Agent of Change dalam BRANDING

Tahun ini adalah tahun kesepuluh saya mencanangkan diri sebagai Agent of Change di bidang Edukasi Branding. Dalam rangka mensyukuri perjalanan kesepuluh tahun ini lah perusahaan kami akan menyelenggarakan sebuah public workshop yang berjudul “Peranan Agent of Change dan Ethnography dalam Customer Centric Organization”.

Beberapa waktu lalu dengan berat hati sempat kami melepas kesempatan untuk menjadi ‘vendor’ sebuah perusahaan untuk mengatasi permasalahan brand nya, karena dalam beberapa kali pertemuan saya tidak bisa identifikasi siapa ‘agent of change’ di organisasi tersebut.

Sepuluh tahun bergerak di bisnis konsultan branding ini semakin membuka mata bahwa pekerjaan branding adalah sebuah proses yang berkesinambungan. Tanpa ada Agent of Change yang mengawal proses branding di Internal organisasi, maka riset apapun yang diberi judul pemahaman konsumen akan menjadi sia-sia.  Tanpa ada sosok key person yang mempunyai ‘drive’ dan open mind terhadap perubahan, riset konsumen sedalam dan se-luas apapun tidak akan bisa membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh brand.

Seorang Agent of Change seperti saya dan team harus berdampingan dengan Agent of Change di Internal organisasi, karena pekerjaan ini bersifat timbal balik dan mutual.  Seperti pepatah mengatakan ‘IT TAKES TWO TO TANGO’.  Seorang Agent of Change eksternal seperti kami tidak bisa berdansa sendirian dan bermimpi bahwa persoalan brand akan teratasi dengan baik. Read More →

Kontoversi BIKINI – Bihun Kekinian

‘Teliti sebelum membeli’ adalah ungkapan lawas yang untuk sebagian besar orang sudah dipahami dengan baik. Tetapi kalau ungkapannya ditambahkan ‘Teliti sebelum membeli Sandal’ – pasti orang akan bertanya kembali, faktor ketelitian apa yang khusus untuk urusan membeli Sandal.

Ternyata, ungkapan ini bukan menyangkut teliti tentang kualitasnya yaitu nyaman dipakai, atau apakah bahan pembuatannya aman bagi kesehatan, tetapi harus diteliti dulu apakah sandal itu menuliskan kata terlarang di alasnya.

Tahun 2015 media sosial dihebohkan dengan berita yang naik ke permukaan yaitu Sandal merek GLACIO yang ‘ternyata’ mempunyai disain di bagian bawah (alas) sandalnya yang terbaca sebagai lafaz “Allah”.

Bagi umat Islam, tulisan di bagian alas kaki dan diinjak-injak pasti tidak baik dan salah, dan menganggap brand ini mencoba melakukan sesuatu yang berbau SARA.

Pemilik perusahaan saat itu menyampaikan pembelaan yaitu tidak menyadari bahwa desain alas sandal tersebut menyiratkan sesuatu yang sangat sensitif bagi kaum muslim.

Lepas dari benar tidaknya ‘ketidaktahuan’ pemilik brand, hal ini sudah menimbulkan sebuah persepsi yang negatif terhadap brand Glacio bagi konsumen pengguna sandal yang beragama Islam yang menyadari adanya kasus tersebut.

Dalam branding, product strategy harus dipikirkan secara masak. masak. Disain produk termasuk salah satu brand element yang tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan image brand.

Kasus Sandal Glacio  memberikan pelajaran bagi pemilik brand, bahwa bagaimanapun juga bahwa sangatlah penting untuk memeriksa semua brand elemen yang terkait dengan produk – jangan sampai ada aspek-aspek yang keluar koridor yang menimbulkan kontroversi publik. Jika terjadi, konsumen yang semula menjadi soulmate bisa berpindah ke lain hati pada saat mendapatkan informasi yang tidak diinginkannya berhubungan dengan brand.

Dari Sandal ke Bihun

Pelajaran brand ini ternyata terulang kembali. Masyarakat khususnya di media sosial kembali dihebohkan dengan adanya produk yang kontroversial. Kali ini menyangkut produk makanan yaitu snack berbahan dasar bihun dan yang bisa langsung dikonsumsi. Read More →

Fenomena Pokemon-Go: Solusi untuk Siapa?

Perkenalan pertama saya dengan dunia Pokemon dimulai saat anak-anak yang sekarang sudah usia kuliah dan lulus kuliah, masih balita. Dari mulai game di Nintendo, di Game-Boy, Video Pokemon berseri, Pokemon songs, Pokemon Cards, Pokemon Movie,  Action-figures – namakan saja semua jenis interaksi dengan brand magical ini, saya pernah membelinya.

Posisi saya dalam kaitannya dengan Pokemon old-world bukan sebagai brand user tetapi sebagai (1) brand purchaser, yang membeli – dan (2) sekaligus terlibat dalam keputusan pembelian, yaitu brand decider. Pokemon sudah mendapat persetujuan penuh untuk hadir di rumah kami.

Jadi, somehow, Pokemon sebagai sebuah brand, sudah sangat dekat di hati. Karenanya, saat terjadi kehebohan game Augmented Reality (AR) Pokemon-Go, radar saya cukup cepat untuk posisi ALERT!

Kata yang paling sering disebut belakangan dalam marketing adalah ‘Engagement’. Kata ini sudah menjadi bahasa baku untuk menentukan KPI sebuah kegiatan.  Pokemon-Go telah menciptakan Super-Engagement dengan konsumennya, dan untuk itu kita harus salut padanya.

Pemasaran masa kini terutama menggunakan media baru, tidak bisa lepas dari tiga aspek : Dialog/komunikasi 2-arah, Interactivity dan Creativity. Bagaimana pemasar bisa memperoleh Engagement dari konsumen adalah dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut. Ini berlaku bukan hanya di media sosial, tetapi juga dalam semua kegiatan Brand Activation nya. Read More →

#RidwanKamil dan Ujian Brand

Ingat pengalaman menangis saat sopir saya pamit akan pulang kampung dan berjualan sayur di sana menemani ibunya. Saya katakan padanya “Please Dont Go”. Anak saya sudah sangat cocok dengan Bapak sopir ini sehingga terbentuk connection dengan keluarga kami.

Bagaimana dengan pengalaman Anda? Ingatkah saat-saat Anda mengumumkan diri bahwa bulan ini adalah bulan terakhir di kantor? Seperti apa ekspresi ‘teman-teman’ di kantor tadi? Apakah ada ekspresi “Please Dont Go….” sambil tersedu (ini analoginya).. atau yang ada hanyalah ekspresi “oke selamat jalan dan sukses di tempat yang baru” atau bahkan ekspresi datar tidak peduli.

Kehadirannya selalu ditunggu dan Kepergiannya disesali dan ditangisi. Minimal dalam komunitas yang sangat kecil, kedekatan emosional ini merupakan ciri-ciri Brand Cemerlang.

Brand Cemerlang itu bukan brand yang terkenal. Brand Cemerlang itu brand yang dibutuhkan. Brand ini memberikan makna dalam kehidupan di komunitasnya.

“You’ve Made the Right Decision Sir!”

Spanduk yang dibentangkan di jalan utama kota Bandung, sebagai ungkapan hati masyarakat Bandung kepada pemimpinnya, Ridwan Kamil. Tepatnya, spanduk itu adalah ekspresi rasa syukur mereka saat Kang Emil mengumumkan bahwa ia akan tetap di Bandung sampai masa kepemimpinannya selesai. Read More →

Brand yang diBenci tapi diRindu

Menjadi Brand Cemerlang saya definisikan sebagai menjadikannya brand pilihan. Bukan hanya menjadi Brand yang terkenal tetapi menjadi brand pilihan.

Menjadikan sebuah brand terkenal sangat mudah. Gaya beberapa artis yang menggunakan metode pemberitaan ‘settingan’ merupakan salah satu cara. Dengan kehebohan tentang masalah rumah tangga atau perseteruan antar artis, dijamin akan langsung menjadi bahan pemberitaan dan dijamin terkenal.

Tetapi, terkenal untuk aspek negatif tentu tidak sama dengan terkenal untuk aspek positif. Belum tentu target audience dari sebuah brand yang sudah dikenal negatif akan mau berinteraksi dengannya, karena berbekal pengalaman negatif orang lain.

Brand pilihan adalah brand yang bukan saja terkenal tetapi terkenal positif dan moment of truth nya dalam interaksinya selalu berhasil (sesuai harapan).

Brand pilihan adalah brand yang melalui sebuah evaluasi yang seksama dan menjadi satu-satunya yang berada dalam hati konsumennya dengan status soulmates (sahabat sejati).

Apakah Lion Air adalah Brand yang Cemerlang? yang walaupun sering dicomplain tetapi tetap menjadi pilihan penumpang yang membutuhkannya? Read More →