahaan menjadi semakin kritis mengutak-utik budget MarComm. Divisi keuangan perusahaan makin tajam mengupas penting tidaknya berbagai aktivitas komunikasi pemasaran. Pertanyaan demi pertanyaan muncul:  Apakah benar kita perlu sejumlah besar budget untuk mencapai sasaran pemasaran? Apakah tidak mungkin hasil dicapai bila budgetnya diturunkan? Apa sih sebenarnya yang dihasilkan dengan pengeluaran yang begitu tinggi? Dan seterusnya, pertanyaan seputar efektivitas dan efisiensi komunikasi pemasaran makin panjang daftarnya.

 

Sebelum berhitung tentang ROI, perusahaan punya Pekerjaan Rumah yang harus diselesaikannya terlebih dahulu. Cek lagi dokumen Marketing Communication Plan. Sudahkah mengikuti kaidah pembuatan strategi yang baik? Setelah itu, periksa kembali bagaimana implementasi dari rencana tersebut. Jangan-jangan hanya bagus diatas kertas, tetapi hanya 20% nya saja yang mampu dilaksanakan. Strategy Implementation merupakan suatu aspek penting yang jika tidak dijaga, bisa menjadi kendala. Yang tidak kalah kritikal adalah menelusuri lagi, apakah sudah ditetapkan Key Performance Index (KPI) jauh sebelum kampanye dimulai. 

 

Sebelum terlalu jauh menghitung ROI MarComm, secara internal harus dilihat lagi secara menyeluruh aspek strategi pemasarannya. Apakah customer value sudah teridentifikasi dengan baik dan diterjemahkan dalam positioning yang tepat? Bagaimana proses pemilihan target audiencenya? Bagaimana bentuk kreatifitas dalam materi komunikasi yang disiapkannya? Apakah kombinasi dari pemilihan media dan kegiatan MarComm lainnya sudah didisain dan dipilih berdasarkan tujuan komunikasi dan status brand?

 

Menghitung ROI MarComm sangat terkait dengan kepiawaian organisasi dalam menyusun MarComm plan. Buat apa susah-susah menghitung ROI jika secara kasat mata saja sudah tampak bahwa pesan komunikasinya tidak jelas? Buat apa menghitung ROI jika media yang dipilih untuk membawa pesan sudah jelas-jelas bukan media yang cocok?

 

Banyak perusahaan yang secara gampang mengaitkan keberhasilan MarComm dengan pencapaian penjualan. Padahal, tidak semua aktivitas MarComm didesain untuk kepentingan peningkatan penjualan. Pada beberapa kegiatan, tujuan kampanye hanya murni untuk awareness atau image building. Sedang pada kegiatan lainnya, mungkin lebih menitik beratkan pada loyalitas, bukan penjualan semata.

 

Dalam sebuah kampanye, sejak awal tujuan komunikasi harus jelas, kongkrit dan mampu terukur. Terukur tidak selalu berarti terukur secara kuantitatif atau mutlak dengan angka-angka. Tabel berikut menggambarkan beberapa ukuran kualitatif disamping ukuran kuantitatif yang dapat menjelaskan tingkat keberhasilan dari sebuah kegiatan kampanye MarComm.

 

 

 

Quantitative

 

Qualitative

Public Relations

- Harga per kolom bahasan jurnalis

- Berapa kali tulisan tentang brand dimuat

 

- Media sekelas apa yang memuatnya

- Siapa pembaca media tersebut

- Kualitas berita/ulasan tentang brand

- Tipe bahasa yang digunakan

 

Iklan brand

 

- Berapa sering impression nya?

- Berapa banyak yang aware terhadap brand?

- Berapa banyak yang menelpon (untuk iklan yang bersifat call-to-action)

 

- Profil dari konsumen/penelpon?

- Cocokkah dengan target audiencenya?

- Apakah pesan iklan dimengerti dengan baik?

Event

- Berapa banyak hadirinnya

- Berapa banyak produk yang terjual selama event

 

- Siapa yang hadir? Sesuaikah dengan target audience yang dimaksud?

- Bagaimana reaksi prospek pada saat  sampling?

- Apakah ada yang bertanya tentang produk?

 

 

Qualitative judgement akan melengkapi penilaian secara keseluruhan terhadap performance sebuah kegiatan MarComm. Kita harus mengembangkan kemampuan menganalisa situasi secara kualitatif untuk bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih dimensional terhadap permasalahannya. Tidak lagi terkunci pada rumusan angka-angka perhitungan yang kaku dan tidak kontekstual.

 


http://web.bisnis.com/kolom/2id1502.html