UJE vs Eyang Subur

Di acara Penganugerahan Award bagi Wanita Karir 2013 dari Majalah Femina belum lama ini, Iwel Sastra tampil memikat sebagai stand-up comedian.

Saya selalu kagum pada stand-up comedian, yang bisa membawakan banyak topik secara segar, lucu dan up-to-date. Kasus Eyang Subur, misalnya, dijadikan topik bahasan Iwel malam tersebut di panggung. Katanya “Saya tau bahwa cinta itu buta. Tetapi, yang satu ini, butanya berjamaah”.

Cinta itu buta berjamaah – maksudnya, jika dalam kacamata umum kita mungkin heran, mengapa sosok seorang Eyang Subur bisa menggaet 7 wanita cantik untuk menjadi istrinya secara bersamaan.

Kita memang seringkali menggunakan ukuran keberhasilan, kesuksesan dan kemakmuran dengan ukuran-ukuran umum.

Terlepas dari tuduhan bahwa Eyang Subur pasti ‘ada apa-apanya’ hingga bisa secara spektakular memikat wanita, ternyata ada kalanya ukuran menarik atau tidak menarik itu adalah kontekstual dan spesifik, tidak bisa digeneralisasi. Tentu ada banyak hal dalam diri Eyang Subur (yang saat ini kita tidak tau apa gerangan), yang menurut pendapat para istrinya adalah ‘sesuatu banget’. Butuh riset gabungan ahli psikologi, personal branding dan etnografi untuk membedah misteri Eyang Subur. Read More →

Insightful Insights dalam Proses Kreatif

Beberapa client mendesak saya untuk mengerjakan brand audit dalam waktu yang sangat pendek. Tentu saja saya keberatan mengingat proses riset ethnography yang menjadi bagian dalam brand audit bukanlah tipe riset yang bisa dilakukan secara instan. Proses pengerjaan yang seksama merupakan kekuatan ethnography untuk mengungkap issues yang sebelumnya tak terungkap.

Ketika ditanyakan, mengapa risetnya harus selesai segera, client menjabarkan bahwa ini ada hubungannya dengan time frame yang harus dialokasikan kepada creative partnernya, yang ternyata jauh lebih lama dari alokasi waktu brand audit/riset.

Itukah sebabnya? Proses penjabaran dari insights menjadi sebuah kreatifitas komunikasi pemasaran yang jitu menurut pendapat saya seharusnya tidak perlu waktu selama itu. Tetapi client tetap pada pendiriannya, menerangkan bahwa dalam kenyataannya, bekerja dengan creative partner itu selalu lama waktunya.

Berlatarbelakang brand manager yang sangat erat bekerja sama dengan creative team, saya bisa menjelaskan mengapa terjadi pemborosan waktu dalam proses kreatif. Read More →

Brand in Crisis: Lion Air

Hari dimana Lion Air mendarat di laut adalah hari saya mengajar kelas MM Executive di sekolah bisnis IPMI. Para eksekutif di kelas tidak bisa dibendung untuk tidak membicarakan kasus ini di kelas. Sesuai dengan semangat belajar ‘branding in practice’, tentu kasus ini sayang untuk tidak didiskusikan on the spot.

Pertanyaan apa yang akan dilakukan oleh Brand Manager Lion Air menghadapi kasus ini dijawab secara serempak yaitu menyelenggarakan Press Conference. Ini jawaban yang seragam dengan jawaban dari student di kelas saya yang lain yaitu di Binus Business School. Ternyata, top of mind dari para eksekutif langsung mengarah kepada berbicara dengan media (formal).

Sebenarnya tugas berbicara dengan media bisa diserahkan pada PR atau MarCom Manager. Seorang Brand Manager punya tugas lain yang lebih kritikal, yaitu memetakan ulang ‘value needs’ konsumen. Banyak yang berubah di peta value dan harus ada yang merekam secara serius pergeseran dan migrasi value konsumen.

Lion Air adalah salah satu dari brand Low Cost Carrier (LCC). Kejadian yang menimpa salah satu brand di dalam kategori LCC akan membawa dampak yang luas kepada brand-brand lain di kategori yang sama: Citilink, Air Asia, Sriwijaya, dll.  Tugas pemetaan ulang akibat migrasi value dari satu segmen ke segmen lainnya, bukan hanya menjadi suatu yang urgent bagi Lion Air saja, melainkan bagi brand LCC lainnya. Read More →

Bola Salju Teror Telemarketing

That’s the limit!

Itu yang saya sampaikan kepada kolega meeting penting di hari Jumat lalu. Bahwa saya harus menghentikan meeting dan menerima sebuah telepon (yang dikira urgent dan penting), ternyata adalah telpon dari telemarketer yang menawarkan jasanya.

Bahwa ini sudah sampai ambang batas adalah karena setelah saya tegur bahwa ini waktu yang tidak tepat dan mengganggu, sang telemarketer nya justru berkata kasar dengan nada tinggi.

Saya tidak kenal siapa telemarketer tersebut. Yang bisa saya catat adalah orang ini tidak diajarkan handling objection yang baik, dan tidak mengerti tata cara sopan santun telemarketer. Catatan lainnya adalah dia tidak dibekali dengan pemahaman bahwa hubungan baik dengan konsumen itu harus dijaga karena merupakan aset berharga dari brand yang sedang diwakilinya.

Saya tidak kenal dengan telemarketer, tetapi saya kenal sekali dengan brand yang sedang dijualnya. Sangat disesalkan bahwa brand yang sebelumnya saya anggap cemerlang justru adalah aktor di balik ketidaknyamanan ini.

Jika kemudian sikap saya (atau para penerima telepon yang senasib) terhadap brand atau perusahaan tersebut menjadi negatif, ini yang mungkin belum diperhitungkan oleh pemilik brand. Sudah saatnya brand manager atau pengambil kebijakan memasang radar yang cukup seputar cara-cara pelaksanaan telemarketing ini, dan kemudian menyadari sepenuhnya bahwa kekesalan demi kekesalan konsumen dan prospek punya potensi degradasi brand mereka. Read More →

Branding and X-Factor

Menurut Anggun C. Sasmi – salah satu juri ajang pemilihan bakat X-Factor, penyanyi yang terseleksi sampai tahap akhir pada umumnya keren banget, kualitas menyanyinya bagus. Hanya saja dia mengingatkan para juri lain, jangan sampai salah pilih. Karena yang dijadikan pertimbangan untuk ajang ini bukan hanya pandai menyanyi, tetapi haruslah yang mempunyai Faktor-X.

Di kamus Merriam-Webster X-factor didefinisikan sebagai a circumstance, quality, or person that has a strong but unpredictable influence”. Dictionary.com menjabarkan sebagai “a hard-to-describe influence or quality; an important element with unknown consequences”. Oxford Dictionary hampir sama saja, menjelaskan X-factor “a special quality, especially one that is essential for success and is difficult to describe”.

Ada beberapa kata kunci dalam definisi X-factor di atas, yaitu: Unpredictable – Unknown – Difficult to describe – Powerful influence.

X-factor bukanlah sesuatu yang bersifat teknikal, fitur-fitur yang kasat mata, tetapi sebaliknya, bersifat abstrak, intangible, tetapi bisa dirasakan kekuatan power dan pengaruhnya. Read More →