DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA June 2, 2008
SWA, 19 September 2006
Insights via Ethnography
Oleh : Amalia E. Maulana
Actions speak louder than words. A picture is worth a thousand words.
Dua pepatah di atas tepat untuk menggambarkan kekuatan riset dengan metodologi etnografi. Berbeda dari focus group discussion (FGD), dalam riset etnografi responden tetap berada dalam lingkungan aslinya. Ibu rumah tangga diwawancarai dan diamati perilakunya saat berada di dalam rumah — sedang memasak, membersihkan rumah atau mencuci baju. Seorang eksekutif diamati perilakunya ketika berada di kantor tempat ia bekerja untuk merekam pola penggunaan telepon selulernya. Remaja diamati dan diwawancarai di lingkungan teman-temannya, apakah itu di kafe, lapangan basket atau mal. Tindakan (actions) yang dikerjakan responden merupakan insights tersendiri yang jarang bisa terekam pada saat dilakukan FGD dan/atau survei.
FGD tidak mempunyai dimensi, warna dan human touch yang dimiliki etnografi. Selain tidak adanya privasi, FGD juga dibatasi waktu dan latar lingkungannya yang superficial. Padahal, mengamati responden dalam kesehariannya, mengamati pemakaian produk dalam latar sesungguhnya, adalah sangat penting dalam menggali consumer insights. Berada dalam lingkungannya sendiri, tercipta rasa nyaman bagi responden. Ia dengan bebas bisa menceritakan pendapatnya secara spontan tanpa khawatir penilaian dari responden lainnya.
Pemahaman perilaku remaja, misalnya, sulit terungkap hanya dengan metode konservatif wawancara, survei ataupun FGD. Ekspresi remaja dan hubungannya dengan konsumsi produk hanya bisa dijelaskan dengan menggunakan pendekatan yang lebih natural dan lebih lepas dari batasan lingkup pertanyaan-jawaban. Dengan kejelian tersendiri, pernak-pernik yang ada di sekitar responden ada kalanya juga menjadi inspirasi sumber data bagi periset, menjadi penghubung satu temuan dengan temuan lainnya.
FGD memberikan kita peluang mendengarkan pernyataan responden tentang apa yang mereka kerjakan. Etnografi mencari insights sampai ke akarnya, mencari tahu why do people do what they do, tidak hanya bersumber dari perkataan responden, melainkan diperkaya pula dengan hasil pengamatan, baik itu dalam bentuk aktivitas maupun foto, gambar dan simbol yang berhubungan dengan responden serta produk yang digunakannya.
Teknik riset etnografi ini berkiblat pada riset yang biasa dilakukan sejak ratusan tahun lalu oleh ahli antropologi dalam konteks sosial budaya. Seorang ahli antropologi umumnya tinggal bersama pada periode waktu yang cukup lama dalam masyarakat tertentu. Dulu studi etnografi hanya terfokus pada masyarakat yang masih primitif, sedangkan sekarang dalam konteks etnografi yang modern, teknik riset yang sama dilakukan untuk menggali insights dalam kelompok konsumen pada segmen dan produk tertentu.
Teknik etnografi kini telah banyak digunakan oleh perusahaan besar terutama di negara maju, dan terbukti manfaatnya untuk penciptaan produk baru dan pengembangan merek. Bruce Nussbaum, dalam tulisannya yang dimuat di businessweek online, menyatakan bahwa etnografi ini adalah kompetensi baru yang harus dimiliki perusahaan. Menurutnya, jika P&G, Nike, Phillips dan Apple sudah mengerjakan riset dengan metode etnografi sejak lama, kita tidak perlu heran, mengingat keseharian perusahaan tersebut yang berhubungan dengan konsumen langsung. Yang menjadi kekaguman Nussbaum adalah bagaimana Intel, yang tidak berhubungan langsung dengan konsumen, sudah sangat advanced dalam penggalian insights melalui etnografi. Kegiatan consumer insight di Intel dipimpin Ken Anderson, ahli antropologi. Ken memperoleh pemahaman yang mendalam tentang bagaimana keseharian masyarakat yang hidup dan bekerja di era teknologi, yang kemudian menjadi dasar pijakan oleh Intel dalam menentukan strategi dan pengembangan teknologi.
Kritik yang muncul terhadap metode etnografi ini terutama dari lamanya menyelesaikan sebuah studi. Proses pengumpulan data yang memakan waktu berbulan-bulan sangat tidak praktis dengan agenda perusahaan yang ingin serba cepat dalam pengambilan keputusannya. Syukurlah, dengan bantuan teknologi modern, ada banyak cara untuk memangkas waktu studi etnografi. Dalam perkembangan terakhir metode etnografi, dikenal dua istilah baru: netnography dan digital ethnography.
Netnography adalah studi etnografi yang dikerjakan secara online. Observasi bisa dilakukan dalam diskusi-diskusi di mailing list, yang diikuti dengan eksplorasi secara lebih mendalam melalui online chatting dengan responden. Adapun digital ethnography adalah observasi dengan bantuan kamera digital, baik berupa video maupun foto, yang digunakan untuk melengkapi data yang dikumpulkan periset. Responden diminta mengirimkan cuplikan rekaman atau foto-foto yang diambil dalam kaitannya dengan perilakunya. Misalnya, foto bagian dalam lemari dapur akan menjelaskan banyak hal tentang produk-produk yang digunakan dalam rumah tangga dan menjelaskan karakter pemiliknya. Video tentang sebuah pesta remaja bisa menjadi inspirasi menarik untuk menganalisis perilaku remaja dan produk yang digunakannya.
Etnografi sebenarnya tidak terbatas pada satu jenis teknik saja, tapi merupakan penggabungan dari beberapa teknik riset yang dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi dari beberapa sumber sekaligus. Ada kalanya beberapa jenis riset ini dilakukan secara simultan, sehingga ada unsur pembelajaran pada setiap tahapnya.
DIPOSTING OLEH Amalia E. Maulana PADA June 2, 2008
July 3rd, 2008 at 3:33 pm
wah.. makin laris aja sekarang etnografi…
Saya masih berusaha menjadi etnografer, karena sulitnya meletakkan diri disana, tidak ada sertifikasi profesinya sampai sekarang yang saya tahu.
Baru tahu saya teknik netnografi, barang dagang baru juga kali ya. dan serunya etnografi menurut saya adalah tidak ada rumus yang betul2 tepat… dan tiap pasar adalah “war zone” yang berbeda.
July 3rd, 2008 at 4:57 pm
Setuju banget, memang ethnography lebih banyak ARTsnya daripada SCIENCEnya dan disitulah letak ’seru’ nya, at least untuk orang-orang yang suka dengan studi kualitatif eksploratif.
Bagaimana membaca tanda-tanda, menterjemahkan makna dari cerita-cerita tentang brand, bukan pekerjaan yang sifatnya matematika, 1+1=2. Banyak dimensinya.
July 3rd, 2008 at 5:02 pm
Baca ya artikel saya di The Jakarta Post hari Rabu kemarin “Ethnography: Cutting Edge Research”.
July 3rd, 2008 at 5:20 pm
yup…
nambahin sedikit bu, masalah waktu dan event karena informasi juga dipengaruhi itu, current situation..
trims lah… nambah2in ladang buat kita para antropolog wanna be ini.
terutama di dunia bisnis, maklum dari dulu kita kalah sama marketing riset yang konvensional, yang makek tenaga kita2 malah lembaga2 riset luar….
salam
July 29th, 2008 at 9:55 am
Ass. Wr. Wb.
Saya mengikuti presentasi Ibu di Inkindo tgl. 28 Juli 2008 tentang Blue ocean strategy, materi nya menarik, saya bekerja di PT Surindo Utama yang bergerak di bidang riset sosial ekonomi, suatu saat kami bermaksud kerja sama dengan Ibu, mohon jika ada artikelnya Blue ocean strategi dapat diemailnkan ke kami dengan alamat : surindo_utama@yahoo.com
Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan teruma kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
July 29th, 2008 at 7:54 pm
Hi Ibu Amalia
Saya bekerja di perusahaan advertising,
Waktu itu saya diberi kesempatan untuk menjadi team research pitching team salah satu perusahan asing yang bergerak di bidang pertambangan.
Karena konsumennya terdiri dari berbagai macam jenis dari mulai pendidikan, status sosial, pekerjaan, etc, maka saya agak tertantang untuk mecari informasi dari segala aspek.
selama hampir satu bulan kita mengamati kehidupan mereka, apa yang mereka lakukan, impikan, dan pertimbangan untuk membeli sebuah product khusunya yang berkaitan dengan product yang akan di pitch.
selama satu bulan reserch dan mencari insight akhirnya kami menemukan suatu titik temu yang bisa menjadi bahan diskusi kami, dari situ lahirlah sebuah strategy yang akan kami presentasikan.
Allhamdulilah kami memenangkan pitch tersebut.
ketika membaca post yang Ibu tulis tentang etnography ini
saya jadi teringat apa yang saya lakukan mirip dengan apa yang Ibu tulis walaupun mungkin tidak 100% sama dan saya tidak memakai metode tentunya=), Hasilnya luar biasa, terkadang kita menemukan realita yang kita tidak perkirakan sebelumnya.
terimakasih
July 30th, 2008 at 9:41 am
Wah…baru tau nih ada tehnik riset seperti ini. Terimakasih untuk sharingnya…Salam Kenal Ibu Amalia
July 31st, 2008 at 12:38 am
Mas Eko dari Surindo, dulu saya sewaktu masih jadi client (mewakili perusahaan) juga beberapa kali assign project ke Surindo jadi saya kenal koq Mas perusahaan Anda. By all means, kalau ada yang bisa dikerjakan bersama, silakan aja.
Saya pernah tulis artikel “How Blue is your Ocean” di Majalah MIX tahun 2006. Nanti saya cari lagi filenya dan diupload ke website. Mudah2an menambah pencerahan nantinya.
July 31st, 2008 at 7:56 am
Adit dari Belajar Reksadana.. (mudah2an bener yang kirim komen namanya Adit, soalnya saya sudah ngintip portalnya)
Riset ethnography juga bisa digunakan untuk konteks mengenali perilaku konsumen yang berhubungan dengan reksadana, lho. Jadi silakan eksplore lebih jauh, banyak manfaat yang bisa dipetik dengan ethnography, dengan tujuan memperoleh competitive advantage di market.
July 31st, 2008 at 8:06 am
Dear Rangga,
Senang sekali membaca uraian pengalaman Anda dengan ethnography. Memang seperti yang sering saya jelaskan dalam workshop2 riset ini sudah banyak dilakukan di Indonesia, terutama oleh biro iklan yang ingin memperoleh pengetahuan yang holistik tentang perilaku konsumennya, untuk bekal eksplorasi ide/konsep iklan. Sayangnya, knowledge tentang konsumen ini hanya terpaku pada project itu saja, bukan kemudian menjadi knowledge yang melengkapi pengetahuan para brand owners. Padahal bagi brand owners, seharusnya ethnography dilakukan secara kontinyu, bukan ad-hoc, project basis saja.
Makanya paling bagus untuk company adalah membentuk aliansi strategis dengan para agensinya sehingga knowledge tentang konsumen bisa dibangun bersama brand owner. Dengan demikian, brand makin solid dan sulit ditembus oleh kompetitor.
Yang terjadi, pitching iklan all the time, jadi ganti2 agensi, sebenarnya ini bukan praktek yang baik bagi knowledge building client/brand owner sendiri, karena dengan ganti agensi, berarti kontinyuitas dari consumer insights nya akan terhenti. belum tentu agensi yang menang pitch berikutnya punya kemampuan eksplorasi yang sama dan juga mengerti how to do it.
Saya kira situasi ini yang perlu disikapi oleh brand owners untuk tidak secara sporadis memberlakukan satu campaign sebagai ‘project’, tetapi dalam mencari agensi harusnya dengan semangat partnership untuk membangun brand bersama-sama, secara long term. It takes two to tango! Baru belajar tango bersama udah ganti pasangan lagi, ya kapan tango dancenya bisa serasi. gitu kali ya analoginya brand owners yang gonta ganti agensi.
July 31st, 2008 at 1:37 pm
Iyah betul sekali, untuk brand terakhir yang allhamdulilah kita menangi memang punya management yang baik, mereka
mem-picth agency rencananya untuk kontrak dengan jangka waktu yang cukup lama=).